alexa-tracking

Derita Bidan Dan Masa Depan Sekolah Kebidanan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9d037860e24b483c8b4568/derita-bidan-dan-masa-depan-sekolah-kebidanan
Derita Bidan Dan Masa Depan Sekolah Kebidanan
Profesi bidan sejatinya sangat menjanjikan dan membangakan, baik untuk kesejahteraan ekonomi pribadi, ataupun bagi keselamatan Ibu dan bayi. Dengan menyelamtkan Ibu dan bayi ketika persalinan, itu merupakan prestasi yang membanggakan, karena yang dipertaruhkan adalah dua nyawa sekaligus. Dahulu profesi bidan tidak terlalu popular, bidan kalah popular dengan bidan tradisional (dukun bayi). 


Masyarakat yang hendak melahirkan biasaya lebih memilih memanggil dukun bayi dari pada memanggil bidan, karena dukun bayi lebih mudah dipanggil dan biayanya cukup murah. Dibanding harus memanggil bidan yang biayanya cukup mahal. Selain itu juga profesi bidan di desa tidak banyak dan susah dicari.

Memasuki era milenial masyarakat semakin sadar dengan kesehatan reproduksi dan kandungan, sehingga jasa bidan tumbuh subur diminati oleh para ibu-ibu yang sedang mengandung, melahirkan, atau pasca melahirkan. Selian memiliki kemampuan membantu persalinan bidan juga memiliki pemahaman tentang kehamilan dan reproduksi pada wanita. Namun tidak menutup kemungkinan jasa dukun bayi juga masih sangat dibutuhkan. Malahan sekarang banyak bidan yang memilih dukun bayi untuk sekaligus menjadi asistenya ketimbang mencari asisten dari lulusan kebidanan.

Maraknya pembangunan rumah sakit, puskesmas, klinik dan tentunya meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan kandungan dan reproduksi membuat rumah sakit, puskesmas, dan klinik sering dikunjungi oleh ibu-ibu, baik yang sedang mengandung, melahirkan, atau pasca melahirkan. Namun minat yang tinggi ini tidak diimbangi dengan tenaga profesi bidan. game yusuhati

Melihat peluang demikian, kemudian munculah sekolah-sekolah kebidanan setara D3 atau S1 yang siap mencetak bidan-bidan profesional. Keinginan untuk mencetak bidan profesional tidak sejalan dengan standarisasi  yang telah ditentukan. Sekolah akademi kebidanan jumlahnya terus meningkat, tapi tidak diimbangi dengan lulusan yang bermutu. Hingga saat ini tercatat terdapat kurang lebih 800 sekolah akademi kebidanan di Indonesia.

Bahkan ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurjasmi pernah menyebut, maraknya sekolah kebidanan justru mengalami penurunan kualitas. Salah satu faktor yang membuat penurunan tersebut yaitu, akibat lemahnya pengawasan dari kemendikbud. Perlu dicatat akademi kebidanan sekarang tidak lagi berada dibawah Kementrian Kesehatan. Jika setiap sekolah akademi kebidanan masing-masing menampung 100 siswa maka per tahun sudah dipastikan ada 80 ribu siswa sekolah akademi kebidanan. Jumlah lulusan yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan praktik pengabdian.

Akibatnya, banyak lulusan sekolah akademi kebidanan, banting setir mengambil pekerjaan lain demi mensejahterakan perekonomian keluarga. Adapun yang terpaksa bekerja di Puskesmas demi melakukan pengabdian yang tulus kepada masyarakat namun miris gajinya tak sesuai dengan resiko yang diemban. Namun banyak pula bidan bertahan meskipun gajinya tak seberapa.

Hal demikian juga dirasakan Bidan Suci asal karawang, Jawa Barat. merasa tidak dihargai oleh pemerintah daerah  ia mencoba peruntungan mengabdi di klinik milik perusahaan Swasta daerah Muara Kaman Kota Samarinda. Bidan yang memiliki nama lengkap Suci Ayu Lestari ini menuturkan “Kalau di klinik tempat aku kerja Alhamdulillah lebih baik dari pada di daerah asalku. Di sini aku lebih dihargai karna ini klinik perusahaan. Aku milih jauh-jauh ke kebun sawit perusahaan orang luar karena di daerah aku sendiri profesi bidan tidak dihargai. Temen aku yang mengabdi di Jawa Barat ada yang Cuma digaji dengan BPJS aja, ada juga yang digaji Rp. 500.000,-/3 bulan”.

Bidan suci juga menambahkan yang dialami temenya ini masih mending, jika menengok ke NTB banyak bidan yang diiming-imingi kerja di Turki sebagai tenaga kesehatan dengan gaji 4 juta/ bulan. Tapi ternyata dijadikan TKW ilegal. Ini adalah tabir buruk kisah para bidan di negeri Indonesia raya, yang susah untuk sejahtera. Padahal peran bidan sangat penting dalam menentukan program Jaminan Kesehatan Nasioanl (JKN). Sayangnya kesejahteraan bidan kini tergadaikan oleh janji-janji politik.

Dari pelosok Samarinda, bidan Suci menitip asa, kepada para kandidat calon Gubernur Provinsi Jawa Barat, dan Juga Bapak Presiden Jokowi, inilah rintihan seorang bidan yang berharap ada perbaikan terhadap kesejahteraan profesi bidan. “Kepada Bapak Presiden Jokowi, Para kandidat calon Gubernur Jawa Barat, aku merasa profesi bidan di Indonesia, khususnya Jawa Barat, minim penghargaan. Banyak dari kami yang bertugas di puskesmas Jawa Barat kerja tidak dibayar, padahal yang kami pertaruhkan dua nyawa sekaligus, kami sangat ikhlas mengabdi tapi tolong perhatikan kesejahteraan kami”.

Bedahalnya dengan bidan Suci. Salah seorang bidan dari Indramayu Jawa barat yang bertugas disalah satu puskesmas di Indramayu menegaskan “Sekolah kebidanan kan makin banyak, dan masih banyak bidan-bidan yang tidak bekerja. Aku sih berharap pemerintah membuka pekerjaan yang luas khusus bagi para bidan. Agar dapat mengurangi  angka kematian Ibu dan bayi di Indonsia”. Ujar bidan Marni.

Dari masalah para bidan ini seharusnya para pemimpin dan calon pemimpin di negeri ini belajar bagaimana mensejahterakan para pegiat profesi yang sangat vital. Jikalau banyaknya lulusan sekolah akademi kebidanan tidak diimbangi dengan skill atau mutu  lulusannya, pemerintah harus melakukan pengawasan yang ketet kepada sekolah akademi kebidanan selain itu juga harus menaikan standarisasi yang tinggi. Kemudian harus ada solusi untuk mereka yang telah lulus, bisa berupa adakan training-training pra sertifikasi, atau program-program yang meningkatkan skill dan mutu para bidan. Karena dari para bidan lah kita berharap tentang lahirnya generasi-generasi yang siap mengemban tongkat estafet kepemimpinan negeri ini. salam dua anak tak cukup.
image-url-apps
bentar2
waktu ane kuliah dulu salah satu dosen ane pernah cerita kalo dosen kebidanan mengeluhkan kampus2 swasta kebidanan yg asal menerima mahasiswa asal quota terpenuhi
Too many bidan school (gak tau apa bahasa inggrisnya" bidan" karena di negara lain nggak ada yg namanya bidan) and it's gradiuates in Indonesia.
KASKUS Ads
image-url-apps
Derita Bidan Dan Masa Depan Sekolah Kebidanan
Derita Bidan Dan Masa Depan Sekolah Kebidanan
image-url-apps
Quote:


bahasa linggisnya midwife gan, kurang gaul lo di australi aja ada s2 kebidanan, bidan s2 itu cuma di luar negri
Quote:


midwife
Quote:


biasanya langsung masuk midwife nursery, ikut di institusi, RS atau dokter. nggak buka praktek sendiri kek gitu...kalo istri u melahirkan, u nggak bisa langsung ke rumahnya si midwife... u harus ke rumah sakit atau institusi yg ada dokternya, midwife ngebantuin. Ada blog menarik ketika bidan Indonesia kerja di luar negeri:http://ainalist.blogspot.com/2017/06/bidan-bekerja-di-luar-negeri.html
Memang secara harfiah bidan=midwife bahasa kamusnya, tapi coba kalo bidan lulusan Indonesia itu kerja di luar negeri. jadi midwife di pante jompo atau caregiver atau jadi midwife yang nglairin anak (midwife nursery)?
image-url-apps
Dukun bayi. Nama laennya baby sorcerer
image-url-apps
Gapapa banyakin aja lulusan kebidanan, nanti jg lama2 dgn seleksi alam muncul yg bagus2
image-url-apps
kalo awal2 emang iya bahkan baru mulai digaji dibulan 3, dan setelahnya pun cmn 600k/bln emoticon-Cape d...
image-url-apps
Quote:


Midwifery gan... Makin kemari, profesi bidan bkn cm utk bantu melahirkan, tapi jg sampe pelayanan rutin pasca melahirkan. Ada jg di beberapa tmpt praktek bidan yg nerima pasien umum kyk demam flu dsb.
image-url-apps
laju pertumbuhan penduduk indonesia kan skrng tinggi.akibat banyak ulama ulama overdosis agama yg mengharamkan KB.

Ingat loh makin kesini orang indo skrng semakin religius apapun dikatakan ulama pasti yg banyak yg percaya tanpa pikir panjang

Seiring makin tingginya laju kelahiran penduduk maka bidan makin banyak dibutuhkan. Jadi jangan khawatir untuk masuk sekolah kebidanan
emoticon-Leh Uga
bini ane lulusan D3 Bidan di WB Surabaya dan banting setir jadi saleswoman ( telemarketing ) di PT yang jualan besi dan baja
jika dibanding dengan perawat dan dokter , miris sekali sebenarnya bidan itu kalau masih fresh graduate
keluhannya bini ane :
1. Gaji , 500ribu -1 juta perbulan tinggal ditengah kota , buat makan sehari2 saja sudah habis belum juga dipakai buat transport
2. Jam kerja tidak beraturan , wajib siap dinas tengah malam , pulang subuh , dinas pagi pulang malam terutama jika ada pasien yang sudah mau melahirkan , wajib siap begadang
memang sih pekerjaan yang mulia ( mirip guru ) tapi mulia itu ngga bisa dipakai buat belanja kebutuhan hidup !
image-url-apps
Quote:


Astajim ya akhi, itu wanita yg sangat shalihah sekali demi menjaga dari hal yg haram rela mekinya kaga dijait karena ga darurat, semoga istiqomah
image-url-apps
Quote:


subannalloh, inilah karomah dan mujizat bukti kebesaran dan keagungan meki ukhti yg shalihah ya akhi emoticon-Peluk
×