alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc03c261cbfaae5608b4568/ekonomi-asia-cukup-solid-meski-tak-sepenuhnya-aman

Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman

Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman
Pekerja memproduksi kaos di industri tekstil PT Lima Satria, Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/10/2018).
Pergerakan ekonomi negara-negara Asia Pasifik dipandang masih cukup kuat menahan arus ketidakpastian global akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Secara keseluruhan, ekonomi Asia menunjukkan progres perbaikan yang siginifikan dalam satu dekade terakhir. Asia berhasil memimpin, dengan menyumbangkan 60 persen dari pertumbuhan ekonomi global dibandingkan dengan kawasan-kawasan lainnya.

Kendati begitu, kondisi ketidakpastian global yang cukup kuat memaksa ekonomi Asia untuk menjalani sejumlah normalisasi demi menghadapi risiko jangka pendek maupun panjang. Akibatnya, sejumlah negara pada kawasan ini harus menurunkan laju pertumbuhan ekonominya.

Ada beberapa faktor yang diprediksi akan menjadi penghambat dalam laju ekonomi itu, di antaranya perubahan kebijakan perdagangan Asia, perlambatan produktivitas sejumlah komoditas, hingga risiko serta peluang dari digitalisasi ekonomi.

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi di Asia akan tetap berada pada posisi 5,6 persen pada 2018, posisi yang sama dari prediksi pada April 2018.

Perlambatan diperkirakan akan mulai terasa pada tahun mendatang dengan prediksi pertumbuhan turun 0,2 persen ke posisi 5,4 persen.

Tingkat inflasi Asia pada 2018 diprediksi mencapai 2,8 persen, dan naik 0,1 persen pada 2019 akibat kenaikan harga sejumlah komoditas. Meski turun, tingkat inflasi itu masih akan berada di bawah target beberapa negara sehingga efek penurunan daya beli tidak akan merata.

“Dolar AS menguat, kenaikan suku bunga The Fed, harga minyak mentah dunia yang turut terkerek, dan juga eskalasi ketegangan dari perang dagang. Kondisi ini memberi tekanan pada negara berkembang, termasuk negara-negara Asia,” ucap Direktur Departemen Asia Pasifik IMF Changyong Rhee dalam diskusi pers “Asia Pacific Department: Regional Economic Outlook”, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018).

Tiongkok, sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan, akan melakukan normalisasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonominya. Akibatnya, sambung Rhee, ekonomi Tiongkok akan melambat pada tahun mendatang.

IMF menyebut ekonomi Tiongkok akan tetap berada pada level 6,6 persen pada 2018, namun akan turun antara 6,4 persen sampai 6,2 persen pada 2019. Sebagian besarnya disebabkan oleh penerapan tarif impor oleh AS dan juga stimulus pemerintah Tiongkok.

ASEAN, kecuali Indonesia, diperkirakan akan turun sekitar 0,1 persen sampai 0,2 persen. Sementara Indonesia diprediksi bergerak stabil.

Jepang dan India cukup beruntung. Jepang diprediksi naik menjadi 1,1 persen pada 2018. Ekonomi India tumbuh menjadi 7,3 persen pada tahun ini dan 7,4 persen pada tahun fiskal selanjutnya—meski estimasi ini sudah mengalami revisi 0,1 dan 0,4 persen akibat harga minyak yang melejit serta ketegangan perang dagang.
Risiko yang perlu diwaspadai Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman
Deputy Director Asia and Pacific Department IMF Changyong Rhee memberikan press briefing Asia and Pacific Department pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018).
Perlambatan ekonomi yang dialami negara-negara Asia bukan tanpa risiko. Rhee memaparkan, beberapa risiko yang harus diwaspadai di antaranya adalah pengetatan kebijakan finansial.

Bank sentral AS The Fed akan terus menaikkan suku bunganya. Meski negara-negara Asia selama ini tidak terlalu terpengaruh akibat kebijakan ini—dibandingkan negara di kawasan lain—namun, para pembuat kebijakan tetap harus waspada.

“Perkiraan kami menunjukkan pengetatan kebijakan ini bisa berdampak pada Produk Domestik Bruto (PDB) Asia hingga kira-kira sepertiga persen dari posisi sebelumnya,” sambung Rhee.

Risiko selanjutnya adalah ketegangan perang dagang yang masih berlanjut. Perlu diperhatikan, PDB AS dan Tiongkok—dua negara yang berseteru—diprediksi akan berdampak masing-masing 1,6 persen dan 0,9 persen.

“Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah kebijakan stimulus jangka pendek akan sedikit meleset dari dampak yang diharapkan,” sambungnya.

Digitalisasi juga akan menjadi tantangan lain bagi Asia. Pada satu sisi, digitalisasi mampu membawa peluang, di sisi lain, khususnya negara-negara yang belum siap, digitalisasi bisa membawa disrupsi terhadap gerak ekonomi.

Lalu, langkah apa yang perlu dibuat pemerintah?

Secara keseluruhan, Rhee menyebut pengambil keputusan di Asia untuk tetap percaya diri atas fundamental negara masing-masing dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Namun, jangan cepat berpuas diri.

“Keluarkan amunisi kalian pada momen yang tepat; kebijakan fiskal diperlukan untuk menjadi penyangga, suku bunga acuan harus tetap fleksibel menyerap tekanan global. Pada beberapa kasus, kebijakan moneter perlu diperketat untuk menahan kenaikan inflasi,” ucap Rhee.

Selain itu, negara-negara di Asia perlu untuk meliberalisasikan kebijakan perdagangan dan investasi. Di tengah ketegangan perang dagang, pasar Asia justru harus lebih terbuka.

Pemangku kepentingan perlu cermat dalam mengambil keuntungan dari menurunnya ekspor ke Tiongkok dan AS dengan melakukan reformasi investasi, utamanya pada sektor pelayanan.

“Jika keuntungan itu bisa diraih, kami menduga dalam jangka panjang PDB Asia bakal naik 5 sampai 10 persen,” lanjutnya.
Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...epenuhnya-aman

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman Aktivitas di Situbondo langsung normal pascagempa 6,3 SR

- Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman Basuki Hadimuljono: Kita belum disiplin dalam mengikuti tata ruang

- Ekonomi Asia cukup solid, meski tak sepenuhnya aman Melinda Gates dan Sri Mulyani satu suara soal teknologi

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di