alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9bbca2ddd77096058b456c/riding-to-jannah

Riding to Jannah



Profil Penulis :
  • Callsign: Neopo
  • Sosial Media: Instagram, Whatsapp, Kaskus (by request)
  • Software: Microsoft Word 2013
  • Pembuatan: September 2018
  • Menulis karena mencintainya


Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful. Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah. I want love that will say: "Not even death will do us part, because we'll be reunited in jannah, insyaallah”

Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.


Tokoh :
  • Ardian - Aku, pria dengan tinggi 176cm yang hobinya main motor
  • Azril Riswan - Sahabat sejak kuliah, beda jurusan tapi masih satu fakultas
  • Elriko - Kenalan saat pertama kali touring, so cool but nice guy
  • Dina Resti - Bagiku dia perfect, tetapi sedikit cerewet
  • Alyssa Erica - Gadis cerdas dan sangat mempedulikan lingkungannya
  • Rofila Afifah - Kakakku yang cantik, cerewet tapi selalu bisa jaga adik-adiknya
  • Nuri Freska - Adikku yang sangat manja, segalanya harus dituruti, tapi ia juga penurut
  • Raden Dimas - Sometime good guy, sometimes bad guy (dalam arti sifat, bukan tindakan menyimpang)
  • Lutvia Anissa - Mantan Dimas, pendiam, baik hati
  • Linda Aurelia - Agak pendiam, hobinya nyanyi dan yang penting, seksi hahaha



profile-picture
profile-picture
herawanadityo dan ZayDoank07 memberi reputasi
Diubah oleh neopo

Part 27 - Tentang Dina

Saat itu juga aku mendapat chat dari Alyssa. Ia bertanya keberadaanku.
Alyssa: Ardi, kamu dimana? Hujannya gede banget
Aku: Aku lagi neduh kok
Alyssa: Kamu hati-hati
Aku: Iya. Kamu udah makan?
Alyssa: Udah kok sama Nuri. Kamu hati-hati
Aku: Iya pasti.

Seketika pesananku datang, aku langsung menikmati hidangan yang disajikan.
Reka: Gimana? Udah ada kabar dari cewe lo?
Aku: Alhamdulillah udah.
Reka: Alhamdulillah kalau gitu. Baik-baik aja kan?
Aku: Iya, ia baik. Hanya sedikit berbeda
Reka: Beda gimana?
Aku: Nanti deh, kalau ada waktu dan tempat, gue kenalin.
Reka: Emm okey . . . Oh iya, terus ga ada kabar itu gimana?
Aku: Kecelakaan, pesawat.
Lukman: Hah? Serius? Kapan?
Aku: Kecelakaan terakhir di kita aja
Reka: Tapi dia baikkan?
Aku: Iya
Reka: Syukur deh kalau gitu.

Aku yang fokus dengan makananku, sementara Reka dan Lukman sedang mengobrol, entah apa yang diobrolan. Tetapi aku sempat mendengar ia mengucap tentang “ceweknya Ardi” yang dimaksud adalah Alyssa. Siapa lagi.
Reka: Di, boleh nengok cewek lo?
Aku: Hah? Secepet itu? Emang ga ada kegiatan lain?
Lukman: Ga ada sih. Malah kita baru selesai
Reka: Tapi kalau ga boleh juga gapapa sih
Aku: Yaudah serah lo aja.

Setelah makan, kulihat hujan sudah sedikit mereda, namun air hujan masih saja menetes dari langit. Dengan mengenakan jas hujan, aku kembali kerumah Alyssa, diikuti Lukman yang membonceng Reka. Setibanya aku dirumah Alyssa, aku disambut oleh Nuri yang berdiri didepan pintu.
Nuri: Kakak kok hujan-hujanan?
Aku: Iya kan lagi hujan hehe
Nuri: Yeeh. Itu siapa kak?
Aku: Temennya Dina.
Nuri: Oh, iya suruh masuk kak
Aku: Masuk aja.
Reka: Iya makasih.

Kamipun masuk. Kulihat Alyssa sedang duduk menghadap televisi. Aku menghampirinya, dan kupegang pundaknya. Ia sedikit kaget ketika aku datang.
Alyssa: Udah pulang? Kamu hujan-hujanan? *sambil memegang wajahku yang sedikit basah
Aku: Gapapa kok. Ada temen didepan
Alyssa: Siapa?

Aku mengajaknya untuk ke ruang tamu dimana Lukman dan Reka sudah menunggu. Sementara Nuri membuatkan minum untuk mereka.
Reka: Inikah Alyssa?
Aku: Iya.

Aku menuliskan nama mereka dari handphoneku. Alyssa mengangguk memahami apa yang aku maksudkan.
Reka: Ga nyangka yah
Aku: Apaan?
Reka: Ya, lo bisa dapet cewek secantik dia hahaha
Aku: Gue gitu haha
Alyssa: Kamu kenal mereka darimana?
Aku: Reka ini temennya Dina. Waktu itu ga sengaja ketemu Dina sama Reka lagi di kafe favorit kita
Alyssa: Ooh okey.
Aku: Mereka mau nengokin kamu

Alyssa tersenyum dikala itu. Reka banyak bertanya tentang Alyssa, tetapi dengan keadaan Alyssa sekarang, agak sedikit sulit berkomunikasi dengannya. Rasanya malah seperti wawancara tertulis. Waktu berlalu. Hujan sudah mulai reda. Lukman dan Reka memutuskan untuk pulang. Beberapa hari kemudian, Alyssa tak ikut denganku ke kampus karena sedang tidak ada jadwal. Pada sore hari setelah aku pulang kuliah, aku berniat membeli makan untuk kak Afifah dirumah. Namun seperti biasa, sebelum aku pulang kerumah, aku kerumah Alyssa untuk melihat keadannya. Setelah shalat magrib, aku sedang mengerjakan tugas di kamarku. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku
Aku: Siapa?
Dia: Ini kakak
Aku: Masuk aja kak, ga dikunci
Afifah: Kamu lagi sibuk de?
Aku: Ngerjain tugas aja kak. Kenapa?
Afifah: Engga kok. Tumben rajin hehe
Aku: Buset . . selama ini kan rajin
Afifah: Iya deh. Oh iya, kita jadi kan liburan ke pantai?
Aku: Iya kak, insyaAllah.
Afifah: Ga akan ajak Alyssa?
Aku: Emm kan keluarga kak
Afifah: Ya gapapa sih ajak aja. Aku kasian sama dia. Dengan keadaannya yang sekarang, pasti dia masih terasa tertekan.
Aku: Tapi kan
Afifah: Udah ga usah pake tapi. Kalau mau ajak, ajak aja. Siapa tau dia jadi anggota keluarga kita hehehe
Aku: Aamiin
Afifah: Cieee hehehe. Kuliah dulu yang bener
Aku: Ish godain aja terus. Iyalah, kuliah dulu
Afifah: Ajak aja yah
Aku: Iya deh kak

Waktu menunjukkan jam 10 malam. Tugas kuliahku sudah aku selesaikan. Baru saja aku hendak merebahkan tubuh lelah ini di kasur, tiba-tiba ada telefon masuk. Kulihat nama di layar tertulis “Dina”
Aku: Hallo, assalamualaikum
Dina: Waalaikumsalam. Di, lo lagi dimana?
Aku: Dirumah. Kenapa?
Dina: Lo lagi sibuk ga?
Aku: Mau tidur sih. Emang kenapa?
Dina: Gue mau minta tolong
Aku: Minta tolong apa? Gue cape Din
Dina: Plis . . . Azril ga bisa dihubungin. Dimas, boro-boro. Lo doang nih untung bisa dihubungi
Aku: Tolong apaan sih?
Dina: Tolong jemput gue
Aku: Lah? Emang lo lagi dimana?
Dina: Gue di klub di deket Braga. Lo bisa kesini ga?
Aku: Aduuh, gimana yah
Dina: Pliss . . .
Aku: Yaudah tunggu, 20 menit gue sampai sana
Dina: Okey, makasih ya. Maaf repotin. Lo hati-hati
Aku: Iya iya

Aku juga meminta izin pada Alyssa untuk menjemput Dina, agar tidak ada salah paham diantara kami berdua. Dan Alyssa mengizinkan aku untuk pergi. Karena sudah cukup larut, jalanan sudah agak kosong sehingga aku mengebut. Aku mengejar waktu agar tidak terlalu malam nantinya. Setibanya di daerah Braga, aku menepikan motorku dan menghubungi Dina. Tetapi saat aku hendak menelfonnya nomornya tak aktif. Kenapa pula ini anak? Aku coba menunggunya, dan kembali menghubunginya. Tetapi nomornya tetap ga aktif juga. Apa Dina mencoba mengerjaiku? Entahlah. Aku memutuskan untuk kembali menunggunya selama lima belas menit.
Seseorang: Ardi
Aku: Dina? Kemana aja sih, gue hubungi . . .
Dina: Ayo jalan Di. Cepet
Aku: Sabar Din. Ini helmnya pake dulu
Dina: Udah ajalan dulu cepeeet ! ! !

Ia terlihat sangat panik. Aku mengikuti permintaanya dan segera pergi. Sempat aku dengar ada yang berteriak, tetapi aku tak terlalu menghiraukannya. Seketika beberapa meter aku berhenti dan memakaikannya helm.
Aku: Lo kenapa sih?
Dina: Tadi atasan gue. Gue ga dibolehin pulang dulu
Aku: Atasan? Lo kerja?
Dina: Iya sebenernya.
Aku: Lo kerja apa?
Dina: Ada. Kapan-kapan lah gue cerita. Makasih ya. Maaf gue jadi repotin lo
Aku: Iya emang repotin
Dina: Gitu banget iiih
Aku: Bercanda.
Dina: Gimana Alyssa?
Aku: Udah pulang Din
Dina: Bisa berhenti sebentar?
Aku: Ada apa lagi Din? *sambil menepi
Dina: Sebenernya, waktu gue ajak lo kerumah gue, setelah lo pulang Alyssa nemuin gue
Aku: . . . . . *aku menatapnya heran
Dina: Gue tau keadaan dia saat itu. Pada awalnya gue mau kasih tau lo. Tapi gue ga tega. Dia minta gue buat jangan ngasih tau lo
Aku: Kenapa lo ga bilang ke gue?
Dina: Permintaan dia
Aku: Lo tau gimana khawatirnya gue sama dia?
Dina: Gue tau, tapi
Aku: Lo sembunyiin dari gue??? *ucapku sedikit meninggi.

Dina nampak terdiam. Ia sedikit kaget ketika itu. Tapi kenapa Dina begitu menyembunyikannya? Bukan langsung memberitahuku? Meski jarak setelah aku bertemu dia dan Alyssa tak terlalu jauh.
Dina: Ardi, maafin gue
Aku: Yaudah lah, lupain aja. Ga penting
Dina: Di? Lo marah sama gue?
Aku: Gue anter lo pulang
Dina: Gue turun disini aja *ucapnya sedikit pelan sambil turun dari motorku
Aku: Kenapa?

Aku sedikit kaget melihat ia nampak sedikit gemetar sambil tertunduk. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan sesekali ia mengusap matanya.
Aku: Lo nangis?
Dina: Engga. Udah lo pulang aja. Gue sendiri aja. Mungkin bakal nemu taksi
Aku: Jangan gitu. Oke gue minta maaf udah bentak lo tadi.
Dina: Ga, Di. Lo ga salah. Gue yang salah. Dan wajar kalau lo marah.
Aku: Yaudah, gue minta maaf. Udah ayo naik
Dina: Gue gamau repotin lo lagi, Di
Aku: Lo ngomong apa sih. Udah ayo naik. *aku menariknya dan diapun naik
Aku kembali menjalankan motorku menuju rumah dina. Baru berapa meter saja, hujan turun. Kenapa harus hujan di jam-jam malam seperti ini.
Dina: Di, lo ga bawa jas hujan?
Aku: Engga Din. Gue kira ga bakal hujan
Dina: Yaudah, kita berhenti dulu aja di minimarket situ.

Aku mengikuti sarannya dan segera menepi untuk berteduh. Waktu sudah begitu larut, udarapun dingin. Ditambah lagi hujan menambah suhu udara semakin dingin. Jika aku menembus, tentu akan sangat membahayakan. Hujan ini tak terlalu deras, namun tak terlalu kecil juga. Hanya saja, bisa aku lihat jarak pandang menjadi terbatas. Dina tak banyak berbicara lagi setelah kejadian tadi. Aku merasa tak enak padanya. Aku baru sadar kalau Dina hanya mengenakan baju lengan panjang tanpa memakai jaket.
Aku: Lo ga bawa jaket?
Dina: Engga
Aku: Yaudah, lo pake jaket gue aja
Dina: Jangan lah. Nanti lo yang dingin. Lagian kan di motor lo didepan pasti keanginan
Aku: Engga, gue pake rompi didalem
Dina: Ga usah Di. Tar lo sakit
Aku: Udah pake, ga usah bawel
Dina: Iya deh.

Dina mengambil jaketku dan memakainya. Agak sedikit besar memang untuk tubuhnya yang hanya memiliki tinggi sekitar 157cm. Sebenarnya aku tak benar-benar memakai rompi. Bahkan hanya kaos saja. Tapi aku sudah terbiasa dengan udara dingin. Waktu menunjukkan jam setengah 12 malam. Hampir tengah malam dan hujan masih saja turun.
Aku menelfon kak Afifah untuk mengabari kalau aku pulang terlambat karena sedang berteduh.
Dina: Di, hujannya ga berhenti
Aku: Iya tumben hujan malem lama gini
Dina: Gue ngantuk Di
Aku: Emang lo doang yang ngantuk. Mau tembusin aja apa gimana?
Dina: Lo yakin? Lo pake jaket lo lagi aja kalau gitu
Aku: Engga, lo aja pake. Gue udah biasa kok
Dina: Ih jangan lah. Kalau lo sakit gue ga enak
Aku: Lo penumpang gue. Lo tanggung jawab gue.
Dina: Ih lo maah
Aku: Tembusin aja yuk
Dina: Yakin?
Aku: Iya
Dina: Tapi hati-hati ya. Pelan juga gapapa biar lo ga dingin
Aku: Udah ga udah pikirin gue.

Pada akhirnya, kami nekat untuk menembus hujan malam itu. Kendaraan satu persatu mulai hilang dan jalananpun sangat sepi. Dina berpegangan begitu erat. Mungkin lebih ke memeluk karena udara benar-benar dingin dan aku sedikit cepat.
Dina: Di, pelan-pelan aja
Aku: Iya Din

Jam 12 kurang, kami tiba dirumah Dina. Pakaian kami basah karena hujan tadi.
Dina: Di, masuk dulu
Aku: Ga usah, gue pulang aja Din. Udah malem
Dina: Udah lo masuk dulu. Lo keringin badan dulu. Urusan keluarga lo, ataupun Alyssa gue yang bilang ke mereka.
Aku mengikuti saran Dina saja. Dina membawakan handuk untukku dan bibi membuatkan teh hangat untuk kami berdua.
Dina: Makasih banyak ya, bi. Bibi istirahat aja. Nanti biar aku yang kunci pintu
Bibi: Iya neng

Aku beristirahat sejenak sambil menunggu hujan mereda. Pakaianku benar-benar basah semua. Waktu menunjukkan tengah malam. Dan hujan sudah mulai mereda namun masih turun.
Aku: Lo kerja apaan sih? Terus katanya lo tadi di klub. Klub mana?
Dina: Gue jadi pelayan disitu
Aku: Ooh kirain
Dina: Kirain apaan??
Aku: Ya kirain .....
Dina: Lo pasti mikir gue kerja yang aneh-aneh yah
Aku: Engga juga haha. Terus kenapa tadi kaya yang panik gitu?
Dina: Atasan gue minta gue untuk nemenin dia dulu. Tapi gue ga mau.
Aku: Maksud nemenin?
Dina: Dia pengen gue jadi lady escortnya dia.
Aku: Kenapa lo mau kerja ditempat kaya gitu?
Dina: Gue butuh uang, Di. Dan atasan gue menjamin. Gue bisa masuk kesana karena temen gue. Tapi dia ga pernah macem-macem. Cuma suka minta temenin kalau lagi main Biliar. Dia bilang gue adalah keberuntungan dia
Aku: Lo ga mau cari kerja ditempat lain?
Dina: Kalau gue udah dapet, gue pasti keluar
Aku: Orang tua lo tau?
Dina: Mereka hanya tau gue kerja di restoran
Aku: Orang tua lo kemana?
Dina: Mereka lagi mudik, Di.
Aku: Okey
Dina: Lo jangan bilang siapapun tentang ini ya
Aku: Iya

Setelah mengeringkan tubuh, aku hendak pulang kerumahku. Dina meminjamkan salah satu jaketnya padaku. Pada awalnya ia menawarkan untuk menginap saja karena sudah terlalu malam. Tetapi aku menolak karena kak Afifah sudah menungguku sedari tadi.
Dina: Lo hati-hati
Aku: Iya. Gue balik ya. Assalamualaikum
Dina: Waalaikumsalam

Setibanya dirumah, kak Afifah menyambutku. Ia langsung menghujaniku dengan seribu pertanyaan. Tetapi dengan apa yang terjadi malam ini, aku ceritakan saja. Kak Afifahpun mengerti dan menyuruhku membersihkan diri lalu istirahat karena besok aku ada kuliah. Keesokan harinya aku terbangun dipagi hari dan bersiap untuk menjemput Alyssa. Aku merasa tubuhku masih sedikit berat, mungkin karena terlalu lelah kemarin. Mataku sedikit perih, dan ubun-ubunku terasa sedikit sakit.
Afifah: Kamu gapapa dek? Kamu kaya agak pucat gitu
Aku: Gapapa kak. Aku berangkat ya
Ibu: Lhoo ga sarapan dulu?
Aku: Nanti aja bu. Ardi berangkat. Assalamualaikum

Sedikit pusing memang, tapi aku rasa aku masih sanggup. Setibanya aku dirumah Alyssa, Nuri langsung salim padaku sebelum akhirnya berangkat sekolah.
Alyssa: Ayo *Alyssa mengajakku
Aku: Yuk
Alyssa: Kamu kenapa?
Aku: Gapapa kok

Kami berangkat ke kampus. Aku membawa motor sedikit pelan karena kepalaku sudah mulai terasa pusing. Tapi akhirnya kami tiba dikampus, dan seperti biasa aku mengantar Alyssa ke kelasnya.
Alyssa: Makasih *katanya tersenyum manis
Aku: Chat aja kalau udah pulang. Nanti aku jemput

Alyssa mengangguk. Akupun kembali berjalan ke kelasku. Selama kuliah, aku tak terlalu konsentrasi terhadap pelajaran.
Gilang: Di, lo kenapa? Pucet banget dah
Aku: Pusing gue.
Gilang: Ke klink kampus aja Di. Jangan dipaksain
Aku: Iya nanti abis matkul ini
Gilang: Lagian lo sakit pake sok kuliah. Istirahat aja dirumah
Aku: Cuma gini doang Lang
Gilang: Iyalah serah lu.

Setelah selesai matkul, aku berjalan menuju klinik kampus yang letaknya agak lumayan jika ditempuh jalan kaki. Tetapi aku sampai disana. Aku beristirahat disebuah ruangan dan tanpa aku sadari, aku malah tertidur disana. Ketika aku terbangun, kulihat ada seseorang sedang duduk di kursi. Dia menatapku ketika aku terbangun.
Alyssa: Kamu kenapa
Aku: Aku gapapa
Alyssa: Kamu sakit
Aku: Aku cuma pusing aja. Besok juga sembuh kok.
Alyssa: Ke dokter ya
Aku: Ga usah Lis
Alyssa: Kita pulang naik taksi. Motor kamu nanti dibawa sama temen kamu
Aku: Siapa?
Alyssa: Gilang
Gilang: Dah motor sama gue, sama Ardan. Lo pake taksi aja. Anak-anak udah bilang lo sakit *tiba-tiba datang
Aku: Ga usah lah
Gilang: Cewek lo nyuruh gitu. Gue ga berani ah hahaha. Yaudah gue sama Ardan ke kelas dulu. Nanti kalau kuliah beres, gue langsung kerumah lo
Aku: Yaudah thanks
Alyssa: Kamu nurut sekarang
Aku: Iya iya. Kamu kenapa dateng ke kelas?

Alyssa mengeluarkan HPnya dan menunjukkan chatnya padaku yang belum sempat aku balas.
Alyssa: Aku khawatir
Aku: Maaf udah bikin kamu khawatir.
Alyssa: Gapapa. Yuk. Taksinya udah didepan

Kami berjalan menuju taksi. Barang-barangku di kelas dibawakan kemari oleh Gilang dan Alyssa. Selama perjalanan, aku tak banyak bicara. Alyssa nampak menjagaku. Setibanya kami dirumahku, kami masuk dan Alyssa menemaniku hingga aku sampai di kamar.
Ibu: Lhoo . . kamu kenapa nak?
Aku: Cuma pusing aja bu
Ibu: Pasti gara-gara tadi pagi ga sarapan ya
Aku: Gapapa kok bu.
Ibu: Kita ke dokter ya
Aku: Ga usah bu. Besok juga udah enakan.
Ibu: Yaudah, nanti ibu nitip obat sama kakak. Kamu istirahat aja
Aku: Iya bu.
Ibu: Ibu titip Ardi ya *ucap ibu pada Alyssa

Alyssa mengangguk menanggapi jawaban ibu. Bagaimana caranya? Alyssa membaca gerakan mulut ibuku. Alyssa membantu melepas jaketku dan bahkan ia mencoba melepas sepatuku.
Aku: Eh, jangan jangan. Aku buka sendiri aja
Alyssa: Oh iyah *katanya mengangguk tersenyum kemudian keluar dari kamarku

Aku benar-benar dibuat kaget dengan sikapnya. Aku rasa hal tadi sedikit berlebihan. Sudah cukup aku merepotkan Alyssa. Aku tak ingin terlihat seperti memperbudak dia. Seketika Alyssa kembali membawakan secangkir teh untukku. Kemudian ia duduk disampingku
Aku: Makasih banyak
Alyssa: Kamu cepet sembuh
Aku: Iya, aku pasti sembuh
*Cupp . . . Alyssa mencium keningku.

Aku sedikit kaget, kemudian ia tersenyum manis padaku. Sore hari, aku duduk diruang tengah ditemani Ayah yang baru saja pulang dan Alyssa. Tak lama kemudian kak Afifah pulang datang bersama Nuri.
Nuri: Assalamualaikum kak *sambil salim padaku
Afifah: Kamu ini, mau liburan malah sakit
Aku: Siapa sih yang mau sakit kak. Malah diomelin
Afifah: Hehe bercanda. Udah makan?
Aku: Udah tadi
Afifah: Yaudah sekarang diminum obatnya.
Nuri: Oh iya kak, weekend nanti, kita mau liburan. Kakak ikut yah *katanya pada Alyssa
Alyssa: Aku? Ikut?
Afifah: Iya, kamu ikut ya
Alyssa: Emm baiklah *sambil mengangguk

Malam hari, kami masih berkumpul di ruang tengah. Kebersamaan inilah yang membuatku merasa lebih baik. Sedang kami menikmati malam ini, ada seseorang mengetuk pintu rumahku. Nuri keluar untuk memeriksanya.
Nuri: Kak, ada temennya tuh
Aku: Siapa?
Nuri: Kak Dina

profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 6 lainnya memberi reputasi

Part 26 - 13 April (Bagian Dua)

Aku benar-benar menatap Alyssa. Aku memegang kedua pipinya dan menghapus airmatanya.
Aku: Lisa, kamu kemana aja
Alyssa: . . . . *ia tak bersuara
Aku: Ada apa dengan kamu Lis?
Aku melepas pelukannya. Aku lihat lelaki yang menyapaku tadi menghampiri aku dan Alyssa.
Aku: Mas siapa?
Dia: Saya David. Saya temannya Alyssa
Aku: Ada apa dengan dia?
David: Lebih baik kita bawa Alyssa pulang dulu. Nanti saya ceritakan dirumah

Akupun merangkul Alyssa dan mengantarkannya pulang bersama David. Selama perjalanan, aku tak mendengar apapun dari Alyssa. Ia hanya terdiam, bahkan ketika aku ingin menatapnya, ia seolah menghindari tatapan mataku. Beberapa saat kemudian, kami tiba dirumah Alyssa. David membuka kunci pintu sedangkan aku tetap merangku Alyssa dan membawanya duduk disofa.
Aku: Mas ini siapanya?
David: Saya temennya. Saya dari Bali dan kebetulan lagi tugas di Bandung
Aku: Lalu mas tau apa yang terjadi dengan dia?
David: Yang saya dengar dari ayahnya Alyssa,


Boeing 737 Lands in the Water Before Touchdown | Blind Landing | Lion Air Flight 904


Quote:


Aku: Lalu apa yang terjadi dengan Alyssa?
David: Aku juga mendengar, kalau Alyssa sempat terbentur, hingga kini pendengarannya terganggu, tapi aku tak tahu pastinya seperti apa
Aku: Maksudnya?
Alyssa: Aku tuli *bisa kulihat dari bibirnya
David: Kalau begitu saya pamit dulu ya
Aku: Terima kasih mas, sudah menjaga Alyssa
Alyssa: Terima kasih
David: Sama-sama. Saya pamit ya. Assalamualaikum

Mas Davidpun pergi meninggalkan aku dengan Alyssa berdua saja. Alyssa masih tak berani menatapku. Aku benar-benar tak tahu kalau Alyssa sampai mengalami hal seperti itu. Mungkin jika aku menyaksikan berita di TV mungkin aku akan tahu mengenai Alyssa pada tanggal 13 April lalu. 13 April, dimana pesawat yang Alyssa tumpangi saat itu gagal mendarat. Aku memegang pundak Alyssa dan kembali menatapnya.
Aku: Sudah tak apa Alyssa
Alyssa: Aku malu, Di *katanya dari gerakan bibirnya
Aku: Untuk apa malu?
Alyssa: Aku ga sempurna Di

Aku memeluknya. Ia membalas pelukanku. Aku membiarkannya untuk tenang dulu. Sampai akhirnya ia berhenti menangis. Aku lihat ia mengetikkan sesuati di handphonenya. Kemudian setelah selesai ia tunjukkan padaku.
Alyssa: Kondisiku sekarang tak sempurna. Kamu pasti bakal ninggalin aku kan?
Aku: Aku ga akan ninggalin kamu Lis.
Alyssa: Tapi aku kaya gini Di
Aku: Kamu tetap kamu. Ini hanya cobaan Lis. Dan aku ga akan merubah keputusanku untuk terus sama kamu
Alyssa: Aku udah ninggalin kamu, dan ga ngabarin kamu
Aku: Lis, musibah ga ada yang tau. Sekarang kan kamu ada disini.

Alyssa nampak terdiam seraya menatapku begitu dalam. Sejujurnya, aku tak marah, aku khawatir. Dan yang aku khawatirkan terjadi. Terjadi sesuatu yang buruk pada Alyssa. Seperti ucapanku tadi, Alyssa tetaplah Alyssa. Apapun keadaannya ia akan tetap menjadi Alyssa. Justru disaat seperti inilah Alyssa akan membutuhkan banyak dukungan.
Alyssa: Apa aku akan sembuh? *katanya lewat tulisan
Aku: InsyaAllah kamu akan sembuh Lis.
Alyssa: Kamu ga malu?
Aku: Untuk apa aku malu? Aku punya kekasih yang benar-benar mampu menjaga komitmen.
Alyssa: Tapi David?
Aku: Kan dia yang bilang sendiri kalau dia hanya teman
Alyssa: Aku beruntung memiliki kamu
Aku: Tidak Lis. Akulah yang beruntung punya wanita kuat sepertimu

Hari itu aku benar-benar menghabiskan waktuku bersama Alyssa. Aku menemaninya. Aku ingin bisa selalu menjaganya. Apalagi kondisinya sekarang seperti ini. Mungkin orang akan menganggapku aneh, kok mau punya pacar yang (maaf) “tuli”. Tetapi dia adalah Alyssa. Alyssa yang aku suka. Dan ia akan tetap menjadi Alyssa yang aku sukai. Aku tak akan peduli dengan ucapan orang-orang. Jika kamu meninggalkan seseorang yang menyayangimu hanya karena kamu menemukan ketidaksempurnaannya, kamu adalah orang jahat.

Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Alyssa, Alyssa kembali mengajak Nuri untuk tinggal dirumahnya, tentu dengan izin dari kedua orangtuaku. Nuripun dengan senang hati menerima ajakan Alyssa. Darisitulah Nuri mulai belajar dan mengajariku mengenai cara komunikasi dengan seseorang seperti Alyssa. Dan Alyssapun kembali mengikuti aktivitas kuliah seperti biasa. Komunikasiku dengan Alyssa kini sedikit berbeda. Terkadang Alyssa mengajarkanku bahasa isyarat, dan terkadang lewat tulisan dari handphone atau kertas

Hari itu aku mengantarkan Alyssa hingga ke kelasnya. Alyssa nampak seperti terfikirkan sesuatu. Aku melihatnya seperti sedang melamun, meskipun ia berjalan sambil menggandeng tanganku. Sampai akhirnya kami tiba di fakultasnya.
Aku: Lis?
Lisa: Eh, ada apa?
Aku: Kelasnya dimana?
Lisa: Emm disana *sambil menunjuk

Setibanya kami di kelas Alyssa, ada seorang perempuan menghampiri kami. Sepertinya ia adalah teman Alyssa, karena ia menyapa kami begitu ramah.
Dia: Alyssa
Alyssa: . . . . *hanya tersenyum
Dia: Kemana aja Lis
Alyssa: . . . . *hanya tersenyum juga
Aku: Alyssa sekarang berbeda
Dia: Maksudnya?
Aku: Dia ga bisa mendengar *sedikit berbisik
Dia: Hah? Serius? Kok bisa?
Aku: Kecelakaan pesawat
Dia: Astagfirullah . . . Lis, lo kenapa? Lo baik-baik aja kan? *katanya sambil memegang pundak Alyssa
Alyssa: Gapapa *sambil mengangguk dan tersenyum
Aku: Gue titip dia ya
Dia: Pasti kok tenang aja. Oh iya, gue Indri
Aku: Gue Ardi. Yaudah, gue juga mau ke kelas dulu.
Dia: Iya oke . . .
Aku: Kamu jaga diri *ucapku sambil mengusap rambut Alyssa
Alyssa: Iya *jawabnya mengangguk

Ya, aku sangat senang kalau Alyssa memiliki teman-teman yang baik dan peduli terhadapnya. Sore itu, setelah aku mengantar Alyssa pulang, aku langsung pamit untuk pergi. Ada sparepart motor yang ingin aku beli. Sementara Alyssa kutinggalkan bersama Nuri dirumahnya. Sebenarnya Alyssa melarang karena langit sudah terlihat mendung dan mungkin akan turun hujan. Tetapi aku tetap saja pergi, karena dikhawatirkan nanti ga ada waktu.

Setelah aku mendapatkan apa yang aku cari, aku segera lekas pulang. Tetapi sepertinya langit menghalangiku untuk pulang. Hujan mulai turun disore itu membasahi kota Bandung. Aku menepikan motorku sebentar untuk mengenakan jas hujan. Karena hujan terlalu deras, aku memutuskan untuk beristirahat dulu. Agak berbahaya berkendara dengan jarak pandang yang pendek, ditambah lagi jalanan yang mulai licin. Merasa lapar, aku membeli bakso didekat situ dan memutuskan untuk makan dulu.
Aku: Mas bakso satu porsi
Mas Mas: Siap Jang
Seseorang: Lo Ardi kan? *ucap seseorang disampingku
Aku menoleh kesamping dan kudapati seseorang yang aku kenal belum lama ini.
Aku: Lo itu . . . emmm . . . temennya Dina. Reka kan?
Reka: Iya hehe. Masih inget aja
Aku: Lo makan disini juga?
Reka: Iya nih. Eh iya, kenalin ini cowokku, Lukman
Lukman: Halo. Gue Lukman
Aku: Ardi

profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 6 lainnya memberi reputasi

Part 31 - Jalan Cerita

Setibanya dikampus, kami berjalan menuju ruang dosen. Kulihat pandangan Nuri terpaku pada satu titik, ke arah taman fakultas. Percakapan terjadi diantara Nuri dan gadis itu menggunakan bahasa Sunda. Namun saya akan tulis dengan bahasa Indonesia saja
Aku: Kenapa de?
Nuri: Itu kak, ada anak kecil jualan. Kita samperin yuk
Aku: Emm, ayok

Kami menghampiri gadis kecil itu. Gadis kecil yang pakaiannya sedikit lusuh, pake jilbab.
Nuri: Adik jualan apa?
Gadis: Jual gorengan kak. Mau beli? Satu nya lima ratus
Nuri: Kakak beli lima ribu ya
Gadis: Mau yang mana kak?
Nuri: Terserah adik aja.

Ia mengambil gorengan satu persatu dengan lugunya dan memasukkannya ke kantong plastik.
Nuri: Adik namanya siapa?
Gadis: Namaku Syifa kak
Nuri: Nama yang bagus. Umurnya berapa dik?
Syifa: 8 tahun kak
Nuri: Kok ga sekolah?
Syifa: Nanti siang sekolahnya kak. Sekarang jualan dulu bantu mamah
Nuri: MasyaAllah, anak solehah.
Syifa: Nih kak gorengannya
Nuri: Adik udah makan?
Syifa: ... *menggelengkan kepalanya
Nuri: Yaudah, ini uangnya,
Aku: Aku ke ruang dosen dulu ya,
Nuri: Iya kak, nanti aku kabarin ketemu dimana

Akupun pergi meninggalkan mereka. Setelah urusanku selesai, Nuri mengabariku untuk menemuiku di kantin didekat perpustakaan. Saat aku tiba, kulihat Nuri sedang menyuapi gadis tadi. Hatiku dibikin adem liat adikku seperti itu. Aku biarkan sampai mereka selesai. Aku memutuskan untuk menunggunya di depan perpustakaan saja. Tak lama kemudian ia datang menghampiriku.
Nuri: Kakak
Aku: Eh, udah selesai
Nuri: Udah kak
Aku: Kakak bangga sama kamu *sambil mengusap kepalanya
Nuri: Adik siapa dulu dong. Kak Afifah hehehe
Aku: Oh jadi aku bukan kakak kamu gitu
Nuri: Bercanda hehe. Abis ini kemana kak?
Aku: Pulang
Nuri: Ajak keliling kampus dulu kek
Aku: Ya, kamu mau kemana dek
Nuri: Pengen liat mesjidnya kak
Aku: Yaudah yuk kita jalan
Nuri: Kak kalau disini tempat makan paling murah dimana ya?
Aku: Warteg is the best hehe
Nuri: Yang enak dimana kak?
Aku: Ada di belakang dek.
Nuri: Pokonya nanti pas aku kuliah, kakak harus ajak aku dan traktir aku.
Aku: Enak aja, jajan sendiri.
Nuri: Gituu ih.

Kami duduk di taman dekat masjid karena tempatnya adem, dikelilingi pohon dan ditambah hari ini anginnya cukup kencang. Banyak yang pakai tempat ini buat belajar, main internet, atau sekedar kumpul-kumpul. Saat kami sedang mengobrol tentang perkuliahan, tiba-tiba ada yang menghampiri kami.
Linda: Assalamualaikum
Aku+Nuri: Waalaikumussalam
Aku: Linda? Apakabar
Linda: Baik. Kalian ngapain disini?
Aku: Gue abis ngasih tugas ke dosen, Nuri ngerengek pengen ikut
Nuri: Gitu ih kakak mah
Aku: Lo ngapain disini?
Linda: Abis ketemu temen. Sekarang mau balik nih
Aku: Oh gitu.
Linda: Oh gitu aja nih? Ga mau nganter pulang gitu? Hehehe
Aku: Hehe, gue pake motor kesini sama Nuri
Linda: Iih gue cuma bercanda kok
Nuri: Kita mau makan siang, kakak mau ikut?
Linda: Nanti aku ganggu kalian
Nuri: Engga lah. Yuk, kita juga belum sempet sarapan
Linda: Gimana, Di?
Aku: Ya hayu aja

Kami mencari sarapan di sekitar kampus. Setelah beberapa saat mencari, kami memutuskan untuk sarapan kupat tahu disana. Tak banyak basa-basi setelah kami memesan, kami nikmati sarapan ini. Apalagi sarapan ditemenin dua cewe cantik kek gini. Nikmat kan? Sesaat aku dan Linda mengobrol, kulihat Nuri sedang telefon dengan seseorang.
Nuri: Kak
Aku: Kenapa?
Nuri: Aku diajak temen jalan-jalan
Aku: Sekarang?
Nuri: Iya kak. Sama Rima sama Farah juga.
Aku: Terus ketemu dimana?
Nuri: Katanya sih mereka mau kesini. Gimana? Boleh ga?
Aku: Yaudah boleh. Tapi jangan pulang telat
Nuri: Iya dong kak

Beberapa saat, teman-temannya datang dan mereka juga meminta izin padaku. Akupun memperbolehkan mereka untuk mengajak Nuri. Nuripun salim padaku dan Linda kemudian pergi.
Linda: Lo langsung balik?
Aku: Iya Lin
Linda: Gue nebeng dong, kalau boleh
Aku: Ya boleh aja.

Kami jalan ke parkiran karena motorku masih di kampus. Saat jalan, iseng aku nanya soal keluarganya Linda
Aku: Lo tuh punya adek kan? Kinanti kalau ga salah
Linda: Iya, Di. Kenapa? Lo naksir
Aku: Astogeh, gue cuma nanya Lin.
Linda: Hehe bercanda. Iya Kinanti sekarang lagi siap-siap kuliah di Jakarta, Di
Aku: Ooh gitu, kirain bakal ikut elu
Linda: Engga, dia pengen masuk kesana, yang penting dia harus lebih baik dari gue
Aku: Iya, ibarat elu bohay, dia harus lebih bohay
Linda: Mesuum *sambil menjewer telingaku
Aku: Lo masih suka komunikasi sama Dina?
Linda: Masih sih, kadang kalau dia atau gue curhat
Aku: Ooh gitu
Linda: Dia suka sama lo tau
Aku: Iya, dia udah bilang
Linda: Hah? Terus terus?
Aku: Ya, gue bilang aja, gue gabisa lebih dari temen atau sahabat. Lagipula gue kan punya cewek Lin
Linda: Eh, ajak gue ketemu cewek lo dong
Aku: Iya kapan-kapan
Linda: Ah, kalau kapan-kapan pasti ga akan pernah. Sekarang aja kerumahnya
Aku: Buset dah, ya gue harus kabarin dulu
Linda: Yaudah cepet kabarin

Setelah aku mengabari Alyssa, kami berangkat ke rumahnya. Sekitar dua puluh menit kami sudah berdiri didepan rumah Alyssa, dan akupun segera mengabarinya. Alyssa menyuruh kami untuk masuk.
Aku: Assalamualaikum
Alyssa: Waalaikumussalam
Aku: Kamu lagi sibuk?
Alyssa: Engga, ayo masuk. Duduk aja
Linda: Hallo *sambil mengulurkan tangannya
Alyssa: Maaf, aku ga bisa denger *dengan bahasa isyarat
Linda: Oh, maaf.
Aku: Lin, ini cewe gue, yang selama ini gue selalu bilang.
Alyssa: Dia siapa?
Aku: Namanya Linda. Dia adiknya alm.Riko.
Alyssa: Ah iya. Hallo *katanya sambil bersalaman
Linda: Cewe lo cantik banget, Di hehe.
Aku: Oh iya jelas. Lo aja kalah hehe, bercanda
Linda: Ah, gue dandan juga nanti lo bakal klepek-klepek
Alyssa: Kalian udah makan?
Aku: Udah tadi sama Nuri juga.
Alyssa: Terus Nuri kemana?
Aku: Jalan-jalan sama temen-temennya

Beberapa saat, aku lihat Linda diajari bahasa isyarat oleh Alyssa. Dan disitulah aku mulai jadi obat nyamuk. Ga disangka Linda cepet akrab sama Alyssa. Bisa jadi petaka nih kalau sampai bongkar rahasia.Rahasia apa itu? Kalau dikasih tau bukan rahasia lagi namanya.

Waktu berlalu. Tak terasa hari-hari sudah aku lalui begitu saja. Hari ini, aku tengah berdiri didepan kaca. Aku mengenakan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna merah. Aku keluar dari kamarku, dan ayahku berpenampilan sama denganku. Ada ibu yang sedang membereskan barang-barang. Aku berjalan menuju kamar kak Afifah. Disitu kulihat kak Afifah sedang berdandan ditemani Nuri
Aku: Dasar cewe, kalau dandan pasti lama
Afifah: Yeee biarin atuh de,
Nuri: Tau nih, ngikut mulu
Aku: Masih lama?
Afifah: Engga, bentar lagi kok.
Beberapa saat mereka selesai dan kami siap-siap masuk ke mobil. Kami datang lebih pagi karena pasti akan macet hari ini. Hari ini merupakan hari penting bagi kak Afifah. Dia akan wisuda hari ini dan menyandang gelar Sarjana.

Kami berangkat menuju kampus. Benar saja, jalanan di sekitaran kampus sudah mulai padat. Tapi untungnya tetap kebagian tempat parkir yang ga begitu jauh dari gerbang utama. Karena hanya dua orang undangan yang boleh masuk ke ruangan wisuda, berarti aku dan Nuri menunggu di depan gedung. Dari sini, kami juga dapat melihat prosesi wisuda melalui layar besar.
Nuri: Kakak kapan tuh kaya gitu
Aku: Ya doain aja dek
Nuri: Harus bisa dapet hasil yang memuaskan ya
Aku: InsyaAllah. Kamu juga dek
Nuri: Kak Alyssa mana kak?
Aku: Dia lagi ada kuliah dek.
Nuri: Emang kakak ga ada kuliah?
Aku: Ga ada kok. Kalau ada juga ga mungkin kakak disini sekarang kan. Tapi sebenernya gerah juga pake baju gini hehe
Nuri: Hehe, ya gapapa atuh kak. Kan biar ga repot pas nanti kita foto keluarga

Sekitar jam 12 siang, semua wisudawan dan wisudawati keluar dari gedung. Kami berkumpul bersama adik kelas kak Afifah. Setelah acara dari jurusan juga selesai, dilanjut dengan sesi foto-foto.
Afifah: Di, Sini foto berdua
Aku: Pengen banget foto bareng orang ganteng?
Afifah: Pede. Cepeet iih
Aku: Iya iya.
Ibu: Kalian foto bertiga, biar ibu fotoin
Nuri: Iya bu, mauuuu
Ibu: Afifah ditengah dong.
Ayah: Udah Ardi yang tengah, biar kaya gandeng dua istri hahaha

Lepas berfoto di kampus, kami pergi ke studio foto untuk foto bersama kembali khusus untuk keluarga kami.

Mungkin kalian mikir enak banget jadi Ardi. Hidupnya serba terpenuhi, punya cewek baik, temen-temen yang baik. Tiap orang pasti ada hal yang ditutupi tapi ga mau cerita sama orang. Termasuk aku sendiri. Aku juga memiliki masalah yang gamau kuceritakan pada orang lain. Siapapun itu.

Satu minggu setelah wisuda kak Afifah, aku mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temanku. Disaat itu juga Azril mengajakku untuk kumpul bareng Alyssa di kafe yang biasa kami tempati. Tapi ia mengabariku lewat SMS saja. Setelah sekian lama kemaren dia ngilang dari grup gitu aja.
Azril: Bro lo ikut ga?
Aku: Lo duluan aja, nanti gue nyusul
Azril: Kalau gitu, gue berangkat bareng Alyssa aja gimana?
Aku: Iya, lo atur aja. Gue masih ada kerjaan disini
Azril :Oke oke, kabarin aja bro
Aku: Oke

Aku kembali pada tugasku. Waktu menunjukkan jam lima sore. Tugas ini harus selesai malam ini juga, karena besok akan diserahkan untuk kemudian nanti diundi kelompok siapa yang bakal tampil duluan. Alyssa dan Azril terus menanyakan keberadaanku. Aku juga ga enak jadi bikin mereka nunggu. Tapi ya aku coba kasih pengertian sama mereka. Sampai akhirnya tugasku selesai, aku langsung buru-buru menuju kafe yang dimaksud Azril. Aku lihat ada motor Azril terparkir disitu. Aku masuk kedalam dan mencari dimana mereka duduk. Sampai akhirnya kulihat mereka duduk di meja dekat jendela di ujung sana. Tapi aku memutuskan untuk memesan di konter saja. Mereka sepertinya belum sadar keberadaanku/ Dan saat itu juga, tanpa sengaja aku mendengar ucapan mereka.
Azril: Lie, gue harus bilang ini sama lo
Alyssa: Apa
Azril: Gue ga bermaksud lancang, tapi gue suka sama lo Lis
Alyssa: Hah?
Azril: Ya gue suka sama lo.
Alyssa: Lo tau kan gue sama Ardi. Dia itu sahabat lo
Azril: Gue tau. Dan gue ga harusnya gini. Tapi tiap kali gue liat lo sama Ardi, gue cemburu. Sebenernya, gue ga bener-bener ajak Ardi kesini. Gue cuma pengen utarain perasaan gue sama lo
Alyssa: Tapi Zril
Azril: Gue selalu coba untuk tahan, tapi gue ga sanggup lagi
Alyssa: Terus lo pengennya apa
Azril: Gue pengen lo jadi cewe gue *kulihat Azril memegang tangan Alyssa
Alyssa: Tapi kan lo suka sama Dina
Azril: Dina ga pernah suka sama gue. Dia suka sama Ardi, Lis.
Alyssa: Dina ga mungkin kaya gitu
Azril: Dia yang bilang sendiri ke gue, pas gue nembak dia
Alyssa: Tapi Zril, Ardi ...
Azril: Gue bakal jagain lo. Setiap saat.

Apa yang aku lihat adalah kebenaran yang pahit. Bukan karena aku dengar ucapan Azril. Tapi aku bisa liat respon mereka berdua. Alyssa bahkan ga ada penolakan saat tangannya dipegang oleh Azril. Apa yang aku rasakan? Tentu saja kecewa, marah, kesal. Jika Alyssa memang menghargai aku, harusnya dia menolak setidaknya saat Azril mengenggam kedua tangannya. Saat itu juga, aku langsung menghampiri mereka.
Aku: Zril *panggilku mengagetkan mereka, kemudian Azril melepas tangan Alyssa
Azril: Eh
Aku: Ikut gue *sambil menarik kerah bajunya

Aku memaksanya berjalan keluar, karena jangan sampai ada ribut didalem kafe. Beberapa orang sempat ngeliat kami, termasuk Alyssa yang nampaknya kaget aku mengetahui mereka.
Aku: Maksud lo apa hah?
Azril: Apa?
Aku: Maksud lo apa bilang suka Alyssa
Azril: Gue cuma ngomong apa adanya, sama seperti yang Dina bilang ke gue. “Apa adanya”
Aku: Lo ngomong didepan cewe gue kaya gitu? BUSUK
Alyssa: Udah, Di, udah. Jangan ribut disini
Aku: Kenapa kamu ga nolak saat dia pegang tangan kamu?
Alyssa: Maaf Di
Aku: Dan lo. Lo tau dia cewe gue, tapi lancangnya lo ngomong gitu. Anjing lo
Azril: Anjing? Biar gue kasih tau siapa yang anjing. Pertama, lo punya cewe, tapi lo ga bisa jaga jarak sama Dina, dan malah dia jadi suka sama lo. Kedua, Gue tau lo jalan sama adiknya Riko, dan lo keliatan akrab. Itu cara lo ngehargai perasaan Alyssa? Mungkin lo udah bilang sama dia, tapi lo ga tau kan apa yang dia rasain? Dia sakit, tapi dia mau nahan rasa sakitnya cuma karena pengen bisa sama lo. Siapa yang anjing hah? SIAPA ???
Aku: baik lo, Zril *ucapku sambil memukul wajahnya
Azril: Haha, gue memang baik, tapi setidaknya, gue tulus sama Alyssa, Di.
Aku: Lo pikir gue ga tulus hah? Lo tau apa?
Azril: Gue tau apa? Lo tanya sama Alyssa, nyaman ga dia sama lo saat lo lagi pergi sama cewe lain?
Alyssa: UDAH CUKUUUUP ! ! !

Aku sedikit terperanjak ketika mendengarkan sebuah suara yang udah lama ga aku dengar. Suara manis Alyssa. Ia berteriak didekatku.
Aku: Lis?
Alyssa: Udah cukup Di. Jangan berantem
Aku: Kamu bisa bicara lagi?
Alyssa: Udah cukup, Di. Aku gamau kamu kaya gini.
Alyssa menangis sambil menutupi wajahnya. Beberapa orang sempat melihat kearahku, tapi aku ga hiraukan mereka.
Alyssa: Dia bener, Di. Aku cemburu saat kamu bilang lagi jalan sama orang lain. Aku tau dia temen kamu, tapi ada batasan, Di. Kamu juga akhir-akhir ini sibuk, ga pernah ada waktu lagi buat aku.
Azril: Lo denger sendiri kan? Bahkan dia yang bilang sendiri
Aku: Diem lo. Lo itu udah gue anggap saudara gue sendiri, tapi ternyata gini saudara gue. Brengsek.
Alyssa: Udah cukup, Di. Jangan berantem
Aku: Kamu belain dia?
Alyssa: Aku ga belain siapa-siapa. Kalian itu orang terdekat aku. Aku gamau liat kalian berantem
Aku: Jadi ini Lis? Aku sibukpun bukan main-main Lis. Aku lagi banyak tugas. Tapi aku selalu kabarin kamu kan?
Alyssa: Iya aku tau, tapi aku juga butuh kehadiran kamu. Saat aku lagi sedih, kamu selalu bilang lagi ngerjain tugas. Kamu sibuk sendiri, Di.
Aku: Maafin aku Lis.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
gijoe.malaw dan 6 lainnya memberi reputasi

Part 24 - Perbedaan

Sudah dua minggu lebih berlalu, dan aku masih belum mendapat kabar tentang Alyssa. Aku mulai khawatir dengannya. Selama itu juga aku tak banyak mengobrol dengan orang bahkan dengan keluargaku sendiri. Bahkan Nuri yang selalu berusaha mendekatiku, kini aku sedikit cuek padanya. Aku tahu seharusnya hal seperti ini tidak membuatku mogok komunikasi dengan orang lain. Kedatangan Linda kemarin seperti sebuah hal yang sudah Tuhan rencanakan. Linda menyadarkan aku bahwa aku tidaklah sendiri. Mungkin Alyssa sedang tak ada kabar disana, tetapi hal itu tak boleh membuatku menjadi seseorang yang menyingkir. Aku keluar dari kamarku. Kondisiku benar-benar berantakan. Aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bergabung bersama Nuri yang sedang menonton TV di ruang tengah.
Nuri: Kak
Aku: Iya de?
Nuri: Kapan ajak aku touring?
Aku: Kamu maunya kapan?
Nuri: Besok hehe
Aku: Waduh ngedadak
Nuri: Minggu depan juga boleh deh
Afifah: Kakak ikut dong
Nuri: Ayo ayo hehe
Afifah: Yah, sesekali libur sama adek-adek boleh lah hehe
Aku: Bener?
Afifah: Iyah.
Nuri: Pengen ke pantai kak. Udah lama ga ke pantai. Terakhir kan waktu kita masih kecil.
Aku: Kamu juga masih kecil sekarang
Nuri: Enak aja.
Afifah: Yaudah, ke Pangandaran lagi aja.
Aku: Kalau ga bosen sih hayu aja
Nuri: Fix jadi yah minggu depan.
Aku: Yaampun dek . . . semangat betul
Nuri: Haha. Biar jadi

Tentang Alyssa, aku rasa aku harus lebih bersabar. Aku akan tetap menantinya. Mungkin seharusnya aku mencari tahu. Tetapi siapa disana yang dapat aku hubungi? Nomornyapun kini tak aktif lagi. Haruskah aku menyusul kesana? Tidak, itu hanya membuang waktu. Dan aku yakin Alyssa juga tak ingin aku seperti itu. Mungkin aku lelaki pengecut, ya memang. Tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu. Aku yakin Alyssa akan mengabariku tak lama lagi. Setelah shalat magrib, aku memutuskan untuk keluar cari angin. Sekedar menghilangkan rasa suntuk dirumah. Aku pergi ke sebuah kafe dimana aku dan Alyssa sering kunjungi. Kafe yang menjadi kafe favorit kami berdua. Singkat cerita, aku sudah tiba disana dan langsung mencari tempat duduk. Sampai aku tersadar ada seseorang yang memanggilku. Saat aku menoleh, ternyata ia adalah Dina. Akupun menghampiri Dina yang sedang duduk bersama seorang temannya.
Aku: Hei Din
Dina: Lo apakabar
Aku: Gue baik
Dina: Oh iya, kenalin ini temen gue, Reka
Aku: Halo. Gue Ardi
Reka: Gue Reka
Dina: Lo sama siapa? Ada janji?
Aku: Engga. Gue sendiri aja pengen kesini
Dina: Duduk sini aja. Kita juga baru dateng ko
Aku: Ga ganggu emang?
Dina: Engga lah.

Akupun duduk bersama mereka sekaligus memesan makanan bersama mereka.
Dina: Lo kok ga sama Alyssa?
Aku: Alyssa udah dua minggu ini ga ada kabar Din
Dina: Kok bisa?
Aku: Entahlah, ia ga ada kabar setelah berangkat ke Bali waktu itu

Kulihat Dina begitu menyimak apa yang aku katakan tadi. Tapi tatapannya menunjukkan keheranan.
Dina: Dua minggu?
Aku: Iya kenapa emang?
Dina: Emm gapapa kok. Kok bisa ya? *ucapnya pelan
Aku: Yaudalah Din, mungkin lagi sibuk
Dina: Lo yang sabar ya
Aku: Gue selalu nunggu dia pulang Din
Dina: Gue pasti doain kalian kok. Kalian kan sahabat gue
Aku: Lo sendiri ko bisa disini?
Dina: Biasa nongkrong cantik haha
Aku: Lo temen kuliah Dina?
Reka: Iya gitu deh hehe
Aku: Cerewet yah dia mah yah
Dina: Jujur amat si. Itu kan dulu waktu ama Riko
Aku: Sekarang juga masih
Dina: Enak aja. Engga. Gue mah rajin nabung, cuci kaki sebelum tidur, baik hati dan tidak sombong.
Aku: Iya lah serah lu

Sambil menikmati pesanan kami, kami mengobrol seputar kehidupan kami masing-masing. Dina memang kekasih Riko, tapi aku tak begitu mengenalnya seperti aku mengenal Alyssa. Begitupun dengan Dina. Dina merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Surabaya. Ia sedang kuliah di salah satu universitas di daerah Tamansari. Usianya lebih tua dariku beberapa bulan saja, tapi kuliahnya satu tingkat dibawahku. Ia sempat bekerja setelah lulus sekolah.
Aku: Lo ga cari cowo Din?
Dina: Engga ah, gue lagi ga mikir kesitu hehe
Aku: Lo ga bisa move on dari Riko?
Dina: Gue bukan ga bisa move on. Gue udah ikhlas, tapi ya lo tau sendiri lah.
Aku: Emm iya iya Din.
Reka: Kalian udah kenal lama?
Dina: Yaaa lumayan lah dari awal touring bareng
Reka: Jadi lo suka touring? *tanyanya padaku
Aku: Ya suka hehe
Dina: Lo ada rencana touring lagi?
Aku: Ada sih, tapi sama keluarga aja hehe
Dina: Kirain sama anak-anak hehe
Aku: Engga, Nuri rewel pengen touring udah lama. Da gue udah janji ajak dia. Eeeh kak Afifah mau ikut
Reka: Seru kayanya tuh. Cuma bertiga?
Aku: Kemungkinan sih gitu.
Dina: Cewek dua, cowok sendiri. Diperbudak dia nanti hahaha
Aku: Enak aja.

Di moment itu kami ngakak bareng, sampai akupun bisa istirahat sejenak dari kepenatan yang sedang aku alami. Sampai kami memesan pesanan kami hanya untik mengobrol di tempat seenak ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 malam tapi kami masih saja asyik mengobrol. Sampai akhirnya Reka berpamitan karena ia sudah dijemput pacarnya.
Reka: Gue duluan ya
Dina: Loh, dia udah sampe?
Reka: Udah, dia diparkiran. Gue duluan ya, Din, Di
Aku: Ah iya, siap.
Dina: Hati-hati.
Reka: Okey, bye, asaalamualaikum
Aku+Dina: Waalaikumussalam
Aku: Lo ga balik Din?
Dina: Engga, gue masih betah disini. Lo sendiri?
Aku: Bentar lagi mungkin.
Dina: Emm kalau gitu, nue nebeng yah haha
Aku: Hahah, ketawa aja
Dina: Yeehehe gue serius, tapi kalau ga boleh juga gapapa sih
Aku: Iya iya dah.

Setelah membayar bill, kami memutuskan untuk pulang. Seperti ucapanku tadi, aku akan mengantar Dina pulang. Selama perjalanan, ada saja yang jadi bahan perbincanganku dengan Dina.
Dina: Di, itu liat deh, naik motor pake celana pendek gitu
Aku: Ah elu liat celana haha
Dina: Iihh . . bukan. Ga dingin gitu, malem-malem, angin kenceng
Aku: Yaaa udah terbiasa mungkin. Kadang gue juga ga pernah pake jaket kalau bawa motor. Paling-paling kena masuk angin
Dina: Itu elu ngeremehin. Kan pake jaket itu juga buat keselamatan
Aku: Iye Din iyeeee . . .
Dina: Iishh dikasih tau juga *sambil memukul helmku
Aku: Buset, ga nakol juga kali
Dina: Hehe sorry.

Sampailah kami dirumah Dina. Aku mematikan motorku sekedar menghormati warga sekitar agar tak terlalu berisik.
Dina: Masuk dulu yu
Aku: Eh gue langsung aja
Dina: Ih jangan lah. Gue udah bilang ke bibi mau ada tamu. Jadi udah disiapin
Aku: Gue cape Din
Dina: Udah ayo. Itung-itung ucapan terima kasih gue karena lo udah anter gue pulang. Yah yah. . . bentar aja. Pliiiiis

Aku menghela nafas, kemudian turun dan melepas helm, lalu menaruhnya di spion.
Aku: Oke deh.
Dina: Yeaayy ayoo . . . *sambil menarik tanganku

Akupun masuk dan dipersilahkan duduk diruang tamu. Ternyata rumahnya agak sepi. Dina kembali dari dalam dan mengajakku untuk makan larut malam bersamanya dan bibi. Tapi bibi berkata sudah makan
Aku: Orang tua lo kemana din?
Dina: Lagi keluar kota Di
Aku: Oh gitu
Dina: Gimana masakannya?
Aku: Enak kok
Dina: Syukur deh kalau lo suka hehe
Aku: Abis ini gue langsung pulang ya
Dina: Iya deh.

Tak lama setelah kami makan larut malam, aku berpamitan pulang pada bibi juga. Dina mengantarku hingga ke motorku.
Dina: Makasih ya
Aku: Sama-sama.
Dina: Oh iya, kalau ada touring-touring lagi, kabarin gue ya.
Aku: InsyaAllah Din. Yaudah, gue langsung ya, udah malem banget. Assalamualaikum
Dina: Waalaikumsalam. Hati-hati

Akupun pulang kerumahku. Sesampainya dirumah, tak banyak bicara aku langsung merebahkan tubuhku di kasur tercinta. Keesokan paginya, aku berniat untuk berolahraga di tempat yang pernah kudatangi dulu. Sambil mendengarkan lagu dari headsetku, aku mengelilingi taman ini. Saat aku memindahkan lagu sambil terus jogging, tak sengaja aku menabrak seseorang.
Aku: Aduh maaf mas, saya ga sengaja

Kulihat lelaki yang tingginya sama denganku berambut agak sedikit keriting
Dia: Gapapa mas, santai aja
Aku: Punten mas

Akupun kembali melanjutkan aktivitasku. Aku duduk di sebuah bangku yang terdapat meja didepannya untuk beristirahat. Entah sudah berapa keliling aku jogging. Aku melihat lelaki yang tak sengaja kutabrak tadi. Ia menghampiri seorang perempuan yang sedang duduk di sebuah kursi. Tak begitu jelas rupa wanita itu karena sedang membelakangiku. Entah kenapa aku malah ingin tau tentang lelaki itu. Seperti sebuah pertanda untukku. Tetapi aku berusaha mengabaikan perasaan ini. Sampai akhirnya mereka berdiri dan keduanya menghadap kearahku. Jantungku berhenti seketika ketika kulihat mereka, dan salah satunya adalah sosok yang aku kenali. Alyssa?
Aku: Alyssa? *ucapku pelan

Ah bukan, tak mungkin itu dia. Tetapi wajahnya begitu mirip. Hanya saja, Alyssa memiliki rambut yang panjang, namun ia memiliki rambut yang agak pendek. Mereka berjalan karahku. Dan ketika mereka menghampiriku, lelaki tersebut menyapaku dengan ramah. Lalu gadis itu yang awalnya terpaku dengan handphonenya, melihat ke arahku. Aku tak salah, dia memang Alyssa. Hanya saja mungkin ia memotong rambutnya.
Dia: Saya duluan mas.
Aku: Iya mas. Silahkan

Alyssa? Benar itu adalah Alyssa. Ketika itu, ia benar-benar menatapku dengan begitu dalam. Entah kenapa aku malah mematung, bukannya mengejarnya? Atau kenapa aku tidak menyapanya? Bukankah kehadirannya yang selama ini aku tunggu? Lalu siapa laki-laki itu? Aku menghadap kembali kedepan, dan menyadari bahwa airku sudah habis. Aku menghembuskan nafas sejenak sambil mencabut headset dari telingaku. Lalu kemudian ada seseorang menyimpan sebuah botol minum didepanku dari belakang. Saat aku menolehnya, dia kembali. Alyssa Erica.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh neopo

Part 30 - Hati

Aku berangkat dari rumah menggunakan motor kak Afifah. Tak biasanya Dina seperti ini. Tiba-tiba menyuruhku datang tanpa memberitahu keperluannya. Beberapa menit aku tiba dirumahnya. Aku mengetuk pintunya, dan iapun menyuruhku masuk.
Aku: Sebenernya ada apa Din?
Dina: ...
Aku: Lo baik-baik aja kan?
Dina: ...

Ia hanya terdiam tiap kali kulontarkan pertanyaan. Aku membiarkannya sejenak. Ia nampak tertunduk sambil memainkan jari telunjuknya, sesekali ia memainkan handphonenya.
Aku: Lo kenapa sih Din? Gue tanyain diem terus
Dina: Setelah gue kehilangan Riko, gue mulai menutup hati gue buat orang lain. Dan seketika gue buka hati gue untuk seseorang, ternyata tetap ga akan mungkin buat gue miliki dia
Aku: Lo ngomong apa sih?
Dina: Azril nembak gue
Aku: Iya, lalu?
Dina: Gue anggap dia udah kaya kakak gue sendiri. Gue ngerasa ga enak aja. Dia bilang udah lama suka sama gue, bahkan saat gue masih sama Riko
Aku: Gila tuh anak. Kuat juga
Dina: Tapi yang udah gue lakuin salah.
Aku: Maksud lo salah?
Dina: Gue suka cowo lain Di, tapi dia udah punya cewe
Aku: Eh buset. Kaya ga ada cowo lain aja Din
Dina: Iya gue tau. Gue bodoh suka sama pacar orang
Aku: Engga lah. Itu kan hak lo buat suka.
Dina: Gue harusnya sadar diri, gue ga pantes buat dia
Aku: Jangan ngomong gitu. Lo pantas dapat yang lebih baik dari dia.
Dina: Gue harus gimana, Di?
Aku: Semua terserah sama lo

Ia nampak seperti tertekan. Apa ini penyebab Azril keluar dari grup dan tiba-tiba ia pergi tadi siang? Tapi masa iya hanya karena ditolak sampai segitunya banget.
Dina: Lo pengen tau siapa cowo itu?
Aku: Kalau lo ga keberatan
Dina: Cowo itu lo Di
Aku: Haha, jangan bercanda ah Din. Ga lucu
Dina: Gue serius, Di. Gue suka sama lo
Aku: Gue pacar Alyssa Din, sahabat lo, tapi kenapa?
Dina: Semenjak malam lo jemput gue di bar, gue udah nyimpen rasa sama lo. Perhatian lo, dan lo selalu ada saat gue lagi susah
Aku: Lo itu sahabat gue Din. Ga mungkin gue ninggalin sahabat gue saat lagi susah.
Dina: Maaf, gue ga ada maksud buat rusak hubungan lo sama Alyssa
Aku: Maaf Din. Gue sayang banget sama Alyssa. Gue hargai perasaan lo ke gue, tapi gue ga bisa.
Dina: Maaf, Di.
Aku: Sekali lagi gue minta maaf. Dan gue hargai banget perasaan lo sama gue. Gue akan tetap ada sebagai sahabat lo. Dan gue ga mau Alyssa sampai tau hal ini. Gue ga mau kecewain dia Din.
Dina: Iya, Di. Maaf
Aku: Gue pamit ya, lo jangan lupa minum obat. Istirahat
Dina: Iya, Di. Makasih. Sekarang gue udah agak sedikit lega.
Aku: Iya iya. Yaudah gue pulang dulu. Assalamualaikum
Dina: Waalaikumussalam

Akupun pulang kerumah. Beberapa hari kemudian, aku mencoba kembali menghubungi Azril tapi tak ada kabar. Apa Dina langsung mengatakan hal itu sama Azril? Aku mulai menjaga jarak dengan Dina. Bukan berarti aku menjauhi, hanya saja aku harus tau batasan. Aku ga bisa seperti ini, seolah aku mempermainkan perasaan Dina.

Waktu terus berlalu. Aku tengah menghadapi ujian akhir semester. Aku tengah menduduki semester 5 akhir. Sebentar lagi aku akan memasuki tingkat ketiga. Yang berarti, aku harus lebih mempersiapkan diri untuk kedepannya. Kak Afifah menyarankan aku untuk mengerjakan skripsi dari sekarang, agar nantinya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk skripsi. Sehingga membuat otak menjadi stres dan malah akan membuat malas untuk ngerjain nantinya. Hari ini aku memutuskan ngerjain tugas-tugasku dirumah. Semua rencana untuk keluar aku urungkan, termasuk pergi jalan bareng Alyssa. Alyssa juga mengerti tentang kegiatanku karena iapun sekarang lagi sibuk sama UASnya.
Nuri: Kakak
Aku: Kenapa de
Nuri: Minta uang
Aku: Ehbuset, kaya anak kecil aja
Nuri: Bercanda. Lagi apa sih? Seharian di kamar
Aku: Ngerjain tugas de. Kamu ga ada kegiatan lain?
Nuri: Ga ada kak. Kenapa emang?
Aku: Engga. Kalau ga ada kegiatan, tolong bikinin kakak kopi
Nuri: Yeeey enak aja. Bikin sendiri ah
Aku: Ayolah, kan kakak udah bilang tolong hehe
Nuri: Emm, iya deh iya. Tunggu.

Aku kembali fokus pada komputerku. Aku ingat kata-kata kak Afifah untuk memulai skripsi. Kalau belum tau apa yang harus dibuat, seengganya, persiapkan folder-foldernya dan simpan di desktop. Jadi setiap kali buka komputer, yang pertama dilihat adalah folder Skripsi.
Nuri: Kakak, nih minumnya
Aku: Lah dek, ini mah susu
Nuri: Iya kak
Aku: Kan kakak suruhnya kopi
Nuri: Kalau kopi, nanti kakak malah ga bisa tidur.
Aku: Kalau susu, nanti malah ngantuk duluan. Tapi susu yang itu mah beda hahaha *mata genit
Nuri: Dasar mesum *sambil menamparku
Aku: Itu yang kamu pegang, susu coklat. Ini kan susu putih
Nuri: Alesan aja. Kak aku ganggu ga?
Aku: Bangeeeeeet
Nuri: Iih gitu banget sih. Aku bete tau di kamar. Kak Afifah juga tidur duluan. Ga ada temen curhat
Aku: Ya kan kakak lagi nugas dek
Nuri: Yaudah, aku tunggu kakak sampai selesai. Oh iya kak, sambil setel lagu dong
Aku: Lagu apa?
Nuri: Yang ada aja. Pengantar tidur hehe
Aku: Oh, oke

Aku membuka folder musik dan aku menyetel satu buah lagu.
Nuri: Ih kak, kok lagunya gini sih
Aku: Loh, ini kan lagu pengantar tidur kakak hehe
Nuri: Masa koplo sih kak
Aku: Ya gapapa
Nuri: Minggir minggir, biar aku aja yang cari lagunya

Ia mengambil alih komputerku, kemudian mencari lagu yang ada di folderku. Tapi lama banget dia milih lagu, sampai ujung-ujungnya dia memutar lagu instrumental.
Nuri: Nah ini aja kak
Aku: Atuh nanti kakak ngantuk duluan
Nuri: Biarin. Jangan dimatiin lagunya. Awas aja
Aku: Iya lah.

Aku kembali mengerjakan tugasku. Tak terasa waktu menunjukkan jam 11 malam. Suara Nuri tak terdengar lagi. Saat aku menoleh, ia sudah tertidur di kasurku.
Aku: Dek, bangun, tidurnya pindah gih
Nuri: Ngantuk kaaak
Aku: Kamu ini.

Aku membiarkannya tidur disitu, dan menyelimutinya. Kemudian aku kecup keningnya. Aku menarik kasur dibawah ranjang, dan aku tidur disitu. Awalnya aku ingin mindahin dia ke kamarnya, tapi berat. Bilang aja cari kesempatan. Keesokan paginya, aku tengah bersiap berangkat ke kampus untuk memberikan tugasku pada dosen.
Nuri: Kakak
Aku: Kenapa?
Nuri: Aku ikut kakak ke kampus ya
Aku: Jangan ah, nanti rewel
Nuri: Atuh meni gitu ih. Sama ade sendiri juga
Aku: Ngapain juga dek
Nuri: Ya aku bosen. Sambil nunggu kuliah. Kan aku juga bakal kuliah di kampus yang sama kaya kakak
Aku: Iya iya deh, hayu. Siap-siap gih
Nuri: Yeay, tungguin yah

Kurang lebih tiga puluh menit lamanya aku menunggu Nuri bersiap-siap. Biasa lah cewek mah gitu. Tapi saat selesai, Nuri keluar dengan penampilan anggunnya.
Aku: Lama banget de
Nuri: Hehe maaf. Kan pengen rapi. Biar ga malu-maluin kakak
Aku: Hehe bisa aja. Yaudah yuk
Nuri: Bu, aku sama kak Ardi berangkat ya
Ibu: Iya, hati-hati.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
R4yy4n186 dan 4 lainnya memberi reputasi
profile picture
R4yy4n186
Wah belum update lagi ya


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di