alexa-tracking

Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9ce7e3dad770b53c8b4579/dibedakan-negara-perjuangan-belum-tuntas-dewi-kanti-dan-penghayat-lain
Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain
Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain


 14 September 2018 , 18:53

Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain

Dewi Kanti Setianingsih. Validnews/James Manullang

JAKARTA – Palu itu sudah diketok. Tanda bahwa sidang pengujian undang-undang oleh sembilan hakim konstitusi telah usai.

Setelah tak lagi ada hakim konstitusi, kelegaan tampil di wajah-wajah para pemohon pengujian undang-undang. Kelegaan itu sebagai tanda perjuangan mereka mencapai satu tahap dari beberapa anak tangga tujuan berikut. Hari itu, kalender menunjuk tanggal 7 November 2017.

Begitu pula dengan Dewi Kanti Setianingsih, salah satu pemohon uji undang-undang yang ada di ruangan itu. Dia menganggap, putusan MK bukan akhir dari perjuangan bertahun-tahun yang dia lakukan bagi komunitas tempat dia berada.

Dia tinggal di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tempat bagi komunitas penganut Sunda Wiwitan bermukim. Sejak Indonesia merdeka, Sunda Wiwitan sebagai kepercayaan dan penganutnya dibiarkan hidup. Namun, tak diakui negara.

“Masih ada persoalan bangsa ini tidak bisa tuntas dan dititipkan pada pihak lain, karena itu saya harus konsisten,” tutur Dewi Kanti pada Validnews, di Jakarta, Kamis (13/9).

Putusan MK menyatakan negara harus menjamin setiap penghayat kepercayaan dapat mengisi kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Putusan MK menyebut kata 'agama' dalam Pasal 61 ayat 1 dan Pasal 64 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk 'kepercayaan'. Selain itu, MK juga menyatakan pasal yang diuji materikan bertentangan dengan UUD 1945.

Getir Penghayat
Lahir di Bandung, 3 Juli 1975, begitu terlihat di KTP Dewi Kanti, dan masih tidak tertulis dalam kolom agama. Dia adalah anak dari Pangeran Djatikusumah, tokoh masyarakat Sunda Karuhun di Cigugur.

Sempat semasa kecil tinggal di Jakarta. Namun, sebagai keturunan penghayat Sunda Wiwitan, masa kecil Dewi Kanti terus menerima tindak diskrimnasi.

Dia ceritakan, saat kelas tiga sekolah dasar, Dewi Kanti pulang sambil menangis. Lalu dia menceritakan pada ibunya sebab dia menangis. Saat itu guru-guru di sekolahnya memaksa dia untuk memeluk salah satu agama yang diakui negara kala itu. Bukan sekali itu saja tindakan diskriminatif diterima Dewi Kanti dari para guru. Sempat juga dia disidang untuk dipaksa masuk salah satu agama yang diakui negara.

Belajar dari itu, masa remaja di kota metropolitan dia lalui dengan tindakan diskriminatif. Meskipun demikian dia bisa lalui. Bahkan, dia memiliki teman-teman karib untuk melalui masa remajanya. Setelah itu dia pulang dan menetap di Cigugur.

Menjelang era kejatuhan Orde Baru yang dipimpin Soeharto, di kampung tempat orang tua dan penghayat Sunda Wiwitan menetap, dia bertemu dengan Albertus Satrio Repuntranto, alias Okky. Pria ini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Moestopo, Jakarta. Ikut pula dalam aktivitas yang menentang Orde Baru.

Karena kegiatan itu, Okky harus menyingkir ke kampung halaman teman yang memiliki aktivitas serupa di Cigugur. Di kampung itu, dia kerap menyambangi kediaman Pangeran Djatikusumah. Mereka cepat akrab karena sama-sama merasa diperlakukan tidak adil oleh negara rezim Orde Baru. Diskusi yang terjadi antara mereka mulai dari kehidupan sehari-hari, tentang politik, bahkan agama.

Tak mereka ketahui, perbincangan itu didengar oleh putri Pangeran Djatikusmah, Dewi Kanti, yang masih duduk di SMU. Tak tertahan rasa kesal Dewi pada Okky. Karena kerap datang ke rumahnya melewati tengah malam untuk sekadar ngobrol dengan tuan rumah hingga menjelang subuh.

“Kesal, karena usia bapak sudah sepuh, kasihan kalau diskusi sampai tak istirahat,” kenang Dewi.

Harmoni Perbedaan
Perkenalan Dewi dengan Okky terus berlanjut dalam kegiatan kesenian karawitan Sunda. Atau ketika Okky mendorong kalangan muda penghayat dalam pelbagai forum. Dewi yang juga ikut dalam kalangan muda penghayat itu kerap bertemu dengan Okky.

Setelah Soeharto tumbang, Mei 1998, Okky dan teman-teman mulai rajin mendorong kalangan muda penghayat ikut andil dalam berbagai forum. Dewi dan Okky kembali dipertemukan dalam berbagai kegiatan. Semisal advokasi kalangan penghayat dan konsolidasi masyarakat adat.

Dewi menilai pertemuan tersebut menjadi jalan bagi mereka untuk bersama. Dewi menilai Okky sebagai pria yang serius.

Delapan tahun kemudian, keduanya sepakat untuk menikah, meski beda agama. Kesadaran yang menyatukan mereka untuk memperjuangkan perkimpoian.

Menurut Dewi, keluarga itu dibentuk atas dasar saling pengertian, meski berbeda keyakinan. Hal serupa sebagai kesadaran umum yang berkembang di masyarakat adat di Cigugur. Mereka menganalogikan pada substansi air yang bisa berbeda campuran dan rasa seperti kopi, teh, bandrek. Namun yang diminum tetaplah substansinya yakni air itu sendiri, apapun sebutannya.

Dalam bahasa Sunda, air disebut cai, dalam bahasa Jawa disebut banyu. Orang Bali menyebutnya tirta. Namun prinsipnya adalah air yang dapat diminum untuk menghilangkan dahaga.

Dewi menuturkan, dia dan Okky kala itu memahami bahwa pernikahan merupakan hubungan antar manusia yang sama-sama meyakini adanya Tuhan Yang Tunggal. Pembeda di antara mereka hanyalah cara mengekspresikan keyakinan.

Jadi, menurut Dewi, manakala warga negara memiliki kesepahaman dalam menghargai perbedaan, negara malah merusaknya dengan kebijakan yang tidak bijak. Seolah pernikahan beda agama tak akan pernah terjadi, dan tak boleh terjadi. Negara, menurut Dewi, semestinya hanya bertugas mencatatkan (secara administratif) segala peristiwa penting warga negara. Tanpa, harus mengakui atau mengesahkan suatu perkimpoian berdasarkan agama yang resmi atau tidak.

Maka, pada 2002 mereka menikah. Disahkan secara gereja Katolik, juga secara adat Sunda Wiwitan. Namun perjuangan janji suci mereka mendapat cobaan dari negara.

Pasangan ini tak memiliki akta nikah. Alasan pemerintah sudah pasti, karena Dewi penghayat Sunda Wiwitan.

Karena tak memiliki akta nikah, sang suami tetap dianggap sebagai bujang. Perusahaan pun tak berkewajiban memberikan tunjangan istri. Begitu pun saat Dewi hamil dan melahirkan, anak yang da kandung dan dilahirkan tidak mendapatkan akta kelahiran. Keadaan ini merembet pada kehidupan si anak pada masa depan.

Kondisi ini tentu berdampak secara psikologis. Bagi penghayat yang tak tahan dengan perlakuan negara, mereka memilih menjadi pemeluk satu agama. Sedangkan yang bertahan, terus mendapat perlakuan beda.

Kolom Kosong
Contoh perlakuan lain dia terima. Pada 2010 saat masih tinggal di Jakarta, dia berniat mengganti KTP karena kolom agama diisi strip (-). Namun begitu KTP baru jadi, dia pun kaget, karena dituliskan Islam.

Dia coba mengajukan pembuatan KTP untuk memperbaiki kolom agama. Lagi-lagi aparat menganggap enteng dan menuliskan agama di luar keyakinan Dewi. Kemudian dia menulis surat ke Lurah Cilandak tertanggal 15 Juni 2010 atas kekeliruan yang dilakukan petugas di sana.

Selain surat, disertakan bukti hidden camera percakapan dengan petugas pembuatan KTP. Setelah itu, baru KTP Dewi dalam kolom agama dikosongkan. “Dalam empat hari, dicetak tiga KTP atas nama saya,” urainya mengenang pembuatan KTP di Jakarta.

Pengalaman lain yang tak kalah menyedihkan ketika dia kehilangan dompet. Untuk mengurus KTP dan ATM yang raib bersama dompet tersebut, Dewi mendatangi kepolisian hendak membuat surat kehilangan.

Tatkala ditanya identitas diri untuk diisi ke form surat kehilangan yang sudah online. Begitu masuk ke kolom agama, polisi kebingungan.

Dewi menjawab bahwa dia penganut kepercayaan. Tapi jawaban itu membuat polisi bingung, karena tidak ada di kolomnya. Dia meminta untuk dikosongkan, dan polisi berkata kalau dikosongkan. Suratnya tak bisa dicetak dan tidak bisa dapat surat kehilangan. “Akhirnya, saya bilang, cari kolom agama yang penganutnya sedikit saja. Polisi pun mengisi Konghucu,” sambung dia.

Belum lagi ketika berbicara soal PNS. Dewi bercerita, beberapa tahun lalu adiknya hendak mendaftar PNS secara online. Namun hal itu urung dilakukan karena dalam form itu hanya tercantum agama yang diakui negara.

Sebenarnya, menurut Dewi, yang diperjuangkan selama ini bukan hanya pengakuan dalam selembar KTP. Penghayat butuh perlindungan tanpa diskriminasi. Menurut di ajika dicantumkan di KTP, maka harus tanpa syarat, karena identitas itu hak mendasar. Apalagi Sunda Wiwitan sudah ada sebelum negara ini berdiri.

“Bahkan leluhur kami ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, meskipun mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan sejak zaman Belanda,” ucap dia.

Genosida
Karena perlakuan tak sepadan dari negara pada kaum penghayat, Dewi memilih berjuang untuk menggapai hak yang terlepas saat itu.

Kesempatan besar itu datang ketika dia menjelaskan kepada hakim konstitusi tentang hak para penghayat yang terlanggar bukan sekadar urusan administrasi. Bukan pula sekadar legalitas formal.

Dewi mengatakan, mereka kerap menerima diskriminasi. Perlakuan yang diterima para penghayat ini bisa memberikan dampak yang buruk bagi kelangsungan warisan leluhurnya. Tanpa legal formal serta seluruh peraturan yang belum terakomodasi dapat menjadi genosida terhadap para penghayat keyakinan ini.

“Menjadi penyebab genosida kultural bila negara tidak segera hadir menyikapi ini,” kata Dewi kepada Validnews, di Jakarta, Jumat (14/9).

Bila pemerintah tetap membiarkan hal ini terjadi maka Indonesia sudah tak lagi menghargai makna dari kebinekaan. Memang Dewi mengakui, tak mudah baginya untuk menyamakan pemahaman dengan pemangku kebijakan.

Meski demikian, ia tanpa henti mengingatkan kepada para pemimpin bangsa mengenai persoalan ini. Mungkin, selama ini pemimpin Indonesia hanya mendengar laporan dari bawahannya mengenai kondisi para penghayat keyakinan ini baik-baik saja. Padahal laporan tersebut berbanding terbalik dengan kenyataannya.

“Buktinya kami masih susah untuk mengurus KTP, akta kelahiran, dan perkimpoian. Akta perkimpoian belum dapat dicatat karena dianggap perkimpoian adat itu belum dapat diakomodasi lewat pencatatan negara,” ungkap dia lirih.

Manalagi, tak semua penganut kepercayaan leluhur ini diidentifikasi sebagai ‘Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa’. Karena setiap aliran kepercayaan lokal memiliki sebutannya masing-masing. Bila diseragamkan, pelan-pelan akan menghilangkan identitas kultural agama tertentu.

Sunda Wiwitan merupakan beradal dari kata Wiwitan yakni ‘asal’ sedangkan Sunda merupakan Suku. Sebenanya, Sunda Wiwitan bukan terpaku pada awal kemunculnya. Melainkan, kesadaran bahwa seluruh manusia ditakrikan beragam. Para penghayat aliran kepecayaan ini didominasi oleh suku Sunda. Namun, mereka tak hanya memahami Sunda sebagai etnis saja.

Kenapa Sunda Wiwitan? Sebab kesadaran spriritual yang dilestarikan para penghayat merupakan kedasaran asal. Seluruh pemeluk keyakinan ini diberikan pendidikan budi pekerti oleh para leluhurnya. Mereka mempercayai, sebelum agama di Indonesia masuk, leluhur etnis Sunda telah memiliki sistem peradaban, nilai religiusitas, tuntunan kehidupan sendiri.

Makanya, Sunda Wiwitan tak beririsan dengan agama mana pun yang ada di Indonesia. Apalagi nilai spiritualitas memiliki definisi yang universal. Tiap ahama mengajarkan kebaikan. Persoalannya, ketika budaya dan agama itu bersinggungan.

Para penghayat Sunda Wiwitan memiliki beberapa kitab suci. Salah satunya Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Kitab ini merupakan sebuah tuntunan yang ditulis langsung oleh leluhur penghayat Sunda Wiwitan.

Selain itu, mereka juga memiliki buku yang dituliskan langsung oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibassa Koesoema Widjaya. Setidaknya, tiap peradaban menjadi tuntunan kehidupan. Kitab lainnya, Amanat Galunggung, yang ditulis sekitar tahun 1200an. Selanjutnya, Sewa Kadarma kita yang berisikan tuntutan perilaku kehidupan.

Selain memiliki kitab sebagai tuntunan hidup, penganut Sunda Wiwitan juga mempelajari khidupan dari alam. Misalnya, bagaimana mereka memaknai filosofi bintang, matahari, hunung. Terkadang, cara ini dianggap kepercayaan animism, dinamisme oleh masyarakat modern. 

“Mungkin saya perlu jelaskan, leluhur kami itu mengajarkan bagaimana menghormati, memaknai filosofi bintang. Bagaimana bintang muncul di malam hari, baik yang cahayanya kurang terang atau terang itulah kitab kunjungan kehidupan,” papar dia.

Itu sebabnya, masyarakat yang memegang hukum adat dianggap seolah-oleh menyembah banyak Tuhan. Padahal, hal tersebut menghargai ciptaan Tuhan. Bagi mereka, cara tersebut merupakan salah satu untuk menghargai penciptanya.

Konsep Sunda Wiwitan berpandangan Tuhan merupakan satu dan menyatu dengan alam semesta. Makanya, ketika memahami hal itu, mereka tidak mungkin menyakiti makhluk hidup yang telah diciptakan Tuhan.

“Kita monoteis, Tuhan itu satu. Kita dengan tambah penjelasan, satu dan menyatu dengan alam,” ucap dia di akhir perbincangan. (James Manullang)

https://www.validnews.id/Dibedakan-N...hayat-Lain-iZY

Emang sudah saatnya agama asli kita diakui resmi
image-url-apps
Udahlah.
Hapus aja kolom agama di kartu identitas.
Dan juga dalam persyaratan birokrasi pemerintahan.
Mau sampe kapan negara ikut campur urusan pribadi orang lain?
image-url-apps
semoga semua
mahluk hidup brbahagia... emoticon-Nyepi
KASKUS Ads
Quote:


Hapus juga kementrian agama yang nyedot APBN puluhan T

Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain

62 T dipakai hal lain seperti pertanian, lingkungan hidup & kehutanan, atau untuk infrastruktur bakal jauh lebih berguna
image-url-apps
Quote:


62t kalo dipake buat modal usaha umkm, atau buat beasiswa orang2 miskin, atau buat subsidi2 yang lainnya, pasti lebih bermanfaat.

Pertanyaannya, relakah masayrakat indonesia kementrian agama nya dihilangkan?
Wong salah ucap aja udah dibui tuh ahok.
emoticon-Ngakak (S)
image-url-apps
Padahal budaya agama padang pasir ya bayar upeti gimana nggak bangkrut Indonesia.
image-url-apps
agama yg diakui kan ada 6. Sama kayak jenis kelamin yang diakui kan ada 2.
Quote:


Sudah pasti nggak ikhlas. Orang Indonesia gitu loh.

emoticon-Leh Uga
image-url-apps
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Nasbung dungu mana paham... Member makin berkurang cuwk emoticon-Ngakak
Quote:


Gak bisa, soalnya harus ada yang ngurus naik haji. Diurus aja banyak masalah, apalagi gak diurus.
Quote:


Quote:


Pertanyaan lebih penting, relakah uang haji puluhan sampai ratusan triliun tiap tahun dikelola swasta? Itu duit bangun infrastruktur bakal darimana?

emoticon-Wow:
Quote:

Emangnya berapa persen pembiayaan infrastruktur dari dana haji sampai loe aku aku ? Kejauhan banget omongan loe uang tabungan loe anggap uang pembayaran. Apalagi ni haji disubsidi klo ma swasta pasti gak semurah ini. Apalagi duitnya bukan dikasih saudara senegara tetapi diupetikan ke Padang pasir gimana gak bangkrut.
image-url-apps
Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain

Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain

Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain

Dibedakan Negara, Perjuangan Belum Tuntas Dewi Kanti dan Penghayat Lain
image-url-apps
Memang sulit buat org bodoh menerima kenyataan adanya Penghayat Kepercayaan ini apapun namanya
image-url-apps
Sejak awal berdiri memang tidak diakui, kenapa pulak ngotot kapingin diakui.

emoticon-Tai emoticon-anjing

Memang ikut andil apa dalam perjuangan negara ini?
Quote:


Agama asli pribumi dibilang gak ikut andil? Loe Malah bilang yang import lebih baik?
image-url-apps
bodoamatlah
×