alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Iam number 1 or number 2 ???
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbd7ff8dbd77020798b4569/iam-number-1-or-number-2

Iam number 1 or number 2 ???

WELCOME TO MY FIRST THREAD

Hai semua, salam kenal buat agan dan sista...  salam hormat juga buat para sesepuh dan pinisepuh yang ada di jagad kaskus ini. Alkhamdulillah ane newbie yang baru menetas setelah sekian lama jadi Silent Reader yang hobi banget nomaden dari thread satu ke thread yg lain, karena basic hobi ane membaca.

Ane ucapkan beribu maaf apabila ada kesalahan pengetikan (yaa kan bukan dibuku), atau cerita yg bikin bingung dan gak nyambung banget. Tak lupa beribu terima kasih ane ucapkan yang udah mau sempetin baca tulisan ane dimari.

 
Rulesnya sama dengan yg lain, jangan ada komentar yg mengandung sara ataupun kebencian, inget ya bree disini semua sodara setanah air. So, ane mohon banget buat sopan komentarnya.

 

Saya asli orang Kediri pasnya Pare, yup kalian sering denger dengan julukan “Kampung Inggris”. Sekarang ane udah dewasa but masih banyak yg kira masih kuliah atau bahkan SMA. Oh iya cuman mau kasih tau aja, tidak selamanya anak tunggal itu “manja”.

 
Awal kisahku dimulai.....



PART 1 ( ISENG )
PART 2 ( APA YG KURASAKAN INI? )
Diubah oleh vaiphoel
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
EDIT : DELETE
Diubah oleh vaiphoel
Iam number 1 or number 2 ???





PART 1 (ISENG)


Matahari telah menunjukkan kecantikannya, tapi aku yg masih lelap enggan membuka mata sampai suara ibu terdengar beberapa kali memanggil, kalau susu dan sarapan sudah siap untuk disantap. Itu menjadi sebuah alarm manual yg tandanya aku harus cepat-cepat bangun untuk segera bersiap ke sekolah. Okey, hari pertama masuk Taman Kanak-kanak disambut dengan malas, karena sekolah yg terlalu dekat jadi santai saja. Itu lah yg ada dalam benakku.

Ibu dengan sedikit berjalan cepat datang menghampiriku dan membelai rambutku, seakan semakin terbuai dengan kelembutan kasih seorang ibu, serasa makin rapat saja mata ini.


Ibu : “ nduk (panggilan untuk anak perempuan), ayo bangun mandi dulu. Hari pertama sekolah loh, masak nggak bersemangat gitu?”. Tanya ibu sambil sesekali mengecup pipiku agar bangun.
Aku : “ iya bu”. Aku menjawab dengan sedikit memicingkan mata karena kesilauan sang mentari.

Ibupun dengan semangat membantuku bangun dan menggerakkan tubuhku kepunggungnya dengan niatan untuk menggendongku agar cepat ke kamar mandi. Aku terpejam lagi untuk sesaat menikmatinya. Setelah sampai, pura – pura tidurpun aku lancarkan agar ibu tidak tega untuk membangunkanku. Tapi yang aku dapat saat itu malah omelan khas ibu yg ku sayangi ini.

Setelah selesai mandi, aku sarapan dengan lahap sedangkan ibu dengan telaten menyisir rambutku dengan lembut dan penuh kasih sayang, dan tak lupa menguncir rambutku 2 kanan-kiri layaknya seekor kelinci (that’s my favorite) dengan pita berwarna kuning keemasan berbentuk bulat kecil – kecil. Ibu mengantarkanku ke taman kanak – kanak berjalan kaki dengan jarak hanya tak lebih dari 100 m.

Warna warni pagar sekolah khas TK membuatku tertarik untuk lebih melihat lebih jauh, tawa ceria serta ramainya suasana tak kalah melengkapi suasana yg ada didalam pagar warna wani itu, kerumunan anak seusia 4 sampai 5 tahunan riang bermain, ada yg sedang bermain kejar – kejaran dengan teman lainnya, main ayunan, perosotan, dan ada pula yg cuman diam saja duduk dengan ibunya, dengan ekspresi takut ke sekolah untuk pertama kalinya. Pemandangan itu yg menyambut kedatanganku kala itu. Dengan wajah riang akupun menghampiri mereka berharap bisa bermain dengan mereka.

Saat itu yg ada dalam pikiranku, “bukan lagi sekolah yg menakutkan dengan guru yg galak. Ini adalah taman bermain dengan tampilan sedikit berbeda dari yg biasanya. Ya, dengan teman seusia yg berpakaian sama dan beberapa ruangan saja itu lah yg membedakan.”
tak terasa saat asyik bermain ayunan, seorang wanita berpakaian dinas dengan menggunakan jilbab senada memanggil seolah memberi sesuatu. Tak perlu menunggu lama kami semua pun datang berlarian menghampiri seorang wanita itu, bahkan ada yg sampai terjatuh. Wanita tersebut membantu seorang anak yg terjatuh dengan senyuman manis, seolah memberi isyarat untuk menenangkan. Ya, perempuan itu bernama Bu Sri. Ibu guru yg akan mengajar kami nanti.

Sebagai awal masuk sekolah kami pun diajarkan untuk berkenalan satu sama lain. Kami menyambutnya dengah riuh khas anak kecil utuk memperkenalkan diri. Memang saat itu akupun belum sempat untuk berkenalan dengan seluruh teman satu kelasku, namun aku hanya berkenalan dengan teman disebelahku bernama Dewi. Dia berambut keriting gantung dengan postur tubuh sedikit berisi, lebih tinggi dariku dan mata yg agak belo. Tak terasa bel istirahat berbunyi kami berhamburan ke halaman sekolah untuk bermain, atau sekedar untuk beli makanan ataupun menghampiri orang tua yg sedang menunggu kami.

Saat itu aku dan Dewi berjalan berdua keluar kelas hanya untuk sekedar beli makanan ringan. Ntah kenapa pada saat itu aku merasa ingin mengelilingi area sekolahku ini dan aku ingin mencoba beberapa mainan yg ada di halaman sekolah.


Aku : “mbak, ayo kesana yukk lihat lihat ada tempat bermain apa?!. Bicara sambil mengedarkan pandangan ke halaman sekolah.”
Dewi : “ntar aja ya dek, masih enak makan jajan nih. Dengan muka yg tidak mau diganggu sedikitpun.”
Aku : “yaudah mbak aku kesana sendiri sebentar aja yaa?? Ntar aku balik lg kesini, tungguin yaa...”
Dewi : “iya dek.”


Aku berlari dengan penuh semangat untuk melihat apa saja mainan yg ada dihalaman sekolahku ini. Karena pada saat itu ada banyak sekali mainan anak – anak yg membuatku ingin mencoba semuanya. Namun, tidak terasa bel sudah berbunyi menandakan kalau waktu istrirahat telah usai. Akupun berjalan dengan sedikit murung, karena aku belum sempat mencobanya.
Lalu, berhubung hari ini pertama kali sekolah dimulai ibu gurupun merampungkan pelajaran hari ini dengan menyuruh kami memperkenalkan diri ke depan kelas. Tak hanya itu, beliaupun juga memberi kami beberapa pertanyaan untuk saling menebak nama teman kami secara bergantian. Hal itu sangat membuatku malu, karena baru 1 orang saja yg kukenal. Yang jelas saat ini aku berharap bel sekolah berbunyi lagi agar bisa cepat pulang. Dan benar saja, tak lama kemudian bel sekolah berbunyi dengan nyaring.

“Horeeee ...... “ serentak kamipun berteriak dengan riang


Aku dengan semangat merapikan buku yg dimeja dan keluar dari kelas mencari ibuku yg menunggu selama sekolah. (maklum kan masih TK tuh jadinya sekolahnya ditungguin dulu hehehe). Ku amati wajah perempuan perempuan yg menunggu kami diluar kelas, belum juga melihat ibu, tiba – tiba ada temanku laki – laki yg berhenti dan berdiri disampingku dengan wajah kebingungan, sontak aku mengamatinya. Yaa, temanku sekelas ini termasuk kategori manis dengan perawakan tinggi dan berkulit kuning langsat, sedikit berbeda dengan teman sebayanya yg kebanyakan berkulit sawo matang. Aku memberanikan diri untuk bertanya karena dia terlihat sangat gelisah.

Aku : “kamu cari siapa ky?” sesekali aku menatap wajah lucunya yg bingung.
Onky : “aa haa?? Iya?? Gimana??. Aku lagi nyariin ibuku nih.”

Akupun ikut mengamati seolah ikut mencari ibu temanku ini, padahal aku sendiri belum tau wajah ibunya seperti apa. Dan malah aku akhirnya melihat ibukku sendiri yg aku cari dari tadi sedang menungguku dihalaman sekolah. Akhirnya akupun punya ide untuk mengerjain temanku ini.


Aku : “ itu ky ibumu.” Aku menunjuk kesebelah kiri, diapun menengok lalu aku tiba –tiba dan dengan sengaja mencium pipinya, dan buru - buru lari menuju ke ibuku sambil ketawa.
Onky : “.............” Diam dan hanya bengong kaget.


Aku berlari menuju ke ibuku dengan tertawa cekikikan sampe ibu heran dengan tingkah anehku, yg senyum senyum sepanjang jalan ketika pulang.


Ibu : “ nduk, kamu ngetawain apa? kok sampe sepanjang jalan senyum – senyum sendiri begitu.”
Aku : “hehehe ndak papa kok bu.” Jawab malu – malu sambil tersenyum.
Ibu : “ yakin nduk?.”
Aku : “ hehe, gini buk tadi tuh aku ngetawain temenku sekelas yg lagi nyari ibuknya buat jemput sekolah gitu, lucu banget bu wajahnya yg bingung.” Aku hanya bercerita kebingungan temanku saja tanpa sedikitpun bilang aku telah berbuat iseng padanya.
Diubah oleh vaiphoel
PART 2 (APA YG KURASAKAN INI ?)

Aku bersiap – siap berangkat ke sekolah dengan ogah – ogahan, sarapanpun juga aku sambil menonton tv agar semakin lama, karena aku malu jika harus bertemu dengan dia yg sudah aku isengin. Akhirnya aku berangkat diantar ibu dengan berjalan selambat mungkin dan sesekali berhenti dengan dalih capek jika jalan kaki.

Ibu : “ nduk, ayo buruan sudah kesiangan loh ini kamu berangkatnya, kok jalannya lama sekali, berhenti – berhenti terus.” Ibuk bicara dengan nada sedikit jengkel karena sikapku yg dianggapnya lelet.
Aku : “ iyaa bu, capek jalan kaki.” Dengan nada di lemes – lemesin biar ibuk ngerasa kasian. Hehe

Selambat apapun aku berjalan tetap akhirnya sampai juga di sekolah, akupun berjalan dengan pelan dan mengedarkan pandangan ke halaman sekolah terutama sudut kelasku, aku berharap dia tidak masuk sekolah hari ini. Gerombolan anak laki lakipun tak luput dari pengamatanku satu per satu, untuk memastikan kalau dia tidak masuk sekolah.

“ yeyy, dia gak ada.” Sorakku dalam hati.”


Belum juga selesai aku bersorak dalam hati, aku melihat bayangan yg tingginya lebih sedikit denganku, dengan potongan rambut pendek, membawa tas berbentuk robot khas laki - laki dan berjalan mengikutiku. Sontak saja aku kaget dan seketika berhenti berjalan, lalu ku lirikkan mataku ke bayangan tersebut yg pelan – pelan berjalan disampingku.

Bayangan : “ hei, kamu yg kemarin ya? “
Aku : “ hehe iyaa ” tersungging senyum malu dari wajahku

Kami berjalan bersama menuju kelas, karena pada saat itu ibuku masih berbicara dengan orang tua teman – temanku yg lain. Sampai di kelas aku buru – buru duduk dan mecoba mengalihkan rasa maluku dengan mengeluarkan buku gambar yg ada di dalam tas sebagai pelampiasan, ku coretkan gambar abstrak untuk menumpahkan apa yg ada dalam otakku.

Untuk mengawali pelajaran hari ini Bu Sri pun mengajak kami untuk berdoa bersama. Hingga tak terasa belajar mengenal dan menulis huruf abjad membiusku hingga bel tanda istirahat berbunyi. Aku segera merapikan pensil bermotif garis biru tua – hitam yg legendaris pada masanya ke dalam kotak pensil dan bergegas untuk ke halaman sekolah bermain bersama dengan teman yg lain, tentunya dengan teman sebangkuku si Dewi.

Aku : “ mbak, ayo main perosotan yuk “.
(memang pada saat itu ada 2 perosotan yg terbuat dari kayu dan satunya dari semen gitu guys, dan perosotan yg paling tinggi itu terbuat dari semen yg kurang lebih hampir 2 meter)
Dewi : “ ayo dek, mau yg mana nih?? Kayu apa yg satunya?”
Aku : “ yg didepan (perosotan dari semen) aja mbak”. Jawabku dengan semangat
Dewi : “ yaudah ayo buruan, udah rame banget”.

Akhirnya kami berlari menuju perosotan tersebut. Memang perosotan itu yg paling banyak dinaiki temen – temen guys, karena paling tinggi dan licin sekali jadi kami beranggapan semakin seru


Kamipun berjubel dan antri layaknya menaiki wahana permainan yg istimewa, panas matahari yg menyengat tak kami hiraukan dan hanya membuat kami memicingkan mata. Aku mulai naik satu tangga dan menunggu, begitu sampai tiba saat giliranku dengan mbak dewi. Karena pada saat itu 1 tangga bisa diisi 2 – 3 anak kecil. Oleh sebab itu, menambah waktu kami untuk menunggu. Tak jarang orang tua murid yg sekedar mengawasi anaknya dari bawah perosotan, dan ada juga yg menunggu di tangga yg paling bawah untuk memastikan agar anaknya menaiki tangga dengan hati – hati. Si Ibu yg ada di tangga yg paling bawah juga membantu anak kecil yg lain untuk berbaris dengan rapi.

I : “ sini nak, baris yg rapi yaa nunggu giliran. Ndak boleh saling dorong yaa.”

Si ibu memberi aba – aba layaknya seorang guru yg sedang melatih muridnya baris ber baris. Dengan postur tinggi besar Si ibu mengarahkan tubuh anak yg lain untuk menunggu gilirannya.

Pada saat Si ibu sedang sibuk mengarahkan dan mengatur baris anak – anak yg lain, tiba – tiba ada salah satu anak laki – laki dengan badan yg cukup gemuk setelah turun dari perosotan lari menuju antrian untuk naik tangga, namun dia tidak mau untuk menunggu gilirannya. Tubuh gemuknya mencoba menerobos antrian yg cukup berjubel hingga seketika membuat yg lain berteriak karena takut apabila sampai terjatuh.
Hingga pada akhirnya Si ibu pun dengan cepat melihat apa yg sedang terjadi dan mencoba berteriak untuk memanggil temanku untuk menghentikannya agar tidak membahayakan yg lain. Dan pada saat itu aku dan mbak dewi sedang asyik ngobrol agar tidak terasa lama menunggu. Ntah kenapa aku merasa pada saat itu ada sesuatu yg besar dan kuat sedang menyentuh tubuh ini hingga aku merasa melayang dan terdengar suara cukup keras dari kepalaku dan beberapa teriakan yg memanggil namaku. Mataku terpejam pelan dengan diiringi sedikit erangan, gelap dan sunyilah pada saat itu yg ku rasakan.

Pelan – pelan kubuka mataku dengan sedikit mengernyit menahan silaunya lampu yg menyapu wajahku.

“ aaarrghhh... kenapa ini?”. Gumamku
“apa yg terjadi?”
“ aku dimana ini?, kenapa ada banyak orang yg mengerumuniku?”


Ribuan pertanyaan dengan kejam memburu otakku tanpa memperdulikan sang empu yg masih meringis kesakitan menahan nyeri dikepala.

Ibu : “ nduk??? Alkhamdulillah kamu wes sadar nduk. Sakit ya nduk kepalanya?. Sini nduk biar ibuk belai yg sakit.” Dengan iba dan pelan – pelan ibu membantuku bangun dan membelai dengan lembut kepalaku yg sakit.

Aku bangun dengan mata masih cukup buram tidak begitu jelas untuk melihat siapa saja yg mengerumuniku, yg jelas pada saat itu suara ibulah yg paling aku kenal. Aku meraih tangan ibu dengan lamban dan memeluk tubuh ibuku dengan lemas karena rasa sakit kepala yg sangat menggangguku.

Ibu : “ sebentar nduk, minum air putih dulu ya sedikit saja .”


Dengan mata terpejam menahan sakit aku minum air bening tersebut dengan bantuan ibu. Lalu belaian lembut nan menenangkan melenyapkan sakit kepala yg kurasakan. Hingga akhirnya mampu membuatku terlelap seolah tak merasakan sakit apapun.
Sekolah pada hari itu berlangsung sangat cepat bagiku, karena aku sudah berada di kasurku yg empuk dengan memeluk boneka berbentuk bayi kesayanganku tanpa harus mengikuti pelajaran selanjutnya. Dengan pelan ku buka mataku, dan mencoba mengingat apa yg telah terjadi saat aku sedang bermain perosotan diwaktu istirahat tadi. Namun sial tak dapat satupun yg dapat ku ingat, hanya bayanganku dan mbak dewi sedang asyik mengobrol smbil menunggu giliran, lalu gelap. Berulang kali aku mencoba untuk mengingatnya lagi dan lagi, namun hanya bayangan itu yg terulang.

“Lalu, kenapa kepalaku bisa sampai sakit, sedangkan sebelumnya aku baik – baik saja?”

Dengan ragu dan pelan aku mencoba meraba kepalaku yg sakit. Yaa, aku merasakan sesuatu yg terkesan aneh dikepalaku, benjolan yg ada bagian belakang kepala tak begitu besar. Namun sangat menggannjal ketika tidur terlentang.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di