alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
PART 2 (APA YG KURASAKAN INI ?)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc01a045a51639d578b4571/part-2-apa-yg-kurasakan-ini

PART 2 (APA YG KURASAKAN INI ?)


 
Aku bersiap – siap berangkat ke sekolah dengan ogah – ogahan, sarapanpun juga aku sambil menonton tv agar semakin lama, karena aku malu jika harus bertemu dengan dia yg sudah aku isengin. Akhirnya aku berangkat diantar ibu dengan berjalan selambat mungkin dan sesekali berhenti dengan dalih capek jika jalan kaki.
 
Ibu    : “ nduk, ayo buruan sudah kesiangan loh ini kamu berangkatnya, kok jalannya lama sekali, berhenti – berhenti terus.” Ibuk bicara dengan nada sedikit jengkel karena sikapku yg dianggapnya lelet.
Aku    : “ iyaa bu, capek jalan kaki.” Dengan nada di lemes – lemesin biar ibuk ngerasa kasian. Hehe
 
Selambat apapun aku berjalan tetap akhirnya sampai juga di sekolah, akupun berjalan dengan pelan dan mengedarkan pandangan ke halaman sekolah terutama sudut kelasku, aku berharap dia tidak masuk sekolah hari ini. Gerombolan anak laki  lakipun tak luput dari pengamatanku satu per satu, untuk memastikan kalau dia tidak masuk sekolah.

“ yeyy, dia gak ada.” Sorakku dalam hati.”


Belum juga selesai aku bersorak dalam hati, aku melihat bayangan yg tingginya lebih sedikit denganku, dengan potongan rambut pendek, membawa tas berbentuk robot khas laki - laki dan berjalan mengikutiku. Sontak saja aku kaget dan seketika berhenti berjalan, lalu ku lirikkan mataku ke bayangan tersebut yg pelan – pelan berjalan disampingku.

Bayangan      : “ hei, kamu yg kemarin ya? “
Aku             : “ hehe iyaa ” tersungging senyum malu dari wajahku
 
Kami berjalan bersama menuju kelas, karena pada saat itu ibuku masih berbicara dengan orang tua teman – temanku yg lain. Sampai di kelas aku buru – buru duduk dan mecoba mengalihkan rasa maluku dengan mengeluarkan buku gambar yg ada di dalam tas sebagai pelampiasan, ku coretkan gambar abstrak untuk menumpahkan apa yg ada dalam otakku.

Untuk mengawali pelajaran hari ini Bu Sri pun mengajak kami untuk berdoa bersama. Hingga tak terasa belajar mengenal dan menulis huruf abjad membiusku hingga bel tanda istirahat berbunyi. Aku segera merapikan pensil bermotif garis biru tua – hitam yg legendaris pada masanya ke dalam kotak pensil dan bergegas untuk ke halaman sekolah bermain bersama dengan teman yg lain, tentunya dengan teman sebangkuku si Dewi.
 
Aku    : “ mbak, ayo main perosotan yuk “.
(memang pada saat itu ada 2 perosotan yg terbuat dari kayu dan satunya dari semen gitu guys, dan perosotan yg paling tinggi itu terbuat dari semen yg kurang lebih hampir 2 meter)
Dewi  : “ ayo dek, mau yg mana nih?? Kayu apa yg satunya?”
Aku    : “ yg didepan (perosotan dari semen) aja mbak”. Jawabku dengan semangat
Dewi  : “ yaudah ayo buruan, udah rame banget”.

Akhirnya kami berlari menuju perosotan tersebut. Memang perosotan itu  yg paling banyak dinaiki temen - temen guys, karena paling tinggi dan licin banget jadi kami beranggapan semakin seru.


Kamipun berjubel dan antri layaknya menaiki wahana permainan yg istimewa, panas matahari yg menyengat tak kami hiraukan dan hanya membuat kami memicingkan mata. Aku mulai naik satu tangga dan menunggu, begitu sampai tiba saat giliranku dengan mbak dewi. Karena pada saat itu 1 tangga bisa diisi 2 – 3 anak kecil. Oleh sebab itu, menambah waktu kami untuk menunggu. Tak jarang orang tua murid yg sekedar mengawasi anaknya dari bawah perosotan, dan ada juga yg menunggu di tangga yg paling bawah untuk memastikan agar anaknya menaiki tangga dengan hati – hati. Si Ibu yg ada di tangga yg paling bawah juga membantu anak kecil yg lain untuk berbaris dengan rapi.
 
I        : “ sini nak, baris yg rapi yaa nunggu giliran. Ndak boleh saling dorong yaa.” 
 
Si ibu memberi aba – aba layaknya seorang guru yg sedang melatih muridnya baris ber baris. Dengan postur tinggi besar Si ibu mengarahkan tubuh anak yg lain untuk menunggu gilirannya.


Pada saat Si ibu sedang sibuk mengarahkan dan mengatur baris anak – anak yg lain, tiba – tiba ada salah satu anak laki – laki dengan badan yg cukup gemuk setelah turun dari perosotan lari menuju antrian untuk naik tangga, namun dia tidak mau untuk menunggu gilirannya. Tubuh gemuknya mencoba menerobos antrian yg cukup berjubel hingga seketika membuat yg lain berteriak karena takut apabila sampai terjatuh.

Hingga pada akhirnya Si ibu pun dengan cepat melihat apa yg sedang terjadi dan mencoba berteriak untuk memanggil temanku untuk menghentikannya agar tidak  membahayakan yg lain. Dan pada saat itu aku dan mbak dewi sedang asyik ngobrol agar tidak terasa lama menunggu. Ntah kenapa aku merasa pada saat itu ada sesuatu yg besar dan kuat sedang menyentuh tubuh ini hingga aku merasa melayang dan terdengar suara cukup keras dari kepalaku dan beberapa teriakan yg memanggil namaku. Mataku terpejam pelan dengan diiringi sedikit erangan, gelap dan sunyilah pada saat itu yg ku rasakan.
 
Pelan – pelan kubuka mataku dengan sedikit mengernyit menahan silaunya lampu yg menyapu wajahku.
“ aaarrghhh... kenapa ini?”. Gumamku

“apa yg terjadi?”

“ aku dimana ini?, kenapa ada banyak orang yg mengerumuniku?”


Ribuan pertanyaan dengan kejam memburu otakku tanpa memperdulikan sang empu yg masih meringis kesakitan menahan nyeri dikepala.
 
Ibu    : “ nduk??? Alkhamdulillah kamu wes sadar nduk. Sakit ya nduk kepalanya?. Sini nduk biar ibuk belai yg sakit.” Dengan iba dan pelan – pelan ibu membantuku bangun dan membelai dengan lembut kepalaku yg sakit.
 
Aku bangun dengan mata masih cukup buram tidak begitu jelas untuk melihat siapa saja yg mengerumuniku, yg jelas pada saat itu suara ibulah yg paling aku kenal. Aku meraih tangan ibu dengan lamban dan memeluk tubuh ibuku dengan lemas karena rasa sakit kepala yg sangat menggangguku.
 
Ibu    : “ sebentar nduk, minum air putih dulu ya sedikit saja .”


Dengan mata terpejam menahan sakit aku minum air bening tersebut dengan bantuan ibu. Lalu belaian lembut nan menenangkan melenyapkan sakit kepala yg kurasakan. Hingga akhirnya mampu membuatku terlelap seolah tak merasakan sakit apapun.

Sekolah pada hari itu berlangsung sangat cepat bagiku, karena aku sudah berada di kasurku yg empuk dengan memeluk boneka berbentuk bayi kesayanganku tanpa harus mengikuti pelajaran selanjutnya. Dengan pelan ku buka mataku, dan mencoba mengingat apa  yg telah terjadi saat aku sedang bermain perosotan diwaktu istirahat tadi. Namun sial tak dapat satupun yg dapat ku ingat, hanya bayanganku dan mbak dewi sedang asyik mengobrol smbil menunggu giliran, lalu gelap. Berulang kali aku mencoba untuk mengingatnya lagi dan lagi, namun hanya bayangan itu yg terulang.
 
“Lalu, kenapa kepalaku bisa sampai sakit, sedangkan sebelumnya aku baik – baik saja?”

 
Dengan ragu dan pelan aku mencoba meraba kepalaku yg sakit. Yaa, aku merasakan sesuatu yg terkesan aneh dikepalaku, benjolan yg ada bagian belakang kepala tak begitu besar. Namun sangat menggannjal ketika tidur terlentang.

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di