alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Dolar Naik, Pedagang Cabai Ketakutan: Kalau Harga Naik Terus, Mana Bisa Belanja?
2.33 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbd4c9a32e2e6823d8b4567/dolar-naik-pedagang-cabai-ketakutan-kalau-harga-naik-terus-mana-bisa-belanja

Dolar Naik, Pedagang Cabai Ketakutan: Kalau Harga Naik Terus, Mana Bisa Belanja?

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, SUKMAJAYA - Supri (35), pedagang sayur di Pasar Musi Depok mengaku kaget dan khawatir setelah mengetahui nilai tukar rupiah kian melemah hingga tembus Rp 15 ribu per dolar AS.

Dari pengalaman berdagang sayur selama lima tahun, Supri menyebut melemahnya nilai tukar rupiah acapkali dibarengi dengan lonjakan harga sembako.

"Kalau dolar naik sih saya tahu dari beberapa minggu lalu, tapi kalau sekarang sampai Rp 15 ribu per dolarnya saya baru tahu, kaget lah. Dua minggu ini harga cabai udah naik Rp 10 ribu. Takutnya bisa jadi Rp 40 ribu sekilo nanti," kata Supri di Sukmajaya, Depok, Sabtu (6/10/2018).

Meski tak mengetahui pasti sebab kenaikan harga cabai yang rata-rata naik Rp 10 ribu per kilogram, dia menduga melemahnya nilai tukar rupiah merupakan satu penyebabnya.

Dugaan Supri berdasar pada tak berubahnya kualitas sayur yang dibeli dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur dan ketidaktahuan pedagang Pasar Induk atas penyebab lonjakan harga.

"Kalau secara kualitas sih enggak berubah, sama saja. Makannya saya enggak tahu kenapa harga pada naik. Pedagang di Pasar Induk tempat saya beli juga enggak tahu kenapa," ujarnya.

Di lapaknya, satu kilogram cabai keriting dijual Rp 40 ribu, cabai rawit Rp 35 ribu per kilogram, dan cabai hijau Rp 30 ribu per kilogram.

Sedangkan cabai merah besar yang sebelumnya seharga Rp 25 ribu per kilogram naik hingga Rp 33 ribu per kilogram.

"Kalau cabai itu naik semua, pusing lah pokoknya. Makannya dikasih tahu dolar naik lagi ya takut, kalau harga naik terus mana bisa saya belanja. Pembeli juga pasti enggak bisa beli, sekarang saja sudah pada ngeluh," tuturnya.

Walau bukan lonjakan terburuk selama berdagang, Supri menyebut lonjakan harga cabai sekarang lebih buruk dibanding saat bulan Ramadhan lalu.

Pasalnya tak hanya cabai yang harganya melonjak naik, harga kol, wortel dan jengkol juga terkerek naik.

Dua pekan lalu harga jengkol di lapaknya Rp 18 ribu per kilogram, sekarang harga melonjak jadi 28 ribu per kilogram.

Satu kilogram wortel yang sebelumnya Rp 8 ribu melonjak jadi Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan kol dari Rp 6 ribu per kilogram jadi Rp 13 ribu per kilogram.

"Selama dagang sih ini bukan kenaikan terburuk. Mulai naik dari dua minggu lalu, bingung sekarang mau jual berapa. Kalau dijual mahal enggak ada yang beli, jual murah saya yang rugi," keluh Supri.

http://jakarta.tribunnews.com/amp/2018/10/06/dolar-naik-pedagang-cabai-ketakutan-kalau-harga-naik-terus-mana-bisa-belanja

Pengaruh Dollar nembus 15rebu Kata tukang Jualan Cabe di Lapaknya sendiri lho. Silakan bully tukang cabe nya
emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 2
solusi dari rejim: ya jangan jualan cabe
Balasan Post rajakadall
Quote:


Praktis tapi gak menyelesaikan masalah itulah solusi rezim
emoticon-Ngakak
Ganti pake karet aja
makan sambil di jepret mulutnyakan sama pedesnya emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
cabenya impor??
beli pake dolar??
tanem di pot
eh rumah gw komplek depdagri pondok gede.. tukang sayur yg lewat itu kalo kita beli cabe 5000 (goceng) masih dapet..

kalo cowok gak tau harga cabe bawang jgn ngebacot lah ya.. Megang cabe aja jarang pake bacot..
Diubah oleh noisscat
Balasan Post Hina.pr.abowo
Quote:


Pedagang cabe udah pada pinter nyari berita di internet sekarang mah bre. Walopun barang lokal tapi pas Dollar naek harga juga ikut dinaekin ama mereka. HP dah bisa pake jadi tau segala informasi. Itulah bedanya tukang cabe jadul sama tukang cabe zaman now bre.
emoticon-Big Grin
semoga gak takut goreng telur ya.....emoticon-Big Grin
Quote:
ya gitulah kalau tukang sayur dijadiin indikator ekonomi, padahal naik turunnya cabe seringkali karena gagal tanam, perubahan musim, dan penundaan panen yang disebabkan hujan. cabai bukan produk impor, tidak perlu tenaga ahli dari luar negeri untuk menanamnya, tidak perlu biaya research dan infrastruktur yang hebat, jadi kalau naik ya kurangi konsumsi, mulai menanam varietas yang lebih pedas, atau subtitusi dengan sumber pedas alternatif emoticon-Big Grin
lah jaman mbah harto beye cabe hampir seratus rebu ente anteng2 aja. kalo ga suka sama kowi jangan sampe ke ubun ubun bisa gila ente. RSJ terbatas anggarannya
Balasan Post egoldnih
mantap
bingung emang belinya pakai dolar ato impir?? ada hubungannya?? emoticon-Hammer2
jiah lom pernah ngerasain cabe 100 rebu lu pade


lagian kalau cabe mahal, ane bahagia
Waktu harga cabe hanpir 100 ribu harga dolar berapa ? emoticon-Confused
ya cabenya import pasti repot kalo dollar naik


emoticon-Cool
nastak tytyd mini mana ngerti!
Pikir bong cebong...
Apakah pantas kami rakyat makan keong...

Harga2 naik tinggi sekali, rakyat kecil tercekik...

Dimana si Boneka kodok plonga-plongo sulit saat2 seperti ini...
Malah sibuk menjamu Menir2 Rentenir tukang ngutangin duit di Bali..
Foya2 pesta yang tidak berfaedah...

emoticon-Marah
Diubah oleh northvidelia
Harga barang di jaman kowih ini udah kaya tarif lonte.. Naik turun seenak udelnya..

Tapi herannya, nilai inflasi selalu rendah.. emoticon-Nohope
Diubah oleh filusufkacang
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di