alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9a7707c1d77067068b4574/cuma-cerpen

Cuma Cerpen!

Cuma Cerpen!


Quote:


Well, di sini ane cuma mau nulis cerita pendek sebagaimana judul tritnya. Buat tempat belajar dan nyobain semua pakem dan genre yang ada di dunia literasi. emoticon-Ngakak (S) Jadi, nikmati semua cerita di sini hanya sebagai sebuah karya. Mungkin ada yang mirip dengan kisah nyata, tapi nyatanya di sini ane harap para pembaca menganggapnya sebagai fiksi saja. emoticon-Big Grin

Seperti biasa, tindakan copas dan salin-menyalin tidak ane sarankan tanpa izin dari penulis. Lebih baik pake fitur share, tinggal klik. Satu lagi. Kegiatan plagiat adalah haram. Jangan jadikan diri anda sebagai badut plagiat. emoticon-Betty (S)

Enggak usah nanya jadwal update. Karena ide itu datangnya tidak kenal waktu. emoticon-Peace

Udah gitu aja. Di bawah ada satu cerita, ane spoiler biar ngg kepanjangan scrollnya. emoticon-Hammer (S)

sumber gambar di atas dari Pixabay. Salam buat yang nge-review. emoticon-Betty (S)

Spoiler for #2:
Urutan Terlama
Diubah oleh fadw.crtv
reserved 2

Cerpen #3

Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian yang aku alami sekitar satu dekade silam. Saat itu aku tengah menikmati masa liburan kenaikan kelas tingkat SMP. Kurang lebih selama dua minggu aku tidak akan masuk sekolah, dan akhirnya aku ikut bersama kedua orang tuaku untuk pergi ke tempat nenekku tinggal di daerah Garut.

Daerah tersebut masih jauh dari sentuhan modern, meski listrik sudah masuk dan perangkat teve sudah ada yg memilikinya beberapa orang saja. Maklum, antena biasa belum bisa menangkap sinyal saat itu. Sebab itulah, rasa bosan pasti menyelimuti orang yang terlanjur lama tinggal di kota sepertiku.

Jang, engke peuting urang nyetrum weh, yuk!” kata pamanku mengajak. Kurang lebih artinya: nanti malam kita nyetrum aja.

Nyetrum di sini biasanya untuk mencari belut di sawah atau ikan-ikan kecil di sungai dengan cara disetrum. Setrum didapat dari listrik yang bersumber dari aki. Kegiatan ini bukanlah hal baru di desa ini.

Hayu atuh, Mang,” kataku setuju. Akhirnya aku disuruh untuk tidur siang, katanya biar enggak mengantuk karena usiaku saat itu sangat jarang bisa terjaga di atas jam sepuluh malam. Tapi namanya juga anak-anak yang lagi semangat, aku tak bisa tertidur hingga akhirnya waktu malam tiba.

Perlengkapan sudah disiapkan semua oleh paman dan ada dua orang dewasa lagi yang ikut. Aku lupa tapi kalau tidak salah mereka adalah teman-teman pamanku. Ayahku tidak ikut karena memang mungkin dia dan ibuku mau melakukan kegiatan lain. Aku tak peduli saat itu karena belum paham dengan hal-hal begitu.

Saat kami akan berangkat, pamanku sedikit mengingatkanku, “Ingat, Jang! Nanti di depan kalau ada yang terbang, jangan lari…,” katanya lalu menghisap rokok ditangannya sekali, “Kalau sudah terlanjur lari, kamu lari ke sawah… inget! Ke sawah, jangan ke mana-mana lagi!”

Aku mengangguk mengiyakan. Sebenarnya aku belum tahu yang terbang itu apa, tapi aku rasa mungkin burung atau kelelawar. Tak masalah karena aku diberi sebuah senter oleh pamanku.

Perjalanan pun di mulai, jarak dari rumah ke sawah dan sungai tidak terlalu jauh, tapi jalanan tanah membuat aku lambat berjalan, ditambah tanahnya basah walau tadi siang tidak hujan. Beberapa menit berselang, kami memasuki kawasan seperti hutan, gelap dan banyak pohon bambu. Suara gesekan bambu tertiup angin pun membuat aku agak merinding.

Sesekali aku menyorotkan senterku ke segala arah, entah mencari apa, tapi aku hanya ingin waspada saja. Tak sengaja, aku menyorotkan senter ke satu arah yang akhirnya aku dimarahi oleh pamanku, “Jangan nyorot senternya kemana aja, ke jalan aja depan kamu, bisi labuh.”

Dia takut aku kalau jatuh, padahal aku baru saja menyorotkan senter ke arah kuburan. Orang-orang di desa ini memang masih sering menguburkan jenazah di area hutan seperti ini. Aku pun jadi tambah merinding saat itu.

Sekitar lima belas menit berjalan, aku melihat di kananku ada sebuah bangunan yang hancur, ada juga sisa-sisa bangunan yang tingginya tidak lebih dari lututku. Ternyata, di sebelah kananku adalah bukit, dan terlihat tanahnya landai. Karena terlalu fokus melihat ke bangunan itu, aku melihat… Iya, aku yakin melihat sebuah sosok yang tengah menatap ke arahku. Sosok itu terlihat di balik bangunan itu mengintip dari bagian jendela.

Saat aku akan menyorotkan ke arah itu, ah! Aku kaget tanganku digenggam oleh teman pamanku yang berjalan di belakangku. “Omat, Jang! Ulah bandel,” katanya yang kira-kira artinya: inget, dek! Jangan nakal.

Langkahku pun terhenti karena sejenak melihat ke arahnya dan aku mengangguk dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh keringat dingin. Rasa kantuk saat itu hampir tak aku rasakan, mungkin karena adrenalinku sudah mencapai puncaknya. Hingga tiba-tiba… Sesuatu terbang dari dalam bangunan yang rusak itu. Itu seperti kain putih yang tiba-tiba melayang lalu menghilang dipohon yang jaraknya lebih jauh di belakang.

Aku yang panik lalu mencoba melepaskan genggaman tangan teman pamanku itu, dan sayangnya, genggamannya terlepas sehingga aku bisa langsung berlari melewati pamanku dan seorang temannya lagi yang berjalan di depan.

Sudah, pikiranku sudah kacau saat itu, aku sudah tidak ingat bahwa aku sebaiknya tidak lari jika melihat sesuatu. Tapi aku terlambat untuk menyadari kenapa aku seharusnya tidak berlari. Aku terhenti dengan napas terengah-engah, dalam posisi ruku’—posisi seperti saat salat—aku melihat di sebelah kananku ada sebuah perkampungan. Pencahayaan tempat itu masih menggunakan obor yang terlihat dipasangkan dengan bambu di depan setiap rumah.

Aku kira aku akan selamat jika pergi ke perkampungan itu, tapi aku ingat kata pamanku untuk pergi ke persawahan jika aku terlajur lari. Sejenak aku melihat seorang wanita melambai dari depan sebuah rumah yang tak jauh dariku. Seperti memanggilku untuk datang. Namun, dengan langkah yang berat, aku mencoba menuju area persawahan. Awalnya langkahku berat, namun setelah sosok wanita itu tak terlihat aku bisa kembali berlari sekencang-kencangnya.

Aku berlari hingga keluar dari area hutan dan langsung saja aku jatuh terjelembab masuk ke area persawahan. Untung saja saat itu sawah masih dalam masa pengairan dan belum ditanami padi, sehingga tak ada luka berarti, hanya saja muka dan tubuhku dipenuhi lumpur.

Tah geuning ieu si Ujang, teh!” kata seseorang yang saat aku lihat dia adalah orang yang menggenggam tanganku tadi. (Nah, ini ternyata si Ujang)

Aku akhirnya diangkat dan di ajak ke tempat irigasi sawah. Katanya untuk menyegarkan badanku dan sekalian membersihkan badanku.

“Kan! Kata paman juga kalau ada yang terbang jangan lari… akhirnya kamu begini, untung kamu lari ke sawah,” kata pamanku santai.

Akhirnya aku menceritakan hal yang baru saja aku lihat. Mereka pun sudah paham karena sudah pernah ada kejadian anak seusiaku yang hilang beberapa hari. Setelah ditemukan dan ditanyai, anak tersebut katanya pergi ke perkampungan yang aku lihat barusan. Jika aku pergi ke perkampungan itu, entah berapa lama aku akan kembali.

Lalu paman bercerita, jika daerah yang baru saja kami lewati dulunya adalah sebuah perkampungan. Sekitar tahun ’60-‘70an perkampungan itu terkena musibah, yaitu tanah longsor dari bukit di sebelahnya. Saat itu pamanku masih seusiaku, dan menurutnya, semua penghuni perkampungan itu tidak dievakuasi. Iya, karena dulu alat berat jarang dan sulit untuk masuk ke desa ini, sehingga mereka yang berasal dari kampung tetangga hanya melakukan ritual dan membaca do’a untuk para korban yang terkubur oleh longsor.

Dan satu lagi mitosnya, di tempat yang aku lihat ada yang mengintipku tadi, ternyata tempat itu adalah sebuah klinik kesehatan. Dan bersamaan ditempat itu tengah ada ibu hamil yang tengah melahirkan. Menurut cerita, bayi itu berhasil diselamatkan, dan sang ibu mati tertimbun. Sehingga arwah dari sang ibu menjadi penasaran dan selalu mengincar anak-anak seusiaku ke bawah untuk dijadikan anak angkatnya kelak jika anak itu masuk ke perkampungan ghaib.

-o0o-

kasian kunican nya jatuh gituemoticon-Ngakak

#4 Yakin sendirian?

Laki-laki mana yang tidak sumringah saat pacarnya menyuruh datang ke rumah saat sedang tidak ada siapa-siapa?

Saat itu malam minggu gue dikabarin sama pacar gue kalau rumahnya sedang tidak ada siapa-siapa. Doi bilang keluarganya tengah pergi ke acara saudara dan menyuruh pacar gue ini untuk tinggal menjaga rumah. Hati laki-laki mana yang tega membiarkan pacarnya sendirian?

Entah kebetulan entah kenapa, dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya. Bak dapat durian runtuh, gue langsung loncat kegirangan. Tanpa Ba-bi-bu lagi, gue langsung cabut naik motor ke rumahnya. Kebetulan rumah gue dan doi enggak terlalu jauh, gue di Bekasi Barat, doi di Jakarta Timur. Deketlah, ya.

Butuh sekitar waktu 45 menit untuk sampai ke rumahnya. Pas udah sampai depan gerbang rumah, gue buka ponsel buat ngasih tahu kalau gue udah sampai. Tapi pesan belum dikirim, doi udah bukain pagar duluan. Pikir gue emang doi udah nunggu di depan pager.

Rumahnya bisa dibilang lumayan gede. Cuma sayang, bagian depan lantai dua agak kurang terawat dan keliatan kotor. Gue masuk dan langsung parkir motor gue di halaman rumahnya. Suasana langsung berasa aneh pas gue cipika-cipiki sama doi. Enggak seperti biasanya, pipinya dingin banget. Tapi gue masih berpikir kalau itu cuma gara-gara AC. Maklum orang Jakarta kalau enggak pake AC udah kaya ikan di darat.

Sambil masuk ke dalam rumah gue basa-basi nanya tentang keluarganya yang pergi. Sebenarnya bodo amat, yang penting tahu kapan mereka pulang. Sambil masuk, doi nyalain lampu rumah yang memang masih gelap. Benak gue pun bertanya, kok dari tadi masa belum dinyalain, sih? Secara sekarang udah mau masuk isya.

Gue langsung diajak naik ke lantai dua, ke ruang tamu ke-dua khusus saudara atau kerabat. Wah, baru jadi pacar aja udah dianggap saudara. Gue disuruh nunggu dan duduk di sofa karena doi mau bikinin minum dulu. Selama nunggu gue cuma liat-liat sekitar, liat foto-foto keluarga yang ditempel di dinding, sesekali gue ngeliat ke arah pintu kamar yang gue bisa lihat.

Di lantai dua rumahnya, ada empat kamar tidur dan satu kamar mandi di pojokan. Dua kamar buat doi dan kakaknya, satu kamar pembantu dan satu kamar buat tamu. Kamar tamu dan kamar kakaknya yang bisa gue lihat dari sofa yang gue duduki. Sedangkan kamar doi, kamar pembantu dan kamar mandi enggak bisa gue lihat karena ada di bagian belakang gue.

Sepuluh menit berlalu, gue ngerasa pacar gue enggak balik lagi naik. Buat minuman apaan sampai lama begini? Keluhku saat itu. Gue enggak kepikiran buat buka ponsel dan telepon kenapa lama sekali. Gue malah beranjak mau menyusul ke dapur. Tapi… tapi waktu gue baru bangkit dari duduk gue… Seseorang keluar dari kamar pembantu. Gue dengar suara pintu yang ada jauh di dekat kamar mandi itu terbuka.

Gue mematung melihat ke arah sana, bertanya-tanya siapa yang akan keluar. Napas gue agak cepat sekarang karena rasa takut gue seperti memuncak. Dan… dan, ah… ternyata seorang bapak-bapak yang keluar dari kamar itu. Usianya terlihat sekitar lima atau enam puluh tahunan, kumisnya putih tebal dan matanya terlihat sipit. Tubuhnya gempal dan juga jalannya sedikit agak pincang.

Gue mengangguk saat bapak-bapak itu melihat ke arah gue. Dari celah pintu yang bisa aku lihat, kamar itu tampak gelap dan buru-buru bapak itu menutup pintu kamar dengan suara yang menggelegar. BRAKKK!!! Tubuh gue pun sontak meloncat karena kaget. Bapak-bapak itu langsung berjalan menuju kamar mandi dengan terpincang-pincang. Huh, sialan.

Gue pun turun dengan sedikit tergesa-gesa. Dan tiba-tiba saja kaki gue jadi gemetar hebat dengan apa yang gue lihat. Semua lampu yang tadi pacar gue nyalakan, sekarang mati. Semuanya, tidak ada yang hidup. Sialan, umpatku dalam hati karena gue rasa doi mempermainkan gue.

Gue pun berteriak memanggilnya, “Sayang!!! Sayang!! Kamu di mana?”

Tidak ada respon yang gue terima. Gue pun mengambil handphone untuk menyalakan senter dan gue sontak kaget karena tiba-tiba ada telepon masuk. Yang membuat gue lebih kaget adalah yang menelepon adalah pacar gue sendiri. Iya. Pacar gue yang sekarang entah ada di mana.

“Halo, sayang… kamu di mana, sih? Jangan main-main, ah, enggak lucu.”
“Maaf, sayang, aku ketiduran barusan… ini baru bangun, sekarang kamu di mana?”

Jantung gue serasa berhenti berdetak. Mata gue langsung melihat ke arah gelap di hadapan gue. Suasana mencekam saat ini, keringat dingin mulai keluar dari kening gue. Suara pintu kamar terbuka dari lantai atas mengagetkan gue. Dalam pikiran gue, itu adalah pacar gue. Gue langsung kembali berlari ke atas, dan… syukurlah itu pacar gue yang keluar dari kamarnya.

Gue melihat wajahnya kaget. Mungkin karena dalam pikirannya gue masuk ke rumah ini dengan sendirinya alias tidak sopan. Tapi gue malah langsung berlari ke arah doi dan masuk ke kamarnya, menutup dan mengunci pintu kamar itu. Doi sempat mau berteriak tapi gue singgap menutup mulutnya sambil memberi isyarat jangan berteriak.

“Kamu apa-apa, sih? Udah masuk kaya maling, sekarang ke kamar mau ngapain?” katanya marah.
“Yang harusnya marah itu aku… kata kamu, kamu sendirian, tapi aku masuk ke rumah ini sama sosok yang mirip kamu dan barusan aku ngelihat bapak-bapak keluar dari kamar pembantu.”

Wajahnya berubah pucat. Sambil natap mata gue dalam, doi ngomong, “Anterin aku ke tempat keluarga aku pergi… bisa enggak? Ke Depok?”

Selepas kejadian itu, gue enggak pernah mau buat datang ke rumah doi pas lagi sendirian. Selain memang sudah jarang doi ditinggal sendiri, gue sudah males kalau kejadian itu terulang lagi, kejadian yang bikin gue cipika-cipiki sama setan. Hiiihhh!!!

-o0o-
ikut baca,

#5 Tukang Sate

Panggil saja aku Benny, laki-laki yang baru saja menjadi seorang suami. Karena tuntutan itulah, akhirnya aku nekat mengajukan kredit untuk membeli rumah di kota Depok. Perumahannya biasa saja, bukan perumahan elit karena menyesuaikan dengan kantong pekerja kantoran sepertiku.

Kejadian ini aku alami saat sudah tinggal kurang lebih dua bulan. Saat itu kerjaanku sedang banyak-banyaknya dan menuntut untuk lembur. Pusing memang, apalagi aku dan istri tengah mempercepat program kehamilan… niatnya agar istriku tak sendirian di rumah.

Malam itu aku pulang jam 9 malam dari kantor. Waktu perjalananku sekitar 45 menit saja dengan motor. Maklum sudah malam jadi jalan tak terlalu padat. Selama di jalan aku tak merasakan pirasat aneh. Sampai akhirnya aku masuk ke komplek perumahan tempat aku tinggal. Dari gerbang komplek, aku masih butuh waktu sepuluh menit untuk menuju rumahku. Memang letak rumahku berada agak dalam.

Saat telah setengah perjelanan di dalam komplek, aku mencium aroma sate yang tengah dibakar. Sontak saja membuat perutku lapar, kebetulan dari tadi aku tak sempat makan lagi setelah makan siang. Aku cari sumber aroma itu dan aku menemukan seorang tukang sate di kavling tanah kosong yang belum dibangun rumah.

Awalnya aku merasa curiga, bisa-bisanya ada orang yang jualan di tempat yang dikeliling oleh rumput liar. Maklum, rumputnya sudah tinggi hampir sedada orang dewasa. Tapi aku singkirkan pikiran curiga dan memarkirkan motorku di samping jalan. Aku turun dari motor, melewati saluran got dan berjalan di tanah sambil membelah rumput.

Saat aku sampai, aku melihat sebuah gerobak dorong dengan pencahayaan dari lampu petromak, seorang laki-laki tua tengah membakar sate dan dua kursi yang diletakan di depan gerobak. Laki-laki itu tampak pucat, tapi aku rasa akibat begadang dia seperti itu.

“Satenya dua puluh tusuk makan di sini, Pak… terus dua puluh tusuk lagi bungkus, ya,” kataku memesan. “Oh, iya, yang makan di sini pake lontong.”

Aku langsung duduk di salah satu kursi dan melihat sekeliling. Heran juga, kenapa tidak berjualan di pinggir jalan saja agar terlihat oleh orang yang mau beli. Dan mungkin karena hal ini juga, aku tak pernah melihat ada penjual sate di sini. Padahal aku kadang lewat jalan sini jika sedang terburu-buru. Lewat jalan sini lebih cepat sampai rumahku, hanya saja jalannya rusak banyak lubang.

Dalam lamunan itu aku kaget karena penjual sate itu menyodorkan piring berisi pesananku tanpa bilang apa-apa.

“Ngagetin saja, Pak… bilang dong kalau pesanan saya sudah selesai,” kataku mencairkan suasana.

Tetap tak ada respon dari dia. “Sombong amat,” kataku dalam hati. Tak terlalu memusingkan hal itu, aku langsung menyantap sate yang sudah ada ditanganku. Langsung saja suatu hal yang aneh aku rasakan. Satenya terasa dingin, tekstur dan rasa dagingnya aneh, aku seperti mengunyah daun atau rumput.

“Pak, kok, rasanya aneh, ya? Ini sate daging apa?” kataku mengeluh.

Dan aku lihat laki-laki itu masih tetap mengipasi sate-sate yang tengah dibakarnya. Aku dibuat kesal oleh pedagang ini dan sontak saja aku melemparkan piring itu depan laki-laki itu, tepat ke tempat pembakar satenya.

“SAYA ENGGAK MAU BAY….” Belum selesai aku berkata, piring yang aku lempar itu tembus dan langsung jatuh ke tanah. Dan yang lebih parah, laki-laki itu… si penjual sate itu tak memiliki kaki. Hah!

Aku panik. Dalam kepanikanku, penjual itu tetap tenang mengipasi sate-satenya. Sialan. Saat itu juga, ada seseorang yang berteriak dari arah jalan dan aku menglihat ke arah jalan.

“Bapak!!! Bapak yang punya motor ini di mana, ya?... Maaf tukang sate, bapaknya jangan diculik, ya! Bapak itu bukan yang bunuh Anda.”

Teriakan itu aku yakin mengarah ke sini. Dan alangkah terkejutnya saat aku melihat kembali ke arah tukang sate itu. Dia… dia sekarang melihat ke arahku dengan wajah yang penuh marah. Mata kanannya lebam dan mengeluarkan darah yang terus menetes. Ya, Tuhan!

Aku langsung berlari dan panik meninggalkan sosok itu sambil terseok-seok. Saat keluar dari rerumputan itu, aku hampir terjatuh masuk got, tapi ada dua orang yang langsung menangkapku dan membantuku duduk di pinggir jalan.

“Alhamdulillah, Pak. Untung bapak enggak kenapa-kenapa.” Mereka adalah satpam komplek di sini. Mereka tak langsung membawaku pergi dari tempat itu, tapi malah mengajakku mengobrol sambil menenangkanku yang sudah dipenuhi oleh keringat.

Dari mereka aku mengetahui cerita kalau dulu ada seorang tukang sate di komplek ini. Dia dibunuh karena hal persaingan bisnis. Mayat dan gerobaknya dibuang di tanah kosong belakangku ini. Masih kata mereka, hantunya masih penasaran dan sudah lama dia tak mencari “pelanggan” baru lagi atau menampakan dirinya lagi.

“Untung Bapak bisa keluar dari sana… kalau enggak, ya, seminggu baru ketemu lagi,” kata seorang satpam.

“Iya, semingu jadi langganan hantu sate komplek, Pak.” Langsung aku bergidik mendengarnya.

“Terus kenapa kita masih di sini, Pak?” tanyaku penasaran.

Seorang satpam lalu berdiri dan melihat ke rumput-rumput tinggi itu. Aku ikut menoleh dan alangkah kagetnya karena ada sebuah kepala, itu adalah kepala dari tukang sate yang aku lihat di dalam.

“Makasih, ya, Bang! Satenya enak katanya.” Sosok itu pun langsung menghilang dihembus angin.

Ternyata aku diberitahu kalau kita langsung lari atau meninggalkan tempat itu, kita bisa diikuti dan malah diteror sampai ke rumah.

-o0o-


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di