alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Optimisme Potensi Jagung Indonesia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbd989c1cbfaa05248b4567/optimisme-potensi-jagung-indonesia

Optimisme Potensi Jagung Indonesia

Jelang akhir September 2018 sebagian peternak ayam di tanah air resah akan ketersediaan jagung pakan untuk ternaknya. Presiden Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi meminta pasokan jagung diprioritaskan untuk kepentingan penemuhan kebutuhan dalam negeri daripada ekspor.
"Dianjurkan, demi kepentingan nasional, ekspor jagung dihentikan total," kata Presiden Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi disalin dari Antara. Menurutnya, hingga saat masih terjadi kekurangan yang disebabkan menurunnya produksi jagung akibat musim kemarau.

Oleh karena itu, diharapkan kepada pemerintah untuk lebih mengutamakan kebutuhan jagung untuk dalam negeri. Salah satu alasan dilakukannya kebijakan ekspor jagung karena disebutkan terjadi surplus panen. Akan tetapi, sebagian mempertanyakan validitas data surplus.

Sebab, hal itu tidak sejalan dengan menurunnya harga dan ketersediaan jagung di pasaran. Menurut Mushar, para peternak Unggas dan produsen pakan ternak masih terjerat pada harga jagung yang relatif tinggi. Target dan capaian yang disebutkan oleh Kementan sampai saat ini belum dapat menekan harga jagung.

Disebutkan, tahun 2018 ini pemerintah menargetkan produksi jagung sebanyak 33 juta ton, naik sekitar 10 juta ton pada tahun 2017. Sementara kebutuhan jagung untuk peternak dan pakan ternak sekitar 9 juta ton pertahun.

"Artinya, kalau kita hanya butuh 9 juta ton, sementara produksi nasional 23 juta ton (tahun 2017), harusnya harga jagung sekitar Rp 3 ribuan, tapi ini tidak pernah mencapai angka segitu, di atas Rp 3.700 sampai Rp 4.000 lebih. Kalau misalnya produksinya berlebih, pasti murah dan mudah," katanya.

Soal ketersediaan jagung pengusaha ternyata beda suara. Menurut Ketua Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anton J. Supit, selain mahal ketersediannya juga kian terbatas. Ia menyebut rata-rata kebutuhan pakan jagung untuk pakan ternak sebanyak 8 juta ton per tahun.
"Yang berhasil dikumpulkan industri pakan dalam negeri hanya 5 ton saja", ujar Anton. 
Anton mengakui ada persoalan lain di luar ketersediaan pakan, yakni rantai pasok pakan jagung yang masih panjang, dan membuat harganya terkatrol cukup tinggi.
Sedikit berbeda dengan Anton, Corporate Secretary PT Malindo Feedmill Tbk Andre Andreas Hendjan menyampaikan saat ini industri pakan masih bertahan karena masih memiliki stok jagung sampai akhir tahun.  Andre tak menampik harga jagung saat ini lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Di tingkat pabrik di atas Rp 5.000 per kg. Namun begitu menurutnya produksi tidak menemukan hambatan..
"Produksi pakan Malindo masih berjalan lancar, tidak ada hambatan. Untuk pasokan jagung, saya rasa masih mencukupi kebutuhan", kata Andre.
Kondisi ini sesuai dengan hitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, bahwa produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK) pada 2018. Ini didukung luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen seperti tercantum dalam ARAM I BPS pada 2018.
Sementara berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15,5 juta ton. Terdiri atas pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK.

"Artinya kita masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK. Bahkan Indonesia telah mengekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton", urai Gatot.

Lonjakan ekspor jagung tinggi tahun ini memang cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor jagung selama Januari-Juli 2018 mencapai 302.520 ton. Angka itu 14 kali lebih banyak dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu, yang tercatat 22.230 ton. Atau 10 kali lebih dibandingkan semester I-2016 yang 27.870 ton, bahkan akumulasi ekspor sepanjang tahun 2016 dan 2017.
Gatot tak menampik harga jagung naik pada musim-musim tertentu, namun bukan berarti ada masalah pada produksi dan pasokan. Ia menjelaskan kebutuhan jagung untuk pabrik pakan sebesar 50 persen dari total kebutuhan nasional. Sehingga sensitif terhadap gejolak. Ditambah lagi beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung.  Ada setidaknya 93 pabrik pakan di Indonesia yang tersebar di 11 propinsi.
"Beberapa pabrik pakan di daerah seperti, Banten, Jakarta, Kalbar, dan Kalsel, tidak berada di sentra produksi jagung," jelas Gatot.
Sejak Pemerintah Ubah HPP, Gunung Hingga Kuburan Ditanami Jagung
Pertanaman jagung di tanah air belakangan ini semakin bergairah. Kementerian Pertanian mencatat produksi jagung meningkat hingga 4 juta ton. Menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, hal ini berkat langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengubah harga pokok penjualan (HPP).
Amran menjelaskan, harga jagung sebelumnya dibanderol Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram (kg). Nilai itu dinilai terlalu rendah hingga bisa merugikan para petani jagung.

"Ini atas kebijakan Bapak Presiden mengeluarkan HPP. Itu Pepres harga jagung dulu hanya Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per kg. Kalau petani rugi, berhenti berproduksi kan jadi sekarang kita naikkan HPP," kata Amran kepada detikFinance dalam acara Blak-blakan di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (17/9/2018).

Lebih lanjut, Jokowi pun mengubah harga jagung menjadi Rp 3.150 per kg. Berkat langkah tersebut, produksi jagung ikut meningkat hingga 4 juta ton karena petani merasa diuntungkan.

Bahkan, kata Amran, beberapa petani melakukan penanaman jagung di kuburan hingga di gunung untuk mencari keuntungan tersebut.

"Jadi langsung keluarkan pepres itu harganya Rp 3.150 per kg sehingga orang bertani produksi naik 3-4 juta ton. Karena kebijakan itu juga keburan pun ditanami jagung di Yogya, di Lampung di pinggir jalan, kalau di Sulawesi Selatan di pegunungan," ungkap dia.

Sementara itu, Kementan juga mengklaim telah menjadi eksportir jagung. Tiga negara tujuan ekspor jagung kita adalah Filipina (66,51%), Jepang (16,23%), dan Pakistan (10,03%). Pada periode tersebut setidaknya ada 4 provinsi pemasok jagung untuk diekspor, yakni Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

Pemerintah Targetkan Ekspor Satu Juta Ton Jagung di 2019
Dengan luas pertanaman dan upaya -  upaya yang tengah dilakukan Kementan, Amran optimistis memasang target ekspor jagung dua kali lipat pada tahun 2019.
"Target dulu impor 3,6 juta ton nilainya Rp 10 triliun, (sekarang) kita ekspor target 500 ribu ton, tahun depan (targetnya) satu juta ton, karena melihat spirit petani lebih baik," kata Mentan Amran Sulaiman seusai melakukan penanaman perdana jagung di Desa Srikaton, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Selasa (4/9).

Untuk mencapai target ekspor tersebut, ia mengatakan pemerintah akan mendukung petani dalam hal bantuan bibit jagung dan pupuk. Tahun 2018, Kementerian Pertanian (Kementan) telah membantu petani untuk luasan lahan 100 ribu hektare gratis pupuk dan bibit. (*)

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di