alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbe9d51d675d474158b456a/alasan-pentingnya-pembiayaan-dan-asuransi-untuk-bencana

Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana

Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) menyampaikan paparan pada High Level Dialogue Disaster Risk Financing and Insurance in Indonesia dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di BICC Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10).
Wakil Presiden Jusuf Kalla masih ingat betul, bencana gempa bumi dan tsunami yang menggilas Daerah Istimewa Aceh 2004 silam menyisakan duka yang amat mendalam bagi Indonesia. Di samping menelan korban jiwa hingga lebih dari 200 ribu jiwa, bencana tersebut sempat melumpuhkan Aceh akibat kerusakan yang masif.

Kalla--yang sewaktu itu ditunjuk sebagai koordinator penanganan bencana tsunami Aceh--harus memastikan rehabilitasi dan rekontruksi dilakukan dalam waktu secepat mungkin. Hal tersebut agar roda perekonomian di bumi Serambi Mekkah bisa segera berputar dan menghidupi masyarakatnya yang telah kehilangan tempat tinggal.

Keran bantuan internasional dari seluruh penjuru dunia dibuka lebar-lebar agar mengalir rata ke tangan para korban. Tragedi tersebut telah mendorong perhatian serius pemerintah Indonesia dan dunia internasional dalam manajemen penanggulangan bencana.

Setelah bencana besar di Aceh, Indonesia akhirnya membentuk sebuah lembaga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2008. Lembaga ini bertanggung jawab untuk memitigasi saat dan setelah bencana. Namun menurutnya, masalah penanganan bencana tidak berhenti dengan membentuk BNPB.

"Masalah yang sekarang dihadapi, yaitu apabila rekonstruksi bencana masih dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka pembangunan bisa terkendala," ujar Kalla saat membuka seminar Disaster Risk Finance and Insurance di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

"Apabila semua rehabilitasi negara dibiayai oleh APBN, maka negara kesulitan segala-galanya," lanjut Kalla.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengakui bahwa dalam menangani bencana di Indonesia, pemerintah masih sangat bergantung pada anggaran negara, bahkan pemerintah harus merealokasikan anggaran.

"Satu kondisi yang selalu menjadi perhatian kami adalah selama ini pemerintah hanya mengandalkan pendanaan bencana utamanya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menanggung semua kerugian tersebut," ujar Sri Mulyani.

Alhasil, kemampuan pemerintah dalam menyediakan pendanaan untuk bencana dengan dampak yang tinggi menjadi terbatas. Selama 12 tahun terakhir, pemerintah rata-rata menyediakan dana cadangan bencana sekitar Rp3,1 triliun. Sementara bencana alam besar, seperti gempa bumi dan tsunami Aceh di tahun 2004 menimbulkan kerugian hingga Rp51,4 triliun.

"Jurang pembiayaan tersebut menjadi salah satu penyebab Indonesia terpapar risiko fiskal akibat bencana alam," Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Suahasil Nazara, di sela-sela acara pertemuan tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua Bali, Rabu (10/10).

Berkaca dari kondisi tersebut, pemerintah tengah mencari alternatif pembiayaan dengan melibatkan sumber pendanaan di luar APBN. Pemerintah pun menyusun Strategi Pembiayaan dan Asuransi Risiko Bencana agar pembangunan dapat berkelanjutan.

Sri Mulyani memastikan adanya pembentukan skema pembiayaan dan asuransi risiko bencana pada 2019 sebagai upaya penanganan dampak bencana alam secara cepat. Ia bilang, negara yang telah menjalankan program asuransi bencana adalah Meksiko, Kolombia, Peru, dan Chile.

Ia menjelaskan, asuransi tersebut juga dapat memberikan efek untuk membantu rumah tangga yang terdampak dan memulihkan kehidupan sosial masyarakat.

Sebagai langkah awal, pemerintah akan mulai menyisihkan dana dalam APBN 2019 untuk pembentukan asuransi risiko ini dan berdiskusi lebih lanjut mengenai rencana ini dengan parlemen.

Langkah lainnya adalah menyiapkan pooling fund sebagai instrumen pengelolaan dana yang relevan untuk memperkuat peran APBN tersebut.

Kebijakan ini merupakan terobosan baru karena menyediakan dana untuk periode sebelum, saat, dan sesudah bencana untuk durasi jangka menengah panjang dengan meminimalkan rantai birokrasi penyediaan dana.

Pilihan model pengelolaan dana untuk risiko bencana lainnya yakni membuka rekening khusus di Bank Indonesia, penugasan satuan kerja pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara dan mendirikan Badan Layanan Umum pengelola dana khusus pembiayaan risiko bencana.

Kementerian Keuangan mencatat, rata-rata kerugian ekonomi langsung berupa rusaknya bangunan dan bukan bangunan akibat bencana alam yang terjadi setiap tahunnya mencapai sekitar Rp22,8 triliun.

Pada masa mendatang, kerugian akibat bencana akan semakin membesar apabila tidak dilakukan upaya mitigasi, kesiapsiagaan dan transfer risiko.
Tawaran pinjaman Bank Dunia
Indonesia yang dikenal sebagai "supermarket bencana alam" acap mengalami bencana yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian ekonomi dan kerusakan fisik yang besar. Beberapa bencana alam yang terjadi beberapa waktu ini, seperti gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, menunjukkan kerentanan itu.

CEO Bank Dunia, Kristalina Georgieva, menawarkan paket dukungan kepada pemerintah Indonesia. Ia mengatakan dirinya telah bertemu langsung dengan Jusuf Kalla untuk menawarkan dukungan tersebut.

"Kami siap memperluas dukungan kami dengan segera meningkatkan kegiatan untuk membangun ketahanan dan memastikan Indonesia mempertahankan trayektori ekonomi positifnya," ujar Georgieva di Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10)

Bank Dunia mengusulkan empat paket tanggap bencana di Indonesia. Pertama, penambahan perlindungan sosial dalam membantu mereka yang terdampak langsung bencana di Sulawesi Tengah.

Kedua, dana darurat mandiri untuk membangun kembali fasilitas publik yang penting dan aset infrastruktur, termasuk rumah sakit, sekolah, jembatan, jalan kampung, jalan raya, infrastruktur penyedia air bersih, dan penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini bencana.

Ketiga, pendanaan terkait rekonstruksi dan rehabilitasi pemukiman dan infrastruktur, serta layanan lingkungan. Keempat, program bantuan teknis untuk mendukung dan memandu seluruh paket.

Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, secara terpisah mengatakan pihaknya memiliki pengalaman di 60 negara terkait rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang bisa diadopsi Indonesia. Bank Dunia memastikan instrumen berkesinambungan untuk memastikan negara memiliki pembiayaan memadai saat bencana terjadi.

"Ada lebih dari 25 miliar dolar AS dalam bentuk kredit yang bisa digunakan untuk ekuitas bencana yang ada. Kami juga punya 39 miliar dolar AS dana katastropi," katanya.

"Kami siap memperluas dukungan kami dengan segera meningkatkan kegiatan untuk membangun ketahanan dan memastikan Indonesia mempertahankan trayektori ekonomi positifnya," pungkas Jim Yong Kim.
Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...-untuk-bencana

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana Misteri arahan naik dan tunda harga Premium

- Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana Oh panasnya, Monas lenyap bayangannya

- Alasan pentingnya pembiayaan dan asuransi untuk bencana Masa darurat habis, evakuasi dipastikan berhenti

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di