alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbc28ba5a5163122b8b456a/global-pangkas-pertumbuhan-indonesia-perkuat-kebijakan

Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan

Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan
Perajin menyelasaikan pahatannya di Pavilion Indonesia di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10/2018).
Perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia dipangkas. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memutuskan untuk menurunkan ekspektasi mereka atas pertumbuhan ekonomi global sebanyak 0,2 persen menjadi 3,7 persen.

Tiga penyebab utamanya; perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, perubahan arah kebijakan NAFTA (North American Free Trade Agreement), serta hengkangnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Ketiga faktor itu membawa kontraksi ekonomi pada nyaris seluruh negara di dunia, baik yang berkembang maupun sudah maju.

“Dampak kebijakan dagang dan ketidakpastian global memberi tekanan pada level makro serta korporasi. Kebijakan perdagangan merefleksikan politik, sementara kondisi politik di beberapa negara masih tidak stabil. Ini bisa membawa efek yang lebih dalam,” ucap Kepala Ekonom IMF Maurice Obstfeld pada jumpa pers di Bali International Convention Center (BICC), Westin, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018) pagi.

Maurice menambahkan, prediksi yang dibuat April lalu (3,9 persen) menjadi terlalu optimistis jika mengukur faktor-faktor tadi.

Bukan hanya pertumbuhan ekonomi, lembaga keuangan dunia ini juga memangkas prediksi volume perdagangan global. Arus barang dan jasa tahun ini tumbuh 4 persen, atau turun 0,6 persen dari prediksi sebelumnya. Sementara, tahun depan kembali turun menjadi 4 persen.

Prediksi ini tidak akan mudah bagi negara-negara berkembang saja, tetapi juga untuk AS dan Tiongkok.

Dua negara yang hubungannya semakin memanas ini diperkirakan juga akan mengalami kontraksi, terutamanya akibat pengenaan tarif dari dan menuju dua negara tadi.

Secara keseluruhan, IMF memperkirakan pertumbuhan AS dan Tiongkok sebesar 2,9 persen dan 6,6 persen. Namun, pada 2019, pertumbuhan kedua negara ini bisa meregang menjadi 2,5 persen dan 6,2 persen.

AS menjadi lebih rentan. Maurice menjelaskan, salah satu penyebab ekonomi AS tumbuh lebih cepat sejak krisis 2008 adalah penerapan kebijakan stimulus fiskal.

Stimulus ini diprediksi berakhir pada 2020. Ketika dihentikan, pertumbuhan AS diproyeksi akan turun menjadi di bawah 2 persen. Kendati begitu, Maurice tidak langsung menyimpulkannya sebagai potensi krisis ekonomi terbaru.

Begitu juga dengan normalisasi suku bunga The Fed yang masih akan berlangsung hingga akhir tahun dan 2019. Normalisasi yang tidak sejalan dengan arah kebijakan dagang Presiden AS Donald Trump, bisa menyulitkan arus moneter Negeri Paman Sam tersebut.

Bukan hanya AS, Tiongkok pun diprediksi akan mengalami pelemahan—meski hal ini sebenarnya sudah terjadi.

“Kebijakan domestik Tiongkok akan sedikit menghambat gerak pertumbuhan dan ketidakseimbangan finansial internal. Salah satunya disokong akibat penerapan tarif balasan,” sambung Maurice.

Secara keseluruhan, jika dibandingkan dengan enam bulan lalu, prediksi pertumbuhan ekonomi 2018-2019 di seluruh negara maju akan turun 0,1 persen, termasuk negara-negara yang berada di zona Eropa seperti Britania Raya dan Korea.

Sementara untuk negara dan pasar berkembang, prediksi pertumbuhannya akan berada pada rentang minus 0,2 dan minus 0,4 persen untuk tahun ini dan tahun depan.

World Economic Outlook atau prediksi pertumbuhan global dirilis satu tahun dua kali, tepatnya pada April dan Oktober.
Penyesuaian negara berkembang Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan
Ekonom IMF Gian Maria Milesi-Feretti (kiri) dan Ketua Ekonom IMF Maurice Obstfeld (tengah) saat mengumumkan prediksi pertumbuhan ekonomi per Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018).
Gian Maria Milesi-Feretti, Wakil Direktur Departemen Riset IMF, mengatakan negara-negara berkembang akan menjadi subjek yang paling terdampak atas pemangkasan ini.

Dari pemangkasan ini, negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—diperkirakan bakal memangkas pertumbuhannya dalam rangka normalisasi kebijakan global.

“Kami melihat adanya sinyal penurunan tingkat investasi yang disokong dengan pelemahan pertumbuhan volume perdagangan,” tuturnya pada kesempatan yang sama.

Kendati demikian, efek yang akan dialami tiap negara bakal berbeda-beda tergantung pada kebijakan yang diterapkan masing-masing negara. Dari rilis yang sama, beberapa negara yang diprediksi paling berkontraksi adalah Argentina, Brasil, Meksiko, Iran, dan Turki.

Indonesia, secara terpisah Maurice menjelaskan, masih masuk dalam kategori aman. Pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dolar AS bukan yang terburuk. Indonesia masih mampu bertahan akibat kebijakan dalam negeri pada sektor-sektor krusial.

“Untuk menghadapi ketidakpastian global, pemerintah Indonesia perlu memperkuat kebijakan pajak, pengembangan sumber daya manusia, dan juga infrastruktur sebagai safety net. Kebijakan yang dibuat juga harus konsisten,” tegas Maurice.

Indonesia juga bisa mengambil keuntungan lebih melalui foreign direct investment (FDI). Menurut Maurice, FDI adalah instrumen yang paling menarik dan cocok untuk Indonesia saat ini. FDI merupakan bentuk investasi baik dari swasta maupun korporasi asing yang bersifat jangka panjang.

Para ekonom IMF ini juga melihat kaburnya para investor dari negara berkembang tidak sepenuhnya disebabkan oleh penguatan ekonomi AS, meski tak bisa dipungkiri bahwa kerentanan terhadap guncangan global telah meningkat.

“Banyak negara berkembang mengelola suku bunganya dengan relatif baik—menyasar pada kebijakan pengetatan yang dibuat—menggunakan kerangka moneter yang mapan berdasarkan fleksibilitas nilai tukar,” sambung Maurice.

Satu hal yang perlu diwaspadai, setiap kebijakan normalisasi suku bunga yang dibuat negara berkembang bisa menjadi ancaman bagi negara dengan ekonomi maju. Sebab, sekitar 40 persen dari ekonomi dunia saat ini disumbangkan oleh negara-negara berkembang.
Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...kuat-kebijakan

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan Diskusi ekonomi dunia yang muram dibayangi perang dagang

- Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan Luhut pastikan tak ada yang berlebihan di Bali

- Global pangkas pertumbuhan, Indonesia perkuat kebijakan Ada mobil pelat merah dan kedutaan terekam e-Tilang

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di