alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Delinquent : REMAKE (18+)
5 stars - based on 11 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ba2aec0925233986f8b4569/delinquent--remake-18

Delinquent : REMAKE (18+)

PROLOG

Tidak ada jalan keluar dari tempat itu. Hanya lorong buntu diantara dua bangunan yang sudah terbengkalai. Jalan di daerah ini juga sepi, jarang sekali ada yang melintas. Jikapun ada, hanya pemotor yang menghindari kemacetan jalan utama. Tidak ada yang bisa dimintai tolong.

Tiga orang terpojok, bahkan satu orang diantara mereka mengalami luka tusukan di bagian perut. Seragam sekolah nya kini memerah kecoklatan. Sedangkan satu orang lainnya hanya seorang wanita—yang ketakutan setengah mati. Bulan depan kelulusan. Padahal tadi pagi teman-teman di kelas berceloteh tentang perguruan tinggi dan kehiduan yang lebih bebas. Kini menjelang petang, dirinya harus terkepung di lorong gelap dan bau pesing ini. Harapannya untuk hidup, bergantung pada satu orang ini. Adik kelasnya, yang berdiri menantang.

Di depan mereka, ada delapan orang yang membawa senjata tajam. Kedelapan orang itu tidak puas hanya sekedar menancapkan pisau di tubuh lawannya, mereka ingin lebih dari itu.

“itu perek ama pacarnya yang mulai duluan. Lu ikutan, lu juga mati. MINGGIR !!!” teriak salah satu dari mereka.

Dia tidak beranjak. Dipikirannya, dia tahu jika dia bisa membawa kedua kakak kelasnya pergi dari tempat itu. Yang jadi pertanyaan, bagian tubuhnya yang mana yang akan terluka, dan seberapa parah.

Kedelapan orang itu menghentikan langkahnya ketika tepat berada beberapa langkah dihadapan satu orang di depannya. Orang yang berdiri diantara mereka dan buruannya.

Mereka mengenali dengan jelas siapa bocah yang berdiri di depan mereka. Seragam SMA dengan name badge bertuliskan “ANJINK”. Dia adaah legenda di SMP nya dan punya kendali penuh atas anak-anak bermasalah di 7 SMA. Siswa kelas 2 SMA Pelita, Arisman Algifari. Para bajingan dari dunia bawah mengenalnya dengan nama Moris

Gosip mengenai Moris sudah menyebar dan berubah–ubah, tergantung siapa yang menceritakan. Bagaimana dia sendirian mengambil kendali penuh ketika di SMP. Lalu tentang dia yang di tangkap polisi dan harus menghabiskan malam satu sel dengan seorang pembunuh berantai—yang kemudian dia berteman baik setelahnya. Cerita-cerita konyol yang ditambah-tambahkan, namun satu hal yang pasti dan sudah diketahui bajingan dari dunia bawah... dikeroyok, duel satu lawan satu, dengan senjata maupun tangan kosong ....belum pernah sekalipun Moris kalah berkelahi.

Hanya Ajo seorang yang tidak peduli dengan reputasi orang di depannya. Tidak peduli, atau tidak tahu, atau terlalu dikuasai amarah hingga membuatnya berani berdiri di hadapan Moris. Tujuh orang yang mengikutinya lengkap bersenjata, harusnya berarti. Jika dia memilih mundur dan lari, dia tahu ... dia akan jadi bahan tertawaan semua berandalan.

“Minggir, gue gak ada urusan sama elu”

Bukannya menuruti apa yang diminta Ajo. Moris langsung meludahi wajah musuhnya. Mempovokasi orang yang sedang marah itu sangat mudah, dan berhasil. Ajo langsung maju menyerang Moris.

Ajo mengangkat tangannya yang memegang parang, diayunkannya parang kehadapan musuh didepannya. Dengan tangan kiri, Moris menangkis pergelangan tangan Ajo. Serangan parang itu terhenti. Moris menyeringai sementara tangan kanannya terkepal erat dan melesat secepat peluru, menghantam wajah musuhnya—tepat di bibir. Darah terciprat, erangan kesakitan menggema keras di tempat itu. Tangan kirinya yang semula dia gunakan untuk menangkis, kini dia ulurkan—meraih belakang kepala musuhnya, menjambak rambut lawannya. Mengerahkan seluruh tenaganya, Moris menarik kepala lawannya dan membenturkannya ke tembok beton di sampingnya—keras, suara yang dihasilkan dari benturan itu membuat berandalan lain yang ada di sana menciut. Bahkan Moris bisa merasakan tangannya bergetar hebat ketika benturan itu terjadi.

Tidak ada yang tahu bagaimana rupa wajah yang sudah menempel ditembok itu, tangan Moris masih mencengkram rambut musuhnya. Darah mengalir menuruni tembok, Moris melepaskan cengkramannya. Tubuh itu ambruk dengan posisi terlentang. Wajah itu tertutup darah. Bagian pelipisnya bengkak dan menghitam, hidungnnya hancur, bibirnya sobek, serta terlihat beberapa giginya yang tanggal akibat benturan barusan.

Tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara—hening. Senjata yang mereka bawa untuk menaikan rasa percayadiri kini sudah tidak lagi berguna. Kengerian menyelimuti tempat itu. Mereka mundur perlahan.

Tinggal tujuh orang, dan hampir kesemuanya sudah hancur mentalnya. Dalam keterdesakan satu orang diantara mengumpulkan keberaniannya. Jika Moris bisa selamat dari situasi ini, besok lusa ketujuh orang ini akan mati. Tiga ratus berandalan dari tujuh SMA akan mencari mereka. Meminta bantuan genk motor pun akan percuma, mereka tahu jika Moris sangat disegani oleh keempat genk motor yang berkuasa dikota ini.

“MAMPUUUUS” teriak orang itu, tindakan nekat itu membuat beberapa orang lainnya berani. Empat orang bersenjata menerjang Moris. Sedangkan tiga orang lainnya memilih kabur.

Belum jauh ketika ketiganya berlari meninggalkan lorong itu, terdengar teriakan yang membuat ketiganya berhenti. Mereka mengenali teriakan itu, teriakan teman-teman mereka yang memilih untuk berada di lorong itu.

“AAMPUUUUUUUN... TOLONG ! AMPUUUUN” Memilukan—dan membuat ngeri siapapun yang mendengarnya.

“MAMAAAAAAAAAH......”

Dan kisah ini pun kelak akan diceritakan dari mulut ke mulut. Sebagian mengangap hanya sebuah bualan, sedangkan lainnya berendapat jika kisah itu dibesar-besarkan. Sedangkan mereka yang terlibat dan selamat dari kejadian itu, lebih memilih memulai hidup baru di luar kota dan menutup rapat-rapat kisah hari itu.

Diubah oleh arkanum
Halaman 1 dari 5
Reserve 2
Reserve 3
“Kepada siswa-siswi SLTP Permata Mulia, diharap segera menuju lapangan upacara. 10 menit lagi apel pagi akan segera dimulai. Sekali lagi, kepada siswa-siswi SLTP N 3 Permata Mulia yang masih berada di kelas, segera menuju lapangan upacara” Ucap seorang guru melalui pengeras suara yang diakhiri dengan suara bel--khas pelayanan informasi publik--bernada turun dari do* ke entahlah...

Tidak aku pedulikan, aku tetap berjalan menerobos siswa - siswi yang berlawanan arah denganku--menuju kelas kosong di belakang mushala. Jangan bicara soal rasa patriot denganku, apel pagi di sini bukan tentang hormat pada bendera--walaupun ritual itu tetap dilaksanakan diawal pembukaan apel. Tapi tak ada yang patriotik dari menghadiri apel pagi. aku bangun jam 5.30 lalu berangkat jam 06.00 dan tiba setengah jam kemudian hanya untuk berdiri di lapangan upacara mendengarkan wakil kepala sekolah--atau siapapun yang tak kalah menyebalkan--bicara tentang siapa saja yang menunggak iuran di kelas satu. Atau tentang apa saja yang berguna untuk menyudutkan siswa tertentu.

Lapangan upacara terletak di tengah-tengah sekolah, dikelilingi empat gedung utama. Tiga gedung kelas, satu gedung fakultas. Di sebelah utara, bangunan berlantai 2 dengan delapan ruang kelas. Bangunan untuk para junior, atau freshman. Di sebelah barat, bangunan berlantai dua dengan delapan ruang kelas. Bangunan untuk para sophomore. Gedung senior di sebelah selatan, bangunan berlantai 2 dengan delapan ruang kelas. Yang special dari gedung ini, dia memiliki rooftop--tempat dimana senior terdahulu nyimeng atau sekedar bolos dari kelas mapel tertentu. Sekarang, hanya dipakai mang Ncep buat jemur sempak dan nasi bekas.

Sebelah timur, gedung fakultas. Bangunan dua lantai dengan sembilan ruangan. Di lantai 1 enam ruangan. Kantor tata usaha, ruang guru, lobby untuk menerima tamu, UKS, kamar kecil khusus guru dan staff sekolah, ruang bimbingan konseling dan lab. Komputer. Lantai dua, inventory--tempat menyimpan semua peralatan olahraga dan juga tetek bengek seperti kursi lipat tambahan untuk ceremony tertentu, sound system, Bendera Indonesia, peralatan Pramuka, Paskibra juga PMR--tandu, tenda, tali, dan tongkat-tongkat yang tidak aku tahu guna nya. Dan tempat laknat bernama gudang, tempat dimana semua barang sitaan sekolah bermuara. Banyak barang aneh yang tersimpan rapi di sini, mulai dari boneka jailangkung, ikat pinggang spike (zaman ini, memakai ikat pinggang berduri tidak dianggap norak), vcd porno bajakan, walkman, kalkulator, senjata tajam, sneaker, juga kaset kompilasi metalik klinik 3 punyaku. Aku bersumpah, sebelum lulus dari tempat terkutuk ini aku akan mendapatkan nya kembali. Bersebelahan dengan gudang, ada ruang perpustakaan. Kuburan bahkan terasa lebih ramai dibanding tempat ini.

Mushala sendiri terletak di belakang gedung senior, berjejer dengan kantin dan koperasi sekolah. Juga lapangan voli dan parkiran sepeda. Di area ini banyak gedung tua yang dulu nya kelas dibiarkan kosong terbengkalai. Di bangunan-bangunan inilah semua meja dan kursi reyot dihancurkan guna diambil kaki nya untuk dijadikan pemukul. Ya, semua kekerasan oleh siswa di lubang neraka ini yang melibatkan benda tumpul, disponsori oleh pihak sekolah.

Lapangan basket sendiri terletak di belakang gedung fakultas, bersama parkiran khusus guru dan tamu. Tepatnya di samping gerbang masuk utama. Tempat besar untuk menampung banyak "sampah" di dalamnya.

Daun pintu itu mengeluarkan suara ketika aku membukanya. Sinar pagi masuk memenuhi ruang kelas gelap dan lembab, menyibak empat orang siswa yang langsung berdiri tersentak--kaget. Rokok yang masih menyala melayang dari arah mereka terbang ke pojokan. Mereka langsung berjajar--tegap, dengan wajah pucat. Aku tertawa dari balik pintu sembari menengok ke dalam kelas.

"Anjing ! Gue pikir guru" ucap B'lel, keempat nya langsung menghela nafas lega. Mereka berjalan ke pojokan memungut kembali rokok yang sebelumnya dilempar.

"Tutup lagi Mod," " Pinta Rizki, aku menarik daun pintu yang tak bergagang itu kedalam--menghasilkan suara decitan karena pintu nya memuai dan sudah tak muat dengan mulut pintu. Aku biarkan seperti itu--menutup tidak sempurna. Sedikit lagi aku tarik, mungkin akan terlepas dari engselnya.

Aku lemparkan tasku yang tak berisi apa-apa ke pojokan, lalu bergabung dengan Rizki, B'lel, Ozzy dan Basir. Keempat orang ini adalah telur busuk. Saat kelas satu dulu, mereka adalah aib bagi kelasnya masing-masing. Mereka sering nongkrong bersama, mereka mengklaim bangunan tua ini sebagai milik mereka dan menyebutnya markas. Bagaimana aku bisa mengenal perusuh seperti mereka ? Ku ceritakan di lain waktu.

"Dapet kelas mana Mod" Tanya Ozzy

"Sekelas ama dia nih" jawabku, sambil menunjuk Rizki.

"Kelas 2-A"

Bassir mengambil sebungkus rokok dan menyodorkan nya ke arah ku.

"Gak ah, masih pagi"
“Terserah, abis jangan nangis" ucapnya sambil menarik 1 batang rokok, lalu menyalakan nya.

"Sini-sini, buat gue aja" pinta B'lel. Basir melemparkan bungkusan yang berisi batang terakhir ke arah b'lel.

Mataku langsung tertuju pada gundukan gorengan yang beralaskan kresek hitam.

"Pagi-pagi sarapan rokok, masuk kelas pada kecium bau nya. Mampus lu semua." Ucapku sambil meraih gorengan--yang terlihat seperti bakwan--di depanku. Lalu memasukan nya ke dalam mulutku. Mereka tersenyum geli ketika aku mengunyah gorengan yang hampir tak berasa dan sudah dingin itu.

"Gak bakalan masuk kelas gue. Udah apel pagi, lanjut nasi kuning di depan sekolah. Pulang" ucap B'lel sambil cengengesan melihatku makan.

"Lagian, hari pertama masuk kelas dua. Gak akan ada pelajaran" timpal Rizki. Dia menyodorkan bakwan itu lebih dekat ke arahku

"Ngapain lu pada ke sekolah, goblok" aku kembali mengambil gorengan yang terasa pahit dan tidak enak itu. Sudah ku habiskan tiga, masih tersisa enam setelah ku hitung semuanya.

"Mau ketemu si Mega, eh yang ketemu orang blangsak kaya lu semua"

"Enak Mod ?" Tanya Basir

"Kagak !"

Yang terasa di mulutku hanya adonan tepung, tanpa penyedap tanpa irisan sayur--kol, dan wortel pada umumnya-- hambar, hanya ada aroma amis dan rasa pahit yang aneh.

"Lapar ?" Tanya Basir kembali

Aku mengangguk. Memasukan bakwan ke lima ke dalam mulutku.

"Gue bangun jam setengah enam, lom sempet sarapan"

Ozzy mulai memalingkan wajahnya--menahan tawa. B'lel, Rizki, dan Basir pun tertawa cekikikan melihat ku.

"Kasih tau, kasih tau" ucap Rizki sambil tertawa.
Basir mengambil bakwan terakhir yang tersisa, lalu mulai membelahnya. Jemari gemuknya mulai mencabik belahan bakwan dan menelisiknya dengan teliti, diambil bagian-bagian kecil dari bakwan itu dan dipisahkan.

Ku lihat remahan yang dipisahkan itu dengan seksama, nampak kaki reptil pucat.

"Cicak !"

Jika kalian menyangka mereka berempat adalah temanku, kalian salah besar.

Aku segera bangkit. Perutku seketika menekan kedalam dengan sendirinya, mencoba memuntahkan apapun yang baru saja aku telan--fried cicak.

Muntahan sudak naik ke mulutku, aku tahan sebisaku. Aku berjalan cepat ke pojokan--hendak memuntahkan nya disana, namun tak bisa kutahan. Segera saja kumuntahkan di tempatku berdiri. Mereka tertawa sejadi-jadinya.

Telinga ku mendengung, perutku terus menekan ke lambung. Wajahku merah padam.

"Uwooooorgh" muntahan ke dua, turun bebas mengalir dari mulutku.Pundakku seakan menyusut ke leher, kepalaku mulai berat. Kini yang ku muntahkan hanya air liur saja. Aku ambruk di samping muntahanku, dadaku kembang kempis. Aku sudah tidak bisa mengatur nafasku yang sudah tidak beraturan. Semua tenagaku hilang seketika.

Rasa ingin muntah itu kembali, namun tidak ada apapun untuk Aku muntahkan. Ke empat jelmaan setan itu pun mulai berhenti tertawa, wajah mereka pun sama merahnya denganku.

Mereka perlahan menghampiri, lalu kembali tertawa--kali ini sambil guling-guling di lantai.

"KALIAN TIDAK UPACARA YAH !!!" Bentak seseorang, pintu terbuka serentak--didobrak dari arah luar.

Saat ini, aku terlalu lemas untuk peduli jika guru piket menapati kami membolos apel pagi.

Mereka berempat diam sejenak, lalu kembali tertawa kecil.

"Setan lu" gerutu Ozzy. Sambil mengusap matanya yang sudah berair.

Aku mendengar langkah kaki di belakang mulai mendekat.

Seseorang melangkahi aku yang terkulai lemas di lantai tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Aku tahu siapa dia walaupun hanya melihat punggungnya..

Ahmad Ibrahim A.K.A Madun sang Pahlawan.

"Napa tuh bocah" Tanya Madun, yang kemudian duduk di depan F-Tse wanna be.

"Makan ini"

"Cicak ? Doyan lu Mod"

Persetan. Aku tidak sudi menjawabnya.

Baiklah, di sini ada Rizki, B'lel, Ozzy, dan Basir. Akan Aku perkenalkan mereka setelah ini. Tapi untuk Madun, sepertinya tidak bisa dinanti-nanti. Tindakan bodohnya yang heroik terlalu epic untuk disimpan sendiri. Madun adalah siswa biasa yang ... biasa saja. Selayaknya siswa teladan lainnya, dia rajin mengerjakan pr di sekolah, mengcopy seluruh LKS dari teman sebangkunya, bisa membaca dan cukup terampil dalam hitungan dasar, selalu dapat nilai ulangan dibawah 5, selain itu dia menjaga celananya tetap diatas lutut.

Tidak ada yang special pada dirinya, kecuali satu aksinya dibulan april saat kelas 1 dulu. Aku dan dia satu kelas di kelas 1, saat itu kelas kami kehabisan kapur. KM di kelas kami menunjuk Madun untuk mengambil kapur ke tata usaha. Madun kembali dengan 3 batang kapur dan wajah pucat. Kelas kembali berjalan dengan normal ketika kapur tulis diserahkan pada guru. Namun kegelisahan terlihat jelas pada Madun.Setelah bel berbunyi Madun meminta bertemu beberapa orang pentolan sekolah kami. Aku tidak diminta untuk ada disana, tapi Rizki hadir. Dan aku tahu sesuatu yang besar akan terjadi.

Bersama Rizki dan pecundang lainnya Madun bergegas ke tempat pembuangan sampah. Yang ku dengar. Disana dia mengeluarkan satu pusaka yang akan menyelamatkan masa depan banyak orang di sekolah ini. Absen besar. Dia menemukan nya tergeletak begitu saja di tata usaha. Bahkan bajingan paling terkenal di sekolah kami, merinding ketika Madun hendak menyerahkan absen itu. Konsekuensi dari mencuri data sepenting itu adalah drop out. Tidak ada yang berani menerima hadiah yang Madun ambil tanpa pikir panjang. Pihak sekolah akan segera tahu jika absen siswa hilang, dan jika ada razia, lalu mendapatinya di tas salah satu siswa. Maka habislah dia.

Lalu apa yang Madun lakukan ? Dia menumpuk sampah kertas diatas absen yang diambilnya. Lalu membakarnya--melenyapkan
catatan alpha siswa yang rajin bolos.

Dua puluh orang siswa kelas 1 yang di vonis tinggal kelas, akhirnya naik kelas. Delapan belas siswa kelas 2 juga berbahagia bisa naik ke kelas 3. Sebelas orang senior akhirnya bisa merayakan kelulusan, dan seorang guru piket yang kena sangsi akibat kelalaiannya menghilangkan absen.

Para senior bahkan menuliskan tanda tangan Madun dengan tinta darah--jangan tanya dari mana tinta darahnya-- di seragam mereka saat kelulusan. Gelar pahlawan kemudian disematkan padanya. Singkatnya, Madun telah menyelamatkan puluhan siswa layak D.O

Baiklah, sekarang kembali lagi ke kelas kosong di mana aku terkapar karena diracuni.

"Disuruh patroli gue" ucap Madun.

"Dapet ?” tanya Rizki

“iya ini, lu pada. Si Anton ama kroconya juga, pada minum di belakang arena (parkiran sepeda / arena duel siswa). Tadinya mau gue grebeg”

“emang berani lu”

“ya kagak, makanya gue diemin” ucap Madun, disusul tawa kecil

“eh Dun, gue denger lu ikutan ngospek anak baru. Gimana ? Seru gak” Tanya B’lel

“anjir sumpah, belagu semua. Belum apa-apa berasa sok jeger (preman / berkuasa). Ada satu orang nih, pengen gue tempeleng, baik sih orangnya. Tapi suka ngelunjak kalau dikerjain. Serius mau gue tempeleng tadinya”

“terus, pasti tuh bocah yang malah duluan nampol lu yah” timpal Ozzy. Kali ini Madun tidak cekikikan seperti sebelumnya

“Lu kenal si Tino ? Yang dulu pas kelas 2 suka malakin kelas lu. Dia ama empat orang osis senior bawa tuh bocah ke sini buat dihajar. Gue liat dan gue ikutin mereka dari belakang. Gak terlalu deket. Dan pas sampai di sini, lu tau apa yang terjadi ?! Si goblok Tino muka nya pucat pasi, kroconya juga pada nunduk di depan tuh bocah. Gue bahkan liat si Tino sampe nyium tangan dia.”
“Pagi ini, sebelum upacara gue juga liat dia diajak nongkrong anak senior. Dan yang gue liat, bahkan kelas 3 pun ngerespect tuh bocah”


“siapa ?” Tanya B’lel

“dia seangkatan kita, dia didrop out di sekolah lamanya karena mukulin tiga orang seniornya sebelum kelulusan. Dulunya dia di Citra Pajajaran” lanjut Madun

“bla bla bla... Siapa namanya njing!”

“Regi...apalah, gue gak inget”

“Regi Febrian ?! Si Martin !!!” timpal Ozzy

“iya, kali. Lu kenal dia Zi ?”

Ozzy tersenyum, lalu mengusap wajahnya yang terlihat mulai cemas.

“sepupu gue senior di CP” Ozzy mulai bercerita “dia pernah bilang soal bocah junior yang megang kelas 1 ama kelas 2. Dan Mei kemarin bocah itu nyerang seniornya di dalam kelas, saat jam pelajaran dimulai.”

Selain rasa mual dari bakwan cicak, aku juga merasakan kecemasan yang memenuhi ruangan ini. Tidak ada lagi tawa untuk orang yang diracun, tidak ada lagi guyonan yang dilemparkan pada Madun. Untuk lima detik saat itu, aku merasakannya. Rasa yang sama sesaat sebelum hendak berkelahi. Lima detik suasana paling hening. Untuk baik yang tidak bisa berhenti berulah, lima detik hening itu terasa cukup lama.

Aku bisa mengerti dengan kecemasan mereka. Rizki, B’lel, Bassir, dan Ozzy mereka adalah pembuat masalah. Mereka sering berkelahi saat duduk di kelas 1. Saat orang-orang berdarah panas saling bertemu, kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi. Dan masalah utamanya, mereka berempat tidak pandai berteman. Dari 320 (seluruh jumlah siswa-siswi jika digabung satu angkatan kami saja, jumlah siswa 186. Sisanya siswi) orang yang seangkatan dengan kami hanya 11 orang yang kuat bergerombol dengan keempat orang ini. Di sini, banyak orang yang menginginkan keempat nya mati. Terutama mereka yang sekarang duduk di kelas 3-- Juga beberapa orang yang duduk di kantor guru

Selama ini mereka berkelahi dengan cecunguk yang menangis setelah hidungnya dibuat berdarah. Jarang sekali mereka bertemu orang sepadan. Rizki adalah anjing alpha dari gerombolan menyedihkan ini, yang bisa mengimbanginya berkelahi hanya ada tiga orang. B’lel, Adith, dan bajingan paling mengerikan di sekolah ini yang sekarang megang kelas 3 dan seluruh sekolah ini, Boni. B’lel sangat loyal pada Rizki, keduanya gak bakalan saling serang. Adith, maniak sadis ini masuk rumah sakit lalu menghilang saat caturwulan 3 di kelas 1 dulu. Dan Boni, dia bersikap masa bodo dengan ulah Rizki selama ini.

Dengan masuknya Badut baru yang terdengar seperti Jean Claude Van Dame ini, aku yakin adrenalinnya sedikit terpompa. Keduanya tidak akan bertemu--berpapasan, lalu saling sapa. Nah, aku mengenal baik bajingan macam mereka. Saat kedua species primata ini bertemu, mereka akan saling tatap dan mulai membayangkan sekeras apa kepalan itu. Atau seberapa kuat tubuh mereka saat tinjunya dihantamkan ke rahang. Apa mereka akan mampu berdiri kembali atau terkapar menerima kekalahan. Seperti siswa mata keranjang yang membayangkan tubuh seorang siswi atau guru muda dibalik seragam yang mereka pakai, lalu membayangkan persenggamaan panas dengan posisi yang paling mustahil.

“Nasi kuning ah, lama nungguin bubaran apel mah” Ucap Bassir. Dia berdiri sambil menepuk-nepuk belakang celananya. Nice ice breaking tho...

Yang lainnya pun mulai berdiri dan mengambil tas yang dijadikan alas duduk--ditepuk-tepuk lalu kemudian dipakai.

“Nasi kuning, nasi kuning, nasi kuning” Ucap Ozzy. Sambil mengangkatku yang duduk--aku punya sedikit enaga untuk duduk-- lalu membopongku.

“Sarapan beneran Mod, tenang gue yang bayarin” Ucap Basir. Sudah seharusnya. Dia yang membuat bakwan itu. Walaupun nasi kuning masih belum cukup untuk Aku beri maaf.

“woi, pada gak masuk kelas lu” Tanya Madun

“Males Dun, cuman say hi doang ama wali kelas baru. Lain kali juga bisa” jawab Rizki

Sudah pukul 07.15, namun apel pagi masih belum selesai. Kami memanjat benteng belakang sekolah untuk keluar. Butuh tiga orang untuk menaikan aku yang lemas ke atas benteng-- dua orang dibawah mengangkat dan satu orang diatas menarik tubuhku-- dan butuh satu dorongan lemah lembut dari B’lel yang menarik ku ke atas, untuk membuatku jatuh ke luar benteng. Mereka juga tertawa untuk ini, namun tidak selepas saat memberiku bakwan cicak.

Nasi kuning dan segelas teh gelas tawar nyata nya tidak membuatku baikan. Setelah beberapa suap, aku kembali memuntahkan apa yang aku makan. Sebut aku si lemah, tapi trauma itu benar-benar terasa. Pagi itu aku muntah tujuh kali. Kami pulang setelahnya, Rizki mengantarkanku sampai aku naik angkot. Dan setelah di angkot, aku baru ingat jika tas ku tertinggal di markas
Diubah oleh arkanum

kelas baru dan pahlawan kesiangan

Rizki. Nama itu terukir dengan tinta tip x diatas meja paling belakang--pojok kiri.

“Cari bangku lain, yang itu udah punya gue” Suara yang ku kenal berasal dari arah belakangku.

Aku menoleh ke arah belakang, Rizki sedang berjalan ke arahku. Sialan. Aku bangun lebih pagi, hanya untuk bisa duduk di posisi ini. Ini baru jam 6.00 dan aku mendapati kebanyakan bangku sudah terisi. Yang benar saja, pukul berapa mereka tiba di sini.

“gue gak mau dapet temen sebangku. Lu bisa duduk di sini” dia menunjuk bangku di depan tempat duduk nya.
Aku menaruh binder ku di slot bawah meja, lalu mengeluarkan tip x dari saku celana ku. Mengocoknya--hingga mengeluarkan suara. Lalu menuliskan nama ku di atas meja lama yang baru saja dicat ulang. Mod. Coretan pertama, dan aku jamin ini bukan coretan terakhir.
Rizki merogohkan tangan nya ke slot meja yang sudah ditempatinya, dia mengeluarkan sesuatu lalu mengoverkan nya padaku. Tas ku

“Gue dapet di markas”
“makasih. Padahal gue mau bilang kalau tas nya ilang”
“biar lu dibeliin tas baru ?” Kami berduapun tertawa kecil.

Masih pukul 06 00--mungkin lebih sedikit. Belum banyak siswa yang datang, yang sudah datang pun tidak terlihat di kelas atau area sekolah. Kami memutuskan menghabiskan waktu di markas, menghisap 1-2 batang rokok sebelum sekolah mulai ramai.

Baiklah, jangan salah paham. Orang-orang ini datang lebih pagi bukan karena mereka siswa teladan yang tidak sabar untuk belajar, mereka berjuang melawan kantuk dan dingin udara pagi untuk bisa menempati bangku paling belakang. Iya paling belakang. Tidak ada orang yang mau duduk berhadapan langsung dengan papan tulis--atau guru. Bangku belakang adalah primadona untuk kebanyakan siswa-siswi Permata Mulia. Kamu hampir bisa melakukan semua yang kamu inginkan dari spot itu, tidur cantik, melamun, membuka tabloib pria dewasa, mengerjakan pr saat jam pelajaran berlangsung, mencontek ulangan dari rangkuman LKS, atau sekedar untuk onani sambil memelototi cover vcd porno. Bangku paling belakang, adalah impian setiap orang--sudah ku bilang sebelumnya kan.
Setiba nya kami di markas, bau pesing yang menyengat langsung menusuk penciumanku. Sampah kemasan snack dan puntung rokok berserakan disana-sini. Pasti banyak monyet yang nyimpang di sini kemarin, pikirku.

“harusnya lu tulis pake pilok di dinding itu ‘berani masuk, gue belah lu jadi dua’- Rizki F4” aku menunjuk dinding belakang sebrang papan tulis.
“kelas 3 pastinya” ucap Rizki “Dan berhenti manggil gue F-tse. Sumpah, jijjk”
Aku mengambil satu batang rokok yang Rizki tawarkan padaku.

“orang goblok yang sama dengan wajah baru” ucapku

“huh ?”

“penepatan ulang” kataku, sambil menyalakan rokok. Menghisapnya dalam, lalu menghembuskan asapnya lewat hidungku. Selama di kelas 1 aku berlatih melakukannya, dan sekarang aku bisa bilang jika aku cukup ahli.
Kami duduk di sana tanpa mempedulikan betapa kotornya lantai yang sedang kami duduki. Sikap necis di tempat bobrok seperti ini tidak berguna, lagipula hanya debu dan tanah halus yang terbawa angin dari luar ruangan. Tidak akan melukaimu sama sekali.

“Gue udah terbiasa di kelas lama, dan sekarang gue mesti adaptasi lagi. Semalaman gue mikir tentang ini, pihak sekolah terlalu naif jika berfikir semua siswa bisa berbaur tanpa melihat golongan. Maksud gue, habitat kita bahkan udah di bagi dengan sendirinya. Lu bisa bayangjn nempatin empat orang piranha di kelas yang didominasi para lebah

“Sejak kapan mikir jadi kebiasaan lu ?” Sindir Rizki “Dan kalau lu udah terbiasa ama orang goblok di kelas lu dulu, harusnya orang goblok baru gak bakalan susah buat lu, kan. Bukan berarti gue setuju ama penempatan ulang sih, tentu sedikitnya ngerepotin gue. Waktu kelas 1 dulu, gue biasa tandem ama si Fadli buat bikin contekan ulangan. Cara nya disembunyikan dan sampai kita bagikan rata ke satu kelas, kita punya metode nya. Sekarang, Fadli sekelas ama si B’lel. Dan di kelas baru ini, jangankan gotong royong buat nyontek, bikin contekan nya aja mungkin ada pahlawan kelas yang ngelaporin. "

“Jadi, masalah utama nya sulit mencontek ?”

“Bukan, tapi mungkin pihak sekolah ingin lu bisa bersosialiasi lebih baik lagi” kata Rizki “sepuluh tahun dari sekarang, mungkin lu harus keluar dari rumah orang tua lu. Masuk ke lingkungan yang sama sekali asing buat lu. Jadi, anggap aja ini pelajaran untuk beradaptasi”

“Bukan nya gue nyaman ama kelas gue sebelumnya sih. Lu tau kan kalau gue gak bisa ... Beramah tamah”

“Mod, satu sekolah pengen gue mati. Apa itu bikin gue sedih ?! Lu tau gue lebih banyak musuh ketimbang teman. Jika ada yang gak bisa beradaptasi, gue orang nya. Gak apa-apa, jangan murung hanya karena ada satu ekor piranha di kandang lu.”

“Apa ! Ada piranha di kelas kita”

“satu ekor. Lu gak liat daftar nama yang ditempelin di kaca tadi ?”

Baiklah, biar aku beritahu dulu apa itu Piranha. Kita mengenal spesies ikan karnivora yang hidup di air tawar di hutan amazon—atau di akuarium rumahmu. Tapi piranha yang satu ini adalah segerombolan siswa idiot yang memiliki pola serang yang sama dengan predator air tawar dari pedalaman Brazil. Mengeroyok.

Dibentuk saat kelas 1, dan beranggotakan dua puluh lima orang. Mereka berdiri menantang eksistensi kelas 2 dan para senior. Dalam hal kekerasan, mereka punya jejak yang paling buruk sepanjang sejarah sekolah ini berdiri. Tidak mengenal duel one on one, tidak mengenal lawan—baik yang tidak pernah berkelahi atau bajingan yang berdiri diatas bajingan lainnya—lemah atau kuat, tidak mengenal takut dan tidak punya otak. Dan tidak peduli jika kau hanya berurusan dengan salah satu dari mereka, pada akhirnya kau akan membangunkan dua puluh empat predator lainnya. Dan jika itu terjadi, berdo’alah agar kau selamat dan masih bisa menonton Dragon Ball Z diminggu pagi.

****


Bel sudah berbunyi, semua siswa sudah masuk ke kelas. Beberapa siswa masih sibuk melobi siswa lainnya untuk bertukar tempat duduk. Ada dua orang yang meminta Rizki untuk bertukar tempat duduk, ada juga yang meminta untuk hanya sekedar menjadi teman sebangku, namun mereka harus kecewa.

“Mi, lu duduk sendiri ?” Tanya seorang siswa. Rinto, dulu waktu kelas 1 kami satu kelas.

“gue duduk bareng lu yah.” ucapnya.

Rinto langsung duduk dan menyimpan tas nya di slot bawah meja, tanpa aku ‘iya’ kan permintaan nya.
“Rinto” Ucap Rinto sambil mengasongkan tangan ke arah Rizki

“Tom Cruise” Kata Rizki sambil menjabat tangan Rinto.

“Gue temen sekelasnya Helmi waktu kelas 1”

“Wauuuuw. Selamat”

Rinto memaksakan senyumnya dan tertawa kecil, dia lalu membalikan badannya ke arah depan. Ucapan tak acuh Rizki membuatku tergelitik. Rinto pasti merasa menyesal mencoba berbasabasi dengan Rizki.

“Lu berdua, pindah ke depan gih” Ucap Deni. Rinto melirik ke arahku—menunggu reaksiku. Sedangkan aku terlalu malas untuk menanggapi orang ini.

Anak tolol ini bukanlah piranha yang aku khawatirkan. Dia bocah sok iyeh. Punya kakak sepupu yang sekarang duduk di kelas 3. Kakak sepupunyalah yang harus kalian khawatirkan. Jika bukan karena Liam, sepupunya. Pecundang ini sudah jadi keset wc di kelas 1 dulu.
Rinto mengaluarkan tas nya dari slot meja lalu beregas ke depan. Cari aman. Aku bangun pagi buta untuk bisa duduk di belakang. Tidak akan aku serahkan pada brengsek yang datang kesiangan.

“LU PINDAH ANJING !!!” Suara nya lantang, ditambah gebrakan tangan di meja. Semua mata di kelas sekarang memandang ke arah kami.

“Itu, tangan nya sakit gak ?” Deni langsung mencengkram kerah bajuku. Sial, aku dan mulut besrku. Dia megangkatku, hingga aku berdiri dan menojokanku ke tembok. Aku melihat tangan nya mengepal—diarahkan ke wajahku.

Jantungku berdetak keras, tiba-tiba saja semua nya terlihat semakin melambat. Jeritan siswi di kelas dan teriakan siswa terdengar menggaung--bergema berat. Kepalan itu meluncur ke arahku, dengan jelas aku bisa melihatnya namun tubuhku terlalu berat untuk ku gerakan--setidaknya untuk menghalau pukulan itu. Ketika kepalan itu semakin mendekat aku hanya bisa memejamkan mataku.

Huh ?... Tidak terasa benturan di wajahku--atau badanku yang lainnya. Cengkraman di kerah bajuku juga terasa mulai melonggar. Aku membuka mataku perlahan.

Mata Deni melotot, pupil nya naik ke atas. Kedua alisnya terangkat. Mulutnyapun menganga--mengeluarkan liur. kepalan yang tadinya hendak menghangam wajahku kini sibuk menepuk-nepuk tangan yang sedang mencekik lehernya—mencoba melepaskan diri.
Rizki sudah berdiri di samping Deni. Dengan satu tangan, Dia mencekik Denj—mengangkatnya, hingga kaki Deni meronta-ronta berusaha mencari pijakan.

Wajah Deni sudah memerah, air liur nya pun mulai membanjiri tangan Rizki. Namun dia tidak peduli jika pelumas yang berasal dari mulut seseorang sedang membasahi tangannya. Dia malah mengencangkan cengkramannya, aku bisa melihat otot lengannya semakin membesar—mengeras.

“HEI SUDAH-SUDAH JANGAN BERKELAHI”
“AKU BILANGIN PAK GURU”

Kelas makin gaduh.

Deni sudah terlihat sangat menderita, dia mengeluarkan suara-suara aneh. Urat tipis yang memerah mulai mucul di bola matanya, kaki nya sudah tidak meronta-ronta. Tangan nya yang sibuk menepuk-nepuk tangan Rizk, kini sudah lunglai tidak bertenaga. Rizki belum puas, dia terus memberikan tenaga pada cengkramannya.

“UDAH GOBLOK ! DIA BISA MATI” Bentakku.

Aku menghapiri Deni dan mencoba melepas cengkraman Rizki. Sialan. Tangan nya benar-benar keras dan kuat.

“KI, UDAH ! WOI ! GOBLOK, UDAH !!!”

Rizki melepaskan cengkraman nya, Deni langsung ambruk di lantai. Di lehernya, aku bisa melihat guratan bekas cengkraman Rizki. Cengkraman itu menapak dengan jelas, merah kehitaman. Deni masih mengeluarkan suara aneh dan air liurnya kini membasahi lantai. Jika sesaat sebelumnya jantungku berdetak keras, kini terasa berhenti.

Belum cukup disitu, Rizki menjambak rambut Deni-- menyeretnya ke depan. Lalu mengangkat tangan yang menjambak Deni, hingga tubuh Deni terangkat. Lalu membenturkan kepala Deni ke meja—keras. Deni berteriak kesakitan, dia ambruk di kolong meja--di susul tangisan sejadi-jadinya. Jika aku yang berada di posisi Deni, mungkin aku akan menangis sama kerasnya--tidak, lebih keras.

Kelas gaduh, para siswa-siswi mulai melontarkan ejekan dan makian terhadap Rizki. Aku tertunduk, malu, marah lebih tepatnya. Nafasku sesak, aku bisa merasakan keringat dingin di punggungku. Ada rasa sakit yang mengganjal di dadaku, sakit hati yang sama saat SD dulu—situasi yang sama. Mataku mulai berair, aku menggigit bibir bawahku agar ia berhenti bergetar. Kini, sekujur tubuhku mulai dingin. Aku sudah tidak bisa bernafas dengan normal.

“DIAAAAAAM !!!” Teriakan Rizki membuat seisi kelas membisu. “Ada lagi yang bicara, gue pecahin kepalanya”

Dan mereka benar-benar terdiam. Teriakan itu pula yang membuatku sedikit tenang, nafasku kembali normal. Walaupun tubuhku merasakan sensasi dingin dan masih sedikit gemetar.

Rizki, berjalan kembali dari bangku depan ke tempat duduknya. Santai, sambil bersiul—seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kalau Wiliam nyariin elu, lu cukup bilang gue yang hajar adiknya. Kalau dia berani mukulin elu. Gue obrak-abrik kelas 3. Gue ratain.” bisik Rizki saat berjalan melewati aku.

Aku masih berdiri tertunduk--mematung. Aku sadar betul, jika aku pemicu insiden ini tapi aku tidak berharap dia bertindak berlebihan seperti itu. Aku tidak ingin membenarkan tindakannya, aku tidak bisa berterimakasih padanya. Tapi, tanpa tindakan bodohnya aku sudah kena tonjok pagi ini.

“Apa lu senyum-semyum ? Goblok” Bentak Rizki. Dia memandang ke sudut sebrang--bangku belakang di sudut kanan.

“Kan lu bilang gak boleh ngomong, yaudah gue senyum. Gak boleh juga” Ladies and gentleman, sambut bintang kelas yang paling mengkhawatirkanku. Gade (baca, Ged), dialah piranha yang aku sebutkan sebelumnya.

Shaleh Indrawan. Jangan salah dengan namanya, tak ada hal yang sholeh pada diri Shaleh. irasional, sesat, bejat, brengsek, bengal, sinting. Entah nama seperti apa yang sanggup mewakili kepribadiannya. Disebut Gade karena namanya Indra. Ku dengar, saat dia SD sering diolok-olok dengan sebutan Mandra. Indra—Mandra, saat itu komedian asli Betawi tersebut sedang membintangi serial tv yang berjudul Mandragade, Parodi serial tv Renegade yang pernah populer tahun 90an dulu.

“Lu mau juga” Tanya Rizki dengan suara yang lantang.

Gade berdiri dari bangkunya, senyumnya sudah hilang.

“Sini ...” tantang Gade

“Udah, Ki. Cukup !” Tito bangkit dari temat duduknya, tepatnya diantara Rizki dan Gade.

Satu lagi telur busuk di kelas ini yang harus aku perkenalkan. Mungkin Tito tidak berbahaya seperti Gade, tidak lebih menyebalkan dibanding Deni, atau mematikan seperti Rizki, tapi bajingan ini pernah membuat B’lel hampir kalah saat duel one on one saat kelas 1 dulu. Jika soal nyali, orang ini selevel dengan Piranha—dengan otak sedikit lebih pintar.

“Belum satu jam kita di sini dan lu udah bikin seluruh kelas ketakutan. Gue minta, secara baik-baik... cukup”

Perhatian Rizki kini beralih ke Tito.

“Gue gak takut...” celetuk Gade.

“LU MAU TETAP HIDUP, KAN ?? DIEM !!!” Bentak Tito.

Sambil tersenyum mengejek, Gade kembali duduk—menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya menopang belakang kepalanya. Tidak ada yang aneh dengan posisi duduk itu, tapi duduk santai seperti itu setelah menyatakan perang pada dua pentolan di kelas sekaligus, adalah sikap mengejek lawan. Jika itu Boni, tentu dia akan tetap waspada. Kau tidak akan pernah tahu, hal gila apa yang akan Rizki lakukan padamu.

Namun perhatian Rizki tetap tidak berubah, satu ekor piranha bukan ancaman. Tapi Tito sebaliknya. Sedikit saja kau lengah, bisa dipastikan sikutanya merobek pelipismu.

“Gade, bilang makasih ... kalau bukan karena orang ini, lu udah gue hajar” Rizki masih tidak melepaskan pandangannya pada Tito. Gade mengacungan jari tengahnya seakan tak acuh.

“sekali lagi, lu berani ngehalangin gue... gue ‘kasih’ semuanya ke elu” ucap Rizki.

Aku sudah kembali duduk di tempatku, begitupula Rizki. Semuanya nampak tenang namun aku bisa merasakan suasana yang berat nan kelam di ruangan ini. Aku bisa merasakan mata mereka melihat ke arah kami. Aku sudah terbiasa dikucilkan, tapi ini... perasaan ini... menybalkan, aku bahkan tidak tahu kata yang tepat untuk mendeskrisikan nya. Hari pertama di kelas dan kami sudah jadi public enemy.

*****


‘’Assalamualiakum wa rahmatullah wa barokahtu, selamat pagi” Ucap seorang guru di depan kelas—yang harusnya sudah datang 30 menit yang lalu, saat kelas masih kacau. Saat ini, Deni sudah berhenti menangis. Dia hanya tunduk membenamkan wajahnya diantara lengan nya yang dilipat di atas meja.

Anak-anak di kelas kemudian membalas salam nya dengan serentak.

Arga Sani Prayoga S.pd. Ia menuliskan nya di papan tulis. Hal yang lucu adalah, kami melakukan hal yang sama pada meja belajar kami.
“Ini nama bapak, panggil saja pak Yoga. Bapak, mengajar sejarah dan juga merangkap jadi wali kelas kalian.”

Bukankah harusnya perkenalan walikelas dilakukan kemarin ? Apa mereka memulangkan siswa setelah apel pagi ? Tidak, tidak ada perkenalan walikelas kemarin – Dan, iya... mereka memulangkan semua siswa setelah apel pagi... Jika itu yang benar-benar terjadi, maka terkutuklah siapapun yang membuat kami bangun pagi hanya untuk mendengar kepala sekolah berceloteh di lapangan upacara—menyambut siswa baru yang akan sekolah ini aniaya selama tiga tahun kedepan.

Dan pak Yoga, apa yang bisa aku bilang soal orang ini. Beliau terlihat masih muda, Dari perawakan nya, mungkin umurnya sekitar 32 atau 34 tahun. Tinggi, kurus, berambut ikal pendek, Murah senyum dan selalu melontarkan lawakan garing dimana yang tertawa hanya dirinya sendiri. Mereka harusnya menempatkan seorang seperti Heihachi Mishima atau Sadam Husain untuk walikelas di sekolah ini, aku tidak bicara soal kelas kami saja, tapi untuk seluruh kelas di sekolah ini.

Macet, adalah omong kosong yang dipakai beliau untuk alasan keterlambatannya. Bualan yang sama tidak akan berlaku untuk siswa, kau akan menunggu di luar selama jam pelajaran berlangsung jika menggunakan ‘macet’ sebagai alasan. Bukan hal yang buruk... hanya saja kami harus mencari sosok yang lebih baik untuk belajar dan paham arti disiplin. Dan itu lebih dari sekedar datang tepat waktu.

Pak Bambang kemudian muncul saat pak Yoga menceritakan kisah hidunya dimasa remaja—langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sekarang, kami juga harus mencari sosok yang tepat untuk belajar etika dan sopan santun.

“Wsuwsuhusblabblalhaasla....” entahlah apa yang mereka bicarakan,tapi itu yang aku dengar. Terlalu pelan, dan dari posisi tempat aku duduk mustahil bisa aku dengar. Ah, masa bodoh. Bukan hobiku menguping pembicaraan orang dewasa.

Pak Bambang masih berbincang dengan pak Yoga, meninggalkan pintu kelas yang masih terbuka.

“Siapa itu ?” bisik Rizki, pandangannya tertuju keluar kelas. Seorang siswa jangkung yang sedang berdiri di depan pintu kelas kami menghadap ke arah lapangan upacara.

“belum pernah lihat. Anak baru, kali”

“Mod. Apa orang ini yang diceritain Madun kemarin. Dia harusnya seangkatan kita, kan ?”

“bukannya orang yang diceritain Madun itu anak baru dikelas 1 yah.”

,“iya. Sepertinya emang dia” bisik Rizki “lihat cara berdirinya, belagu banget”

Aku memperhatikan dengan seksama bagaimana anak itu berdiri. Dari sepatu yang jadi pijakannya sampai pose badannya yang sedang membelakangi kelas—menghadap ke lapangan upacara.

“Ki. Begitulah normalnya orang berdiri” kataku

“nah nah nah .... ada yang aneh sama anak ini dan bukan soal rambutnya. Entah kenapa gue ngerasa terancam.”

Rambut ? aku baru memperhatikan ternyata anak itu megecat rambutnya dengan warna hijau gelap. Rizki memperhatikannya sampai sedetail itu. Apa mungkin ini, Martin yang kemarin diceritakan itu, bisa saja keluarganya membayar sejumlah uang agar dia bisa duduk di kelas 2. Karena memang dia harusnya satu angkatan dengan kami. Tidak, bodoh. Jika dia henda duduk di kelas 2, untuk apa mengikuti ritual bodoh yang bernama masa orientasi.

“Ya... itu, dek. Masuk” ucap pak Bambang.

Anak itu langsung membalikan badannya. Ya ampun, rambutnya yang tampak dicat hijau gelap dari belakang ternyata cerah dari depan. Dia masuk ke kelas dengan bungkusan batagor di tangannya, pipi nya menggembung, bibirnya bergoyang-goyang—mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.

Ia menghampiri pak Yoga lalu sungkem.

“besok rambutnya cukur aja yah. Gak boleh ini, masa pelajar rambutnya kaya gini.” Ucap pak Bambang.
Anak itu mengangguk.

“yasudah. Pak Yoga, saya pamit dulu. Assalamualaikum” Segera pak Bambang meninggalkan kelas, dan kali ini beliau tidak lupa menutup pintu.

“badut kaya gitu lu bilang ancaman” ucapku pada Rizki

Rizki pun tersenyum geli

“Sok, batagornya simpan dulu. Perkenalkan diri kamu” ucap pak Yoga

Anak itu lalu menghadapkan badannya ke arah 41 orang siswa-siswi kelas 2-A. Dia memindahkan bungkusan batagornya ke tangan kiri, sementara tangan kanannya dia pakai untuk menyeka bibirnya.

“Nama saya..”

“Ableh !!” Teriak Rizki diikuti tatapan mata semua orang yang ada di kelas. Tidak ada yang tertawa

“Muhammad Isan” ucap anak itu, matanya langsung menyorot ke arah Rizki

“itu, tadi siapa ? bercanda ada waktunya yah.” Kata pak Yoga “Sok, lanjut. Pindahan dari mana ?”

“Saya pindahan dari...”

“DARI TADI....”

lagi, semua mata kembali tertuju pada Rizki. Namun kali ini satu bungkus batagor terbang melayang dari arah depan dan dengan sempurna mengenai wajah Rizki. Tidak hanya wajahnya,bungkusan itu menumpahkan sambel kacang yang dengan sukses mengotori baju Rizki. Combo.

Kali ini, semua orang tertawa bahkan pak Yoga. Kelas riuh, semua orang berdiri, gelak tawa, tepuk tangan, sorak sorai. Pecah. Suasana seperti ini hanya bisa kau dapati di hari kemerdekaan saat lomba balap bakiak.
Mereka sudah punya pahlawan, dan pahlawan ini... benar-benar kesiangan
Diubah oleh arkanum

Perpustakaan

Dari lantai 2 gedung fakultas, aku bisa melihat kelasku. Pintunya terbuka, melalui kaca jendela pun terlihat suasana kelas. Tidak ada yang lebih menggangguku selain melihat anak baru yang langsung populer hanya dengan bermodalkan bungkusan batagor. Para siswi berebut ingin berkenalan dengannya, sedangkan para siswa memperlakukannya seolah dia calon tunggal ketua osis berikutnya. 13 bulan aku menghabiskan waktu di sini dan belum pernah disambut seperti itu.

Mungkin harusnya aku saja yang melempar Rizki dengan batagor jika tahu akan populer seperti itu, jika itu belum cukup, dengan senang hati aku lumuri kepalanya dengan sambel kacang dan kecap manis. Yang seperti itu akan mengangkat status sosialku di tempat seperti ini. Oh, setelah insiden pelemparan batagor... pak Yoga mempersilahkannya membersihkan diri. Rizki tidak kembali ke kelas sejak saat itu.

Tiba-tiba saja aku merasa kasihan pada Isan, dia tidak tahu sedang berurusan dengan apa. Jika saja B’lel dan yang lainnya masuk sekolah, mungkin akan lebih menarik. Karena hanya mereka bertiga saja yang berani menertawakan Rizki, dan kejadian seperti kemarin.... sangat jarang ditemui. Rizki tidak akan mengerahkan pasukannya hanya untuk menghajar satu orang, dia bukan bajingan seperti itu. Tapi jika itu aku, lebih baik jika dikeroyok lima orang dengan pemukul kayu daripada harus duel one on one dengan Rizki.

Kesampingkan dulu dua primata yang hormonnya sedang tidak stabil. Mari aku perkenalkan pada tempat yang menjadi habitatku selama jam istirahat. Perustakaan. Tempat sialan ini terletak di lantai 2 gedung fakultas. Tempatnya lumayan besar, punya 4 rak buku dengan 2 meja dan 4 kursi yang di simpan mengelilingi masing-masing meja. Aku susun ulang agar berguna untuk berbaring.

Bukan hanya buku akademik yang ada di sini. Novel, antologi cerpen, puisi, pengembangan diri untuk remaja, juga buku pengenalan komputer dengan OS windows—sedankan komputer yang ada di sekolah ini masih memakai OS wordstars / ws. Menyedihkan. Hal bagusnya, tempat ini adalah tempat paling aman di permata mulia, tidak akan ada idiot berambut hijau yang melemparkan batagor, tidak ada brengsek yang mencekik brengsek lainnya sampai hampir mati hanya karena rebutan bangku. Hanya ada buku, dan buku, dan buku, dan buku, dan... “Sebelum libur sekolah gue lihat bukunya Patrick Suskin di rak ini. Kok, sekarang gak ada?!” Dan cewek ini.
Mega Julita, satu-satunya yang benar-benar permata di sekolah ini. Ratu lebah, trophy yang jadi rebutan hampir semua siswa jomblo, bahkan mereka yang sudah punya pacar pun akan rela melepas pasangan mereka jika ada kesempatan untuk dekat dengan Mega Sudah 2 bulan sebelum libur panjang dia datang ke sini sendirian sementara genk ceweknya—para siswa menyebut mereka lebah—menunggu di bawah. Entah apa yang membuatnya rutin berkunjung, bagiku dia terlihat tidak suka membaca... tapi yang jelas, dia datang kesini bukan karena aku. Menyebut nama Patrick Suskin tidak akan membuatmu menjadi seorang yang gemar membaca—setidaknya, untukku.

“Patrick Suskin... Perfume ?” tanyaku

Dia menggelengkan kepalanya “Paranoid” ucapnya, sambil melihat-lihat buku di rak. Baiklah, mungkin memang dia suka membaca.

Jangan tanya kenapa bacaan seperti itu ada di rak perpustakaan kami. Jangankan novel yang mengumbar kengerian dan rasa jijik. Aku bahkan pernah mendapati karya Enny Arrow ada di salah satu rak ini.

“harusnya sih ada di situ. Kalau emang sebelumnya penah di situ...”

“ada ! dan gue pernah lihat”

“gak bakalan kemana-mana kalau gitu.... gak ada oran yang kesini buat baca buku”

“tapi, lu sendiri... di sini terus, baca buku” kata Mega sambil tersenyum.

tiba-tiba saja aku merasa kesal dengan ucapannya. Aku menutup buku bacaanku.

“lu tahu kenapa gue di sini.” Mega lalu berhenti. Menatapku ”lu inget... kenapa gue di sini, kan ?” mulutnya terbuka—hendak berkata-kata namun tidak ada suara yang keluar. Aku tidak tahu dengan perasaannya saat ini... pura-pura merasa bersalah, mungkin. Entahlah, lagiula aku tidak butuh empati darinya.

Dia diam sejenak, menatapku, menghela nafaasnya lalu tersenyum. Bukan senyuman favoritku. Terlihat menyakitkan dan terlalu dipaksaan.

“ketemu !!!” ucapnya sambil memperlihatkan satu buku yang baru saja diambilnya di rak.

Dia mengantongi buku yang hanya seukuran kartu pos itu di blous merahnya, alu berjalan keluar.
“hei...” pangilku, dia berhenti ketika di mulut pintu—menatapku.

“cuman mau ngasih tahu, kalau sebenarnya... gue suka di sini.”

Dia pun tersenyum, inilah senyum yang aku sukai. Bukan senyuman yang dipaksakan seperti sebelumnya.

“bohong, nggak ada orang yang suka sendirian. Gak bakalan ada yang suka” dia pun pergi. Berlalu sudah kisah romantisku yang singkat

Mega, bagaimana aku melihatnya... dia seperti putri manja yang haus perhatian. Selalu dikelilingi banyak orang dan disukai banyak orang. Dengan semua anugrah yang melekat pada dirinya, tak heran jika banyak orang yang ingin dekat dengannya. Wajahnya agak bulat, kulitnya bersih—putih merona di bagian wajah. Dan yang menarik perhatianku adalah bibir tipisnya... bagaimana saat dia tersenyum, aku bisa melihat senyuman Julia Robert. Rambutnya panjang sepunggung, lurus—kadang dia mengikatnya dengan model ponny tail. Tubuhnya tinggi langsing, dengan kaki yang jenjang. Sulit untuk percaya jika postur tubuh petite itu dimiliki anak yang baru berusia 14 tahun, aku tidak pernah punya pikiran kotor dengan semua keindahan itu—aku mengaguminya sebanyak aku membencinya. Lagipula, aku punya adik perempuan.

“enh.. cewek yang barusan kemana yah ?” seseorang berambut hijau sudah berdiri di depan pintu.

“rambut panjang...dikuncir.” Ucapnya. Dia tersenyum lebar sambil menggerakan dua alisnya—naik-turun. Ekspresi terbodoh yang pernah aku lihat.

“ke bawah. Turun”

“barusan gue dari bawah, gak ketemu”
“bro. Sekolah ini luas. Kalau gue bilang di bawah, artinya bisa di mana aja. Mushola... lapang voli, di arena, kantin. Atau lu bisa ke parkiran guru di depan...belok kiri, ada lapangan basket. Disitu dia biasa nongkrong ama genknya”

“MAKASIIIIIIH !!!”ucapnya dengan penuh antusias—masih dengan ekspresi bodoh yang sama. Lalu kemudian dia pergi lewat tangga kiri yang menghubungkan dengan gedung selatan untuk anak kelas 1.

Aku kembali duduk., lalu melanjutkan bacaan yang sebelumnya aku tunda saat ... BRUAGH !!! Rizki muncul di depan pintu—memukul daun pintu itu dengan keras. Dia benar-benar terlihat marah.

“Anak goblog. Rambut ijo... tadi gue lihat dia kesini. Mana ?” ini terasa seperti deja vu

“apa lu gak lihat pas dia pergi ?” Rizki lalu menoleh kesana kemari. “dapet !” ucapnya sambil menyeringai.

Sial, dia pasti bakalan bikin ribut.
Diubah oleh arkanum
ijin jejak dlu ya gan emoticon-Traveller
Wih asik nih, numpang nenda disini ye gan emoticon-Jempol

.

Mantap nih.
Tulisannya enak dibaca, ceritanya juga seru.
Sok mangga dilanjut
Balasan post denjay007
Quote:


silahkan gan emoticon-Salaman

Quote:


makasih dah berkunjung gan

Quote:


makasih banyak gan. Lagi digoreng kata-katanya emoticon-Ngakak (S)
Jejak gan semoga thread nya selesai sampai tamat emoticon-Cendol Gan
Mantaaap
Quote:


ditunggu lanjutannya masbro
Balasan post kuyza.os
Quote:


insha ALLAH
Ane gak janji rutin update, karena satu dan lain hal. Tapi ane berkomitment dari awal, buat nyelesein thread ini.

Makasih sudah berkunjung gan


Quote:


makasih banyak gan, semoga suka emoticon-Malu (S)


Quote:


siap gan, makasih cendolnya emoticon-Toast


Dan buat para Annonym yang traktir ane cendol, may God smile upon you emoticon-Big Grin

SELAMAT DATANG DI PERMATA MULIA

Quote:




Di lorong gedung junior, Rizki membuntuti Isan--setengah berlari. Rizki menyingkirkan beberapa orang yang berpapasan dengannya. Tidak hanya dengan mereka yang di kelas, sepertinya dia juga akan membuat musuh dengan anak kelas 1.

“Goblok ! Lu bakalan di D.O anjing” aku coba menghentikannya beberapakali. Namun percuma. dia lupa sudah berapa banyak namanya ditulis di catatan hitam guru BK.

“Ki... Di luar... Di luar. Tunggu sampai pulang, di luar” dia menepis tanganku yang coba menahannya.

Isan tampak tidak menyadari jika Rizki mengikutinya dari belakang. Dia tetap berjalan santai sementara ada anjing lapar yang mengincarnya. Sekarang, kami hanya berjarak beberapa langkah dari Isan.

Saat Isan berada didepan pintu wc murid, Rizki langsung berlari menghampirinya--menjambak rambut nya, mendorongnya sekuat tenaga hingga Isan terhenpas menerobos pintu wc murid. Beberapa siswa junior yang berada di sekitar TKP tersentak kaget dengan apa yang barusan mereka lihat. Ini hari pertama mereka resmi sebagai siswa SMP N 3 Permata Mulia... Dan hal pertama mereka lihat, perkelahian. Bukan hiburan yang berkesan.

Sekarang, sudah terlambat untuk menghentikan Rizki. Mungkin aku akan nonton saja, lalu memisahkan keduanya disaat yang tepat.

Isan sudah bangkit ketika Rizki dan aku masuk ke sana.

“Tutup pintunya Mod” Pinta Rizki. Aku pun menutup pintu itu, anak kelas 1 yang ingin sekedar menonton harus kecewa.

Saat pintu ditutup, cahaya diruangan ini pun langsung redup. Tidak ada penerangan. Aku harus menyesuaikan pandanganku untuk sesaat--agar terbiasa dengan gelap ruangan ini.

Aku menelisik tiap sudut ruangan ini, jika saja ada pecahan kaca atau pipa besi yang bisa berakibat buruk bagi keduanya. Namun hanya ada lima keran air, tiga bilik wc, dan satu cermin besar yang menempel ke dinding. Cermin ini... Aku takut Rizki akan menggunakan kreatifitasnya pada cermin ini.

“Selamat datang di Permata Mulia.” ucap Rizki “Ini baru hari selasa dan lu udah ngotorin seragam gue. ANJING ! EMAK GUE MESTI NYUCI LAGI” bentak Rizki.


“lu yang mulai duluan...” Ucap Isan

“lu beli apa yang gue jual. Dan gue belum ngasih kembalian... MAMPUS !” Rizki langsung menerjang Isan. Tangan kanannya mengepal dan diayunkan--dengan telak menghantam pelipis Isan. Membuatnya terhuyung.

Isan tertatih, ia mengayunkan pukulan dengan tangan kanannya. Dengan mudah Rizki menghindari pukulan itu. Rizki memiting leher Isan dari samping dengan satu tangan, lalu dengan tangan lainnya dia menjambak rambut Isan, menariknya dengan kuat hingga Isan terjungkir--terjatuh ke lantai dengan posisi tertelungkup.

Rizki menindih punggungnya, kembali dia menjambak rambut Isan lalu diangkat kemudian ... BRUAGH !!! Dia hempaskan wajah itu hingga mencium lantai.

“AAAAAAAAARGHH AAAAAAAAAAAAARG... ANJIIIING” Isan menjerit, meronta, namun tidak cukup untuk menyingkirkan Rizki yang menindihnya. Rizki kembali mengangkat kepala Isan dan kembali dia benturkan ke lantai.

“UDAH, ANJIIING !!!” Aku menangkap Rizki dari belakang, berusaha melepaskan jambakannya pada rambut Isan. Aku menarik tubuh Rizki hingga dia berdiri namun cengkramannya pada rambut Isan masih belum lepas--membuatnya ikut tertarik.

“UDAH LEPASIN GOBLOK !” Rizki melepaskan jambakannya, namun dia menghujamkan kakinya ke kepala Isan. Kepala itu kembali membentur lantai, namun tidak sekeras dua benturan sebelumnya.

Aku menarik tubuh Rizki hingga berjarak dengan Isan. Kemudian melepaskannya saat dia sudah tenang.

“Eeeergh... Nghh...anghhh” Isan masih meringis kesakitan. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Terlalu gelap untuk melihat dengan jelas setampan apa dia sekarang.

“SEKALI LAGI LU NGELUNJAK... GUE HABISIN LU” Isan tetap meringis, dengan suara yang makin berat.
“Aaaaaargh... Grrraaaah...Haaaaaaargg” Isan berguling. Ia menelungkup dan melipat kakinya kedalam,hingga terlihat seperti sedang bersujud.

“cabut, Mod” ucap Rizki. Perhatianku tetap tertuju pada Isan, yang terlihat mengumpulkan tenaganya untuk bangkit. Kini, tangan dan kakinya sudah dia pakai tubuhnya. Setengah bersujud.

“Ki...” aku punya perasaan buruk soal ini.

“Grrrrrrh...” Aku salah, suara ini bukan rintihan kesakitan. Ini...

“GROAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH” Ini suara binatang yang sedang mengaum.

Berada di ruang tertutup dengan teriakan sekeras itu. Sama menyakitkannya saat cottonbud terlalu dalam masuk ke dalam telinga.

Isan bangkit, wajahnya merah tertutup darah, mata nya melotot ke arah kami berdua, kedua tangannya terkepal. Tiba-tiba saja punggungku dibasahi keringat dingin.

“Super Saiyan...”Gumamku.

“ANJING, BELUM PUAS LU”

Isan langsung menerjang ke arah kami, begitupula Rizki yang sudah melayangkan tinjunya. Isan mundur selangkah ketika tinju Rizki hendak mengenai wajahnya. Dia berhasil menghindarinya.

Lalu tiba-tiba... BHUUUUGH !! Rizki terlempar dan menerobos pintu hingga keluar... Dia jatuh tertelungkup. Jantungku tiba-tiba terasa berhenti, aku tidak percaya dengan yang aku lihat... Aku bahkan tidak lihat bagaimana Isan memukulnya. Rizki, orang yang elu-elukan sebagai rival Boni. Bajingan paling kuat kedua di sekolah ini, bajingan yang kuat dikeroyok lima orang... Ambruk hanya dalam satu kali pukul.

Isan lalu melihat ke arahku...

“bentar... Bentar... Gue tadi....”

“GROUAAAAAAAA” Dia mendorongku hingga terhempas kesudut ruangan.

Jantungku berdetak kencang, aku bahkan bisa mendengar detakannya. Dan sekali lagi, semuanya terasa melambat. Isan meraung-raung dan menerjang ke arahku--dan dalam keadaan seperti ini, dia benar-benar terlihat lambat... Semuanya terlihat melambat. Dan lagi-lagi, aku tidak bisa menggerakan tubuhku sementara ada kepalan yang melaju ke arah wajahku.

Kepalan itu membentur tepat di hidungku, mataku langsung terpejam--berair. Rasa perih dan nyreri berkolaborasi dengan baik... Belum selesai aku meresapi sakitnya ditonjok hidung tiba-tiba pelipis kiriku merasakan benturan hebat, lalu kemudian pipi kananku. Aku membuka mataku dan melihat kepalan melaju kearahku, reflek--aku menutupi wajah dengan lenganku. Kepalan itu membentur lenganku, panas, nyeri dan linu.

BHUUUGH ! Tiba-tiba saja perutku merasakan hantaman kuat diikuti rasa mual luar biasa. Membuatku lemas dan tertunduk, aku menurunkan lenganku... Pandanganku tertuju kelantai, dan satu kepalan meluncur dari bawah dan menghantam mulutku--perfect uppercut. Perih bukan main. kepalaku tersentak ke belakang dan membentur ke tembok. Anak ini terus meraung-raung sambil memukuliku, tanganku terlalu linu untuk aku angkat--melindungi bagian kepalaku. Aku hanya berdiri di sana, menerima pukulan demi pukulan.

Gerakannya melambat, tiba-tiba saja Isan berhenti. Nafasnya terengah-engah. Aku melihat wajahnya, dan mendapati anak yang sedang kebingungan. Matanya bulat membesar, seakan sedang menerka-nerka apa yang barusan terjadi. Sepertinya dia benar-benar baru kesurupan. Kedua tangannya masih terulur ke arahku, namun tidak terkepal--seperti hendak menyetop sesuatu.

Dia melihat ke sekeliling, lalu kembali melihatku dengan tatapan ketakutan. Dia melihat ke belakangnya, dan mendapati Rizki yang masih terkapar--juga beberapa adik kelas yang ketakutan, dan hanya sebagian yang terhibur. Lalu dia arahkan kembali pandangannya padaku.

“Dari tadi, ... Dari tadi gue coba misahin.” aku coba mengatur nafasku. “gue gak ikutan” dia lalu mundur, berbalik lalu kemudian lari.

Aku menjatuhkan diriku ke lantai. Mulut pintu dipenuhi anak kelas 1 yang penasaran. Dihajar dihadapan junior tanpa bisa melawan.... Satu tahun kedepan akan jadi tahun yang berat untukku.

Setiap inchi dari tubuhku berdenyut kesakitan, wajahku kebas dan panas. Mulutku terasa asin dan bibirku perih.

“bagus, satu lagi idiot yang sekolah di sini”


Diubah oleh arkanum
Balasan post arkanum
Quote:

bro ini fiksi atau real.?
Balasan post mastericko
Quote:


Gak semua yang ane tulis di sini benar-benar terjadi, gak semua yang ane tulis juga murni fiksi. Ada yang ane tambahin ada yang ane kurangin emoticon-Smilie

makasih dah berkunjung
Diubah oleh arkanum
Balasan post arkanum
Quote:

mantep gan, lancrotkan eh lanjutkan
Btw gue lagi di tahun terakhir SMA gan, baca ini jadi suka senyum senyum sendiri, mirip disekolah gue hal hal edan disekolah kaya gini malah dianggap wajar walaupun main nya gak sebrutal Kasus yg lagi ramai saat saat ini emoticon-Cape d... (S)
Wah lanjutin gan. Ini cerita fav ane dulu. Seruuu dan konyol ceritanya wkwkkwkw
Halaman 1 dari 5


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di