alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9c5a0ddad77037028b4577/kenapa-ekonomi-tahun-ini-sulit-tumbuh-54-persen

Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen

Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen
Ilustrasi gambar. Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek di Jalan MT Haryono, Jakarta, Selasa (21/8).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 tidak akan mencapai 5,4 persen. Artinya, pertumbuhan ekonomi tak akan sesuai target awal yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menyebut beberapa alasan atau faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tahun ini, salah satunya adalah masih besarnya ketidakpastian global--terutama bagi perekonomian negara-negara berkembang atau dunia ketiga. Alhasil, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini hanya tumbuh pada kisaran 5,14-5,21 persen.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menyebutkan, berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada kuartal II lalu banyak importir memilih untuk menunda impor akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Hal ini dinilai sebagai risiko yang melambatkan (downside risk) sehingga berpengaruh terhadap produktivitas investasi.

"Downside risks-nya adalah kemungkinan growth bisa meleset ke 5,15 persen karena impor makin melemah akibat depresiasi rupiah. Investasi dan konsumsi akan terpengaruh. Kalau itu terjadi, ekonomi turun ke 5,15 persen," ujar Sri Mulyani dilansir dari Antaranews, Jumat (14/9/2018).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, juga pesimistis jika tahun ini ekonomi bisa tumbuh sesuai harapan. Mantan Gubernur Bank Indonesia itu menjelaskan, banyak tekanan eksternal yang memengaruhi perilaku para pelaku usaha.

Tekanan tersebut berasal dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS The Federal Reserve yang diperkirakan hingga empat kali pada tahun ini, perang dagang antara AS-Tiongkok, serta krisis keuangan di Turki dan Argentina.

"Pertumbuhan ekonomi kenaikannya pelan tidak bisa terburu-buru, pada 2018 pertumbuhan ekonomi 5,4 persen susah," ujar Darmin dalam Okezone.

Sementara dari dalam negeri, energi pendorong ekonomi pada sisa kuartal tahun ini semakin menipis.

Menurut Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, penyebab pertama adalah kinerja ekspor Indonesia tahun ini tidak secemerlang yang diharapkan. Pelemahan ekspor tahun ini secara otomatis akan mengurangi bobot kontribusi ke pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2018 mencatat defisit 2,03 miliar dolar atau setara Rp29,6 triliun. Posisi ini memburuk dibanding bulan Juni 2018 yang sempat mencatat surplus 1,74 miliar dolar atau Rp15,6 triliun.

"Kita ketahui ekspor agak tertahan karena permintaan dari luar negeri tidak sebaik dari yang diperkirakan, akibatnya satu komponen berkurang," ujar Lana kepada Beritagar.id, Jumat (14/9).

Kedua, laju pertumbuhan realisasi investasi pada kuartal III dan IV tahun ini tidak lagi sekencang awal tahun.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) aliran investasi yang masuk ke Indonesia pada kuartal ke II 2018 hanya tumbuh 5,87 persen. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan kuartal ke I 2018 yang sebesar 7,95 persen.

Lana menilai, melambatnya investasi pada kuartal terakhir sebagai dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya tensi perang dagang. "Jadi dua komponen itu (ekspor dan investasi) tidak bisa diharapkan untuk mendongkrak ekonomi," katanya.

Menurutnya, sisa tenaga untuk mendorong ekonomi tahun ini hanya berasal dari pos belanja yang dilakukan oleh pemerintah. Lana menilai pemerintah belum optimal membelanjakan anggaran dan menstimulus ekonomi daerah.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan, realisasi belanja negara hingga akhir bulan lalu hanya tumbuh 8,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa berharap banyak terhadap Bank Indonesia (BI) untuk membantu stimulasi ekonomi domestik. Pasalnya, saat ini bank sentral tengah fokus pada tugas stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Dalam Undang-Undang Bank Indonesia, mendorong pertumbuhan ekonomi itu bukan tugas utama bank sentral," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Lana memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan mencapai 5,08-5,1 persen. Lebih rendah dari prediksi pemerintah. Ia menyarankan pemerintah untuk lebih realistis melihat kondisi ekonomi yang terjadi saat ini dan tidak memasang target terlalu muluk.

"Kita masih tumbuh 5 persen itu sudah bagus. Hanya, target pemerintah saja yang ketinggian. Kalau dari awal kita tidak diiming-imingi target pertumbuhan tinggi, pencapaian ekonomi kita masih oke," ungkapnya
Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...mbuh-54-persen

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen Debat capres, kerja sama Korsel, hingga suara Golkar

- Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen Penangguhan penahanan Nur Mahmudi Ismail

- Kenapa ekonomi tahun ini sulit tumbuh 5,4 persen Debat capres dalam bahasa Inggris langgar undang-undang



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di