alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Ini yang Bisa Terjadi Jika China Dilabeli Manipulator Mata Uang
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbec2955a5163fc148b4567/ini-yang-bisa-terjadi-jika-china-dilabeli-manipulator-mata-uang

Ini yang Bisa Terjadi Jika China Dilabeli Manipulator Mata Uang

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi jual pada bursa Wall Street bisa bertambah jika pemerintah Amerika Serikat (AS) menggunakan laporan valas semitahunan bulan ini untuk melabeli China sebagai manipulator mata uang.

Pertaruhan untuk data inflasi AS yang akan dirilis hari ini waktu setempat pun meningkat. Hasil yang tinggi hanya akan memicu spekulasi kenaikan suku bunga lebih agresif oleh The Fed.

“Pasar ekuitas terkunci dalam aksi jual tajam, dengan kekhawatiran di sekitar seberapa jauh imbal hasil akan naik, peringatan dari IMF tentang risiko stabilitas keuangan, dan ketegangan perdagangan lebuh lanjut. Semuanya mendorong ketidakpastian,” kata analis di ANZ.

Kenaikan lebih tinggi dalam imbal hasil juga mengancam untuk menyedot dana keluar dari pasar negara berkembang (emerging market), memberikan tekanan khusus pada mata uang yuan China di tengah upaya pemerintah Tiongkok menghadapi pertikaian dagang yang berlarut-larut dengan Amerika Serikat.

Baca: Pesan Sri Mulyani untuk Gubernur Federal Reserve Amerika Serikat (AS) Jerome Powell untuk memperhatikan efek kebijakan moneternya terhadap negara-negara berkembang

Hal tersebut berpotensi meningkatkan kebuntuan perdagangan antara kedua negara pada saat meningkatnya imbal hasil obligasi telah menggerogoti aset-aset berisiko.

Skenario itu dipandang mungkin, meskipun kecil terjadi, mengingat nilai tukar yuan China telah jatuh lebih dari 9% terhadap dolar AS selama enam bulan terakhir. Ini meningkatkan spekulasi bahwa Negeri Panda telah dengan sengaja melemahkan mata uangnya.

Bank sentral China telah membimbing yuan yang terus melemah, menembus batas psikologis 6,9000. Ini memaksa mata uang emerging market lainnya untuk melemah agar tetap kompetitif serta menarik kemarahan AS yang melihatnya sebagai devaluasi yang tidak adil.

Menurut seorang pejabat senior Departemen Keuangan pada Senin (8/10), pemerintahan Presiden Donald Trump memprihatinkan hal ini. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pun menghadapi tekanan dari Gedung Putih untuk secara resmi melabeli China untuk pertama kalinya sejak 1994.

Keputusan seperti itu kemungkinan akan melepaskan gejolak baru di pasar global setelah lonjakan imbal hasil obligasi AS telah membantu memacu aksi jual terbesar pada bursa saham AS sejak Februari.

Perselisihan itu juga bakal memperparah pelemahan yuan, yang dispekulasikan mencapai hingga level 7 per dolar AS, level yang tidak terlihat sejak krisis keuangan. Dengan memburuknya hubungan perdagangan antara AS dan China, investor akan lalai untuk mengabaikan risiko, menurut Goldman Sachs Group Inc.

“Ada risiko yang lebih tinggi bahwa Departemen Keuangan [AS] menggunakan laporan tersebut untuk merefleksikan sasaran perdagangannya yang lebih luas,” kata Zach Pandl, co-head global FX strategy di Goldman Sachs, seperti dilansir Bloomberg, Kamis (11/10/2018).

“Pasar akan menafsirkannya sebagai eskalasi lebih lanjut dari perselisihan perdagangan bilateral, dan untuk pasar valas, yang sejauh ini telah ditafsirkan sebagai sumber baru risiko penurunan terhadap pertumbuhan global.”


Langkah tersebut, lanjut Pandl, juga akan memukul dolar Australia, mengingat hubungan dekatnya dengan ekonomi China. Dolar Australia telah merosot lebih dari 9% terhadap greenback pada 2018, dan saat ini diperdagangkan mendekati level terlemahnya sejak awal 2016.

Goldman bukan satu-satunya yang menyampaikan peringatan. Menjelang keputusan Departemen Keuangan AS perihal langkah tersebut, Citigroup Inc. merekomendasikan perlindungan atas pelemahan dolar Australia lebih lanjut terhadap yen, yang seringkali menguat di tengah hebatnya tekanan pasar.

“Meski China tidak memenuhi tiga kriteria resmi yang saat ini digunakan oleh pemerintah AS untuk menilai apakah suatu negara adalah manipulator mata uang, Departemen Keuangan dapat mengubah ambang batasnya” ujar Todd Elmer, head of Group-of-10 forex strategy untuk Eropa , Timur Tengah dan Afrika di Citigroup.

Pada bulan Agustus, Presiden Donald Trump mengatakan AS sedang mengkaji formula manipulasi mata uangnya.

“Ada kemungkinan peluang 50-50 bahwa AS akan melangkah jauh untuk menyebut China sebagai 'manipulator',” kata Elmer dalam laporannya pada Rabu (10/10).

Langkah pelabelan secara resmi, lanjutnya, tidak membawa konsekuensi langsung. Namun pemerintah dapat menggunakan label itu sebagai pembenaran untuk putaran tarif yang baru.

“Dampak dari pelabelan semacam itu bisa berdampak pada pasar juga. Mengingat surplus transaksi berjalan China yang relatif rendah dan kurangnya intervensi di pasar valas, tidak ada dasar untuk menyebut negara itu sebagai manipulator,” terang mantan pejabat Departemen Keuangan AS, Mark Sobel.

Sobel memperingatkan langkah itu dapat memperburuk negosiasi antara AS dan China.

Meski Departemen Keuangan telah beberapa kali menahan diri tidak melabeli China sebagai manipulator di bawah pemerintahan Trump, hubungan perdagangan AS-China telah memburuk sejak rilis terakhir laporan itu pada bulan April.

Pemerintah AS memberlakukan tarif 10% terhadap barang-barang China senilai US$200 miliar bulan lalu dan berjanji untuk meningkatkan tarif menjelang akhir tahun. Pemerintah China tidak tinggal diam dan melakukan retaliasi dengan mengenakan bea masuk pada impor AS senilai US$60 miliar.

“Ketegangan antara AS dan China telah meningkat dan Anda telah melihat Trump memanfaatkan cara lain dalam eskalasi yang sedang berlangsung ini, jadi saya pikir penggunaan langkah ini sebagai alat tampaknya sudah jelas,” kata Daniel Hui, seorang analis di JPMorgan Chase & Co.

“Mengingat kondisi hubungan [AS-China] saat ini, saya rasa tidaklah kontroversial untuk mengatakan ada kemungkinan yang lebih tinggi bahwa dia [Trump] akan mengambil langkah ini, kali ini.”

sumber http://finansial.bisnis.com/read/201...ator-mata-uang

Wapres AS Mike Pence Deklarasikan Perang Dingin II

Saat perhatian publik tersita oleh Brett Kavanaugh, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence sepertinya mengumumkan Perang Dunia II, antara Amerika dan China. Dan tak ada orang Amerika yang menyadari hal itu. Hubungan kedua negara yang terus memburuk, yang bahkan sudah tidak lagi soal perdagangan, membuat kemungkinan perang dingin semakin besar terjadi.

Baca Juga: Mike Pence Bantah Rundingkan Rencana untuk Singkirkan Donald Trump

Oleh: Walter Russell Mead (Wall Street Journal)

Apakah Perang Dingin II pecah pekan lalu ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan? Saat pertempuran konfirmasi Kavanaugh mengamuk, banyak orang Amerika Serikat kehilangan apa yang tampak seperti pergeseran terbesar dalam hubungan AS-China sejak kunjungan Henry Kissinger pada tahun 1971 ke Beijing.

Kebijakan China pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah terlihat jelas, dan hal itu menakjubkan. Wakil Presiden AS Mike Pence memberikan panduan terhadap pendekatan tersebut dalam pidato minggu lalu di Institut Hudson.

Mencela apa yang disebutnya pendekatan “pemerintah keseluruhan” China untuk persaingannya dengan AS, Pence bersumpah bahwa administrasi Trump akan merespon dengan cara yang sama. Dia mengecam penindasan China terhadap Tibet dan Uighur, rencana “Made in China 2025” untuk dominasi teknologi, dan “diplomasi utang” melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan.

Pidato itu terdengar seperti sesuatu yang akan disampaikan Ronald Reagan terhadap Uni Soviet: Xi, runtuhkan tembok ini! Mike Pence juga merinci strategi lintas pemerintah yang terpadu untuk melawan apa yang dianggap pemerintah AS sebagai agresi militer, ekonomi, politik, dan ideologis Cina.

Pada minggu yang sama dengan pidato wakil presiden, Angkatan Laut AS merencanakan untuk melakukan patroli yang sangat intensif di dalam dan sekitar perairan yang diklaim China di Laut China Selatan, yang kemudian bocor ke media. Selain itu, perjanjian perdagangan trilateral AS-Meksiko-Kanada baru-baru ini terungkap memiliki klausul yang mengecilkan perjanjian perdagangan antara negara-negara anggota dan China. Administrasi Trump mengindikasikan akan mengupayakan klausul serupa dalam perjanjian perdagangan lainnya.

Masih pekan lalu, Kongres menyetujui Undang-undang Build, program pengembangan pembiayaan senilai 60 miliar dolar AS yang dirancang untuk melawan strategi Sabuk dan Jalan China di Afrika dan Asia. Akhirnya, Gedung Putih mengeluarkan laporan yang menyoroti bahaya bahwa rantai pasokan yang berbasis di luar negeri mengancam kemampuan militer AS jika mereka terputus selama konflik.

Salah satu dari langkah-langkah tersebut akan memberi peringkat berita utama di waktu-waktu normal. Di Era Trump, mereka semua nyaris tidak terdaftar. Tetapi ini adalah perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Amerika.

Ketika China menanggapi, dan ketika negara-negara lain memformulasikan pendekatan mereka terhadap persaingan AS-China yang kian meningkat, realitas internasional baru akan terbentuk. Dengan sekutu lama AS yang menentang administrasi Trump tentang kebijakan perdagangan dan hal-hal lain, serta dengan Rusia, Korea Utara, dan Iran ingin menggagalkan tujuan AS, China yang marah akan mencari kesempatan untuk membuat Amerika membayar kerugian, serta mungkin akan mencari bantuan.

Bisnis Amerika yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dengan China dapat menghadapi kesulitan ketika strategi AS diterapkan. Presiden Amerika memiliki otoritas yang luas atas perdagangan dan investasi yang terkait dengan keamanan nasional. Donald Trump telah menggunakan ini untuk mengancam dan memberlakukan tarif, dan Pence memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi sedang dipersiapkan. Laporan Gedung Putih yang menyoroti kerentanan rantai pasokan dapat menjadi dasar bagi pembatasan baru dan yang menjangkau lebih jauh.

Bisnis dan investor mungkin masih meremehkan tekad pemerintah Trump untuk menantang China dan jumlah gangguan ekonomi yang dapat ditimbulkan oleh ketegangan AS-China. Untuk kombinasi lama agresivitas China dan perang dagang yang sekarang memimpin arah kebijakan AS, keamanan nasional lebih penting daripada gesekan ekonomi, dan banyak protes dari komunitas bisnis AS yang akan diabaikan begitu saja.

Baca Juga: Inisiatif Sabuk dan Jalan, Proyek Ambisius China untuk Satukan Dunia, Punya Risiko Apa?

China maupun AS kemungkinan akan bergerak cepat, tidak terduga, dan mengganggu saat mereka berjuang untuk mendapatkan keuntungan. Wall Street harus menahan diri untuk guncangan lebih lanjut.

Dalam hal politik domestik, kebijakan baru dan yang lebih konfrontatif cenderung menjadi populer secara luas. Basis populis Trump membenci “pencurian” pekerjaan Amerika, sedangkan para pendukung hak asasi manusia dan kebebasan agama semakin terganggu oleh penindasan China yang keras di dalam negeri maupun dukungan terhadap rezim otoriter di luar negeri.

Jajaran kepemimpinan kebijakan luar negeri AS dapat menentang taktik Trump, tetapi pada umumnya menerima perlunya sikap yang lebih kuat terhadap China. Bisnis akan terbagi, sementara beberapa orang sangat terpapar dengan potensi memburuknya hubungan AS-China, pihak yang lain marah terhadap kekayaan intelektual yang dicuri, membenci pembatasan akses mereka ke pasar China, atau khawatir akan persaingan dari perusahaan China bersubsidi.

Demokrat yang telah menikmati menyerang Trump karena diduga bersikap lunak terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin akan memiliki kesulitan menjelaskan mengapa garis keras pada Rusia adalah tugas patriotic, tetapi kebijakan China yang keras adalah kesalahan. Hal-hal dapat berubah jika biaya ekonomi dan politik konfrontasi meningkat, tetapi paling tidak pada awalnya kebijakan baru China telah menghadapi sedikit perlawanan.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
naik nya dollar harus bisa dimanfaatkan sebenar nya... kita harus bisa import2 barang karena barang2 kita jadi lebih bisa bersaing harga nya.. cina malah sengaja melemahkan nilai tukar yuan
China: sengaja melemahkan yuan
Indo: tidak sengaja melemahkan Rp
Ini yang Bisa Terjadi Jika China Dilabeli Manipulator Mata Uang
Balasan post kartinibu2
Quote:


Sebutkan 3 prestasi prabowo???
tergantung ekspor sebenarnya.
Kalau mata uang lemah jadinya barang yang dijual di negara lain otomatis lebih murah, jadi lebih banyak yg beli.
Kalo banyak impor terus mata uang melemah ya makin nyungsep.
Balasan post riry7djoe
Quote:


Lho kok gedein import gan?

Ekonomi china berkembang bukan karena import.. tp eksport yg dominan..

budaya berak depan umum
Balasan post gunliejack
Quote:


Ane bantu jawab..
1. Wisata almaidah dan tidak men sholatkan bangke
2. T12T NYA ILANG KRN UNTUK MODAL MEMBUAT TEMPE SETIPIS KARTU ATM, MEMBUAT HARGA NASI AYAM SEHARGA 50RB.. KRN NASTAK ITU BISA DAPET NASI AYAM SEHARGA 15RB.
3. MEMBERIKAN GELAR ULAMA SECARA INSTANT KEPADA Kyai haji samdiago unok.
4. Membela HAM sarung kamfret, nenek2 perkasa dr Indonesia, yg dianiaya oleh 2-3pria kekar namun hanya menderita memar. Dokter manapun akan berpikir ini muzizat krn nenek berusia 70thn umumnya sdh menderita osteoporosis..
seharusnya bagi manusia normal, nenek2 tsb minimal mengalami patah tulang dan masuk ICU.. dalam kasus penganiayaan berat menimbulkan kematian krn tulang leher patah..

Balasan post Welw
Quote:


sisi postitifnya
barang2 china jadi murah masuk ke indonesia. misal beli hp china gak naek harga
daripada beli produk amerika yg makin mahal karena imbas dollar. beli hp , video game dll harganya jadi meroket naek
Quote:


Kata psikolog ILC : ditipu sama nenek nenek bipolar


Quote:


Itulah yg diprotes Trump lol, skrg brg us jadi ngk bersaing
Balasan post sutarjo65
sorry salah nulis. eksport maksud nya emoticon-Frown


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di