alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Potensi Gempa di Pulau Jawa dan Pentingnya Mitigasi Bencana
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbbe5b0529a45447a8b4567/potensi-gempa-di-pulau-jawa-dan-pentingnya-mitigasi-bencana

Potensi Gempa di Pulau Jawa dan Pentingnya Mitigasi Bencana

Potensi Gempa di Pulau Jawa dan Pentingnya Mitigasi Bencana
Rabu 03 Oct 2018 04:47 WIB



Potensi Gempa di Pulau Jawa dan Pentingnya Mitigasi Bencana
Kerusakan akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR) di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10).Foto: Muhammad Adimaja/Antara

Data terkait kegempaan seharusnya membuat kesiapsiagaan bencana menjadi perhatian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia berada dalam kawasan Ring of Fireatau cincin api Pasifik yang aktif. Kondisi tektonik membuat sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa, berpotensi mengalami banyak kejadian gempa. 

Peneliti Geologi Kegempaan LIPI Danny Hilman mengatakan potensi gempa di Indonesia besar. Begitu pula dengan Pulau Jawa. "Potensi gempa itu ada, tetapi kapan terjadinya itu kita tidak tahu," kata Danny dalam diskusi Analisis LIPI untuk Gempa dan Tsunami Indonesia, di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (2/10). 

Pernyataan Danny merespons pesan berantai di media sosial mengenai prediksi gempa dahsyat di Pulau Jawa. Menurut Danny, pesan tersebut sudah dipelintir sedemikian rupa sehingga mengesankan gempa besar segera terjadi di Pulau Jawa.

LIPI menegaskan belum ada teknologi yang bisa memberikan informasi secara tepat tentang kapan terjadinya gempa. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah termakan hoaks. 

"Jika ada pendapat yang menyatakan mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi beserta kekuatan magnitudonya, bisa dipastikan itu adalah hoaks,” kata  Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional menyebutkan zona subduksi Jawa lebih tenang dibandingkan dengan Sumatra. Gempa besar yang mengakibatkan tsunami memang pernah terjadi di wilayah Jawa, di antaranya gempa magnitudo 7,8 di Jawa Timur pada 1994 dan M7,8 di Pangandaran pada 2006. 

Selain dua tsunami skala kecil tersebut, tidak ada rekaman sejarah terjadinya tsunami besar di zona subduksi Jawa. Pergerakan aseismik tanpa adanya penumpukan energi di Jawa didukung juga dengan umur plate yang menunjam di bawah Jawa relatif lebih tua. 

Kendati demikian, gempa besar pada 1994 dan 2006 menunjukkkan zona subduksi Jawa tidak sepenuhnya aseismik dan menyimpan potensi kegempaan. Peta gempa juga menunjukkan sesar-sesar aktif di Pulau Jawa terhubung.

Sesar utama di Pulau Jawa, yakni Cimandiri, Lembang, Baribis-Citanduy, Semarang, Kendeng, Pasuruan, Probolinggo, dan Baluran. Sesar Baribis di bagian barat merupakan bagian dari jalur sesar naik di belakang busur, termasuk di dalamnya sesar semarang dan sesar-sesar naik di zona Kendeng, Jawa Timur. 
Artinya, kota-kota besar di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Surabaya, Semarang, hingga Cirebon, berada di jalur sesar gempa aktif. 

Potensi Gempa di Pulau Jawa dan Pentingnya Mitigasi Bencana
Peta sesar aktif di Pulau Jawa. (Sumber: Peta Gempa 2017)

"Masyarakat Indonesia siap menghadapi segala kemungkinan bencana," kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko. 

Data ini seharusnya membuat kesiapsiagaan dan kewaspadaan bencana menjadi perhatian agar dampak buruk dapat diminimalisir. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan masyarakat perlu disadarkan lagi soal mitigasi bencana. 

Tidak hanya di Pulau Jawa, melainkan juga daerah-daerah lain mengingat Indonesia sangat rawan terkena bencana. Indonesia menjadi pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Selain itu Indonesia juga terletak di kawasan sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

"Fakta ini harus diyakini agar masyarakat Indonesia siap menghadapi segala kemungkinan bencana," kata Handoko. 

Ahli Geologi Universitas Gajah Mada (UGM) yang juga anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IIAGI) Rovicky Dwi Putohari juga mengutarakan pentingnya sosialisasi peta gempa di masing-masing wilayah. 

“Kapan akan terjadi kan kita tak tahu, yang penting itu melihat petanya dan di mana lokasi kita,” kata Rovicky. 

Kepala Pusat Dara Informasi dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pemerintah daerah (pemda) yang wilayahnya rawan gempa harus membuat peta mikro zonasi. Dengan peta itu, dia mengatakan, akan diketahui potensi terjadi gempa.

"Dari sana dijadikan dasar tata ruang. Artinya kalau bangun di daerah itu, boleh tetapi kekuatan konstruksinya harus diatur. Memang lebih mahal," kata dia. 

Ia mengatakan penanggulangan bencana harus diperhitungkan dalam tata ruang. Sebab, mitigasi bencana akan menjadi investasi dalam pembangunan.

Saat ini, ia menyatakan, masih jarang pemda yang memrioritaskan penanggulangan bencana. "Memang lebih mahal, tetapi ketika terjadi bencana jumlah korban sedikit dan kerugian lebih kecil,” kata Sutopo.

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla mendorong agar mitigasi bencana, terutama gempa, dapat diajarkan di sekolah. Jusuf Kalla menjelaskan, anak-anak di sekolah perlu dilatih untuk mitigasi bencana secara berkala, misalnya setahun sekali. 

Menurut Jusuf Kalla, mitigasi bencana tersebut tidak perlu ada kurikulum khusus. "Bisa diajarkan di ilmu bumi, geografi kan namanya bahwa gempa itu bagaimana," ujar Jusuf Kalla ketika ditemui di kantornya, Selasa.

Selain itu, edukasi dan pelatihan tentang mitigasi bencana gempa juga perlu diperluas ke masyarakat. "Paling dilatih sekali setahun, bahkan tidak perlu kurikulum," kata Jusuf. 

Pelaku industri wisata di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) juga berharap ada sosialisasi mitigasi bencana. Para pelaku industri ini sedang mencoba bangkit pascagempa yang melanda sejak akhir Juli hingga Agustus.

General Manager Warna Beach Hotel Rikardus Jumas mengatakan, edukasi dan mitigasi akan bencana masih sangat minim dilakukan oleh pemerintah di Indonesia. Rikardus menyebutkan, hingga saat ini, belum pernah ada sekali pun sosialiasi tentang mitigasi dilakukan pemerintah di Gili Trawangan.

"BPBD punya kapasitas untuk memberi sosialisasi seperti seminar sejak dini, edukasi bahwa negara kita ada cincin api, entah bencana gempa, tsunami, dan gunung," katanya menambahkan.

Mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan dari pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah daerah. Sebab, dana dari APBN untuk mitigasi bencana kerap belum memadai.

Mitigasi tersebut mencakup penjagaan dan kewaspadaan terhadap bencana alam, termasuk peralatan mitigasi bencana berupa tsunami buoy yang dibutuhkan untuk melakukan deteksi dini. "Alokasi dana yang kurang, terutama untuk sisi mitigasi,“ kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid mengatakan, alokasi dana untuk mitigasi bencana belum memadai kepada Republika.co.id, Selasa.

Sodik menjelaskan, dana yang dialokasikan untuk mitigasi pada 2018 ini hanya berkisar antara Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar. "Idealnya Rp 1 triliun untuk mitigasi, pembangunan budaya sadar dan waspada bencana," kata dia.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9). Gempa tersebut menyebabkan gelombang tsunami yang terjadi di pantai Palu dengan ketinggian 0,5 sampai 1,5 meter, di pantai Donggala kurang dari 50 sentimeter, dan pantai Mamuju dengan ketinggian enam sentimeter.

Dalam kejadian gempa di Kota Palu, terjadi juga fenomena likuifaksi. BNPB memerinci likuifaksi terjadi di Perumnas Balaroa yang terdapat sekitar 1.747 unit rumah. Sementara di Perumnas Patobo ada sekitar 744 unit rumah. 

https://www.republika.co.id/berita/n...tigasi-bencana

Inilah INFORMAS BENCANA GEMPA yang berseliweran di INTERNET itu ... bikin ati ciut otomatis!
Quote:


------------------------------

Rakyat INDONESIA itu 87% adalah muslim, artinya dia beragama ISLAM. 
Seorang muslim itu wajib hukumnya meyakini kebenaran Al-Qurán, kalau tidak, gugurlahlah keimannya!

Didalam al-qurán telah gamblang dijelaskan bahwa sebab bencana/azab atau musibah itu, disebabkan oleh dosa yang diperbuat manusia dan kesalahan manusia yang banyak berbuat kerusakan di atas muka Bumi ini.

Lalu bagaimana dengan penjelasan ilmu pengetahuan dan teknologi?
Ini tetap dipakai pula sebagai acuan penjelasan logis. Dan bagi kaum sekuler, yaa sampai disitu dan sebatas itu saja penjelasannya. Padahal para ilmuan telah lama bersepakat bahwa pengetahuan manusia tentang Bumi dan isi Bumi itu, tak lebih dari 20% pada saat ini, selebihnya (80%) adalah ''un know".

Dalam ISLAM, Allah telah menetapkan pula hukum-hukum-Nya sendiri (sunatullah) tentang alam ini. Dan hukum-hukum alam-Nya itu tak akan pernah berubah hingga hari kiamat nanti.  Itulah yang kita pahami sebagai hukum kasualitas (sebab musabab atau ''causalities law'' itu ). Misalnya, bila lempeng bumi bergerak, maka bisa berakibat terjadinya gempa bumi dan bisa menyebabkan tsunami.

Lalu bagaimana gambaran kaitan antara DOSA (akibat perbuatan maksiat) dengan bencana alam yang terjadi secara fisikal biasa? 

Allah telah pula menetapkan hukum-hukum-Nya sendiri bahwa bila manusia berbuat kerusakan (DOSA) di atas muka Bumi ini, maka secara otomatis akan memicu Bumi dan isinya untuk bereaksi, untuk bergerak meledakkan gunung-gunungnya atau banjir atau gempa bumi atau tsunami misalnya, atas perintah Allah tentunya.  Maka bila ketentuan itu kemudian sudah diizinkan-Nya untuk terjadi, maka terjadilah!

Dia selaku Dzat yang Maha Kuasa dan Perkasa dan Maha Berilmu, dengan ilmu dan teknologi yang dimiliki-Nya, adalah sesuatu yang sangat mudah untuk kemudian menciptakan hukum sebab akibat itu (casualities law) setelah ketetapan telah dibuat-Nya, untuk menjadi sebab musabab terjadinya bencana itu (sehingga bisa dipahami oleh manusia sekuler yang nggak mau tahu akar sebab musabab bencana itu terjadi menurut penjelasan-Nya dalam kitab-Nya), semisal dengan menggerakkan lempeng Bumi. Bagi orang beriman dan berilmu tentu hal yang tak sulit memahami penjelasan seperti ini. Wallahu a'lam

emoticon-No Hope
Diubah oleh kartika2019
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Penyampaian Informasi Bencana tak Boleh Takut-takuti Rakyat
Senin 08 Okt 2018 16:05 WIB

Informasi potensi bencana perlu dipasang di ruang-ruang publik.

Potensi Gempa di Pulau Jawa dan Pentingnya Mitigasi Bencana
Tim SAR gabungan melakukan proses evakuasi korban di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (7/10).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada Wahyu Wilopo berharap peta rawan bencana tsunami dan gempa bumi dikemas dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Dengan demikian, potensi bencana tidak justru membuat khawatir masyarakat.

"Untuk penyampaian informasi bencana ini harus dilakukan dengan baik agar tidak menakut-nakuti masyarakat," kata Wahyu Wilopo saat dihubungi di Yogyakarta, Senin (8/10).

Menurut Wahyu, informasi mengenai potensi bencana pada dasarnya merupakan informasi publik. Artinya, semua masyarakat berhak untuk mendapat informasinya. Dengan demikian, informasi tersebut juga perlu dipasang di ruang-ruang publik. "Akan lebih baik jika hasil penelitian tersebut juga dipasang di lokasi di mana daerah tersebut mempunyai ancaman bencana yang tinggi seperti rambu-rambu jalan ataupun papan reklame sehingga semua orang tahu," kata Wahyu.

Menurut dia, saat ini Badan Geologi maupun instansi pemerintah lainnya telah melakukan penelitian tentang ancaman bencana di beberapa wilayah Indonesia. Namun, hasil penelitian tersebut belum sampai ke seluruh pemangku kepentingan terkait. "Atau kemungkinan sudah sampai tetapi tidak dipakai untuk dasar penyusunan tata ruang," kata dia.

Selama ini, menurut dia, karena keterbatasan informasi, banyak pihak, khususnya investor, membangun di suatu wilayah tanpa mengetahui potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi di wilayah tersebut. "Selain itu, masih banyak penyusunan tata ruang di daerah yang belum memperhatikan aspek kebencanaan di dalamnya," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar berupaya memetakan wilayah Indonesia yang memiliki potensi kebencanaan tinggi. Pemetaan tersebut dilakukan meski gempa bumi belum bisa diprediksi kapan akan terjadi, di mana dan berapa besar magnitudanya. "Pada dasarnya dari mulai Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua memiliki potensi kebencanaan, umumnya gempa karena berada pada jalur sesar yang panjang," kata Rudy di Jakarta, Rabu (3/10).
https://www.republika.co.id/berita/n...ttakuti-rakyat

-----------------------------------

Sama Allah saja nggak takut, apalagi cuman sama bencana ... terutama para pemimpinnya itu!

emoticon-Takut
Wah ini judulnya Gonta ganti emoticon-Leh Uga
Nano shelter atau tiny bunker untuk bertahan dari Gempa dan berlindung

Quote:
Diubah oleh daimond25
Quote:
pindah ke tempat aman
Sudah saya bilang, negeri ini perlu pendidikan bencana, jadi siap dan tahu apa yang harus mereka lakukan ketika ada bencana. Contohlah Jepang. Dan jaga pula alat deteksi bencana.

Daripada "Ini azab Tuhan!" lebih baik kita ikut andil dengan setidaknya belajar mitigasi bencana dan tidak mempersulit tim deteksi dan mitigasi bencana. "Ini azab Tuhan!" Juga kalimat berbahaya, karena ini bikin orang pasrah dan "terima takdir" saja, padahal ada hal yg bisa dilakukan untuk setidaknya menyelamatkan dirinya dan permudah mitigasi.
Balasan post lupineprince
Nggak bisa begitu, agan!
Orang INDONESIA relijius sekali,
Kemerdekaannya saja diakui didapat karena diberi Allah (lihat tuh pembukaan UUD 1945).
Bagaimana mau memisahkan semua aspek kehidupan di negeri ini dengan peranan Tuhan?
Sila kesatu juga begitu, bukan?

Pendidikan mitigasi bencana tetap wajib dilakukan, karena itu bagian daripada ilmu pengetahun yang bisa membantu manusia memahami bencana dan menghindarinya meski tidak 100%. ISLAM juga nggak pernah menolak kok, malah mewajibkan umatnya belajar IPTEK itu.

Pendidikan kesadaran beragama yang baik untuk 87% penduduk muslim itulah nantinya yang akan meningkatkan kesadaran untuk tidak berbuat kerusakan di negeri ini (seperti prilaku korupsi, tidak adil dalam hukum dan ekonomi, merusak bumi dengan bantuan tangan asing dan aseng, dan maksiat-maksiat lainnya).

itu LAGU INDONESIA RAYA sebenarnya sudah menyiratkan kepada bangsa ini, bahwa yang dibangun duluan itu adalah jiwanya bangsa INDONESIA (karakter, akhlak, budi pekerti, kesadaran beragama yang baik), baru kemudian yang dibangun itu badannya (fisiknya, ekonominya, infrastruktunya). Bukan dibalik seperti zaman sekarang ini!


emoticon-No Hope
Diubah oleh kartika2019
sempet baca berita si megawati abis liburan ke jepang.. trs dia ke MCD disana pas bgt gempa.. tp warga jepang gak panik tetep makan kata dia.. krn di jepang itu ada alarm gempa yg menandakan apa itu gempa kecil atau gempa besar.. mungkin indo bisa contoh jepang soal alarm gempa..

tp beda sih ya kalo di jepang memang rawan gempa hehe
Diubah oleh noisscat
Seringan mikirin yang fiksi, jadi lupa mikirin bumi.
Bumi bergoyang membuat kita semakin peduli dengan lingkungan, bukan malah menjauh sampe sorga.
terlepas dr dosa...
ada beberapa hal yg ane amatin: 1) banyak orang indonesia suka ngeremehin yg namanya struktur bangunan dimana justru disinilah hal yg terpenting tp memang mahal. udah tau daerah rawan gempa, bikin struktur asal2an. makanya ada kejadian tembok yg rubuh tanpa ada sebab d makan banyak korban, apalg kena gempa.
2) sudah tahu ring of fire, mestinya tau kan bangunan spt apa yg bisa didirikan diatasnya. makanya rumah tradisional terbuat dr kayu, bukan batu. liat aja rumah2 jepang yg langganan gempa, kayu semuanya. pun kalo harus batu, perhatikan struktur bangunan. itu gunanya arsitek. tapi yg ada, profesi arsitek ini sering diremehkan krn merasa bisa bangun sendiri dg nyiplak dr denah rumah idaman yg diambil di pameran perumahan d tinggal nyuruh tukangnya ngikutin. jadi sih jadi, kalo aman sih....hehehe.
3) 'memperkosa' alam alias ga disiplin area tata ruang. misalnya daerah aliran sungai yg jd bangunan atau bangunan yg terlalu dekat dr bibir pantai atau bikin bangunan banyak2 tanpa menyisakan sedikitpun ruang untuk alam. bahkan satwa langka yg biasa tinggal disana pun harus ngalah. kalo ga ditembak ya dipindahin. keseimbangan alam justru adanya disini. ini yg dibaikan oleh manusia serakah yg katanya khalifah malah jd kafilah, udah nyalahin kodrat kan?
bor sana bor sini d akhirnya jd lapindo. bisa jadi gara2 inilah maka timbul efek panjang spt skrg krn pada prinsipnya sistem bumi spt sistem badan. merubah satu akan merubah yg lain. ada yg naik pasti ada yg turun. kalo udah gini sih tinggal tunggu waktu aja. banyak2 berbuat baik d terutama, jangan jualan agama.....justru karena inilah Tuhan jadi marah, kalau mengaitkan dengan artikel ts ya......
Balasan post kartika2019
Quote:


Masalahnya dari yang ente bawa, kelihatannya seakan ente harus semua orang takut bencana. Ente tahu apa itu stabilitas negara? Takut akan Tuhan memang harus, tapi kalau sampai menurunkan pekerti itu ngawur juga.
Negara sudah susah payah berusaha untuk mitigasi bencana, jangan persulit dengan sales ente yang menambah kepanikan rakyat.

Ente harus hati2 dengan perkataan, karena "ini azab Tuhan" ada dampak psikologis di ranah pikiran subconscious. Saya juga pegang "ini takdir", tapi saya nggak terjebak dalam perkataan itu dan akan berpikir bagaimana seharusnya manajemen bencana yg baik agar tidak banyak lagi korbannya. Perlu saya bandingkan bencana di Indonesia yg beragama dengan di Jepang yg agamanya setengah hati?

Doa itu juga harus ada perbuatan.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di