alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia. 7 Desa Masih Terisolir
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbb40659a095122718b456c/kelaparan-warga-korban-gempa-di-donggala-meninggal-dunia-7-desa-masih-terisolir

Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia. 7 Desa Masih Terisolir

Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia
7 Desa Masih Terisolir
 06/10/2018, 15:15 WIB

Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia. 7 Desa Masih Terisolir
PORAN-PORANDA: Kondisi Kecamatan Balaisang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulteng usai bencana gempa dan tsunami, Sabtu (6/10). (Sahrul Ramadhan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Seorang warga, korban dampak gempa dan tsunamidi Desa Malei, Kecamatan Balaisang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) dikabarkan meninggal dunia akibat kelaparan. 

Hal itu diketahui dari salah seorang warga bernama Harjo, 38. Harjo sendiri adalah korban, asal Desa Malei, tentangga desa korban yang disebutkan meninggal karena kelaparan. Harjo menceritakan bagaimana kondisi memperihatikan ribuan warga korban bencana di tujuh desa di kecamatan Balaisang Tanjung, Donggala, yang tak tersentuh bantuan logistik, berimbas dengan meninggalnya satu orang korban.


Sebelum diketahui meninggal dunia, sambungnya, warga tersebut sempat turun ke kampung untuk mencari makanan. Tetapi sebagian warga di kampung yang mempunyai kios penjual beras juga turut mengungsi. Sehingga tidak sempat membeli beras. 

Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia. 7 Desa Masih Terisolir
Pemerintah Donggala diduga sama sekali belum memberikan perhatian terhadap kondisi di Desa Malei dan 6 desa sekitarnya di Kecamatan Balaisang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulteng. (Sahrul Ramadhan/JawaPos.com)

"Saya kurang tahu usia tepatnya itu berapa tapi yang jelas dia itu laki-laki baru sudah lanjut usia. Diperkirakan mati kepalaran karena paginya, dia turun ke kampung cari makanan. Jadi sorenya begitu langsung meninggal diperkirakan mati kelaparan," Harjo bercerita saat ditemui di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Sabtu (6/10). 


Sayangnya Harjo mengaku kurang begitu mengingat nama jelas korban yang meninggal, pada Kamis (4/10) sore lalu itu. Lelaki yang berprofesi sebagai pedagang di kios-kios sederhana di desanya ini mengaku, dampak gempa berkekuatan 7,4 SR meratakan nyaris sebagian besar rumah-rumah, lahan perkebunan dan jalanan terjal masuk desa. 


Letak tujuh desa berdampingngan di kecamatan setempat digambarkan Harjo, dikelilingi kawasan pegunungan. Di bawah gunung, desa berjajar sepanjang kawasan pesisir, tak begitu jauh dari bibir pantai. Sebagian besar warga desa, berprofesi sebagai nelayan dan berkebun. Jaraknya dari Kota Palu sekitar 120 kilometer membuat, desanya dan enam desa lainnya betul-betul terisolir dan jauh dari perhatian dan bantuan logistik. 


"Sampai saya tinggalkan itu waktu kemarin (Jumat) sama sekali belum ada masuk logistik di sana. Itu di tenda-tenda pengungsian warga-warga disana, kelaparan itu orang. Sudah berapa hari dengan ini, warga saya liat terakhir ada saja yang makan pisang, singkong, itu saja yang dipakai bertahan hidup itu di tenda, itu pun tidak bisa cukup mungkin karena hanya kebun yang kita ambil," jelasnya. 

Saat gempa terjadi pada Jumat (28/9) lalu, ia sempat menyelamatkan ratusan jiwa. Dengan menggunakan mobil truk, warga setempat diangkut secara bergantian untuk menyelamatkan diri ke atas kawasan gunung. Desanya dan enam desa lain, memang tak terkena tsunami, namun dampak gempa, meluluhlantakkan sebagian besar bangunan semi permanen hingga lahan perkebunan milik warga disana. 


"Saya kurang tahu waktu saya tinggal desa itu sudah masuk bantuan atau belum, yang jelas terakhir sekali itu sampai masuk hari kelima kemarin dulu itu belum ada saya liat bantuan logistik, mau beras, mau apa-apa, belum ada yang saya lihat masuk," lanjutnya bercerita. 

Harjo sendiri harus menempuh kurang lebih delapan jam perjalanan melalui darat, dari desanya ke Kota Palu. Mewakili enam desa lainnya, kedatangannya hanya untuk melaporkan ke pemerintah setempat bahwa disana sama sekali belum tersalurkan bantuan logistik. Pusat distribusi logistik pasca bencana saat itu hingga sekarang ini dipusatkan di Makorem 132/Tadulako, Kota Palu. 


Pemerintah Donggala lanjut Harjo, sama sekali belum memberikan perhatian terhadap kondisi di desanya dan enam desa lainnya. Harjo berharap, setelah melaporkan terkait kondisi desanya, bantuan logistik berupa beras, dan kebutuhan dasar lainnya hingga bantuan medis seperti obat-obatan bisa segera tersalurkan.


"Kalau terlalu lama, mau ditahan-tahan jangan sampai jatuh lagi korban-korban lain. Sudah kena musibah bencana, ada lagi nanti yang mati karena kelaparan, kan itu kasian sekali. Warga kita di sana butuh sekali itu, bantuan-bantuan logistik disana," harapnya menutup. 

https://www.jawapos.com/jpg-today/06/10/2018/kelaparan-warga-korban-gempa-di-donggala-meninggal-dunia

Bantuan Belum Sampai, Korban Gempa Diduga Meninggal Kelaparan
08/10/2018, 05:49 WIB

Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia. 7 Desa Masih Terisolir
Kondisi korban gempa dan tsunami di Donggala Sulawesi Tengah (Sahrul Ramadhan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Gempa berkekutan 7,4 SR disusul tsunami yang menghantam Kabupaten Donggala, Sigi dan kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Baru-baru ini, kabar duka datang dari kawasan pelosok terisolir di Donggala. Seorang warga, korban dampak bencana di desa Malei, kecamatan Balaisang Tanjung, meninggal dunia akibat kelaparan. 

Kehebohan terkait meninggalnya seorang warga akibat kelaparan itu, rupanya tersebar hingga ke kecamatan dampak bencana lain di Donggala. Rizaldi, 41, seorang warga di desa Wani II, kecamatan Tawaeli, Donggala, mengaku mendengarkan kabar terkait meninggalnya warga berusia lanjut itu di kawasan terilosir, pesisir Malei. 


"Memang kita dengar itu parah juga. Kan ini daerah situka pesisir semua. Kawasan pesisir itu pasti parah. Ada sepupu saya yang dari pantai barat (Balaisang Tanjung) itu dikawasan pesisir juga disana dan itu tenda-tenda semua berjejer disana itu dampak parahnya," kata lelaki yang berprofesi sebagai pengacara di Kuningan, Jaksel ini saat ditemui di desa Wani II, Minggu (7/10) sore tadi.


Keterlambatan datangnya bantuan logistik, karena tersentralisir di satu titik lokasi  bencana disebut-sebut menjadi faktor utama satu nyawa melayang akibat kelaparan di Donggala. "Lokasi itu desa jauh. Jauh sekali. Akses sebenarnya bisa cumankan harus ada bahan bakar lagi. Apa lagi ketika kejadian, kan ini fokus Palu dan sekitarnya. Ini kemarin kita liat sudah ada pasokan truk yang mengarah ke sana," ucapnya. 


Jarak waktu antara desanya dan desa korban meninggal karena kelaparan disebutkan kurang lebih sekitar 4 jam. Jalur darat, merupakan akses satu-satunya yang bisa ditempuh ke lokasi. Mengingat, kondisi geografis Malei dan lima desa lainnya disana dilingkupi pegunungan dan pesisir. 


"Kita informasikan juga. Karena informasikan cepat sekali ini. Ketika ini sudah aktif, mereka kemudian menyampaikan bahwa disana ada korban, baik luka parah, sehingga kita forward langsung kesana, untuk butuh bantuan langsung kesana," jelasnya. 
Rizaldi sendiri, merupakan salah satu korban yang rumahnya habis tersapu gelombang tsunami Jumat (28/9) lalu. Ia mengaku pulang kembali ke kampung halaman Wani II, dari Jakarta setelah mengetahui bahwa nyaris seluruh isi kota dan kawasan pelosok di Donggala habis disapu bencana. 

Kasman, 37, warga Wani II lainnya yang ditemui di lokasi yang sama menyebutkan bahwa kawasan terparah dampak bencana alam di Donggala berada di kawasan pesisir Balaisang Tanjung. Di dalamnya terdapat enam desa termasuk Malei yang cukup terisolir dan terdampak parah. 


"Kalau kita disini parah juga. Tapi lebih parah lagi itu mungkin disana, karena memang lokasinya itu jauh sekali dibandingkan dengan kita ini. Biar sama-sama di pesisir tapi disana parah karena jauhnya itu baru katanya dekat dengan gempa tsunami itu," tambahnya. 

Menyoal bantuan logistik dan sarana transportasi disebutkan bisa diakses melalui jalur darat. Kondisi jalan saat ini, dikabarkan telah sepenuhnya bisa diakses untuk menuju ke kawasan terparah disana. "Iya kalau sekarang-sekarang mungkin sudah mulai ada, mulai bisa, tapi itu jauh lokasinya mungkin kalau berangkat siang biaa tiba malam, kalau mau di lokasinya langsung itu," tambahnya. 


Kabar terkait meninggalnya warga akibat kelaparan itu diketahui dari seorang warga lain bernama Harjo, 38. Harjo sendiri adalah korban, asal desa Malei, tentangga desa korban yang meninggal karena kelaparan, pada Kamis (4/10) sore lalu itu. 
Intinya, Harjo menyebut bagaimana kondisi memperihatikan ribuan warga korban bencana di tujuh desa di kecamatan Balaisang Tanjung, Donggala, yang tak tersentuh bantuan logistik, berimbas dengan meninggalnya satu orang korban.


"Saya kurang tahu usia tepatnya itu berapa tapi yang jelas dia itu laki-laki baru sudah lanjut usia. Diperkirakan mati kepalaran karena paginya, dia turun ke kampung cari makanan. Tapi orang yang punya kios-kios yang penjual-jual beras disitu mengungsi juga jadi dia tidak sempat beli beras. Jadi sorenya begitu langsung meninggal diperkirakan mati kelaparan," Harjo bercerita saat ditemui di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Palu, Sabtu (6/10) kemarin. 
https://www.jawapos.com/jpg-today/08...ggal-kelaparan


Korban Gempa Dikabarkan Meninggal Kelaparan, Ini Kata Pemerintah
07/10/2018, 22:16 WIB

Kelaparan, Warga Korban Gempa di Donggala Meninggal Dunia. 7 Desa Masih Terisolir
Kondisi terkini kabupaten Donggala pasca bencana, Minggu (7/10). (Sahrul Ramadhan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Warga korban bencana gempa dan tsunami, dikabarkan meninggal karena kelaparan di desa Malei, kecamatan Balaisang Tanjung, kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Namun, kabar kejadian tersebut belum begitu diketahui pihak pemerintah.

Kepala Bagian (Kabag) Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng, Adiman mengaku, pihaknya belum mengetahui pasti terkait meninggalnya warga berusia lanjut itu di sana. 

"Masalah itukan, saya juga mendengar itu. Tapi kebenarannya belum bisa saya pastikan. Tapi kalau Balaisang Tanjung itu, dalam rapat memang kemarin, masih terisolir itu. Belum bisa, karena banyaknya, belum ada akses bisa masuk ke Balaisang Tanjung itu," jelasnya saat dikonfirmasi, melalui sambungan telepon, di Palu, Minggu (7/10). 


Persoalan akses ke lokasi terdampak parah ke lokasi Balaisang Tanjung, menjadi alasan mendasar pemerintah tak begitu mengetahui jelas kondisi masyarakat korban gempa yang mengungsi di kawasan pegunungan sekitar. 


Alasan itu, justru bertolak belakang dengan keterangan sejumlah warga yang menyebut jika akses melalui darat ke kawasan terilosir di Balaisang Tanjung, bisa dilalui. Hanya saja, diperlukan banyak bahan agar kendaraan mampu menjangkau lokasi. 


Adiman mengungkapkan, dalam rapat internal yang melibatkan seluruh pimpinan daerah kabupaten di Sulteng, khususnya Bupati Donggala, Gubernur Longki Djanggola, menginstruksikan agar lokasi terisolir di sana terlebih dulu ditinjau. Hal itu untuk memastikan kondisi akses dan warga korban yang sementara masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. 


"Mereka akan pakai heli untuk melihat kondisi itu. Dari Kemeterian Pekerjaan Umum (PU) juga sudah diminta untuk membukan isolasinya itu. Karena itukan daerah terisolir," ungkapnya. 

Belum ada kejelasan lebih lanjut, terkait rencana apa yang akan dilakukan pemerintah untuk menangani korban di tujuh desa tedampak parah bencana yang terisolir di sana. Adiman hanya menjanjikan untuk membuat rilis menyoal penanganan kondisi Balaisang Tanjung. 


Bencana yang menimpa warga setelah gempa berkekutan 7,4 SR disusul tsunami yang menghantam kabupaten Donggala, Sigi dan kota Palu, seperti tidak ada habisnya.Seorang warga, korban dampak bencana di desa Malei, kecamatan Balaisang Tanjung, meninggal dunia akibat kelaparan. 

Kehebohan terkait meninggalnya seorang warga akibat kelaparan itu, rupanya tersebar hingga ke kecamatan dampak bencana lain di Donggala. Rizaldi, 41, seorang warga di desa Wani II, kecamatan Tawaeli, Donggala, mengaku mendengarkan kabar terkait meninggalnya warga berusia lanjut itu di kawasan terilosir, pesisir Malei. 


"Memang kita dengar itu parah juga. Kan ini daerah situka pesisir semua. Kawasan pesisir itu pasti parah. Ada sepupu saya yang dari pantai barat (Balaisang Tanjung) itu di kawasan pesisir juga di sana dan itu tenda-tenda semua berjejer di sana itu dampak parahnya," kata lelaki yang berprofesi sebagai pengacara di Kuningan, Jaksel ini saat ditemui di desa Wani II, Minggu (7/10) sore tadi.


Keterlambatan datangnya bantuan logistik, karena tersentralisir di satu titik lokasi  bencana disebut-sebut menjadi faktor utama satu nyawa melayang akibat kelaparan di Donggala. 


"Lokasi itu desa jauh. Jauh sekali. Akses sebenarnya bisa cumankan harus ada bahan bakar lagi. Apa lagi ketika kejadian, kan ini fokus Palu dan sekitarnya. Ini kemarin kita liat sudah ada pasokan truk yang mengarah ke sana," ucapnya. 
https://www.jawapos.com/jpg-today/07...ata-pemerintah


---------------------------------

Kemungkinan korban berada di wilayah terisolir dan belum terjangkau tim penyelamat. Tapi dengan telah masuknya jembatan udara ke Palu, dimana helikopter TNI bisa digunakan menjangkau wilayah-wilayah terisolir tersebut, mudah-mudahan tak ada lagi kasus seperti itu.

emoticon-No Hope


Quote:


innalillahi wainna ilaihi rojiun emoticon-rose

pasti kalo ke blow up pada saling tunjuk dan salah²an emoticon-Busa

gak punya SOP APA ???

kok acak acak kadut gini penanganan bencananya :

masa' korban bencana yg masih hidup malah matinya karena kelaparan emoticon-Gila



masak gak Tau malu mo 2 Periode emoticon-DP



paling goblok itu pemerintah
masa ambik air kok pake ktp
sementara itu, ada yg festa foya2 di imf
miris
semoga segera tertolong
Terus bpbd bpbd prov sulteng kab donggala ma bpbd pfov kab tetangganya pada ngapain aja? Masak udah otonomi gini masih nunggu pusat mulu
Nasbung punya gorengan baru imf padahal yg bikin adonannya sby,

Yg lebih parah Bukanya bantu malah bikin kompres hoax
Balasan Post nganuku.berdiri
Quote:


Karena udah 2 feriode,pilkada kedepan jangan filih dari fartai gerandong emoticon-Traveller
Balasan Post nganuku.berdiri
Quote:


WOI KERA KERA KERA !!
EH SALAH kerja kerja kerja !!
ane kok blm liat ada rekaman berita yg ada helikopter keliling cek keadaan ya ?
sekalian kirim bantuan.

lama2 ane beli juga nih helikopter,
trus ane cat orange sekalian emoticon-Mad


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di