alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Gadis pramugari Bab 3 - 4
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc025ebdc06bd9e518b456e/gadis-pramugari-bab-3---4

Gadis pramugari Bab 3 - 4

Bab 3 - 4 Gadis Pramugari

Gadis pramugari Bab 3 - 4


Bab 3 - Di Atas 32.000 Kaki



"Flight Attendant, Take Off Position" mendengar Command dari Captain Gilang, Gadis pun bersiap melakukan "One Minute Silent Review". Kegiatan yang mengharuskan pramugari memusatkan konsentrasinya pada saat pesawat lepas landas. Pramugari wajib mengingat kembali secara singkat mengenai hal-hal yang berhubungan dengan evakuasi penumpang dan keadaan darurat yang mungkin terjadi pada saat itu. Karena saat kritis terjadinya kecelakaan adalah pada saat pesawat melakukan take off ataulanding, hal itu biasa disebut sebagai critical phase.

Ketika "Lampu tanda kenakan sabuk pengaman" dimatikan. Gadis sebagai FA 1 atau pramugari senior dipenerbangan itu memberikan announcement kepada penumpang untuk tetap menggunakan sabuk pengaman demi keselamatan mereka. Setelah melakukan announcement ia pun mengambil handset dan menekan tombol interphone untuk berkomunikasi dengan pilot, meminta akses masuk ke dalam flight deck.

Setelah kehadirannya di Flight Deck diketahui oleh Captain dan co pilot nya, Gadis menawarkan membuatkan minuman untuk mereka".

"Dis, saya mau minum kopi panas gula setengah krimer satu yaa" Capt Gilang yang pertama memesan jenis minuman yang dihapal Gadis sebagai minuman favorit Captain  muda itu.

"Baik Capt, kalau Mas Budi mau diambilkan minum apa mas?" Gadis menanyakan co pilot senior ber bar 3 itu dengan suara yang dibuat semenarik mungkin. Budi merupakan co pilotyang belum pernah ditidurinya, ia selalu menolak pesona Gadis, menurut desas desus dikalangan pramugari, laki-laki ini lebih tertarik kepada perempuan yang jauh lebih tua dibandingkan usianya. Ia lebih suka mengencani pramugari yang sudah menyandang status janda. Mungkin karena fetish atau mungkin karena biasanya pramugari yang sudah bercerai tidak akan menuntut macam-macam mengenai kelanjutan hubungan diantara keduanya. Cukup dengan saling memenuhi kebutuhan masing-masing secara fisik dan kenyamanan berhubungan. tanpa perlu melangkah ke jenjang yang lebih lanjut.
Setelah memberikan minuman keduanya, Gadis menempatkan diri duduk di kursi observer dan mencoba membuka pembicaraan dengan mereka.

"Bagaimana kabar Yudha, Captain? Jadi masuk ke SMP Don Bosco?".

"Iya sudah masuk Dis, uang masuknya mahal banget sekarang. Nanti kalau lo nikah, ikut KB aja Dis, anak jangan lebih dari dua, biaya pendidikan jaman sekarang mahal banget, nggak mungkin kan kita tega menyekolahkan anak kita ditempat yang biasa - biasa aja" ujar Captain Gilang yang terkenal pelit dikalangan Pramugari. Ia mendapatkan predikat Captain pelit karena ia tidak pernah sekalipun mentraktir crewnya apabila mereka sedang terbang dan menginap diluar kota. Ia selalu mencari cara untuk menghindar apabila ada ajakan pergi keluar bersama crew nya untuk mencari makanan di luar hotel mereka menginap.

Alasan Captain Gilang tidak pernah mengeluarkan uang bukan karena ia miskin tetapi karena istrinya tidak pernah memberikan uang sepeser pun.

Hal tersebut bertujuan agar suaminya tidak bermain gila dengan perempuan lain terutama dengan pramugari-pramugari yang cantik. Menurut teori istrinya, tidak akan ada pramugari yang mau dipacari oleh pilot yang tidak punya uang. Tetapi ternyata hal tersebut tidak terbukti benar seratus persen. Captain Gilang punya seribu cara untuk mematahkan teori istrinya.
Cara Pertama yang dilakukan Captain Gilang adalah dengan menyembunyikan sebagian uang Ron nya(Remain over night) di buku manual yang selalu ia simpan di lockernya yang berada di ruangan Flight Operation. Istilah dikit-dikit lama-lama menjadi bukit adalah pedoman yang ia pegang. Ia pun tidak pernah memberitahukan istrinya apabila terjadi kenaikan uang ron bagi crew. Ia hanya menyerahkan sebagian uang Ron nya agar sang istri tidak menaruh curiga.

Cara kedua adalah dengan mendekati pramugari-pramugari muda yang senang bercinta dengan Captain muda dan tampan. Ia pun meminta pramugari-pramugari itu untuk merequest schedule menyamakan schedule mereka dengannya agar mereka dapat berkencan di kamar hotel tempat mereka menginap di luar kota atau luar negeri.

Dan Captain Gilang menempuh cara kedua untuk dapat tidur dengan Gadis. Tetapi karena istri Captain Gilang yang sangat over protektif sehingga menyulitkan Captain Gilang dan Gadis untuk menyamakan schedule mereka. Sehingga percintaan mereka hanya terjadi sekali saja.

"Mas Budi Kapan nie melepas masa lanjangnya? Engga kepingin ada yang ngurus di rumah mas?" Gadis bertanya untuk memancing reaksi Budi yang dari tadi enggan ikut berbincang dan memilih untuk menyibukkan diri membaca manual.

Demi kesopanan Budi menjawab dengan cepat " Nanti saya kirimin undangan kalau saya menikah mbak"

"Kapan tuh Bud, jangan kelamaan nanti keburu lumutan tuh batang" Captain Gilang menggoda Budi yang terkesan enggan membahas masalah pribadinya

Melihat Budi yang mengacuhkan dirinya, Gadis pun akhirnya menyerah dan memilih untuk kembali ke cabin untuk mengecek keadaan penumpang.

                                ***

"Mbak Gadis, ada penumpang yang meminta obat sakit kepala kepada saya mbak. Saya kasihkan atau bagaimana mbak?" tanya Yuni, Junior Zero hour yang baru pertama kali bertugas dipenerbangan setelah lepas dari masa trainingnya.

Bertujuan mendidik Juniornya, Gadis tidak langsung mengiyakan tetapi balik bertanya kepada Yuni " Prosedurnya bagaimana Yun kalau ada penumpang yang meminta obat kepada kita?"

"Saya harus berbicara agak keras agar terdengar oleh penumpang lain, mengulang kembali permintaan penumpang tersebut" jawab Yuni yakin kemudian menambahkan " Seperti ini mbak : Apakah benar bapak meminta obat sakit kepala? Obat sakit kepala apa yang biasa bapak minum? Dan apakah sebelumnya bapak sudah mengkonsumsi obat?"
"Dan jika bapak itu sudah mengkonsumsi obat kamu jawab apa?" tanya Gadis kembali.

"Saya akan bilang : tunggu 6 jam pak setelah bapak minum obat lagi agar tidak berbahaya bagi kesehatan bapak. Dan jika bapak itu menolak, maka sebaiknya kita umumkan di cabin apakah ada dokter di pesawat untuk membantu memeriksa pasien" papar Yuni kembali menjawab pertanyaan Gadis.

"OK ...  kalau begitu lakukan prosedurnya Yun" perintah Gadis tegas.

"Baik mbak, Yuni akan tanyakan kepada penumpang tersebut dan melaporkan kembali kepada mbak Gadis" tambah Yuni

"Ok saya akan report masalah ini ke CaptainYun".

Setelah beberapa saat Yuni melaporkan bahwa penumpang tersebut belum meminum obat apapun dan menyebutkan salah satu nama obat yang biasa ia minum. Mendengar itu Gadis pun memerintahkan Yuni untuk memberikan obat yang dimaksud dan memastikan untuk mengecek terlebih dahulu tanggal expired obat tersebut.

"Mbak Gadis mau Yuni buatkan teh manis mbak?" Yuni yang baru saja selesai mengantarkan obat kepada penumpang masuk ke dalam galley dan menawarkan membuatkan minuman untuk seniornya yang terkenal karena kepintaran dan kecantikannya di maskapai ini.
"Tidak terima kasih Yun, kalau kamu mau buat aja Yun, boleh minum juice juga kok, jangan malu-malu yaa" Selain cantik Gadis juga terkenal sebagai senior angel, yang selalu baik dan tidak rese kepada junior-juniornya selama mereka menjalankan pekerjaannya secara profesional".

"Yuni mau buat kopi saja mbak" Yuni mengambil kopi sachet dari dalam handbag nya.

Aroma kopi segera menyeruak di galley itu.

"Hehehe... Kamu bawa kopi sendiri ya, kamu minum kopi setiap hari Yun?"

"Tidak setiap hari mbak, malahan dulunya aku nggak suka ngopi, tapi sejak training aku jadi kecanduan ngopi mbak biar nggak ngantuk di kelas".

"Hahaha... Iyaa aku ngerti banget, apalagi kalau besoknya ada ujian, malamnya pasti kita nggak tidur karena belajar semalaman".

"Tapi tadi malam kamu tidur cukup kan Yun?".

"Sebenarnya tadi malam aku nggak bisa tidur mbak, nervous karena  first flight, untungnya waktu kenalan sama mbak dan crew yang lain di flight operasional room (FLOP) aku mulai tenang mbak karena crew aku ternyata baik-baik mbak, nggak seperti cerita senior-senior di tempat training".

"Yun ... Semua orang pada dasarnya baik, mungkin pola pengajaran dan pengarahan di lapangannya saja yang kadang berbeda, sehingga ada istilah senior angel, killer, bully, laknat lah. Tapi kamu ingat saja satu hal, kita tidak bisa merubah orang lain yang bisa kita rubah yaa diri kita sendiri. Jadi kalau kamu profesional dan kompeten, aku rasa semua senior akan menjadi senior angel untuk kamu".

"Iya mbak terima kasih nasehatnya mbak, memang awalnya Yuni gugup banget mbak karena first flight tapi setelah dijalani, Yuni suka sekali mbak jadi pramugari".

"Iya Yun, apalagi nanti kalau kamu cuti terus lama nggak terbang, pasti kamu kangen banget terbang. Kata crew terbang itu seperti candu, kalau kebanyakan dosisnya bisa mati kalau terlalu sedikit atau jarang bisa ketagihan hehehe..."

"Kayanya Yuni nggak papa deh mbak kelebihan dosis karena kan makin kita banyak terbang uang kita juga makin banyak mbak, soalnya Yuni pingin nabung buat beli rumah. Keluarga Yuni masih tinggal di rumah kontrakan mbak".

"Iya mbak doakan supaya mimpi kamu cepat tercapai amiiinn...".

"Amiiinnnn...".

"Yun kita cek kabin dulu yuk, kita sudah mau landing nih".

"Baik mbak".

                                   ***

"Terima kasih atas kerjasamanya sehingga penerbangan ini dapat berjalan dengan baik. Apakah ada complaint atau compliment dari penumpang Gadis?" tanya Captain Gilang kepada Gadis selaku senior pramugari pada penerbangan itu.

"Tidak ada complaint Captain, tetapi kita mendapatkan compliment tertulis untuk Yuni karena telah membantu penumpang yang menderita sakit kepala, seperti yang sudah saya report tadi pada saat penerbangan Capt" Gadis berkata seraya memberikan surat compliment yang dimaksud olehnya tadi.

"Ok Good Job Yuni.." Captain Gilang menatap Yuni dan memberikan tanda Ok dengan tangannya sebagai pujian langsung kepada Yuni. Kemudian ia menoleh kepada Gadis " Dis kamu yang pimpin doa yaa".

"Baik rekan-rekan sekalian, mari kita berdoa bersyukur kepada Allah karena telah diberikan penerbangan yang lancar dan telah selamat sampai ke tujuan".

"Amiiinn" seru crew Captain Gilang serempak menutup doa mereka.

Seluruh crew pun menarik koper mereka turun dari pesawat dan menuju mobil jemputan maskapai yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Ketika Gadis hendak menaikkan kopernya ke mobil jemputan, suara sapaan ragu-ragu terdengar "Dis???"


                                ***


Bab 4 - Gadis dan Raka


Ketika Gadis hendak menaikkan kopernya ke mobil, suara laki-laki menyapanya dengan ragu-ragu

"Dis???"

Seketika itu Gadis mengurungkan niatnya menaruh koper ke dalam mobil dan menoleh ke arah sumber suara itu.

"Apakah itu benar kamu ... Gadis?Gadis Ginanti???"

"Mas Raka?" Wajah Gadis memucat seketika melihat Raka di tempat itu dan ia pun refleks mengepalkan jemari tangannya, menutupi kegelisahan yang tiba-tiba melandanya.

"Dis, benar ini kamu kan? selama ini kamu kemana Dis? Kenapa kamu menghilang?

Kenapa ibumu bilang kalau kamu jadi TKW ke Arab?" serentetan pertanyaan diajukan Raka dengan cepat.

Gadis menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Ia pergi menghampiri supirnya dan meminta maaf.

"Pak Toni, mohon maaf yaa,saya tidak jadi pulang pak. Nanti saya pulang sendiri saja pak, maaf merepotkan bapak yaa"

Gadis meminta supir maskapainya untuk segera meninggalkan tempat itu agar tidak mencuri dengar pembicaraannya dengan Raka, karena gosip dari supir airlines mengalahkan gosip di berita entertainment, makin digosok makin sip. Makin ditambah bumbunya makin meluas beritanya.

"Maaf mas Raka, sebaiknya kita bicara ditempat lain saja yaa, aku pakai baju seragam nggak enak kalau ditempat umum begini dilihatnya" Bujuk Gadis kepada Raka untuk membawanya ketempat yang lebih tertutup.

"Kita ke mobil" tanpa menunggu jawaban Gadis, Raka meraih pegangan koper Gadis dan menariknya cepat, tidak sabar untuk segera tiba di mobil.

Di dalam mobil keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Seolah dengan menambah kecepatan dapat membuat pikiran Raka tenang, Ia membawa mobil itu membelah jalan tol dengan kecepatan tinggi dan membawa mereka ke pusat Jakarta.

"Aku anter kamu pulang, kamu tinggal dimana?" Raka yang lebih dulu memecahkan kesunyian diantara mereka.

"Sudirman Hill" Gadis menyebutkan salah satu nama apartemen mewah di kawasan Sudirman.

Raka memarkirkan mobilnya di basement dan ia pun membantu Gadis mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil dan berjalan mengikuti Gadis menuju lift.

Tidak ada percakapan yang terlontar ketika mereka berada di lift menuju unit apartemen Gadis. Gadis mempersilahkan Raka untuk masuk dan duduk di sofa, sementara ia masuk ke kamar tidur untuk mengganti baju seragamnya.
Raka berkeliling mengamati apartemen Gadis yang jauh dari kesan sederhana. Apartemen mewah dengan dua kamar tidur itu didominasi dengan warna putih gading dan abu-abu, Warna favorit Gadis batin Raka. Ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang tamu dilengkapi dengan sofa besar yang nyaman untuk diduduki. Tidak ada satupun foto atau hiasan yang terpajang di dinding. Hanya terdapat satu TV LED yang terpasang di dinding, menutupi kekosongan di dinding tersebut.

Ruangan itu tampak kosong meskipun dilengkapi dengan furnitur mahal dan berkualitas. Sekosong tatapan Gadis ketika berjalan bersama Raka menuju apartemennya.

Dada Raka berdebar kencang ketika ia melihat Seorang perempuan yang ia yakini sebagai Gadis, memakai seragam pramugari di parkiran bandara. Menahan emosi yang berkecambuk didadanya, Raka segera menahan Gadis itu untuk berlalu pergi. Dan disinilah ia sekarang menunggu Gadis itu memberikan penjelasan, mengapa ia menghancurkan hati Raka bertahun -tahun lalu dengan menghilang, meninggalkannya tanpa jejak sedikit pun.

Gadis keluar dengan menggunakan baju terusan tanpa lengan berwarna hijau toska dan membuat kulit wajahnya tampak lebih cerah dari yang diingat Raka.

"Kamu mau minum apa mas?" tanya Gadis mengalihkan tatapan Raka dari wajahnya.

"Air putih saja, terima kasih" Raka menatap kembali Gadis yang sedang menyiapkan minumannya.

Jantung Raka makin berdegup kencang, seperti saat pertama kali mereka bertemu di perpustakaan sekolah. Gadis yang ia tatap sekarang adalah Gadis yang selalu hadir mengusik mimpinya. Gadis yang semakin cantik, rambutnya bertambah panjang, rambutnya yang dahulu berwarna hitam alami sekarang berganti warna menjadi coklat terang dan terkesan lebih modern. Pembawaan Gadis yang semakin tenang pun semakin membuat Raka gelisah menanti kedatangannya di sofa ini.

"Silahkan diminum mas" Gadis menyerahkan gelas yang berisi air putih.

Untuk menghilangkan kegelisahannya Raka meneguk air tersebut sampai habis, melupakan tata krama jawanya untuk menyisakan sedikit minuman yang disuguhkan oleh tuan rumah.

"Mau saya tambahkan lagi mas?" melihat gelas Raka yang kosong, Gadis kembali menawarkan minuman kepada tamunya.

"Tidak terima kasih" tolak Raka halus.

Dan kembali keheningan diantaranya tercipta.

"Sekarang Mas Raka tugas dimana" kali ini Gadis yang mencoba mencairkan suasana hening diantara mereka.

"Saya bertugas di Gambir. Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi Dis?" tukas Raka cepat dan tidak sabar.

"Pertanyaan? Ooo maksud mas Raka pertanyaan yang tadi di parkiran bandara?" Gadis menjawab pertanyaan Raka diikuti oleh senyum yang terlihat dipaksakan.

Dengan menatap wajah Raka, Gadis meminta maaf kepadanya.

"Saya mohon maaf apabila mas Raka tersinggung dengan tindakan saya, saya yang minta ibu saya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun dimana saya berada. Saya ingin mengejar karir dan mimpi saya mas"

Raka menatap Gadis itu lekat, mencoba mencari kebohongan dikedua matanya.
Raka tidak menemukan kebohongan disana, Gadis yang sudah piawai berbohong berhasil membuat Raka percaya akan setiap perkataan yang ia katakan.

"Karena karir kamu meninggalkanku ..." batin Raka berteriak, namun kalimat itu urung dikeluarkan olehnya. Ia memilih melanjutkan pertanyaannya.
"Jadi sekarang mimpi kamu sudah tercapai?" Raka mencoba menekan emosinya sehingga kalimatnya terdengar lirih bergetar.

Mencoba mengabaikan tatapan mata Raka yang terlihat menyedihkan, Gadis berkata dengan lugas " Ya, seperti kamu lihat, kehidupan saya sekarang lebih baik dibandingkan ketika di Solo".

Mencoba menekan rasa kecewanya, Raka pun berdiri dan berniat untuk pamit. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Gadis mengulurkan tangannya, seketika itu juga Raka menarik tubuhnya mendekat dan memeluknya erat.

"Tolong tetaplah seperti ini, walau hanya beberapa menit saja" pinta Raka dan ia pun semakin mengetatkan pelukannya. Entah apa yang membuat ia menarik Gadis ke dalam pelukannya, mungkin karena kerinduan yang menyesakkan hatinya membuat otaknya jadi kacau. Kehangatan tubuh Gadis membuat jantungnya berdebar kencang dan membuat ia merasa dadanya akan pecah. Harum aroma Gadis membuat Raka semakin terlena dan menenggelamkan wajahnya di rambut Gadis. Melepaskan kerinduan yang selama ini dipendamnya.

"Maaf mas Raka, tapi aku tidak bisa mas" kalimat bernada penolakan yang dilontarkan Gadis membuat kesadaran Raka kembali timbul.
"Maaf ... maafkan aku yang lepas kendali Dis. Sekali lagi maafkan aku! aku mohon agar kamu tidak marah" Seperti orang yang kebingungan Raka meminta maaf dan melepaskan pelukannya. Ia menyesali tindakan kurang ajarnya. Ia dan Gadis sudah tidak lagi berhubungan, jadi ia tidak lagi berhak melakukan perbuatan itu. Namun kerinduannya membuat akal sehatnya mati.

Setelah berhasil menguasai dirinya, Raka bertanya dengan suara lirih "Tapi bisakah kita tetap berteman Dis?" melihat tatapan Raka yang penuh harap, Gadis pun tidak sampai hati menolak permintaan itu. Dan dengan berat hati Raka pamit pulang dan sekali lagi mengulangi permintaan maafnya.

***

"Gadis ... Batas tipis antara nyata dan fantasiku"

Selama perjalanan menuju mess nya Raka seolah tidak percaya telah menemukan Gadis kembali. Memang benar katanya bertemu dengan seseorang dari masa lalu itu lebih menakutkan daripada hantu.

Bahagia, lega dan bingung bercampur di benak Raka sekarang. Hatinya ingin sekali memperjuangkan kembali cintanya yang telah kembali itu, tetapi Gadis secara jelas telah menolaknya. Setelah bertahun-tahun berpisah, sangat tidak mungkin jika Gadis tidak memiliki seseorang dihidupnya. Seperti Raka yang telah bersama Laras saat ini, meskipun jika Gadis tidak menolaknya tadi maka tanpa ragu Raka akan segera memutuskan hubungannya dengan Laras.
Diubah oleh: annastasia81
Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di