alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbebf605a516321168b4567/setengah-dasawarsa

SETENGAH DASAWARSA

Belakangan ini aku sering baca tentang gimana kisah 2 orang yang sedang menjalin hubungan pacaran lama dan berakhir putus, dan lebih parahnya lagi, ditinggal nikah. Aku sendiri cukup miris bacanya dan ga pernah menyangka akhirnya akan terjadi sendiri di kehidupanku.


Sebut saja namanya Dwi, laki-laki menyenangkan yang aku kenal diawal masuk kuliah. Oktober 2013. Aku pertama kali kenal dia dari asrama kampus. Pertama kali aku lihat dia turun dari tangga lantai 2 tanpa pakai baju dan cuma pakai celana boxer (haha). Rupanya dia mau ngecek air dikamarnya yang mati. Karena aku cuek dan ga terlalu pengen tau dia, aku masuk aja ke kamar tanpa nyapa. Sebelumnya, aku sempat ketemu dia waktu hari pertama masuk kuliah, dia dengan seragamnya yang rapi dan tas hitamnya, nyapa bapakku dengan ramah (ya waktu itu, aku masih ditemani bapak karena itu hari pertama aku harus ngekos dan tinggal sendiri). Oke balik lagi waktu dia selesai ngecek air dikamarnya, aku yang lagi santai dikamar dan setengah sadar karena mau tidur siang denger suara ketukan pintu, dan itu dia. Itu pertama kali aku pegang tangannya, dengar suaranya dengan jelas, dan pertanyaan pertama yang aku denger 

"Halo, aku Dwi, air dikamarmu mati gak?". 

Iya sesederhana itu kami mengenal satu sama lain.
Sesederhana itu kami mulai berkenalan sampai akhirnya merajut kenangan selama setengah dasawarsa atau 5 tahun. 

Singkat cerita, kami mulai tukar nomor HP. waktu itu socmed belum segencar sekarang dan masih zamannya BBM, dan sayang sekali HPku bukan android yang bisa diinstal BBM atau socmed lainnya. Kita mulai SMSan siang malam, tanya keadaan, tanya tentang kelas, tentang si ini, si itu... 

Sampe akhirnya tepat tanggal 13 Oktober malem hari, dia mulai menunjukkan gelagat suka. haha.. pede amat ya. Sebelumnya dia bilang "aku mau ngomong serius", setelah aku serius, dianya malah bercanda, sampai akhirnya aku paksa dia untuk ngomong apa yang mau diseriusin... dan walla...

"Kamu mau ga jadi pacarku?"

Ya, waktu tiu, aku baru putus dari pacarku yang 3 tahun aku pacarin, dimana situasi kami LDR, dan bisa dibilang cuma isneng soalnya ya, waktu itu aku masih anak SMA, ga terlalu serius kesana, dan pacaranpun ga ada niat, cuma iseng aja. 

Akhirnya aku bilang "iya, aku mau".

Disini semuanya dimulai... 

Semua kenangan indah, keriwehan hubungan ini, sampai akhirnya kami pisah.

Aku ini seorang anak perempuan yang ga punya sodara, aku itu cuek, ga peduli dengan lingkungan sekitar, tapi temenku banyak. Aku agak sulit bergaul, tapi sekalinya temanan, pasti kami bakal jadi temen deket. Bisa dibilang aku introvert. Aku mana tau, ini bakalan jadi hal yang buat aku bisa putus dengan dia.


Selama kami pacaran, yang aku tau tentang dia, dia orang yang sangat luar biasa penyabar juga dewasa. Dia bisa buat aku nyaman, dan aku selalu bahagia sama dia. Aku yang kekanak-kanakan ini, bisa dapat sosok yang menurutku nanti bisa membimbing aku. Meskipun kenyataannya, aku jauh lebih pintar dari dia, tapi dia jauh lebih giat dibanding aku, jauh lebih rajin, jauh lebih bersemangat. 

Aku sempet ngobrol dengan dia tentang cita-citanya, kerja disalah satu perusahaan TV dan jadi bagaian animasinya. Dan untuk pertama kalianya aku nemu seseorang yang punya cita-cita hampir mirip denganku. Itu yang buat aku ngerasa cocok sama dia, gak hanya melalui sifatnya tapi juga tujuan hidupnya.

Jadi gak heran, setiap tugas yang dia buat, selalu hasilnya maksimal. Dan akhirnya aku bener-bener kunci hatiku buat dia. Sampe akhirnya satu kejadianpun terjadi. Dibulan awal kami pacaran, sebuah tragedi dimana aku seharusnya berhenti, tapi malah memaafkan dan menerimanya lagi.

Iya, dia selingkuh. Dengan satu cewek yang ternyata dekat sebelum dia dekat sama aku. Dia baru bisa jadian sama cewek ini setelah si Cewek putus dengan pacarnya. Sebut saja si cewek namanya Ara. Akupun tau dari ngecek SMS si pacar yang isinya dia cerita ke temannya "aku lagi buat sesuatu untuk Ara", Lah kenapa si Ara? ada apa dengan dia dan Ara? Dan sikapku ke dia akhirnya berubah selama beberapa jam sampe akhirnya tanganku gatel, dan SMS dia tanpa basa-basi langsung to the point "kalau kamu bahagia sama Ara, kamu sama dia aja". 

Dan ya, dia ngaku. Kalau dia pacaran sama Ara. Orang yang aku kira beda dari orang lain, yang punya prinsip hidup, ternyata bisa selingkuh dong guys... dan disana aku ga ngerti kenapa dia selingkuh padahal, apapun yang dia mau, apapun yang dia butuhkan, aku selalu berusaha melengkapi. Smapai suatu saat dia bilang,

"Kamu ngisi kebutuhanku, tapi bukan hatiku"
Sakit njir....
Disana tepat harusnya aku berhenti... tepat dimana harusnya aku putus dan move on, tapi aku malah bialng ke dia,

"Selesaiin dulu masalahmu sama Ara, aku nunggu kamu"

Karena aku yakin, dia orangnya, yang akan bisa bimbing aku nanti....
Keyakinanku itu salah total, bener-bener salah, sampai akhirnya hari ini Oktober 2018, tepat kami 5 tahun, yang buat kami pisah...

Setelah masalahnya selesai dengan si Ara, Dwi kembali ke aku, aku mulai belajar untuk percaya lagi dengannya, dan selalu support dia apapun keadaannya. 

Dwi adalah salah satu orang yang aktif dalam kegiatan sosial yang basicnya di kegiatan yoga, dari belajar yoga itu, Dwi punya gaya hidup yang sehat, selalu yoga, sembahyang, ddan vegetarian. Sampai suatu saat, dia yang paksa aku untuk ikut kelas yoga, dan akhirnya ngerubah aku juga.

Aku mulai jadi orang yang optimis, jarang ngamuk, jarang marah dan pastinya vegetarian. Dan itu mulai dari tahun 2016 dan aku mengakhirinya di tahun 2017 tepat dimana Dwi mutusin aku.

Aku  punya bad habit yang mungkin sampai sekarang susah aku rubah. Aku pinter, tapi aku malas, aku gak rapi, aku gak terlalu bisa bersih-bersih. Dan sering kali karena bad habitku ini, kami berantem. Gak jarang saking keselnya dia, dia sendiri bersikap kasar kedirinya sendiri. Ngamuk, dan marah... Tapi semuanya pasti berakhir baik-baik saja. Dan kami kembali bersama dan rukun.

Sampai suatu hari, aku diajak kerumahnya, dikenalkan ke orang tua dan keluarganya, dirumahnya, Dwi punya usaha kolam renang umum. Dan selama 3 hari aku disana, aku ikut bantu-bantu yang menurutku ga seberapa bantu. Aku jaga kolam, setrika baju untuk sekeluarga, masak untuk pelanggan. 

Mungkin bapak dan ibu Dwi sudah ngerasa ada yang gak beres dari habitku ini, aku jarang senyum, aku jarang ngobrol. Itu bukan karena aku ga suka senyum atau ga suka ngobrol. Aku diciptakan Tuhan dengan muka judes yang bahkan kadang kalau aku diem aja, orang kira aku marah atau moody. Aku juga banyak bacotnya sama temen2, tapi kalau soal ngobrol sama orang tua, aku biarkan mereka dulu yg tentukan obrolan karena aku takut, kalau nanti aku banyak bacotnya, mereka ga nyaman sama obrolanku. 

Beberapa hari kami sempat bolak-balik kosan dan rumahnya. Dwi sendiri sangat sering menginap dirumahku, bahkan waktu ada acara keluarga, dia dateng, dan dia ikut bantu bersih-bersih. Ga cuman itu, waktu aku ada tugas magang diluar kota, dia yang bantu aku angkat barang kosan sampe setirin pickup untuk bantu taruh barang di kosan diluar kota. 

Hal-hal seperti itu yang buat aku yakin, kalau dia orangnya. Terlepas dari fisik, ataupun dia punya badhabit yang kadang buat aku kesel (ya dia orangnya cepat salah paham, dan kalau sudah salah paham, pasti kami ribut), aku yakin dia orangnya. Waktu diperjelanan kami naik pick-up, aku tanya ke dia,

"Kamu bener serius sama aku? Kamu sampe anter aku kayak gini.. mau repot..."
dan dia bilang "Iya aku serius sama kamu"...

Dari sana, kami mulai rancang masa depan dan berencana untuk nikah di usia 26 tahun, dimana skrg umurku 23 tahun. Mulai rencana hidup akan seperti apa, kerja diluar negri bareng, dan blablablabla....

Sampai akhirnya, aku wisuda D3, aku mulai freelance ke beberapa perusahaan. Sambil buka usaha bareng Dwi. Sampe akhirnya ada kejadian yang merubah segalanya..

Suatu hari yang cerah, tapi juga kelam buat aku, Dwi ngajak aku untuk makan disebuah warung makan chinese. Kita  makan, pesan yang kita suka (kemanapun warung chinese food yang kita datangi, kami pasti makan sapo tahu dan 2 nasi). Lagi asyik makan, tapi aku tahu ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Dia bilang, 

"Dila, aku takut kamu gak cocok sama keluargaku..."

Aku diem, hening, disana aku tau. Aku bakalan diputusin. Dan yak aku nangis. Aku berhenti makan dan mulai tanya "kenapa?"

"Kebiasaanmu, gaya hidupmu ga akan cocok sama keluargaku. Aku takut kamu ga akan tahan kalau nanti kita sudah menikah. Kamu harus tahu orang tuaku seperti apa.  Bapakku keras, Ibuku juga. Tapi kamu, dibesarin dengan lembut, apapun yang kamu mau dipenuhi sama orang tuamu."

Intinya, aku ga bakalan sanggup tinggal sama orang tuanya, karena aku pikir dia takut kalau nanti aku dimarah, sama orang tuanya. Karena Dwi sendiri sering banget dimarah bahkan sampe pernah kejadian dia kabur dari rumah. 

Saat itu juga sepanjang jalan aku nangis.Dwi bilang "lebih baik kamu sedih sekarang ketimbang sedih nanti"...

Aku mulai tanya ke dia, kenapa baru sekarang. Kenapa harus begini. Kenapa sebenernya... Dan dia bilang, aku bener-bener ga mau kamu nanti di marah-marahin sama orang tuaku... Dan ini semakin ribet karena menyangkut adat. Aku ga akan bisa ikut adatnya dia. Menurut dia. Aku ga terima dan bilang, aku bakalan terima orang tuamu, karena mereka sendiri udah perlakukan aku sbg anak, adik-adikmu juga udah jadi adikku... Ya, kami akhrinya berbaikan.

Sampai 2 bulan setelah kejadian itu, selama 2 bulan aku coba ubah kebiasaanku, mulai dari bersih2 dirumah, nyuci baju sampai setrika. Masak... dan lain-lain. Aku belajar semua pekerjaan rumah tangga sampai aku sadar kalau semuanya terlambat. 

Satu hari yang ga akan pernah aku lupa, Dwi putusin aku tengah malam, dan dia bilang, dia sudah punya pacar baru yang dia pacari selama 3 hari. Pacar dia yang baru sebut saja namanya Ani, adalah salah satu pegawai di usaha kolam renang bapaknya. Dan yak, bapaknya lah yang menjodohkan mereka. Luar biasa bukan? Dan karena kondisi bapak Dwi yang sakit parah, mereka akan menikah dalam waktudekat. Makin luar biasa bukan?

Cerita ini ga berhenti sampai disini. Masih ada 1 tahun sampai tahun ini, dimana aku benar-benar diperlakukan secara tidak layak. 

Semuanya dimulai saat Ani ternyata tidak sebaik yang dia dan keluarganya pikirkan

Ani ini orangnya cantik, kalau dibanding aku, kita sangat jauh bedanya. Aku orang yang ga terlalu memikirkan penammpilan, cuek, apa aja aku pakai asal aku nyaman. Bagiku kenyamanan nomor 1 ketimbang harus pakai makeup tebal dan selalu berlindung dari sinar matahari takut kalau makeupku luntur. 

Aku mulai dekat lagi dengan dia karena sayang sekali, hanya aku orang yang bener2 deket dan kenal dengan dia dengan baik. Dia mulai cerita, kalau Ani nerima dia jadi pacar karena terpaksa. Dan sebenernya Ani ini sudah punya pacar. Aku mulai dekat lagi dan akhirnya kami balikan.

Dwi simpan dendam ke Ani, karena sudah permainkan dia yang menurutnya serius. Dwi mulai rencanain sebuah permainan yang akirnya menjerumuskan dia sendiri. Dia bakal pura-pura kejar si Ani, dan setelah Ani luluh, Dwi bakal pergi. Aku yang ngerasa ini ga bener, cuma bisa menasehati, sedangkan hal ini pasti bakalan ngaruh banget ke hubungan kita yang mulai kita tata kembali. Dan ya,,,

Dwi luluh pada Ani. Si Adik Dwi, sebut saja Melati, ngadu ke aku, dia bilang, kalau mereka berdua deket lagi. Aku ga terima dan cuma bisa marah dari telepon. Berakhir pada Dwi yang milih Ani.

Aku yang sekian tahun selalu berusaha memenuhi yang dia butuhkan, selalu ada buat dia, selalu support dia, rupanya kalah sama orang yang baru beberapa hari dia kenal.

Dwi yang akhirnya milih Ani, rupanya lagi-lagi dipermainkan. Ternyata Ani, lagi-lagi punya pacar. Dan lagi-lagi Dwi dan aku dekat karena dia curhat ke aku. Ini terjadi lebih dari 3x dalam waktu setahun.

Ada waktu dimana Dwi berusaha kontak aku via email, dia bilang kalau ga tahan dirumah, dia selalu ribut dengan Ani dan terikat karena dia dan bapaknya... Dia bilang, dia butuh aku, dan jalan keluar yg bisa aku kasih, dia harus kerja diluar kota, di kota yang sama denganku dan harus tinggal diluar kota juga...

Selama dia kerja dan tinggal di kota yang sama denganku, dia tetap saja putus nyambung dengan Ani. Sampai akhirnya si Ani ketahuan selingkuh dan sempet jalan sampe malem dengan pacar barunya. Waktu putus, Dwi memutuskan untuk tetap sama aku, dan bilang ke orang tuanya. Tapi sayang sekali, orang tuanya tetep ga setuju. Dan bapaknya bilang "Kalau bapak jadi kamu, bapak tetap pilih Ani, meskipun kamu digitun beberapa kali, menurut bapak gapapa. Karena dia bisa berubah, dia bisa ikut adat disini"..Sampe akhirnya si bapak gak izinin Dwi ketemu aku. 

Tapi Dwi tetap sama aku, dia tetep kerja dan tinggal di kota. Semuanya jalan dengan gak lancar, si Bapak tetep pengen jodohin Dwi dengan Ani meskipun mereka sehari bisa berantem 3x, dan putus nyambung seminggu sampe 2x. Saking ngebetnya si Bapak, bulan Agustus 2018, Dwi dipaksa nikah sama Ani. Dan Dwi gakmau. Gakmau nya bukan karena aku, tapi karena dia belum punya penghasilan tetap. Sampai 2 minggu dia ga pulang ke rumahnya karena dipaksa nikah. 

Dan yang paling menyebalkan dari kisah ini, Dwi sama sekali ga bisa pilih salah satu dari aku dan Ani. Ani dekat dengan keluarga Dwi dan aku sangat dekat dengan Dwi. kalau pilih aku, keluarga Dwi ga akan bahagia, tapi kalau pilih keluarganya, Dwi sudah pasti ga akan bisa sama aku. Sampai-sampai mungkin saking putus asanya, Dwi tawarin aku untuk jadi istri keduanya. Hm... sungguh makin menyebalkan...

Dan bulan lalu, September 2018, Dwi berhenti kerja dengan dalih dia ga bisa lnjut skripsinya. Dan dia izin pulang kerumah beberapa hari. Rupanya si bapak Dwi, gakmau anaknya ke kota lagi, dia mau Dwi lanjutkan usaha bapaknya, dimana aku yakin kalau bukan itu maksud bapaknya. Bapaknya sepertinya tau kalau Dwi masih sama aku dan gakmau anaknya deket lagi sama aku. 

Akhirnya tepat menjelang 5 tahun kita, 13 Oktober 2018, Dwi memutuskan tinggal dirumah. Kata lainnya, dia memilih Ani. Bukan aku yang sudah berjuang dan berkorban buat dia.

Banyak hal yang aku korbankan buat dia, terutama waktu. Entah sudah berapa kali aku mengutamakan dia ketimbang yang lain. Aku bahkan ga mengurus diriku dengan baik karena aku mengurus dia. Aku bahkan ngalah waktu dia mau beli ini itu, dan memenuhi keinginannya... Semuanya sia-sia

Dwi pernah bilang ke aku, pertengahan bulan ini,
Kalau aku sebenernya selalu bisa menyediakan dia makanan, dengan porsi banyak dan ga akan habis. Tapi bukan makanan yang dia suka. Dia tetap makan, meskipun dia ga suka dan ga puas dengan makanan yang aku kasi. Bahkan kadang dia ga butuh makanan dari aku, aku tetap sediakan. Sedangkan Ani, Ani sediakan makanan yang dia suka, tapi dari bahan yang busuk. Dia berusaha makan, meskipun setiap makan dia akan muntah... 
Semoga kalian mengerti maksud dari kata-katanya

Ga hanya itu,
Ada waktu dimana  aku pernah chat langsung dengan Ani. Dia bukan orang yang bisa menggunakan kata-kata dengan baik. Tapi dia benar-benar bangga akan kecantikan yang dia punya,
Dia bilang ke aku, 
"Kita itu gak selevel, dari fisik sama muka aja ga pantes level kita sama. Aku cantik kamu jelek. Kasihan kamu, cuma Dwi aja yang mau sama kamu karena kamu itu jelek"
Iya, nyakitin? Engga. Karena aku tau, DIA GAK WARAS. 
Dia pikir karena dia cantik, dia bisa dapetin apapun yang dia mau. 
Dia pernah buat sekeluarga Dwi takut setelah pertanyaan semacam, uang, tanah dan warisan dia tanya ke Dwi. Kalau nanti dia punya hutang gimana? Nanti setelah nikah gimana? Bisa gak tanahnya Dwi dibangunin rumah yang besar? Trus yang paling parah, Kalau Dwi mati, nanti bagaimana??

Iya, ini cerita setengah Dasawarsaku. Satu tahun dimana aku diperlakukan sebagai pelampiasan, sebagai korban keegoisan... Sakit, marah, kecewa... Kesepian, aku selalu kebayang-bayang gimana kalau seandainya dia ga ada lagi dihidupku? Siapa nanti yg peluk aku waktu aku cape pulang kerja? Siapa nanti yg bisa sambut aku dengan senyum lebar kalau pulang kerja? 

Sampai tulisan ini aku ketikpun, aku belum bisa move on, meskipun kejadian ini sudah berulang kali aku alami, tapi ga membuat aku makin kuat. Temen2ku bilang, semuanya perlu waktu, perlu proses, dan aku rasa dengan aku nulis, aku bisa mempercepat prosesnya meskipun cuma sedikit lebih cepat.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
aaa sabar yha sist 😭😭 tp masi penasaran yakali cuman grgr adat keluarga org tua sampe sebegitunya pgn misahin 😭😭
Balasan post imarotuzzulfa
Quote:


iya ini sudah sangat sabar sih. haha.. ga cuman itu sih ya masalahnya.. sebenernya jauh lebih ribet dari sekedar adat, tapi adat itu salah satu penyebabnya..


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di