alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Bisnis /
Kurs Rupiah Melemah Adalah Rejeki Bagi Petani Kopi di Garut
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b98ecc8529a456f308b4568/kurs-rupiah-melemah-adalah-rejeki-bagi-petani-kopi-di-garut

Kurs Rupiah Melemah Adalah Rejeki Bagi Petani Kopi di Garut

Kurs Rupiah Melemah Adalah Rejeki Bagi Petani Kopi di Garut

Untuk pertama kalinya sejak 20 tahun terakhir, Indonesia kembali dalam posisi yang terpuruk. Bagaimana tidak, kurs rupiah melemah hingga ke angka Rp. 14.891 di hari Kamis (06/09). Angka tersebut hampir menyentuh Rp. 15.000 dan menjadi ancaman bagi pemerintah. Kenaikan harga dollar itu dapat berimbas buruk bagi perekonomian tanah air, salah satu contoh kecilnya saja harga bahan pokok yang biasanya akan mengalami kenaikan.

Menurut penuturan Presiden Indonesia, Joko Widodo, ada beberapa faktor yang membuat kurs rupiah melemah, seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara Cina dan Amerika serta krisis panjang yang menimpa Turki dan Argentina. Jika dibiarkan terus menerus, mata uang tanah air bisa-bisa akan menurun ke level terendah sepanjang sejarah.

Lebih lanjut, mantan Walikota Solo tersebut menambahkan jika ada beberapa cara untuk menanggulangi kurs rupiah melemah, satu contoh yang sangat mendongkrak adalah kegiatan ekspor barang dalam negeri. Oleh karena itu, beliau mendorong para pelaku usaha untuk  terus meningkatkan kualitas produknya sehingga mampu bersaing di luar negeri.

Kurs Rupiah Melemah Buat Petani Kopi Sumringah

Ketika sebagian besar pelaku usaha tengah meringis akibat harga dollar yang meningkat, hal tersebut ternyata tidak dirasakan oleh para petani kopi di Garut. Pasalnya, mereka malah meraup untung besar di tengah kekalutan harga rupiah yang terus melemah. Tak tanggung-tanggung, keuntungan yang didapatkan oleh mereka mencapai 30% dari harga biasanya dengan omset yang tidak berubah.

Petani kopi di Garut biasanya menjual produknya berjenis preanger java biji hijau dan kuning dengan harga 10 dollar per kilogramnya. Dengan kata lain, keuntungan dari naiknya harga dollar mencapai lebih dari 20 ribu rupiah persatu kilogram. Sementara dalam sekali panen, mereka biasa mampu melakukan ekspor dengan total mencapai belasan ton. Jika dikalkulasikan, keuntungan bisa meningkat drastis hingga 30 juta rupiah dalam satu kali panen.

Jelas saja petani kopi di sana terlihat sangat sumringah. Sebab, mereka menjual biji-bijian tersebut ke beberapa negara besar di dunia, seperti Australia, Ukraina hingga Amerika Serikat. Ke depannya, mereka mengincar pangsa pasar yang lebih besar agar dapat melebarkan sayap bisnis ke seluruh penjuru di dunia. Jika hal itu berhasil, kopi Indonesia bisa menyaingi negara pengekspor besar lainnya seperti Brasil dan Vietnam.

Menjual Kualitas

Kesuksesan petani kopi di Garut mendapatkan untung besar di balik kurs rupiah yang melemah adalah seperti sebuah oase di tengah padang pasir. Ketika banyak pelaku usaha sedang mengeluhkan harga jual produk yang cenderung menurun, mereka malah mampu meraup pendapatan yang luar biasa. Salah satu faktor penting yang membuat mereka dapat berjaya adalah dengan menjual kualitas bukan kuantitas.

Semakin bagusnya kualitas produk yang diberikan, semakin banyak dan mahal pula barang yang akan dijual. Terlebih lagi, banyak negara besar di dunia yang tidak ragu untuk merogoh kocek dalam-dalam apabila mendapatkan barang yang mereka inginkan. Karena menurut mereka, kualitas selalu menjadi pilihan utama dibandingkan kuantitas (jumlah banyaknya barang).

Dalam membuat produk yang berkualitas, ada beberapa faktor yang harus Anda perhatikan, seperti
- Sumber daya manusia: sebagai karyawan yang membuatnya
- Bahan Baku: komponen utama dalam pembuatan produk
- Uang: untuk meningkatkan sebuah produk, modal harus Anda miliki
- Mesin dan Peralatan: semakin canggihnya peralatan semakin bagusnya produk yang akan dibuat.


Jika Anda merupakan seorang pelaku usaha, ada baiknya untuk mengutamakan kualitas sebuah barang dibandingkan kuantitias. Sebab, para konsumen biasanya tidak akan peduli seberapa mahal harga produk selama mereka bisa mendapatkan kebutuhan yang mereka ingin. Sebagai contohnya, Anda bisa lihat Starbucks.

Kedai kopi modern milik Howard Schultz asal Amerika Serikat tersebut mempunyai omset yang sangat besar setiap bulannya. Jika di rata-rata, harga segelas kopi di Starbucks berkisar antara 30-50 ribu belum termasuk dengan kue dan juga toppingnya. Walaupun menetapkan harga yang cukup mahal, mereka tidak akan pernah kehilangan pesona. Sebab, mereka menjual kualitas terbaik dari segelas kopi.

Pentingnya Penggunaan Bahan Baku Lokal

Keuntungan besar yang didapatkan oleh petani kopi di Garut terjadi lantaran mereka menggunakan bahan baku lokal. Seluruh proses pembuatan, mulai dari penanaman, pembibitan hingga proses produksi dibuat di daerah Jawa Barat tersebut. Karena tidak menggunakan satupun bahan baku impor, produk yang mereka buat tidak terpengaruh dengan kenaikan harga dollar ataupun inflasi yang terjadi di berbagai sektor industri.

Penggunaan bahan baku lokal memang menjadi syarat terpenting apabila seorang pelaku usaha merasakan untung besar dibalik lesunya rupiah di mata dollar. Berbanding terbalik dengan petani kopi di Garut, para pengusaha tempe malah menjerit dikarenakan kenaikan ini. Sebab, mereka menggunakan bahan baku kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat. Mirisnya, peningkatan biaya produksi tidak diimbangi dengan penjualan yang tengah menurun.

Penjual tempe berada di posisi yang serba salah. Jika mereka meningkatkan harga jual, otomatis akan banyak konsumen yang melancarkan protes akibat kenaikan tersebut. Di sisi lain jika mereka tidak menyeimbangkan harga jual dan bahan baku, otomatis mereka akan mengalami kerugian yang pastinya tidak sedikit. Oleh karena itu, pemerintah harus mencari cara bagaimana agar produksi kedelai dalam negeri dapat mencukupi kebutuhan nasional sehingga para pelaku usaha tidak harus mengimpor lagi dari negara lain.

Sumber: Paper.id





×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di