alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
BBM Naik, Pembela Rakyat Diam
2 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbff7a6de2cf20c258b4568/bbm-naik-pembela-rakyat-diam

BBM Naik, Pembela Rakyat Diam

BBM Naik, Pembela Rakyat Diam

Tahun lalu, 2017, saat Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, ratusan mahasiswa dari badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), IMM, LMND dan lainnya, menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Gladag, pada Senin pagi (9/1/2017). Dalam orasinya, mereka menolak kebijakan pemerintah menaikkan BBM dan listrik serta biaya tarif penerbitan STNK/BPKB.

Mereka membawa sejumlah spanduk dan poster berisi kecaman atas kebijakan pemerintah dan tuntutan agar kenaikan dibatalkan. Spanduk tersebut antara lain berbunyi

'Mahasiswa bergerak menolak tunduk bangkit melawan!!!',

'Pemerintah dibutakan kekuasaan, Rakyat kecil tak dihiraukan',

Derita sudah naik seleher' dan lainnya.

"BBM naik, pajak naik, listrik naik, berarti ada yang harus turun. Siapa teman-teman ?"

Pernyataan sikap dalam orasi tersebut adalah kepada pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo.

Pertama, menuntut pemerintah mencabut kenaikan harga BBM, listrik, dan biaya tarif penerbitan STNK dan BPKB.

Kedua, pihaknya meminta pemerintah untuk membatalkan kenaikan BBM nonsubsidi yang memicu kenaikan harga pokok.

Ketiga, menuntut pemerintah untuk mengembalikan subsidi listrik.

Keempat, menuntut pemerintah Indonesia, Polri, Kemenkeu dan instansi pemerintah terkait untuk bersikap tegas dan berhenti lempar tangan terhadap kebijakan yang menyangkut hajat dan kesejahteraan rakyat Indonesia serta menuntut pemerintah agar hadir sebagai solusi terhadap permasalahan yang ada dan menetapkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Minimnya sosialisasi dan pemerintah yang terkesan lempar tangan membuat rakyat semakin tercekik dan sesak nafas.

Itulah secuplik kisah saat mahasiswa membela rakyat. Sebelum-sebelumnya, aksi serupa juga selalu terjadi bila persoalan hajat hidup orang banyak disentuh oleh pemerintah dan memberatkan rakyat.

Kini, PT Pertamina (Persero) akhirnya menaikkan BBM di SPBU. Sebabnya, setelah cukup lama menahan kenaikan harga BBM di tengah melambungnya harga minyak dunia, maka

harga BBM dinaikkan, yaitu jenis pertamax series dan dex series, serta biosolar non PSO.

Penyesuaian harga telah digulirkan sejak Rabu (10/10) dan berlaku di seluruh Indonesia pukul 11.00 WIB.

Sedangkan harga BBM premium, biosolar PSO dan pertalite tidak naik. Khusus harga BBM untuk daerah yang terkena bencana alam di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah untuk sementara ini tidak mengalami kenaikan.

Penyesuaian harga BBM jenis pertamax, pertamax turbo, dexlite, pertamina dex, dan biosolar non PSO merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik. Saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus US$ 80 dolar per barel

Pertamina pun mengikuti aturan terkait penyesuaian harga sesuai Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Beruntung, pemerintah membatalkan kenaikan harga premium. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa kenaikan harga BBM, bukan ditetapkan oleh pemerintah, namun oleh PT Pertamina?

BBM adalah komoditas strategis, karena menyangkut hajat hidup orang banyak sesuai Pasal 33 UUD 1945. Haruskah pemerintah menyerahkan kepemilikan dan penguasaan kepada sektor privat karena tidak sesuai Pasal 33? Dan, tidak membela hajat hidup orang banyak.

Bila boleh memutar sejarah, saat pemerintahan Soeharto, kenaikkan BBM itu diumumkan langsung oleh Presiden Soeharto, menjelang tengah malam. Lalu, berpidato menjelaskan mengapa BBM harus naik. Dijelaskan dengan sangat detil, karena menyangkut hajat hidup orang banyak, rakyat.

Kini, seringnya kenaikan harga BBM, bahkan boleh dibilang dengan cara diam-diam. Pembela rakyat yang bernama mahasiswa pun kini tak terlihat memihak rakyat kecil, adem ayem. Padahal di Indonesia kini sedang berlangsung pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali.

Yang pasti, adanya kenaikan harga dolar, dan kini harga BBM juga dinaikkan, menjadikan tanda-tanda adanya masalah ekonomi di negeri ini. Beruntung, harga BBM Premium ditundanya kenaikannya, meski bisa jadi akan tetap dinaikkan.

Mengapa BBM naik bukan diumumkan oleh Pemerintah? Mengapa BBM naik, para pembela rakyat diam saja? Mengapa? Mengapa? Ke mana mereka?

https://indonesiana.tempo.co/read/128287/2018/10/11/supartonojw/bbm-naik-pembela-rakyat-diam

Serius
Aye kangen berat dgn mahasiswa2 Tempoe Doeloe emoticon-Sorry

Tp setelah diajak makan siang di istana mereka skrg berubah jd Katak dalam Tempurung

Hilang diterjang tsunami emoticon-Turut Berduka
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
sabar aja gan....hanya tinggal nunggu waktu...klo segala sesuatunya udah sangat mencekik
buku putih juga hilang g ada baunya.
trus ts maunya demo kek 98? ngga nyesel? pasti ts lahirnya thn nocengan....ga heran. percuma ente sekolah tinggi2 kalo gampang keprovoke atau emang ente provokator?
tenang gan pembela rakyatnya kan bbm nya udah ditanggung

Memangnya premium, pertalite, dan solar naik ya? emoticon-Cape d...


IBU DARI PKS, YA?
Eko Kuntadhi


Ini kisah seorang teman yang hidupnya berbeda dengan orang lainnya. Menjelang lebaran ini, istri teman saya ke pasar bermaksud berbelanja bahan makanan. Dia masuk ke los tukang daging.

"Daging sekilo berapa, pak?"

"Ibu simpatisan PKS, ya?"

"Iya..."

"Ohhh, sekilonya Rp 200 ribu, bu."

"Mahal sekali!," katanya sambil memaki. Ibu itu tidak tahu, tukang daging menjual kepada pelanggan lain hanya Rp 100 atau paling mahal Rp 110 ribu sekilo. Itu juga karena mau lebaran. Biasanya malah hanya Rp 90 ribuan sekilo.

Ketika tahu harga daging di luar jangkauannya, dia akhirnya memilih membeli telur.

"Telur sekilo berapa, pak?"

"Lagi naik, nih, bu. Sekarang Rp 35 ribu."

"Kok, mahal sih pak?"

"Iya, ibu dari PKS, kan?," tanya tukang telur.

Entah kenapa, barusan tukang telur itu menjual dengan harga Rp 22 ribu sekilo. Harganya justru sedang turun. Seminggu lalu harga telur masih Rp 25 ribu sekilo.

Dia heran, ketika membeli bawang, cabai, beras, para pedagang di pasar itu selalu bertanya. "Ibu dari PKS, ya?"

Ohh, rupanya ada semacam kesepakatan para pedagang di pasar, jika yang belanja orang PKS memang harganya dibuat lebih mahal dari pembeli lainnya. Bukan apa-apa. Jikapun diberi harga aslinya, nanti di media sosial, mereka tetap saja akan ngomong bahwa harga-harga naik gila-gilaan. Padahal realnya biasa-biasa aja.

Coba lihat inflasi atau kenaikan harga rata-rata di pasaran menjelang lebaran kali ini. Angkanya hanya 0,21%. Ini adalah angka terendah dibanding inflasi pada periode tahun lalu. Cabai merah, bawang putih dan cabai rawit yang biasanya melonjak karena ibu-ibu membeli lebih banyak untuk membuat sayur ketupat dan sambel goreng ati di rumahnya, justru kini malah stagnan.

Begitu juga dengan beras. Waktu impor yang pas dan galaknya Kabulog Budi Waseso menghantam mafia yang berani menimbun beras, membuat harganya anteng seperti bayi dalam pelukan Lucinta Luna.

Proses pengendalian inflasi memang dilakukan dengan sangat serius. Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BUMN bahkan kepolisian dikerahkan untuk menjaga gejolak harga.

Ibu itu pulang dari pasar dengan menyimpan gondok. Dia menstarter motornya, melaju di jalanan. Masuk ke SPBU hendak mengisi bensin.

"Isi Premium, pak?"

"Ibu dari PKS, ya?"


"Iya."

Mendengar jawaban itu, orang yang antri si belakang ibu hendak mengisi Premium tetiba pada melipir. Mereka pura-pura bubar dari antrian. Lantas, petugas SPBU ini menjawab. "Wah, Premium habis bu. Itu tadi terakhir kami menjual Premium sebelum ibu. Kalau mau isi Pertamax aja, bu."

Setelah si ibu berlalu. Mereka yang antri membeli Premium berbaris lagi seperti semula. "Iya, percuma kita bilang stok Premium di Jawa, Bali, Madura dan berbagai pulau utama masih memadai. Soalnya nanti juga di media sosial dia akan teriak, Premium gak ada. Langka. Padahal banyak, tuh," ujar petugas SPBU.

"Maklum, pak. Namanya juga orang PKS," celetuk salah satu pelanggan. Mereka tertawa bersama.

Sesampai di rumah, seperti biasa dia langsung update status. "Ini pemerintahan gila. Harga meroket mencekik leher. Premium langka. Lebih baik dulu, meskipun ada korupsi daging sapi, tapi harganya hanya Rp 195 ribu sekilo. Gak sampai Rp 200 ribu."

Waktunya pulang kampung. Ibu dan keluarganya memilih angkutan bus. Ketika melewati jalan tol yang baru diresmikan, ibu itu bertanya kepada orang di sebelahnya. "Jalan ini bagus. Ini yang memprakarsai pembuatannya siapa, ya pak?"

"Ibu dari PKS, ya?," tanya orang itu.

Setelah si ibu menganguk, orang itu menjawab, "Ohh, jalan ini yang membangun rakyat bu. Gak tahu dari mana mereka iseng-iseng bergotong royong membangun jalan ini. Mereka membangun begitu saja, pakai uang mereka sendiri. Hebat kan, bu?"

Makanya dia langsung marah-marah ketika di gerbal tol, petugas meminta pembayaran. "Hei, ngapain kamu minta bayaran. Ini jalanan rakyat. Dibaangun oleh rakyat, kenapa harus bayar?!," hardiknya melalui jendela.

Rupanya si supir tahu ibu itu dari PKS. Dia mencoba menenangkan. "Gak bayar kok, bu. Kita cuma diminta menempelkan kartu ini," ujar supirnya kalem, sambil menunjukan kartu e-Tol kepada si ibu.

"Ohh, saya kira harus bayar, pak. Kalau dipaksa bayar, kasih tahu saya pak. Biar saya maki-maki mereka. Pemerintahan apaan ini, masa lewat jalan tol harus bayar?"

Membaca kisah ini, saya jadi tahu kenapa ada sebagian orang yang status di media sosialnya berbeda dengan kenyataan.

Di kampung, ibu itu bertemu Abu Kumkum yang kebetulan sekampung dengannya. "Maaf, mas. Mas ini Abu Kumkum, ya?"

"Ibu sekarang jadi simpatisan PKS, ya?," Abu Kumkum balik bertanya.

"Iya..."

"Ohh, maaf, bu. Ibu salah orang.
Saya bukan Abu Kumkum. Saya Reza Haradian, kebetulan lagi shooting disini..."

---------------------------
ekokunthadi.com
Diubah oleh qavir
sekarang uda pada kaya kaliii... emoticon-Wakaka
Ratna sarumpaet kemana ya? Pembela rakyat tuh emoticon-Ngakak (S)
Pasti buku putihnya nyelip
tadi gw isi bensin pertamax di Pom bensin pertamina antrinya panjang banget, krn pertalite sm premium udh habis
buku putih nya mana nih

pea bener PDIP
Lah emang pada lupa sama tangisan seorang Putri yang melegenda itu, yah?
Nasbung bela siapa kan yang naek pertamax
Jangan singgung bbm naik. Nanti puan maharani sama ibundanya nangis lagi sambil nunjukin buku putih. Kalian nga tau sih bagaimana penderitaan puan maharani kalau sampai dengar bmm naik.
gw jadi kangen oposisi jaman beye ...
mereka bener2 tau penderitaan rakyat ...
Oposisi demo sono emoticon-Ngakak (S)
Mahasiswa sekarang udah males demo bray mending main mobile legend atau tik tok, lagian mereka juga agak tengsin ntar kalo di kemudian hari mereka jadi pejabat pemerintah mereka pastinya ogak juga didemo mahasiswa...ya itung-itung siklus berulang lah, waktu jadi mahasiswa kere doyan banget demo kebijakan pemerintah giliran pas jadi pejabat tajir giliran dia yang di demo mahasiswa
Wakakak.. ayolah orang2 berduit demo..

Pengen liat juga sekali2..
Diubah oleh mainsilat
Soalnya mereka sekarang lebih realisitis, dan mau belajar, mereka jg belajar data2, dan bukan telan mentah2 berita yg terjadi, mereka tahu larinya subsidi kemana, kenaikan harga manyangkup yg mana. sekarang semuanya terbuka,

Bukan hanya dulu yg serba ketutup, yg tiba2 naikin harga tp uangnya dbaikep, demo pun sekarang nggak harus panas2 an... modelnya sekarang lewat petisi elektronik pun sudah bisa protes macam2
kalo ga sanggup beli bensin jalan kaki ato naek sepeda aja goblokk, gausah banyak cing cong udah melarat bukannya kerja yg rajin bisanya nyalahin pemerintah dasar nasbung kampret sampah
Quote:


buku putih polos, hahaha
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di