alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sapu Bersih Koalisi Ala Gerindra
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9a3354c1d770406f8b4567/sapu-bersih-koalisi-ala-gerindra

Sapu Bersih Koalisi Ala Gerindra

Sapu Bersih Koalisi Ala Gerindra
Capres, Cawapres, hingga nominasi Ketua Timses, semua berada di tangan Gerindra.

PinterPolitik.com


Banyak orang bertanya-tanya tentang kondisi terkini di koalisi pendukung pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Beberapa pengamat dan politisi menduga-duga ada nuansa ketidaksolidan di kubu pendukung kelompok oposisi tersebut.

Jika diperhatikan, terlihat bahwa di dalam koalisi tersebut, ada satu partai yang amat dominan: Partai Gerindra. Partai berlogo burung garuda ini tampak menyapu bersih posisi-posisi penting dalam koalisi oposisi.

Gerindra tidak hanya menempatkan kader terbaiknya, Prabowo sebagai capres dari koalisi tersebut, tetapi juga ada nama Sandiaga, orang yang lahir dari didikan politik Gerindra. Seolah belum cukup, jatah posisi ketua tim sukses juga berpotensi diisi oleh kader partai tersebut, yaitu oleh anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Djoko Santoso.

Spekulasi pun mengemuka di balik dominasi Gerindra tersebut. Anggota koalisi sepeti PAN dan PKS tampak seperti tenang-tengah saja dengan aksi sapu bersih Gerindra ini. Akan tetapi, Demokrat justru memberikan pernyataan bahwa partai tersebut tidak bisa dibiarkan besar sendirian. Jika sudah begini, apa yang akan terjadi jika dominasi Gerindra berlanjut?


Dominasi Partai dalam Koalisi
Pandangan umum dalam pembentukan koalisi adalah menggaet seminim mungkin partai untuk dapat membentuk koalisi yang efektif. Pandangan ini dikemukakan misalnya oleh William Riker dalam teorinya tentang koalisi. Menurut Riker, koalisi yang mudah untuk menang adalah koalisi dengan anggota paling sedikit.

Dalam kasus koalisi Prabowo-Sandiaga, tampaknya pernyataan tersebut tidak bisa sepenuhnya berjalan. Memang, koalisi ini bukan raksasa, akan tetapi dengan jumlah empat partai menggambarkan bahwa koalisi ini juga tidak bisa dibilang minimalis.

Partai Gerindra ini sungguh powerful ya terhadap koalisinya…
Capres Gerindra, Cawapres Gerindra, ketua timses Gerindra…
Kalau ntar menang, semua menteri dikasih ke Gerindra pun jgn2 PKS, PAN, ama Demokrat tetep pasrah juga ya 😂😂😂
— Iman Sjafei (@imanlagi) September 11, 2018


Di luar itu, ada pula satu kondisi yang menyebabkan pandangan Riker mengenai koalisi ini tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk koalisi Prabowo-Sandiaga. Kondisi tersebut adalah dominasi Gerindra sebagai pentolan utama.

Menurut Giora Goldberg, dalam koalisi yang digawangi oleh partai yang dominan, terjadi pencegahan terhadap proses bargaining bagi partai-partai lain. Dalam konteks ini, partai dominan ini akan mampu mendikte tiga kondisi mendasar dari mitra-mitranya, yaitu mayoritas absolut di dalam kabinet, kontrol terhadap lima kementerian utama, dan juga mencegah partai terkuat kedua untuk memiliki akses besar pada pengambilan keputusan pemerintah.

Berdasarkan pandangan tersebut, melalui dominasi Gerindra, partai-partai lain berpotensi kehilangan posisi penting di pemerintahan nanti. Demokrat, PAN, dan PKS boleh jadi tetap akan mendapat jatah menteri, akan tetapi, bisa saja jatah menteri yang diterima bukanlah jatah menteri yang cukup signifikan.


Kehilangan Posisi Tawar
Jika merujuk pandangan Goldberg di atas, terlihat bahwa dominasi Gerindra bisa membahayakan partai-partai lainnya di dalam koalisi. Secara logika, sulit membayangkan partai ini mau memberikan bargainingbesar kepada partai-partai koalisinya jika saat membentuk tim pemenangan saja partai lain tidak memiliki porsi yang besar.

Yang menarik, jika merujuk pada Goldberg, koalisi dengan satu partai dominan ini memiliki sejumlah syarat. Gerindra, dalam konteks ini, dapat dikatakan sebagai partai dominan hanya karena keunggulan suara terhadap mitra-mitra koalisinya.

Keunggulan suara Gerindra ini sendiri bukanlah sesuatu yang telah mereka raup sejak lama. Gerindra tentu saja lebih junior jika dibandingkan dengan Demokrat, PAN, dan PKS. Oleh karena itu, lonjakan suara signifikan baru diperoleh pada Pilpres 2014 lalu. Padahal, menurut Goldberg, partai dominan dalam koalisi umumnya terjadi jika mereka mampu unggul dalam tiga Pemilu secara berurutan.

PAN, PKS dan Demokrat di pemilu berbarengan berat. Di satu sisi sedang mencari dukungan agar partainya tetao lolos dan bertahan di Parlemen, di sisi lain harus mencari dukungan untuk Preaiden dan wakilnya bukan dari partai sendiri. Harus ada seni Agar Gerindra tak besar sendirian
— andi arief (@AndiArief__) September 11, 2018


Hal ini membuat banyak pihak bertanya-tanya mengapa partai-partai di dalam koalisinya mau begitu saja merelakan posisi-posisi penting kepada Gerindra. Padahal, mereka bisa saja meminta posisi lebih baik karena Gerindra sendiri tidak dapat maju tanpa dukungan mereka.

Salah satu teori yang mengemuka adalah soal keterlibatan rupiah. Hal ini sempat diungkapkan oleh Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Andi sempat menuduh Sandiaga membayar Rp 500 miliar kepada PAN dan PKS agar dirinya bisa berpasangan dengan Prabowo atas restu mereka. Boleh jadi, Gerindra memang memiliki andil lebih dalam pemodalan kampanye ketimbang partai-partai lain sehingga mereka menjadi begitu dominan.

Di luar dugaan aliran rupiah tersebut, alasan rasional lain adalah soal peraturan yang mewajibkan partai mendukung salah satu calon jika ingin bertarung lagi di Pilpres 2024. Hal ini membuat partai-partai tidak punya banyak pilihan selain merapat ke salah satu kubu capres. Kondisi tersebut membuat partai yang memiliki proyeksi panjang untuk 2024 seperti Demokrat harus mendukung Prabowo-Sandiaga.


Gerindra All Out Sendiri?
Kondisi ini membuat koalisi Prabowo-Sandi boleh jadi berada dalam ancaman. Tidak ada insentif yang cukup jelas dan pasti bagi partai-partai lain selain Gerindra. Jangankan di pemerintahan nanti, di tim pemenangan saja mereka tidak mendapat porsi yang cukup signifikan.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka langkah partai Demokrat  yang belakangan disebut bermain di dua kaki seperti ada benarnya. Dengan komposisi tim yang tengah dibicarakan, secara rasional Demokrat tentu lebih untung jika memberi perhatian besar pada langkah Pileg mereka, dan mendukung Jokowi yang jauh lebih populer dibanding Prabowo akan menguntungkan suara kader di daerah.

Kondisi serupa bisa saja terjadi pada dua rekan koalisi Gerindra yang lain, yaitu PAN dan PKS. Di atas kertas, kedua partai ini dianggap sebagai sahabat Gerindra yang paling setia. Akan tetapi, kedua partai ini telah lama dipinggirkan dari posisi penting dalam koalisi. Apalagi, kedua partai – terutama PAN – memiliki riwayat panjang bermain politik di dua kaki.

Hal-hal tersebut membuat kemungkinan Gerindra hanya akan sendirian dalam mendukung Prabowo-Sandiaga secara all-out. Di satu sisi, langkah ini terlihat seperti hal yang biasa saja. Akan tetapi ada sejumlah kerugian yang bisa melemahkan peluang kemenangan Prabowo-Sandiaga.

Meski sempat meraup suara signifikan pada Pilpres 2014, sejatinya Gerindra bukanlah partai yang memiliki core voters – pemilih inti – yang terspesifikasi secara khusus. Sulit untuk mendeskripsikan demografi pemilih Gerindra itu seperti apa, termasuk untuk mengetahui seberapa loyal pemilih partai tersebut. Hal ini berbeda dengan demografi pemilih partai lain seperti PAN dan PKS.
Sapu Bersih Koalisi Ala Gerindra


Jika  PAN dan PKS memutuskan bermain dua kaki, maka ada kemungkinan massa pemilih loyal kedua partai ini dilanda kegamangan. Padahal, kedua partai ini memiliki massa yang lebih riil ketimbang Gerindra.  PAN misalnya tergolong amat dekat dengan aspirasi pemilih yang berafiliasi dengan ormas Muhammadiyah. Sementara itu, PKS dikenal sebagai partai pilihan masyarakat Muslim kelas menengah perkotaan.

Situasi bertambah pelik dengan posisi Demokrat yang sudah terang-terangan bermain dua kaki. Mesin politik Demokrat terlampau mewah jika tidak bergerak untuk Prabowo-Sandiaga. Pada Pilgub Jateng lalu misalnya, suara Demokrat disebut-sebut menjadi pembeda sehingga pasangan Ganjar-Yasin mampu memenangi pertarungan.

Sejauh ini, kader Demokrat yang terindikasi akan mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin juga tergolong berbahaya. Gubernur Papua Lukas Enembe misalnya siap mengamankan suara di seluruh Papua untuk Jokowi. Ada pula nama mantan Gubernur Jatim dua periode Soekarwo yang memimpin provinsi dengan jumlah DPT kedua terbesar itu.

Kondisi-kondisi tersebut membuat dominasi Gerindra seperti melemahkan koalisi mereka sendiri.  Idealnya, dalam koalisi Prabowo-Sandiaga komposisinya dibuat agar lebih seimbang, sehingga Demokrat, PAN, dan PKS memiliki bargaining yang cukup kuat.

Di titik itu, partai-partai tersebut perlu mendapatkan insentif signifikan agar mau all-out mendukung Prabowo. Posisi penting di tim pemenangan boleh jadi harga mati agar mereka tak setengah hati. Jika tidak, dominasi Gerindra boleh jadi hanya akan bikin gigit jari Prabowo karena gagal lagi di Pilpres mendatang. 




Tulisan indepth lainnya dapat dilihat di Pinterpolitik.com
Sumber: Sapu Bersih Koalisi Ala Gerindra
Halaman 1 dari 2
demokrat mulai berontak, entah kenapa yg dua itu diem2 bae emoticon-Malu
Ini kalau menang Si Gerindra, bakal ada adegan monolog Soeharto seperti Habibie pernah bilang

emoticon-Ngakak

Selamat datang DIKTATOR emoticon-Embarrassment
Yg laen dah dapet kardus
emoticon-Wakaka
Balasan post mituwet
Quote:


Efek ditampol kardus bree emoticon-Ngakak
Pihak yg patut dikasihani Pepo beye sebenernya:
1. Anaknya sudah gak ada pamornya sama Uno, sulit untuk bersinar. Makin lama bisa redup dg adanya koalisi itu. Mosok AHY cuma jadi juru kampanyenya Uno.Secara umur gak jauh beda sama Uno.
2.Bakalan dikuliti nih parte Kleptokrat.
Diubah oleh i71lm4c4n
biarin ajalah...
suka2 mrk aja
malah hebat
bisa terbang

emoticon-Ngakak
Kalo wowok menang.. Gerindra seteloonggg..

Yg lain2 lgsg merapat emoticon-Leh Uga
Balasan post cabekriting21
Kayaknya Gerindra punya banyak stok pemimpin Gan..... Lu minta apa Gua ada.....jd partai lain mohon giginya utk menggigit jari masing masing.
Quote:

iya iya lah klo gerindra jadi dominan
lah wong udah d kasih duit se-kardus
jadi harus nurut, manut, dan mingkem

padahal dlu PKS ngotot banget, wakil harus dari kmi, klo wakil tidak dri kmi, kmi akan pisah dri koalisi

dan ternyata, duit sekardus bisa merubah otu semua,

klo prabowo jdi preside
bisa jadi jatah mentri yg pling banyak ada d gerindra
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
bisa jadi karena masalah modal gan. kalo ga punya dana ngga usah banyak cing cong mintak ini itu emoticon-Smilie
Udah jinak, diempanin 500m emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)
partenya om wowo memang mantep
koalisi ramping yang dulu di gembar gemborkan PDI P .. kini di pake GERINDA

strong berarti GERINDA emoticon-Sundul Up

ini membuktikan GERINDA bebas Dari intervensi emoticon-Sundul Up
Diubah oleh antofarros
PKS PAN tenang2 bae, jatah dari uno ada jatah menteri yg bejibun dr prabowo juga ada. korupsi selama 5 tahun udh siap.
nikmat tuhan mana lagi yg akan kamu dustakan.
Yg dominan cenderung kerja lebih keras... Ya wajarlah...
koalisi gerindra tetap oke z yg penting ganti presisen asal bukan jokowi
mau menang atau kalahnya wowok yg jelas yg dapet untung sandiaga

1. Berkuasa di Gerindra posisinya makin kuat

2. Nambah elektabilitas dia buat maju pilpres 2024

3. Jadi wapres klo wowok menang

emoticon-Ngakak
baru paham ane..emang dah otak bisnisman emoticon-Ngakak
gembokep
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di