alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rania -Gadis Yang Membuatku Menyukai Esok Hari-
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc0db4a529a45321d8b4570/rania--gadis-yang-membuatku-menyukai-esok-hari

Rania - Gadis Yang Membuatku Menyukai Hari Esok -

Rania -Gadis Yang Membuatku Menyukai Esok Hari-


Yang kangen masa-masa di SMA boleh cekidot cerita ini 😆


Mencintai diam-diam itu sulit apalagi patah hati sendirian. Ini adalah ceritaku tentang Rania, gadis pertama yang membuatku menyukai hari esok.

Bab 1 - Kegaduhan di Pagi Hari


"Rania... Ayo bangun sudah jam berapa ini? Kamu nggak pergi sekolah! Kamu nggak boleh terlambat di hari pertama sekolah!"

"Iya Maman 5 menit lagi ya" Maman itu di bacanya (Mamong yang artinya dalam bahasa Prancis itu adalah Mama)

"Non non non... Allez, reveille-toi!" Maman menarik selimut dan mengguncangkan tubuh Rania dengan gerakan tidak beraturan.

"Maman je suis someille" Rania kembali menarik selimut yang memberikannya kehangatan terhadap dinginnya temperatur kamar akibat suhu pendingin ruangan yang dipasang serendah mungkin.

"Non tu te dois reveiller maintenant! Vite" Suara Maman semakin meninggi mengikuti guncangan yang semakin keras ia lakukan kepada tubuh Rania.

"D'accord Maman Cantik... aku bangun sekarang yaa"

"Bon... setelah itu cepat turun dan sarapan, Papa sudah menunggu di bawah cheri"

"Ok Madam" Rania mengecup pipi Maman bertubi-tubi.

"Arretes..." Maman menghentikan Rania yang masih menciuminya.

"Jangan mengulur waktu Rania! Maman tahu kamu enggan bersekolah di sini, tapi kita tidak memiliki pilihan lain Rania. Hanya sekolah ini yang dapat menerima kamu di tengah-tengah tahun ajaran baru. Lagipula ini hanya untuk sementara waktu, papamu sedang menunggu penugasannya kembali cheri" Maman mengelus sayang rambut Rania yang lurus panjang.

"Ok Maman jangan khawatir aku akan mencobanya, setelah itu... Aaaahhh aku sudah tidak sabar untuk kembali ke Paris" Rania memeluk Maman erat.

"Tidak sabar kembali ke Paris atau bertemu dengan Pierre?" Maman melepaskan pelukan dan menjawil dagu putri semata wayangnya ini.

"Bertemu dengan Pierre alasan utama, hidup di Paris bonusnya Yeaaayyy..." Rania melompat-lompat menuju kamar mandi hingga... Duukk... tubuhnya limbung dan hidungnya yang mancung mencium lantai. Rania tersungkur di tanah karena tersandung kakinya sendiri.

"Maman... Tolong... Ougghh... Sakit!" Rania mengelus-elus ujung hidungnya yang sakit.

"Whahahaha... Kamu ini benar-benar teledor sekali Rania! Begitu saja bisa terjatuh" Maman menertawai Rania yang masih duduk di lantai meringis kesakitan.

"Maman bukannya nolong aku malahan tertawa terbahak-bahak begitu!"

"Ok Maman tolong kamu... Sudah jangan cemberut begitu! Maman mengulurkan tangan untuk membantu Rania berdiri.

"Merci beaucoup Maman, sekarang aku beneran mau mandi ok"

"Kamu ini seribu satu alasan untuk pergi ke sekolah, ayoo cepat vite... vite... Vite!" Maman menepuk gemas pundak anak gadisnya.

🌼🌼🌼

"Pak Ujang Vraiment hmmm maksud saya, benar ini sekolah saya?" Rania terbelalak melihat bangunan sekolah yang menurutnya lebih mirip sebagai bangunan tua di film-film horror Indonesia.

"Iya non benar ini sekolah non, lihat tuh tuh non bacaannya SEMUN 66 Jakarta"

"Mana Pak Ujang?" Rania membuka kaca mobilnya dan menjulurkan kepalanya, mencoba membaca nama sekolah itu dengan jelas.

"Ya ampuuunnn Pak Ujang!!! itu di bacanya SMUN 6 BUKAN SEMUN 66, makanya dari tadi saya pikir saya yang salah baca, ternyata mata pak Ujang yang sudah koslet. Makanya kacamatanya dipakai Pak Ujang... jangan dijadikan hiasan di rambutnya bapak" Rania Cumiik gemas kemudian tertawa geli.

"Iya Non, SMUN 6 Jakarta, ternyata bacanya begitu ya non, pak Ujang yang salah ya hehehe..." Pak Ujang mengambil kacamatanya dari kepala dan memakainya, ia membaca nama sekolah itu dengan benar kali ini.

"Ya sudah Pak Ujang, sampai sini saja pak, nanti saya jalan sedikit ke sana" Rania menunjuk jalan menuju bangunan sekolah itu.

"Baik non... Gud Die!"

"Apa Pak Ujang?"

"Gud Die non, selamat tinggal seperti di film Londo Londo itu, non kan dulu tinggal di negri Londo masa non nggak tau!"

"GOOD BYE Whahahaha..."Meledaklah tawa Rania dan ia hampir saja menangis karena tidak tahan melihat ekspresi Pak Ujang yang masih tidak mengerti mengapa ia di tertawakan olehnya. Dipikir Pak Ujang anak majikannya sawan kesambet hantu bangunan tua sekolah itu. Tapi ya masak pagi-pagi sudah ada hantu, Pak Ujang hanya bergidik mengusir pikirannya yang tidak karuan.

"Non Pak Ujang tinggal dulu yaa"

"Iya Pak Ujang... Gud Die" Rania kembali tertawa geli dan menghapus air matanya yang keluar dan merapikan rambutnya yang sedikit teracak angin.

Pak Ujang pun berlalu pergi meninggalkan Rania yang menatap lekat bangunan sekolahnya itu.

"Ok Rania Semangat! Ini hanya intermezo sebelum kau kembali ke kehidupanmu di Paris" Gumamnya dalam hati.

Rania berjalan dengan langkah mantap menuju pintu gerbang sekolah, sambil berjalan ia menghitung langkahnya dengan riang "Un, deux, tropis, quatre, cinq, si... Tunggu..." Rania belum selesai berhitung, pintu gerbang sekolah baru saja ditutup satpam sekolah dan dikuncinya dari dalam.

Ia berlari dengan kencang mencoba mencegah satpam itu untuk menguncinya "Tunggu Pak... Tunggu saya belum masuk Pak nama saya Rania Zahra saya siswa pindahan dari Paris"

Satpam yang bernama Pak Eko itu menoleh mendengar teriakan Rania "Yah Anda baru saja terlambat masuk, sekarang pukul 7 lewat 1 detik menurut Undang-undang dan Peraturan di Sekolah ini Barangsiapa Siswa yang Terlambat walaupun hanya 1 detik saja maka tidak diizinkan untuk masuk ke dalam Sekolah. Ya sudah sebaiknya Anda pulang dan kembali lagi besok. Ingat JANGAN TERLAMBAT"

"Tapi Pak bagaimana saya bisa tahu peraturan sekolah ini pak, saya siswa baru pak, siswa pindahan dari Paris, dua hari yang lalu kami sekeluarga baru tiba di Jakarta Pak jadi bagaimana dalam dua hari saya harus tahu semuanya tentang sekolah ini!" Cicit Rania panjang lebar mencoba menjelaskan agar satpam itu dapat memaklumi dan mengizinkannya masuk ke dalam sekolah.

"Maaf sekali lagi saya tidak bisa mengizinkan Anda untuk masuk ke dalam" Pak Eko kemudian berbalik dan meninggalkan Rania.

"Pak tolong pak biarkan saya masuk" Rania terus berteriak memohon untuk dibukakan pintu dan kemudian ia melihat seorang siswa sedang berjalan ke arah pintu gerbang.

"Hey kamu... Ya kamu! Sini... Sini!" Rania memanggil cowok tersebut.

"Ada perlu apa ya? Bukannya kamu siswa pindahan itu ya?" Tanya cowok itu kepada Rania.

"Iya betul, nama saya Rania Zahra. Apakah kamu bisa membantu saya masuk ke dalam?"

"Maaf saya tidak bisa" jawabnya singkat.

"Saya harus bagaimana agar bisa masuk ke dalam sekolah?"

"Saran saya sebaiknya besok kamu jangan terlambat lagi" kemudian siswa itu meninggalkan Rania yang kembali terhenyak dengan ketidakramahan dua oknum tadi, pertama pak satpam dan kedua cowok sok cool itu.

"Bagaimana ini, aku tidak boleh pulang. Maman bisa memarahiku habis-habisan di rumah. Aku coba cari jalan masuk yang lain, sekolah ini pasti memilikinya. Aku harus mencobanya!"

Rania memutar mengelilingi bangunan tua itu, ia sampai di belakang bangunan yang dipenuhi pohon-pohon jambu air yang sedang berbuah. Ia melihat bagian belakang bangunan juga dikelilingi pagar, tetapi pagar bagian belakang bangunan tidak terlalu tinggi seperti gerbang sekolah, sehingga jika ia memanjat sedikit pagar itu, ia akan bisa melihat ke arah dalam. Kantin sekolah, ya bagian belakang itu merupakan kantin sekolah yang hanya dibatasi oleh pagar yang tingginya tidak lebih dari 1,5 meter. Rania melihat ke kanan dan kiri merasa aman tidak ada seorangpun di sana yang akan memperhatikannya apabila ia memanjat pagar ini untuk masuk ke dalam. Di ujung kantin para pedagang sedang sibuk menata makanan yang akan dijualnya sehingga mereka tidak akan memperhatikan apabila ia menerobos masuk.

"Ok Rania... ingat ini demi Paris... Jika kamu tidak membuat masalah di sini maka Maman akan segera mengabulkan permohonanmu untuk pindah kembali ke Paris" ia mulai memanjat pagar itu dengan sangat hati-hati, kakinya menaiki ornamen pagar untuk dijadikan pijakan untuk memanjat.

"Ayo sedikit lagi..." Rania menyemangati dirinya sendiri meskipun keringat menetes deras membasahi anak rambutnya.

Rania sudah berhasil masuk ke bagian dalam pagar dan tinggal selangkah lagi kakinya menapak di lantai kantin sekolah, sebuah deheman mengagetkannya dan membuatnya berhenti.

"Eheeemm... Dilarang memanjat pagar sekolah!" Sebuah tangan menunjuk tanda larangan memanjat pagar.

"Saya... Saya..." Rania kehilangan kata-kata untuk menjawab.

Tanpa berkata sepatah kata pun cowok itu mengulurkan tangan untuk membantunya turun dari pagar itu. Rania meraih tangan itu "Hangat" sebuah tangan yang hangat berbeda dengan nada dingin suaranya pikirnya.

"Terima kasih... Loh bukannya kamu tadi yang di gerbang sekolah?"

"Ayo ikut saya?"

"Hah... Mau kemana kita?"

"Ruangan BP"

"Apa? Kenapa kita harus ke sana?" Rania berusaha melepaskan tangannya yang masih di genggam erat oleh cowok itu.

Cowok itu berhenti dan memutar badannya menghadap Rania "Ya karena kamu baru saja melanggar dua peraturan sekolah, pertama datang terlambat ke sekolah dan yang kedua adalah memanjat pagar sekolah"

"Tapi saya terpaksa karena tidak ada seorangpun yang memperbolehkan saya masuk ke dalam sekolah"

"Bukan urusan saya" jawabnya kalem.

"Oleh karena itu biarkan saya pergi please...." Rania memasang wajah memelas agar cowok itu melepaskannya.

Cowok itu menatap Rania lekat dengan raut muka serius "Jelaskan saja nanti di ruangan BP, ayo sekarang ikut saya"

"Aaaaarrggh" Rania hanya pasrah mengikuti cowok itu menuju ruangan BP dan membayangkan amukan Maman ketika mendengar hari pertamanya di sekolah dihabiskan di dalam ruangan BP.

🌼🌼🌼


"Jadi kamu ini Rani, kalau ibu tidak salah kamu murid pindahan dari luar negri ya?"

"Nama saya Rania Bu, bukan Rani"

"Sama saja toh, Rania Rani sama saja kan? Tidak ada bedanya kok, ibu pendekin saja, jadi huruf a nya saja dihilangkan, tapi sama saja tetap Ratu arti namamu, tidak ada bedanya juga"

Malas berdebat dengan ibu Farida guru BP yang tampak cerewet, Rania hanya diam tidak menyanggah.

"Jadi Rani karena kamu melanggar dua peraturan sekolah maka ibu harus memanggil orangtua kamu untuk datang ke sekolah, hitung-hitung ibu bersilahturahmi dengan orangtuamu"

"Tapi apa harus sampai memanggil orangtua saya Bu? Saya murid baru Bu, belum tahu peraturan sekolah ini, jadi tolong maafkanlah saya sekali ini saja Bu! Please..."

"Hmmm... Ba...." Belum sempat ibu Farida menyelesaikan perkataannya cowok itu sudah memotongnya "Maaf Bu saya memotong perkataan ibu, siapapun tidak ada yang boleh melanggar peraturan sekolah. Jika kita memberi keringanan maka itu akan membuat murid yang lain merasa tidak adil dan merasa peraturan adalah hal yang dapat di langgar sehingga pelanggaran akan menjadi hal yang biasa Bu"

Rania otomatis menengok dan menatap marah ke arah cowok judes itu "Benar-benar cowok yang suka ikut campur urusan orang" pikirnya dalam hati.

"Betul juga kata kamu Nico! Hampir ibu memberi keringanan kepada Rani! Terima kasih ya sudah membantu mengingatkan Ibu"

"Jadi Nico nama cowok sok bener itu! Kebagusan nama Nico buat cowok kaya dia" Rania berusaha menghapal nama yang akan dimasukan ke dalam daftar hitamnya.

"Sama-sama Bu, sebagai Ketua OSIS saya berkewajiban membantu mendisplinkan siswa yang bermasalah!"

"Hah bermasalah? Apa maksud Lo? Maksud Lo gw!" Rania tidak sanggup lagi menahan amarahnya, ia berdiri dan menunjuk tepat di depan wajah Nico.

"Lo kali yang bermasalah! Jangan menuduh orang sembarangan ya! Itu namanya pencemaran nama baik! Gw nggak peduli meski Lo Ketua OSIS... Dasar Pencitraan Lo!"

"Cukup Rani... Kamu tidak boleh berkata kasar kepada Nico. Nico tidak bersalah, kamu yang telah melanggar peraturan dan dia hanya mengingatkan. Sekarang kamu boleh tunggu di kelas, Ibu akan menghubungi orangtua kamu!" Ibu Farida menoleh kepada Nico "Nico tolong kamu antar Rani ke kelasnya"

"Baik Bu" Nico menatap Rania kemudian berbalik dan mulai melangkah keluar "Ayo saya antar"

Dengan langkah gontai Rania mengikuti keluar dari ruangan itu.

"Dasar Penjilat" Rania menendang-nendang sepatunya ke arah Nico.

Nico berhenti dan berbalik "Kamu bicara sama saya?"

Terkejut dengan pertanyaan Nico Rania hanya menggeleng.

"Cuma ngomong sendiri aja. Masih jauh nggak kelasnya?"

"Itu kelas kamu di depan, kelas saya di samping kelas kamu"

"Nggak nanya!"

"Cuma kasih tahu aja takutnya kamu bertanya dalam hati"

"Nggak akan... Wuek!!!" Rania menjulurkan lidahnya memasang wajah mengejek dan berlalu masuk ke dalam kelasnya.

Nico mengikutinya masuk ke dalam kelas dan menghampiri Pak Marzuki yang sedang menghukum muridnya yang tidak mengerjakan PR.

"Permisi Pak, Saya di mintai tolong oleh Bu Farida mengantar murid baru, ini dia Pak"

"Oh begitu Nico, terima kasih nak, sekarang kamu boleh kembali ke kelas"

"Baik Pak" Nico menoleh sekilas kepada Rania yang masih menatapnya penuh benci.

"Siapa nama kamu nak?" Pertanyaan Pak Marzuki mengalihkan pikiran Rania yang ingin menjitak kepala Nico yang sedang melewatinya.

"Nama saya Rania Zahra Pak, saya baru saja pindah dari Paris"

"Wah Paris tapi benar kota Paris Perancis kan bukan Pertigaan Ciamis? Whahahaha" Pak Marzuki menertawakan leluconnya sendiri. Sedangkan Rania hanya diam dan tidak berminat untuk tertawa. Sedangkan Rojali yang sedang berdiri menunggu hukuman dari Pak Marzuki diam-diam menyelinap duduk kembali ke tempat duduknya di belakang.

"Maksud bapak perapatan Ciamis? bukan Pak ini PARIS FRANCE" Rania gemas juga menjawab setelah Pak Marzuki puas tertawa.

"Iya Bapak hanya bercanda Nak, baik kamu boleh duduk di samping Tiwi di sana" tunjuk Pak Marzuki kepada anak perempuan berkulit hitam manis yang sedang melambai-lambaikan tangannya kepada Rania.

Rania menarik kursinya dan menaruh tas di sana. Tangan Tiwi sudah terulur di hadapannya.

"Namaku Tiwi... Kamu Rania kan? Aku senang sekali bisa duduk dengan cewek bule"

"Hallo Tiwi senang juga berkenalan denganmu, tapi saya bukan bule, ibu saya blasteran Perancis Bandung dan ayah saya orang Minang"

"Oh blasteran kaya Cinta Laura yah, pantesan wajahnya bule-bule gitu"

"Ah kamu ini bisa aja, Oya sekarang kita belajar apa?"

"Pak Marzuki ngajar IPA, kamu sudah punya bukunya belum? kalau belum kita pakai ini berdua aja"

"Terima kasih Tiwi" Rania menyunggingkan senyum manisnya.

"Akhirnya ada juga murid yang bersahabat, tidak seperti Ketua OSIS sok di kelas sebelah" gumam Rania dalam hati.

emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)


https://www.kaskus.co.id/show_post/5...5233bd678b4581
Diubah oleh: annastasia81
Urutan Terlama

Jangan menganggu Singa Betina

"Rania... Maman bilang apa! Jangan buat masalah di Sekolah. Mau ditaruh dimana mukanya Maman ini Mon Dieu... Gusti Allah! Tidak pernah ada anak perempuan di keluarga kita manjat-manjat seperti beruk begitu!"Maman menepuk jidatnya sendiri.

"Mais Je dois faire ca Maman... Aku kepaksa! Mereka mengunci pintunya, aku harus memanjat pagar untuk masuk!"

"Maman sudah bilang kalau di sini peraturan sekolah lebih ketat, kamu tidak boleh terlambat! Lihat baru hari pertama, Maman sudah di telepon guru BP  dan besok Maman diminta datang ke sekolah. Rania Zahra, kamu harus segera berjanji tidak mengulanginya lagi! Mengerti kamu Rania?"

"Oui Madam"

"D'accord! Sekarang jangan lupa kerjakan PR mu, jangan sampai kamu mendapat teguran karena tidak mengerjakan PR. Sekali lagi kamu mendapat teguran di sekolah, kita batal ikut Papa ke Paris mengerti?"

"D'accord... j'ai compris Madam" Maman segera keluar dari kamar setelah yakin anak gadisnya sudah mengerti akan kesalahan yang diperbuatnya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

"Sial... Semua gara-gara cowok rese itu, kalau aja dia nggak nge-gap-in gw manjat pagar, pasti Maman nggak akan marahin gw seperti ini. Lihat aja pembalasan gw nanti!"

                       
       🌼🌼🌼

"Rania ke kantin yuk! Gw laper nih!"

"Eh iya ayo, sebentar ya gw simpen buku gw dulu"

"Ran... Emangnya Lo nggak suka ya sekolah di Jakarta? Kok Lo niat pindah sekolah lagi ke Paris?" Tiwi menggandeng lengan Rania, mengarahkannya berjalan menuju kantin belakang sekolah.

"Bukannya nggak suka sih! Tapi gw sudah terlanjur nyaman di sana! Makanan, suasana, udara bahkan bahasanya gw udah nyaman banget. Jadi kalau tinggal di sini, gw perlu lagi penyesuaian"

"Tapi gw curiga loh, jangan-jangan bukan cuma itu ya? Tapi karena cowok Lo ada di sana kan?"

"Hehehe... Itu juga sih!"

"Maksud Lo? tebakan gw bener Ran? Lo pacaran sama bule?"

"Belum sih tapi ada cowok yang lagi deket sama gw di sana, namanya Pierre"

"Wah pasti ganteng banget ya Pierre... bule, tinggi, putih, nggak ada anak disini yang ngalahin kegantengan Pierre pasti ya! Eh mungkin ada deh Nico... Nico kan tinggi, ganteng, ga terlalu putih kayak Lo sih! Tapi dia pintere  Ketua OSIS pandai berorganisasi iya kan?"

"Siapa? Nico? Cowok brengsek itu?"

"Nico? Cowok Brengsek? Tapi di sini cuma ada satu Nico dan Nico itu murid berprestasi dan jauh dari kata brengsek. Dia anak REMAS, pegangan tangan sama cewek aja gw yakin pasti belum pernah!"

"Ya Nico yang itu! Nico brengsek... Sok tahu... Sok ikut campur Sok Alim!" Cercaan terus meluncur dari mulut mungil Rania.

"Memangnya kamu diapain sih sama dia Ran? Sampai kamu kelihatannya benci banget sama dia!"

"Dia yang ngelaporin aku ke BP kemarin!"

"Whahaha..." Tiwi tertawa spontan membayangkan Rania yang memakai rok memanjat pagar sekolah.

'OOO... Berita heboh yang kemarin itu! Ada murid baru ketahuan menerobos masuk ke sekolah!"Tiwi merasa ingin kembali tertawa tetapi ditahannya melihat temannya semakin cemberut.

"Iya... Pokoknya gw sebel banget sama dia!"

"Jangan terlalu membenci... Nanti cinta!" Tiwi tersenyum usil, menggoda sahabat barunya yang sedang kesal itu.

"Amit-amit deh...."

"Hahaha... Bule tau juga istilah amit-amit. Eh kita duduk di sana aja yuk!" Tiwi menunjuk sebuah meja kosong, dekat dengan anak-anak kelas 10 yang sedang duduk bergerombol.

Mereka duduk menghadap ke arah adik-adik kelas itu yang sedang gaduh mengerjakan PR masal di kantin sekolah. Lebih tepatnya mengilir PR temannya yang telah selesai dan menyalinnya beramai-ramai.

Rania yang sedang asyik mengamati mereka teralihkan perhatiannya dengan pertanyaan dari Tiwi.

"Ran Lo mau gw pesenin apa? Di sini siomaynya enak loh! Nih gw beli, mau nyobain nggak?"

"Nggak makasih Wi... gw nggak makan ikan! Alergi!"

"Hah! Sengsara banget hidup Lo! Makanan enak kaya gitu nggak bisa makan!"

"Hehehe... Makanya gw bilang kalau gw hidup di sini mesti banyak penyesuaian. Makanan ini itu nggak boleh sembarangan, harus pilih-pilih"

"Memangnya kalau makan ikan Lo gatal-gatal gitu?"

"Nggak cuma gatal-gatal Wi, gw megang ikannya atau air bekas rendamannya bisa buat kulit gw bentol-bentol merah"

"Tersiksa banget ya jadi bule, meski cantik tapi banyak pengorbanan, mending kaya gw hitam manis, tapi imun sama semua penyakit hehehe...."
Tanpa perasaan bersalah, Tiwi menyendok satu siomay utuh ke mulutnya dengan lahap.

"Tiwi... Lo kok nggak ngajak-ngajak gw ke kantin?"

"Eh Mira... Tadi gw mau ngajak Lo tapi Pak Dadang masih di kelas Lo, gw udah laper banget jadi gw ke sini duluan sama Rania. Oya kenalin ini Rania anak baru di kelas gw"

"Dia bisa bahasa Indonesia kan Wi?"

"Yah bisa lah Mir, emangnya dia ngomong pakai bahasa Urdu!"

"Hi Mira, Nama gw Rania, gw bisa bahasa Indonesia kok!"

"Eh hehehe... Sorry habisnya Lo blasteran gitu dan dengar-dengar sudah lama tinggal di Prancis, jadi gw pikir Lo mungkin nggak bisa bahasa Indonesia hehehe...."

"Nggak papa kok sudah biasa, Oya Lo di kelas berapa?"

"Kelas IPA 2, kelas gw di sebelah kelas Lo kok! Gw sekelas sama Nico, si Ketua OSIS, Lo pasti tahu kan, Nico cowok populer di sekolah kita ini"

"Eeeeh iya, gw tahu dia"

"Lui... il est hypocrite, stupide et connard! Kenapa semua orang memuja dia!" Dalam hati Rania memaki makhluk yang suka ikut campur itu.

"Pastilah semua tahu dia, secara dia ganteng, tinggi, keren, pintar, cool, tajir , OSIS, rajin shalat... Tunggu... Tunggu... Tunggu ada lagi nih yang lebih Ok... dia itu JOMBLO, OMG Gw pengen banget jadi pacarnya Iiiiihhhh" Mira Cumiik senang membayangkan Nico sang idola menjadi pacarnya.

"Hehehehe..." Rania tersenyum terpaksa melihat fans garis keras Nico sedang berkhayal "Sana Gih Makan Tuch Cowok Sok Cool! Kulkas kali! Amit-amit deh gw suka sama cowok kaya dia!" Dalam hati kembali Rania memaki Nico.

"Eh gw balik duluan ke kelas yah!" Ngerasa nggak tahan harus berpura-pura lagi Rania pamit kepada Tiwi.

"Nanti aja sih Ran... Mira juga baru datang! Masih lama juga waktu istirahat kita"

"Nggak papa, gw mau ngerjain PR Matematika dulu, kemarin ada satu soal yang belum gw kerjain"

"Ya udah, nanti gw nyalin ya" jawab Tiwi enteng.

"Heran gw, apa bagusnya sih si Nico, walaupun fisiknya lumayan, tapi kalau sikapnya kaya gitu, malas banget gw, jadi temannya aja gw nggak mau" tidak terasa Rania sudah melewati kelas IPA 2 dan ia melihat makhluk yang selama dua hari ini menjadi bahan caciannya berdiri di depan kelasnya.

"Kamu sudah makan Rania?"

"Ya kalau baru dari arah kantin pastinya sudah makanlah, tapi apa urusan Lo nanya nanya?"

"Ehemm... Saya mau minta maaf atas sikap saya kemarin"

"Kenapa minta maaf? Basi!"

"Saya minta maaf bukan karena melaporkan kamu ke Guru BP. Saya minta maaf karena kamu jadi marah sama saya karena itu"

"Sudah tahu orang akan marah kalau dilaporin kenapa di laporin! Aneh!"

"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai Ketua OSIS memberi contoh yang baik. Maaf sekali lagi jika kamu marah karena hal itu"

"Jangan Sok Alim, Sok Tanggung Jawab! Jangan Pencitraan deh, Nggak mempan sama gw! Gw mau masuk, minggir!!!" Dengan berat hati Nico memberi jalan kepada Singa Betina yang sedang mengaum buas.

                 
     🌼🌼🌼

















                            
Diubah oleh annastasia81
Bagus gan ceritanya. Bisa belajar bhs prancis juga
Nais emoticon-Jempol
Biarpun susah ngeja katanya
Quote:


Wow sukur Gan ada yg suka ceritanya emoticon-Betty (S) takutnya Alay gitchu angkat tema ABeGeh. Nanti Ane kasih translate-nya dech emoticon-Kiss (S)
Update lagi dong sis
Penasaran kelanjutannya. Oh iya ane juga bikin story loh sis. Baca dong terus kasih masukan buat si newbe ini huehehe emoticon-Betty
Quote:


Ok i Will, nanti mampir ke lapak dikau ya emoticon-Blue Guy Peace
nunggu update ny
Quote:


Iyaa Apdate Gadis Pramugari terus jadi cerita yang ini belum di Apdate lagi ya! Secepatnya kalau sudah selesai bab selanjutnya pasti di Apdate ya emoticon-Blue Guy Peace
Balasan Post annastasia81
Quote:


Adek kebangun ka emoticon-Ngakak (S)

Yg ini ada oh yes oh no nya ga ka? Safe buat adek ga, ka?

Meuni sengaja banget nungguin adek bobo baru dijawab emoticon-Nohope


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di