alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Protes Warga Palu untuk Festival Nomoni Era Pasha Ungu
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbaa40812e25702068b456c/protes-warga-palu-untuk-festival-nomoni-era-pasha-ungu

Protes Warga Palu untuk Festival Nomoni Era Pasha Ungu

Jakarta, CNN Indonesia -- Festival Palu Nomoni menjadi cibiran masyarakat pascabencana gempa dan tsunami menyapu Kota Palu dan sejumlah kawasan lainnya di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9).
Protes Warga Palu untuk Festival Nomoni Era Pasha Ungu
Sejumlah korban gempa menyuarakan kekecewaannya terhadap ritual balia yang dihadirkan dalam festival tersebut. Warga menganggap salah satu adat suku Kaili itu sebagai penyebab terjadinya gempa Palu. Beberapa di antara mereka menganggap ritual balia sebagai musyrik.

Salah satunya Iki, warga Kelurahan Lere, Palu Barat. Dia mengaku kecewa dengan ritual balia yang sudah lama punah, belakangan dihidupkan kembali dalam Festival Palu Nomoni di era kepemimpinan wali kota dan wakil wali kota, Hidayat-Sigit Said Purnomo alias Pasha Ungu.


Iki sedikit mempercayai bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulteng disebabkan oleh ritual balia dalam Palu Nomoni.

"Saya kecewa dan orang-orang juga pada bilang gara-gara itu (Palu Nomoni). Saya sendiri meski yakin ini musibah, tapi sedikit percaya juga sepertinya ini gara-gara Nomoni itu," kata Iki saat ditemui di pinggir Pantai Mamboro, Palu Utara, beberapa waktu lalu (4/10).

Warga Palu lain, Mudar, senada dengan Iki. Dia mengatakan sejak diselenggarakan secara rutin setiap tahun mulai 2016, Palu Nomoni senantiasa menghadirkan peristiwa alam.

Pada 2016, lanjutnya, terjadi gempa di daerah Bora dan Sigi Biromaru. Kemudian, pada 2017, terjadi angin kencang dan hujan deras di Talise. Sedangkan pada 2018, terjadi gempa dan tsunami yang melanda tiga wilayah.

"Baru diadakan tiga kali dan selalu terjadi peristiwa ketika pembukaan Palu Nomoni," ujar Mudar.

Festival Nomoni menyedot perhatian masyarakat persis ketika gempa Palu terjadi. Warga ketika itu berkumpul di Pantai Talise untuk menyaksikan pagelaran tersebut sebelum gempa dan tsunami meratakan kota.
Protes Warga Palu untuk Festival Nomoni Era Pasha UnguKondisi di Kecamatan Biromaru, Sigi, Sulteng pasca gempa dan tsunami. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)

Sejarah Ritual Balia

Ritual balia biasanya dilakukan oleh masyarakat adat yang percaya api dapat mengusir penyakit.

Tercatat ada sepuluh ritual yang harus dilakukan dalam prosesi balia yang terdiri atas ritual pompoura atau tala bala'a, ritual adat enje da'a, ritual tampilangi ulujadi, pompoura vunja, ritual manuru viata, ritual adat jinja, balia topoledo, vunja ntana, ritual tampilangi, dan nora binangga.

Berbagai ritual tersebut dapat memakan waktu hingga tujuh hari tujuh malam, tergantung tingkat keparahan penyakit yang ingin diobati.

Prosesi dimulai dengan persiapan berbagai bahan upacara mulai dari dupa, keranda, buah-buahan, hingga hewan kurban seperti ayam, kambing, atau kerbau tergantung kasta sang penyelenggara prosesi.

Ketika persiapan rampung, pawang yang harus dibawakan oleh laki-laki mulai menyebut jampi dan mantra. Ia menyebutkan berbagai mantra untuk memanggil arwah dan memberikan sejumlah sesajian berbeda pada tiap prosesi yang diletakkan dekat dupa.

Tarian khas balia juga harus terus dilakukan menemani orang sakit yang diusung hingga acara puncak, penyembelihan hewan kurban. Hewan kurban tersebut adalah simbol harapan kesungguhan atas kesembuhan.

Sejarawan dari Universitas Tadulako, Andriansyah Mahid, menjelaskan bahwa ritual balia kerap dilaksanakan sebelum agama Islam masuk ke Sulteng.

Menurutnya, ritual itu dilakukan karena masyarakat suku Kaili masih menganut animisme dan dinamisme kala itu sehingga masih percaya pada kekuatan roh nenek moyang.

"Setiap adakan sesuatu pasti harus ada sesajen, sama seperti masyarakat nusantara pada umumnya sebelum mengenal Islam," kata Andriansyah kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (7/10).

Dia pun menuturkan, ritual balia diselenggarakan untuk mengharapkan perlindungan roh nenek moyang atau tempat yang dianggap keramat.

Menurutnya, ritual ini biasanya diselenggarakan ketika ditemukan warga atau masyarakat yang tak kunjung sembuh dari penyakit yang diderita atau penyakit karena gangguan kekuatan supranatural.

"Misalnya orang sakit enggak sembuh, ada penyakit dianggap gangguan supranatural, ya mereka adakan balia," ucapnya.

Namun demikian, Andriansyah berkata, ritual balia mulai jarang dilaksanakan oleh warga suku Kaili. Dia berkata, masyarakat yang masih menjalankan ritual balia antara lain tinggal di daerah Balaroa, Donggala, dan Pantai Barat.

"Sudah sangat jarang balia sekarang, itu yang masih adakan orang yang tinggal di daerah pinggiran masyarakat tradisional, terutama kalangan orang tua. Pelaksanaan sudah jarang," tuturnya.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sukmandaru Prihatmoko menjelaskan bahwa gempa yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, terkait dengan patahan atau sesar Palu Koro.

Patahan atau sesar Palu Koro itu membelah dari kota Palu ke selatan maupun ke utara.

Sesar Palu Koro adalah patahan yang arahnya hampir ke utara bagian barat dan ke arah selatan. Patahan ini membelah Kota Palu.

Patahan yang memanjang ke utara itu menyusur pantai dan kemudian masuk ke laut. Sementara, patahan yang ke arah selatan membelah Pulau Sulawesi, kemudian belok ke timur ke arah Sesar Matano. (mts/gil)

Ternyata

Kesaksian dari korban mengenai Akibat Murtad Sungguh Menggerikan
emoticon-Takut emoticon-Takut emoticon-Takut


Diubah oleh unicorn.phenex
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
Ga ada yg komen nih emoticon-Big Grin
Bagusnya sih berbenah diri bukan malah nyari kambing hitam. Susah emang dah kebiasaan orang sini.
Bhangsyat, sebelum negara pasir menyerang
Budaya sendiri dilupain gara² budaya gurun
makanya jangan musrik
kenapa ga kalimantan yang kena? padahal disana lebih dalam lagi adat kebudayaan dan ritualnya , nyatanya kalimantan pulau paling aman dari gempa emoticon-Big Grin


Quote:


Ga ada yang komen soalnya yang ngomong malah korban sendiri
emoticon-Leh Uga
berbenah diri dengan cara menyalahkan budaya yang di tujukan buat seni dan pariwisata?
Gue kagum bree
emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo


Quote:


Bukti musriknya apa? emoticon-Bingung
Kalo bencana crane gimana? Bukan karena Allah murka?
adat gini dihidupkan kan buat nambah devisa kali aja hiburan yg mendtangkan uang, lagian prosesi adat sekarang g pake bacaan mantra kaya dulu. yg penting acarany sukses y kelar.
Balasan post unicorn.phenex
Quote:


korupsi di indonesia juga jadi budaya loh gan. nggak semua budaya itu harus dilestarikan,apalagi cuma atas nama seni dan pariwisata. kaya nggak ada potensi lain aja. Lagipula kalo budayanya bertentangan sama ajaran agama para pelaku budayanya (dalam hal ini agamanya Islam) buat apa terus dilestarikan? Meninggalkan budaya jelek nggak dosa kok gan
Org goblok keracunan agama...




Blajar msh cetek kelas PAUD aja pke bikin kesimpulan..


emoticon-Big Grin.
Balasan post liamonters
Quote:


Ritual yg mana bray??? emoticon-Bingung
Quote:


Cth, gawai, naik dango, dll. emoticon-Big Grin
terus planet jupiter yang tiap hari kena badai berarti juga kena azab ya akhi? emoticon-Leh Uga
Tak ada tempat bagi para PEMUJA SETAN di Indonesia emoticon-Cool

Silakan pindah ke Planet Namec emoticon-Wkwkwk

Protes Warga Palu untuk Festival Nomoni Era Pasha Ungu
Diubah oleh adamyvon
Balasan post liamonters
Quote:


Kalimantan sebelah mana itu bray?

Kok aye baru tau ya emoticon-Bingung
menyalahkan tradisi leluhur fribumi. ho ho ho.. emoticon-Christmas
Diubah oleh tiyorahmat
Quote:


situ kalo bukan orang kalbar ya ga tau lah emoticon-Leh Uga


Quote:


Itu menurut keyakinan agama yang menurut si Roki Garong adalah sesuatu yang fiktif emoticon-Big Grin
Tapi mengkaitkan antara perbuatan yang tidak sesuai sama ajaran agama dengan kesusahan yang sedang dialami oleh orang lain bukannya dosa juga om?emoticon-Embarrassment
emoticon-Leh Uga
wow...ketemu biang keroknya !
Halaman 1 dari 5


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di