alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b98bf96529a45e5798b456a/kinerja-apple-dalam-bayang-kebijakan-trump

Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump

Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump
Konsumen berbaris di depan toko Apple di Beijing, Tiongkok, 22 Juli 2018.
Panggung Apple dicuri Donald Trump. Dua hari jelang peluncuran gawai-gawai terbaru Apple, Presiden Amerika Serikat (AS) itu mengeluarkan pernyataan yang merusak suasana.

Trump meminta Apple berhenti merakit produknya di Tiongkok dan mengusulkan perusahaan teknologi raksasa itu untuk pulang kampung.

“Ada solusi yang mudah untuk membuat pajak menjadi nol, termasuk juga soal insentif. Daripada di Tiongkok, lebih baik buat produkmu di AS. Mulailah bangun pabrikmu sekarang!” kata Trump sambil menyelipkan tagar Make America Great Again dalam akun Twitternya, @realDonaldTrump.

Ucapan Trump menyasar pada surat keberatan yang diajukan Apple kepada Departemen Perdagangan AS tentang rencana pengenaan tarif baru untuk sejumlah barang manufaktur asal Tiongkok yang totalnya mencapai $200 miliar AS.

Belum jelas barang-barang apa saja yang masuk dalam daftar pembatasan impor terbaru itu. Namun, Apple mengaku pengenaan tarif baru bakal berdampak pada onderdil-onderdil yang digunakan dalam perakitan Apple Watch, AirPods, Mac mini, dan Apple Pencil.

Bukan hanya itu, pusat perbaikan dan data Apple juga bakal berdampak karena kebijakan ini.

“Semua tarif pada akhirnya akan menjelma jadi pajak atas konsumen AS. Konsumen juga bakal menanggung kenaikan harga produk Apple yang selama ini menjadi andalan dalam kehidupan sehari-hari mereka,” sebut petikan surat Apple yang dilansir TIME.

Seorang analis dari Merrill Lynch, Wamsi Mohan, memprediksi harga jual sebuah iPhone bakal naik sekitar 20 persen jika gawai itu diproduksi di AS. Jika pun hanya 10 persen dari perakitan iPhone di Tiongkok pindah ke AS, gawai tersebut tetap bakal mengalami kenaikan harga jual hingga 8 persen, sambung Mohan dalam laporan CNBC.

Rencana kenaikan tarif ini bakal menjadi yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Trump pertama kali menaikkan tarif 25 persen untuk 800 produk Tiongkok yang memiliki nilai perdagangan mencapai $34 miliar (sekitar Rp478,45 triliun) pada 6 Juli 2018.

Kebijakan itu berlanjut bulan lalu, ketika tarif untuk 400 produk Tiongkok dengan nilai perdagangan mencapai $16 miliar juga dinaikkan hingga 25 persen.

Pada dua kebijakan awal, CEO Apple Tim Cook selalu meyakinkan konsumennya bahwa kenaikan tarif tidak akan berdampak pada produk-produknya. Namun, bukan berarti Cook tidak was-was atas kebijakan dagang Trump.

Cook menjadi satu dari sekian banyak pemimpin perusahaan multinasional AS yang menegaskan kebijakan proteksionisme Trump “tidak tepat sasaran”.

Dalam kacamatanya, kebijakan ini juga akan menggerus daya saing Apple terhadap produk-produk teknologi lainnya. Ujung-ujungnya, kebijakan ini hanya akan menghambat pertumbuhan ekonomi AS.

Data Kantar World Panel yang diolah Lokadata menunjukkan, Android masih merajai pasar telepon pintar setidaknya di 10 negara. Paling tinggi adalah Argentina dengan 96,1 persen. Sementara, pasar penjualan ponsel berbasis iOS berada di Jepang (42,9 persen) disusul AS dengan 38,7 persen.

Di sisi lain, permintaan Trump yang meminta Apple pulang kampung juga langsung menyeret jatuh harga saham Apple. Pada pembukaan perdagangan, Senin (10/9/2018), saham Apple yang terdaftar di Nasdaq merosot 1,3 persen ke posisi $216,76. Meski, kejatuhan itu berhasil bangkit jelang peluncuran hari ini.

Kinerja saham Apple sepanjang tahun ini terbilang ciamik. Sejak awal tahun hingga Jumat (7/9/2018), saham Apple telah melonjak 31 persen. Apple juga berhasil menjadi perusahaan pertama yang memiliki nilai kapitalisasi pasar mencapai $1 triliun atau setara Rp14,5 kuadriliun.

Pada peluncuran hari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Apple digosipkan bakal mengenalkan tiga produk iPhone terbaru, Apple Watch 4, Mac dan MacBook, iPad Pro, serta sistem operasi terbaru iOS 12.
iPhone terjangkau karena Tiongkok Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump
Presiden AS Donald Trump saat bertemu dengan CEO Apple Tim Cook di Gedung Putih, Washington, AS, 19 Juni 2017.
Trump bukan presiden AS pertama yang meminta perusahaan seperti Apple untuk pulang kampung. Pertengahan Februari 2011, Presiden Barrack Obama pernah secara langsung menanyakan hal yang sama kepada mendiang CEO Apple, Steve Jobs.

“Mengapa tidak bisa membuat iPhone di AS?” kata Obama dalam sebuah makan malam bersama di kediaman John Doerr, Woodside, California, AS. Obama paham betul, keputusan Apple merakit produknya di Tiongkok telah membuat mesin ekonomi negaranya pincang.

Jobs tak langsung menjawab. Pendiri Apple itu tersenyum sesaat lalu mengatakan, “semua pekerjaan itu tidak bisa dilakukan di AS”. Obama tak membalas jawaban itu.

Apple begitu cermat dalam berhitung. Laporan New York Times menyebut, dibutuhkan sekitar $65 untuk membuat satu buah iPhone di AS, sementara di Tiongkok, ongkos pembuatannya hanya sekitar $8.

Apa pasal? Salah satunya adalah upah pekerja di Tiongkok 2,6 kali lebih murah daripada pekerja AS. Apalagi, Tiongkok diklaim memiliki sarjana teknik yang lebih banyak dan lebih pintar ketimbang AS.

Selain upah murah, buruh Tiongkok juga dikenal lebih giat dan tak banyak menuntut ketimbang pekerja AS.

Pada 2012, seorang pekerja Tiongkok di pabrik Foxconn diupah kurang dari $1 per jamnya. Hal itu kemudian yang membuat Apple disebut The Guardian sebagai perusahaan pelanggar hak asasi manusia (HAM).

Pekerja bukan satu-satunya alasan Apple mendirikan pabrik di Tiongkok. Sebagian besar komponen iPhone dan iPad yang kini diproduksi di Tiongkok turut menjadi alasan lain Apple ada di sana.

Dengan begini, Apple tak perlu mengeluarkan ongkos berlebih untuk mengirim komponen itu ke AS. Tapi, hal ini yang membuat AS kehilangan potensi pendapatannya. Sebab, penjualan produk Apple bakal berangkat dari Tiongkok, alih-alih dari AS.
Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ebijakan-trump

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump Benarkah haji turut melemahkan rupiah

- Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump Terbanglah polisiku

- Kinerja Apple dalam bayang kebijakan Trump Bangunan Asian Games bakal disewakan untuk umum

gtu ya bray

ane gk perna make barang dri cina bray


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di