alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sang Perantara Jiwa [TRUE STORY]
5 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b974a8e96bde65a308b4568/sang-perantara-jiwa-true-story

Sang Perantara Jiwa [TRUE STORY]

Permisi sesepuh sfth yang berkuasa di sfth emoticon-Nyepi
Langsung aja ya. Ane di sini mau nyeritain kisah temen ane. Namanya bang Rampong.
Anak indigo yang penuh kisah dan perjuangan keras untuk mengontrol hyperaesthesia. bang Rampong dikaruniai oleh Tuhan untuk berkomunikasi dengan jiwa dari orang2 terkasih.

Kisahnya dia ini seru gan sist, makanya ane ceritain di sfth ini. Yang pastinya ini kisah nyata, dan lebih ke spiritualis, bukan ke horor.

Nah, di kisahnya dia ini Banyakan sisi positif dari negatif sih (1% aja mungkin sisi negatifnya yg ane ceritain ini), jadi gak usah pake embel2 ambil positif, buang negatfinya yaa. Lagian udah gede juga kan emoticon-Big Grin

Quote:


*Note : ane komunikasi sama bg Rampong lewat wa, dia kasih materi dan inti ceritanya lewat situ (kadang lewat email) terus ane tambahi dikit2 aja diksi nya (suer). Dan bg Rampong juga gak terus2an ada waktu buat ngirim cerita, soalnya punya kesibukan di real lifenya, kerjaan, keluarga. So, sabar aja ya gan sist. ane usahain sampe tamat, dan agak ane paksa nih bg Rampong biar updatenya cepat emoticon-Ngakak (S) emoticon-Big Grin

Enjoy gan sist emoticon-Angkat Beer


∆∆•••∆∆



Part 1 : Awal Mula

Di masa kecil saya, rumah kami sering kedatangan tamu yg dipercaya masyarakat memiliki kamampuan yg tidak dimiliki orang2 biasa, biasa disebut kemampuan supranatural. Sebagian datang dari luar daerah untuk mengunjungi Oppung Doli (Kakek) saya yang sudah dikenal terutama di kalangan antar sesama spiritualis sebagai orang yg mendedikasikan diri di bidang spiritual dan banyak membantu sesama.

Di sela2 pertemuan mereka, sering kali tamu2 ini berkesimpulan bahwa di antara semua keturunan Oppung saya, saya lah yg nantinya memiliki bakat yg sama. Semuanya dengan argumentasi masing2, mulai dari mitologi timur klasik, sampai kearifan lokal. emoticon-Smilie

Menurut mitos dan pengalaman spiritualis, bila seseorag menurunkan kemampan supranatural, ia harus menjalani berbagai pantangan. Hal ini agar melindungi spiritualis itu sendiri dari berbagai kemungkinan negatif yg bisa terjadi.

Beberapa peraturan tertentu akhirnya ditetapkan pada saya. Di antaranya, saya tidak boleh main di dapur atau di dekat sumur, tidak boleh keluar rumah mulai petang dan dilarang ikut melayat orang yang meninggal. Semua larangan ini disosialisasikan pada para tetangga, bahkan sampai mereka yang bertempat tinggal agak jauh dari rumah. Tujuannya adalah agar mereka ikut mengingatkan saya. Pada masa itu, para tetangga menerimanya dengan sangat baik.

Melihat semua kejadian ini, oppung boru (nenek) hanya geleng2 kepala. Susah memastikan apa yg ada di benak oppung saya ini. Muyngkin sama dengan pikiran saya saat itu, bahwa orang-orang ini tidak bisa dimengerti.

###

Berjalannya hari ke hari, tubuh saya sangat rentan dan sering sakit-sakitan. Saya sudah menjadi langganan tetap ke dokter, hampir dua kali setiap bulannya, mulai dari demam sampai berbagai penyakit yg sulit dimengerti gejalanya bahkan oleh dokter sekalipun (?).
Saat itu, kunjungan ke klinik berarti mendapat suntikan, dan itu sangat tidak menyenangkan.
Pada usia...

*Lanjut nanti ya gan sist emoticon-Big Grin
Diubah oleh grepe.lovers
Halaman 1 dari 2
Pertamaxxx
Reserved
Part 2 : Kontak Pertamax Dengan Spiritualis

Semasa kecil, tubuh saya sangat rentan dan sering sakit2an. Saya sudah menjadi langganan tetap ke dokter, mulai dari demam, hingga penyakit yg sulit dimengerti gejalanya oleh dokter.

Pada usia 4 tahun, saya mengalami penyakit aneh. Setiap petang sampai sekitar jam 7 malam, rasanya selalu ada yg menggelitik, sangat geli. Saking gelinya, bahkan sampai sekarang pun terkadang dan tanpta sengaja saya masih sering menekankan dagu ke leher. Makan terasa sangat terganggu. Badan juga sering mengigil kedinginan.

Orangtua saya membawa saya ke beberapa dokter. Hasil diagnosis rata2 mengarah pada sakit amandel. Kesembuhannya? Nihil.

Saat itu, Oppung Doli sedang terserang stroke, sehingga tidak ada pendapat yang bisa ia sampaikan. Maka, diputuskanlah untuk mencari solusi pada seorang sipirtualis. Spiritualis paling paling terkenal bertempat tinggal di kabupaten tetangga, jadi kami pun pergi ke sana. Perlu 1 jam untuk sampai ke lokasi.

Dia itu seorang wanita peranakan, berusia di atas 70 tahun. Tubuhnya pendek, agak gemuk. Memakai ulos batak toba dikepala, seperti diikat. Saya dipersilahkan duduk di tengah2 ruangan. Ketika itu, saya bertanya tanya dalam hati, kejutan apa yang akan terjadi. Ia berjalan memutari kursi saya sambil membaca doa2, lalu meminum segelas air putih. Tiba2 saja ia menyemburkan air putih yang ada di mulutnya ke muka ku. Kaget! Tetapi apa mau dikata, saya tidak sempat menutupi wajah dengan tangan. Parahnya lagi, untuk tahap selanjutnya saya harus minum air yang sudah dibuatnya.

Sesampainya di rumah, pada malam hari, ada yang tidak lazim. Saya langsung sembuh, benar2 sehat samapi sekarang. Ajaib!

Beberapa bulan kemudia, spiritualis itu mampir ke tempat kerja orangtua ku. Kebetulan hari itu saya berada di sana. Seperti biasa, saya selalu menghabiskan waktu dengan menggambar corat-coret manusia super dengan otot2 yg besar bulat kayak balon, pake topeng, dan jubah dipunggung.

Sambil tersenyum, ia memberi isyarat tangan agar aku mendekat. Ia menanyakan kesehatanku. Sejujurnya, saya sudah sehat. Ia melihat-lihat lagi wajah saya dengan cermat, terutama mata dan alis.

"Haduan, boi do ho mangida aha na so boi diida ni jolma" (Nanti kamu akan mampu melihat apa yg tidak semua orang bisa lihat) , demikian mulutnya berucap bahasa batak toba dengan ekspresi serius sambil tajam2 menatap lurus ke mata saya. Ucapan itu masih sering terngiang-ngiang di dalam benak saya sampai sekarang.
Diubah oleh grepe.lovers
Part 3 : Pengalaman Pertama

Saat saya berusia 5 tahun, diadakan acara pemakaman besar2an di lingkungan tempat tinggal saya. Almarhum merupakan tetangga kami. Rumahnya masih sejajaran dengan kediaman keluarga kami, dan jaraknya sekitar beberapa rumah saja. Iring iringan pembawa jenazahnya sangat ramai, terutama dengan ingar bingar musik pengiring yang keras. Sedih dan berkabung tidak berarti sunyi. Hanya orang orang dari keluarga kaya dan terpandang saja yang biasanya menyelenggarakan seperti itu. Pria paruh baya itu dikenal seorang yang kaya dan dermawan.

Keramaian itu terasa begitu menarik, sampai sampai saya memanjat jendela dengan berpijak pada sebuah kursi tinggi, sekadar untuk mengintip. Senang sekali rasanya, seperti melihat karnaval. Mumpung kali ini tidak ada yang mengawasi dan mengganggu kesenangan saya!

Mata saya terus mengawasi iring iringan itu.
Tiba tiba saja melihat ketidakwajaran. Almarhum masih terlihat berjalan bolak balik di antara para anggota keluarganya. Seluruh keluarganya menjalani tradisi dengan mengenakan semacam rompi dan penutup kepala putih. Ia seperti hendak menyampaikan sesuatu, tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Ia menengok dan memandang ke arah saya, seakan tahu ia sedang diamati. Karena kaget, mata saya mengerjap, dan sejurus kemudian ia sudah lenyap. Pasti ada yang tidak beres dengan mata ini, begitu pikir saya. Ada sedikit rasa gentar yang tertinggal di relung hati.

Mendadak isi perut saya seperti bergejolak naik dan berhenti di sekat antara rongga perut dan rongga dada. Tengkuk saya terasa dingin dan agak berat. Kalau diibaratkan, rasanya sama seperti rasa dingin di tengkuk seseorang yang mual masuk angin karena terus menerus berada di dalam kendaraan yang melaju memutari lereng gunung selama dua jam lebih. Pori pori terasa membesar tiba-tiba, dan beberapa detik kemudian kembali seperti semula.

Kejadian barusan itu saya beritahukan pada orangtua saya. Hasilnya adalah penerapan larangan jadi semakin ketat. Tidak ada lagi acara menonton karnaval!
Part 4 : Permintaan Tolong Pertamax

Pada suatu sore, saya pulang sekolah melewati gang2 sempit san sepi diantara deretan rumah kuno yang tinggi2. Sebagian besar rumah itu tidak berpenghuni. Rute ini merupakan satu2nya jalan pintas untuk pulang. Hitung2 hemat waktu karena saya berjalan kaki.

Sekelabatan terlibat seorang wanita berpapasan jalan dengan saya. Samar2 saya merasa wanita itu berperawakan menarik dan kulitnya cerah. Saya sangat sadar bahwa saya sedang tidak berpapasan dengan manusia karena memang tidak ada siapa pun di situ, baik sebelum maupun sesudah sekelebatan itu berlalu. Mungkin hanya lamunan saya!

Esok harinya, saya melewati jalan yang sama dan berpikir mungkin saya akan mendapatkan lagi lamunan tentang wanita menarik itu. Terkadang fantasi dapat menjadi hiburan yg menyenangkan bagi anak yg baru beranjak dewasa.

Tidak ada yg istimewa sepanjang perjalanan kali ini.

Namun, saya bertemu lagi dengan wanita sekelebatan itu. Ketika kami berpapasan, saya merasa dalam kondisi setengah sadar, tepatnya hampir mirip melamun. Pikiran saya seolah tidak mampu mengendalikan gerakan tubuh, tetapi saya merasa seakan ia sedang tersenyum dan berharap.

Saya terus melangkah. Perut saya sudah keroncongan karena sewaktu berangkat ke sekolah tadi pagi lupa sarapan, ditambah tidak makan juga saat bel istirahat di sekolah.

Dduuuarrrrr....Sesaat kemudian petir menggelegar, langit menghitam ditutupi ribuan burung walet, rintik air mulai turun, dan diikuti hujan yg jatuh dengan derasnya. Mau tidak mau, saya basah kuyup dijalan dan sesampainya di rumah, air di pakian saya bisa mengucur diperas. Pada malam harinya, badan saya terasa panas, tenggorokan agak perih, lalu saya mulai demam.

Keesokan harinya, seorang mantri yg juga merangkap sebagai rohaniawan datang ke rumah saya dan memberikan layanan kesehatan. Ia berkaca mata tebal dengan gagang dari bahan plastik berwarna cokelat dan memakai peci hitam dengan posisi sedikit miring. Dalam mimpi, saya bertemu dengan wanita yang saya temui kemarin. Ia seperti meminta saya melakukan sesuatu. Raut wajahnya memelas dan mulutnya komat-kamit mengucapkan kata2 yg tidak terdengar, tetapi saya tidak memahami apa yg diinginkannya.

Siangnya, saya bangun tidur, tetapi penyakit saya belum kunjung membaik.

Pada hari keempat, saya sudah sangat bosan terus berada di dalam rumah. Saya duduk2 di tangga pintu depan sambil menggambar gambar. Tiba2 dari ekor mata, saya melihat lagi wanita itu hadir secara sekelebatan. Ia berdiri senyum, dengan tubuh bersandar ke depan pada pagar rumah kami dan kedua tangannya memegangi bagian atas batang2 kayu pagar. Pagar ini terbuat dari kayu nyatoh dan disusun vertikal dengan jarak sejengkal, setinggi dada orang dewasa, serta bercat hijau. Ketika saya menoleh, ia tidak ada. Saya kembali menggambar, dan ia hadir lagi. Saya menoleh lagi, tapi lagi2 ia tidak ada. Selanjutnya saya ulangi gerakan yg sama secara tiba2, ia tetap tidak ada. . . . atau memang tidak pernah ada.

Mengjelang petang, sakit saya bertambah parah, dan saya mulai meracau. Malam harinya sekitar jam delapan, Pak Mantri datang lagi. Saya pun menceritakan hal tersebut kepada Pak Mantri.

"Kalau nanti bertemu wanita itu, tanyakan namnya!" demikian pesannya setelah selesai meracik obatnya.

Ketika tidur, saya bermimpi bertemu lagi dengan wanita itu. Ia hadir bagaikan siluet yg tidak stabil. Kali ini ia mulai tidak sabar. Saya menanyakan namanya. Ia menjawab, lalu tiba2 di dalam pikiran saya ada nama berinisial S, dan juga terbesit rasa seakan-akan ada bayi perempuan.

Ketika bangun pagi, saya merasa sudah agak membaik. Lewat telepon saya menghubungi Pak Mantri dan memberitahukan tentang mimpi semalam.

"Kita lihat nanti, apa yg bisa diperbuat dengan informasi itu," jawabnya.

Sebulan kemudian, tidak terduga, baru saya tahu bahwa perempuan berinisial S itu sudah meninggal enam bulan yg lalu, beberapa hari setelah sakit. Orangtuanya tidak tahu bahwa ia memiliki bayi perempuan. Lewat pesan yg ia sampaikan, akhirnya keluarga itu dapat bersatu kembali.

Kejadian ini berkembang menjadi cerita dari mulut ke mulut di Kabupaten kami ini, dalam berbagai versi yg telah ditambah tambahi atau dikurang kurangi.

Kehidupan memang selalu diwarnai oleh datang dan pergi. Alhasil, kebahagiaan atau kepedihan di hati kita bergantung pada dari sudut mana kita memandangnya.

*jari2 udah mau kriting cuy emoticon-Big Grin
Numero uno pejwan...
emoticon-Keep Posting Gan
#horasbah
Part 5 : Jiwa2 Memperingatkan saya

Quote:


Saat itu adalah awal tahun 1998 di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Lagi2, saya terbangun di pagi buta. Butir2 keringat dingin di wajah dan bahu saya seka dengan tisu. Sudah dua hari berturut turut, saya mendapatkan mimpi tentang orang2 yg saling membunuh. Kepanikan melanda di mana mana. Banyak rumah, ruko, dan gerai yg terbakar. Saya belum bisa memastikan maksud dari mimpi2 itu. Dan mungkin tidak lebih dari sekadar dampak kekalutan situasi akhir2 ini, karena suasana lingkungan dapat memengaruhi objektivitas penglihatan batin.

Pagi itu, merebak isu2 seputar masalah perbankan yg memicu keresahan luar biasa sehingga terjadi penarikan dana besar2an dari bank. Saya termasuk satu dari sekian banyak nasabah yg ikut2an bingung. Pada jam sepuluh pagi, antrian di depan ATM sebuah bank swasta di Jakut sudah panjang. Sambil membolak balik kartu debit berwarna emas, saya berdiri dalam antrean panjang dan panas di luar bangunan ATM. Mulai terasa ada yg ganjil dengan lingkungan sekitar saya; tetapi apa? Ternyata pemandangan bangunan yg terhampar di depan saya persis sama dengan yg muncul dalam mimpi semalam. Mencoba membuang prasangka negatif, lagi2 saya menganggap hal itu hanyalah khayalan yg muncul dari kekhawatiran akibat terus melambungnya harga barang2. Harga kebutuhan pokok hari ini bisa 2x lipat dari hari kemarin!

Saat pulang, saya melalui daerah Grogol. Ketika melintas di atas jembatan layang, terdengar suara dari belakang-kiri-atas secara berulang-ulang di benak saya:

"Tinggalkan tempat ini sebelum tengah bulan, sebelum tengah tahun!"

Saya mulai memberi perhatian lebih, tetapi tidak cukup serius untuk mengambil langkah2 antisipasi. Biar tunggu saja perkembangan dari semua keganjilan ini, mungkin sebentar lagi akan ada titik terang.

Beberapa hari kemudian, seusai menyaksikan film di bioskop lantai paling atas Pasar Slipi, saya turun. Eskalator paling bawah macet, entah tujuannya untuk menghemat listrik atau mungkin memang rusak, yg pasti eskalator itu sudah cukup lama tidak terawat. Fasilitas yg payah.

Saya melangkah ke jalan, tetapi rintik hujan menghadang. Pilihan yg tersisa hanya mengitari areal pinggiran pasar. Saya berhenti dan berteduh di bawah tenda sebuah warung ayam bakar. Warung2 di sini tampaknya memiliki konsumen dari latar belakang yg cukup beragam. Entah karena aroma yg menggoda atau rasa lapar, saya jadi tertarik untuk memesan. Ternyata antrean terlalu panjang, jadi terpaksa niat menggebu saya dibatalkan.

Hujan pun akhirnya reda. Saya menyebrangi jalan, melewati kolong, menyebrang lagi. Memasuki pelataran Plaza Slipi Jaya, suasana terasa lebih lega. Saya menapaki tangga naik dan meneruskan langkah masuk melalui pintu samping. Yg ada dipikiran saya saat itu adalah cara mendapatkan makanan yg cepat dan enak, pokoknya yg gak ribet. Terpikir CFC, saya membeli pesanan paling umum berupa ayam goreng, nasi dan orange float. Jenis minuman ini sedang getol2nya diiklankan di tv. Tidak perlu waktu lama untuk menyantapnya. Karena masih haus dan ada keperluan untuk membeli ikat pinggang, saya memesan orange float untuk dibawa. Saya lalu bergegas naik ke beberapa lantai untuk berbuu ikat pinggang.

Agak cuek dan haus yg menyengat, saya mulai asyik dengan minuman. Saya agak melupakan lingkungan sekitar, apalagi memperhatikan bahwa pajangan di sekitar menunjukkan bahwa saya sedang berada di areal khusus perempuan. Tiba2 siku kana saya membentur punggung seorang perempuan yg sedang melangkah mundur. Minuman saya tumpah ke celana dari lutut ke bawah, sekitar seperempat gelas. Perempuan itu berbalik.

"Maaf!" katanya singkat. Mungkin ia tidak tahu ada yg tumpah, dan lagi pula memang salah saya.

Sepertinya saya pernah melihat orang ini, tapi entah di mana. Dalam perjalanan ke toilet untuk membersihkan celana, saya baru ingat, ia mirit atau memang seorang artis penyanyi yg sering tampil di televisi.

Saya terpaksa mengubah prioritas. Yg paling penting sekrang adalah membersihkan celana. Di toilet itu saya sendirian; ruangan terasa sepi dengan alunan musik instrumental.

Seorang lelaki muda masuk dengan sedikit tertatih-tatih. Tangan kirinya memegang perut bagian kanan yg mengeluarkan darah. Kedua tangannya penuh goresan luka, rambutnya agak acak2an tidak keruan. Sekilas raut wajahnya menyiratkan permintaan tolong. Mungkin karena terlalu menderita, ia hanya bisa merintih. Ia mengenakan kaus berkerah dengan motif garis2 horizontal warna putih dan biru. Celana jins belelnya agak ketat, sedangkan bagian kaki kanan dari paha sampai bawah seperti gosong bekas terbakar.

"A.......

*bersmbungemoticon-Big Grin
Ijin sub gan...
Part 6 : Jiwa2 Memperingatkan Saya #2

"A......," saya ingin bertanya apa yg telah terjadi atau mungkin ada yg bisa bantu, tetapi tenggorokan saya seperti tercekat.

Ia terus berjalan melewati saya ke ruang kloset.

Diliputi kebingungan, saya keluar hendak mencari pertolongan sambil menebak nebak apa yg sedang terjadi. Apakah telah atau malah sedang terjadi perkelahian? Saya agak tegang. Setelah melewati belokan, saya melihat pengunjung berlalu lalang, semuanya biasa saja. Karena penasaran, saya kembali ke toilet. Lelaku itu sudah tidak ada, padahal untuk pergi dari situ ia haris melewati saya.

Ketika saya pulang, terjadi keanehan. Saya bertemu lelaki tadi yg berada di toilet. Kami sempat beradu pandang! Ia bergandengan tangan dengan pasangannya, segar bugar tak kurang suatuu apa pun. Kami berpapasan persis di samping Pojok Busana. Saya sampai harus menengok habis dengan heran ke arah lelaki itu sambil berlalu.

Firasat yang muncul saat itu: Pasti akan terjadi bencana di sini!

*****


Lebih dari seminggu telah berlalu, dan saya sedang berjalan kaki di atas trotoar daerah Penjaringan, Jakarta Utara. Waktu itu sedang ada galian kecil, akibatnya tanah berceceran di trotoar dan pinggir jalan. Sangat mengganggu pejalan kaki yg lewat. Ketika mencoba melompati genangan air, kaki saya malah terpelosok dalam tanah becek.

"Sialan!" umpat saya dengan marah, dan membuat kaget para pekerja galian di situ.

Dari sudut mata saya melihat seorang perempuan muda di seberang jalan. Ia berdiri di trotoar, dan tepat di belakangnya ada dinding yg tidak terlalu tinggi dengan tempelan tulisan Honey Lady. Ia melambaikan tangan. Kesimpulan awal, lambaian itu pasti bukan ditujukan ke saya. Karena penasaran saya menoleh ke kiri, tetapi tidak seorang pun yang sepertinya bisa dijadikan tujuan lambaian. Yang ada hanya jembatan dengan jalan masuk ke klaster ruko2. Di mulut jalan, penjual makanan berderetan, sedangkan menempel pada jembatan itu ada penjual ketoprak dan mie ayam. Di sebelah kiri jalan masuk terdapat bangunan yg agak mencolok. Bangunan itu memiliki beberapa lantai, tetapi tidak terlalu tinggi, dan dipenuhi kaca satu arah putih dan hijau.

Saya berdiri mematung ke arah seberang jalan. Ada apa lagi ini? Perempuan itu menyeberang jalan menghampiri saya. Ia tidak memperdulikan kendaraan yg ramai berlalu lalang. Momentrum langkah menghindarkannya dari tabrakan dengan mobil2 yg melaju lurus satu arah. Ia mengenakan rok biru tua dan kemeja krem dengan motif garis2 vertikal kecil berwarna abu2 gelap. Ia berkulit putih dengan rambut lurus hingga sedikit di bawah bahu. Di lehernya tergantung kalung warna perak dengan liontin batu biru. Ia memakai arloji kecil warna steel flat dengan tali kulit cokelat. Dahinya menampakkan sesuatu yg gelap, kegelapan yg hanya dirasakan oleh mata batin, persis di atas kedua matanya yg agak sipit. Dalam jarak sekitar 1 meter, ia terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu dengan ekspresi sangat mendesak. Dengan spontan, saya mencoba mencondongkan badan. Pelan sambil terus melangkah, tubuh perempuan muda itu berubah menjadi samar. Lalu lenyap begitu saja.

Sambil masih memikirkan kejadian barusan, saya mengangkat tangan kiri untuk menyetop bajaj. Setelah sekitar lima menit, saya turun di depan sebuah bank swasta. Di seberang kanannya berdiiri rumah sakit. Duduk di halte jingga yg tampaknya baru selesai dibangun dan masih bau cat, saya tetap memikirkan apa maksud dari penampakan tadi. Mau tidak mau, kejadian itu harus diabaikan dulu. Saya pun meluncur dengan taksi ke arah Jakarta barat.
Part 7 : Jiwa2 Memperingatkan Saya #3

Spoiler for :


Pada suatu pagi di bulan Maret, telepon di ruang tamu gw berdering. Gw berusaha bangkit dan duduk di tepi ranjang dengan mata masih terpejam, lalu dengan segan berdiri dan berjalan ke arah dering itu. Ketika handset diangkat, tidak ada jawaban. Tiba2 terasa ada semacam getaran yg menjalar melalui kabel, terus naik ke gagang telepon menuju kepala gw. Muncul lagi suara di benak gw, tetapi masih asing di telinga dan bernada sedikit membentak:

"Cepat berkemas! Cepat pergi!"

Karena merasa gerah dan terganggu, atau mungkin karena terbawa suasana hati, kabel telepon gw cabut. Terminal penerima yg menempel di dinding dalam rumah gw lepas, lalu gw masukkan ke dalam bak mandi. Antena luar berbentuk segi empat pipih warna putihnya gw buang ke tong sampah. Baru sore harinya, pesawat telepon dan terminalnya itu gw hibahkan pada tetangga depan rumah, seorang ibu agak gemuk dari etnis Betawi.

"Pak, kalo yg ini buat apa?" tanyanya sambil mengangkat sedikit terminal penerima itu.

"Buat si Adek praktikum aja. Kali2 ada elemen yg masih fungsi."

Tidak ada pilihan lain, gw mulai bercerita pada keluarga, kerabat dekat, dan tetangga tentang berbagai kejadian tak lazim yg gw alami akhir2 ini. Cerita itu udah gw filter terlebih dahulu atau yg gw ceritain hanya yg masuk logika aja, itu pun hampir semua yg mendengar tidak percaya. Mereka yg mencoba merespons peringatan gw hanya sedikit, tetapi tidak memiliki solusi yg cukup efektif. Alasan utamanya adalah mereka, dengan kepentingan masing2, harus tetap berada di Jakarta.

Pada suatu siang di salah satu gerai McDonald's, di meja samping dinding kaca yg menhadap tangga dalam Citraland Mall, gw berbincang bincang dengan beberapa kolega mengenai situasi saat itu. Lawan bicara gw seorang pria tinggi kurus berkemaja putih dan celana panjang hitam bernama Rene Cremonese, yg menjabat sebagai Kepala Seksi Politik dan Ekonomi di Kedutaan Besar Kanada, dan rekannya yg memiliki pengetauan khusus, seorang pria berambut abu2 keputihan dan berpakaian motif garis mebentuk kotak2 merah dan abu2.

Di sela2 perbincangan, gw sempat menuturkan kekacauan yg akan terjadi. Berbagai lokasi dan proses terjadinya kerusuhan sampai dengan dinamika politik yg bakal berkembang. Semua itu didasarkan pada pengliatan batin. Sambil menunjuk ke arah depan kampus Universitas Trisakti, gw sempat berkata :

"Dari sanalah awal api itu terpantik."

Mereka berdua menyimak paparan tentang penglihatan batin gw dengan sangat serius, dari awal sampai akhir.

Sepulang dari pertemuan, gw mulai menyusun langkah2 untuk membantu proses evakuasi keluarga2 yg rentan terhadap kerusuhan dan mau menerima peringatan gw. Kegiatan ini terus gw lakuin sampai beberapa hari sesudahnya.

Seperti yg udah kita semua ketahui, sebelum pertengahan bulan dan pertengahan tahun 1998 terjadi kerusuhan berskala besar di Jakarta dan beberapa daerah lain di Indonesia. Tidak bisa ditampik, peringatan2 itu telah menyelamatkan banyak nyawa.
Diubah oleh grepe.lovers
Cerita yang menarik dan berbeda dari kisah indigo lainnya...sudah ane rate threadnya.emoticon-Rate 5 Star
Part 8 : Seruan Peringatan di Pantura

Semasa masih mahasiswa, gw sering melakukan perjalanan antarkota yang jarak tempuhnya lumayan jauh dengan bus malam rute Pantura. Beberapa perusahaan bus lebih sering gw gunakan ketimbang yang lain, selain karena fasilitas lebih baik, pelayanan dan promosinya juga lebih menarik. Kelas bus yang gw gunakan biasanya adalah kelas eksekutif emoticon-Big Grin.

Perjalanan kali ini terasa lebih cepat dari yang sudah2. Punggung dan bokong gw masih jauh dari kaya lelah, mungkin karena penumpang bus sedang sedikit sehingga gw bisa selonjoran kaki didua kursi. Alhasil, gw bisa cukup istirahat dan tidur nyenyak.

Sekitar jam empat pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan. Biasanya, ini adalah pemberhentian terakhir sebelum meneruskan ke kota tujuan. Tujuan pertama setelah turun bus pastilah kamar kecil. Lalu tujuan kedua adalah ruang makan untuk menikmati santapan ringan. Sesuddah itu, gw jalan2 untuk menikmati udara yg segar sambil mengobrol dengan teman seperjalanan. Ini bisa membuang kejenuhan. Materi pembicaraan kami seputar berita2 hangat sampai kepiawaian sopir menguasa jalanan. Obrolan kami semakin seru, dan akhirnya seorang juruparkir ikut bergabung. Saat itu, kami berdiri tepat di belakang sebuah bus malam lain.

"Pergi dari sini sekarang!" tiba-tiba sebuah suara terdengar oleh gw; kurang jelas apakah seruan itu diterima oleh telinga atau pendengaran batin saya.

Sumber suara itu ternyata berasal dari arah bus yang kami belakangi. Sepertinya seorang lelaki paruh baya tengah berusaha berbicara dengan gw, lebih tepatnya memperingatkan

Gw mulai gelisah. Keputusan harus diambil saat itu juga. Gw mengajak teman2 mengobrol itu untuk pindah tempat. Juruparkir tadi memilih untuk tetap tinggal, dengan alasan ia mengatur keluar-masuk kendaraan.

Ketika kami baru berjalan sekitar 6 meter dari posisi semula, menjauhi bus, "Dorr!" terdengar suara yang sangat keras, seperti bola yg meletus karena tergencet beban berat.

Orang-orang berlarian histeris, berlawanan arah dengan kami. Gw menoleh ke belakang. Di posisi kami berdiri tadi, kini terlihat sebuah truuk kuning. Massa yang marah melempari truk itu dengan batu. Sekejap suasana menjadi rusuh tak terkendali. Guna menghindari kemungkinan yg tidak dikehendaki, awak bus buru2 meminta penumpang untuk kembali ke bus. Dalam waktu singkat bus kami sudah siap dan langsung berangkat.

Dalam perjalanan, kami bertanya pada sopir bus, apa yang barusan terjadi.

"Tukang parkirnya tertabrak truk, Pal. Karena benturan keras antara truk yg masuk dengan kecepatan tinggi dan bus yang sedang parkir, kepala orang yang tergencet itu langsung meletus. Sepertinya sopir truk itu mabuk."

Tanpa bermaksud mengecilkan arti dari bencana tersebut, bagaimanapun kami terselamatkan oleh peringatan tadi.

Pasti ada di antara Anda yang sedang membaca testimoni gw ini, yang pernah mengalami kejadian hampir serupa. Serupa yang gw maksud adalah pernah mendengar seseorang memanggil-manggil atau memperingatkan Anda. Saran saya, tidak ada salahnya kita sedikit memberi perhatian lebih. Jika Anda merasa ada yang masih mengganjal di hati seputar suara2 ini, mungkin ada baiknya Anda mencari narasumber yang lebih berkompeten.
Lanjuken gan?
Ijin mantau dulu emoticon-Keep Posting Gan
Lanjutkan Om

ceritanya seru

awas, jangan sampe Kentang
Part 9 : Jiwa Hadir Bersama Keharuman yang Semerbak

Gw bersantai menikmati sarapan berupa roti lapis yg sudah renyah dipanggang dengan isi racikan bebas sesuai selera: margarin lembut, selai aprikot, madu australia, keju, dan telur mata sapi. Setelah ditumpuk, tebal roti lapis ini jadi sepertiga jengkal. Di meja sudah tersaji susu cokelat panas dengan cita rasa dan aroma kuat. Semua lengkap dengan aktivitas menyimak berita pagi CNN. Topik berita, yaitu tayangan ulang siaran langsung beberapa waktu lalu, masih terus menampilkan wajah merah presiden Amerika Serikat, Bill Clintot, yg menyampaikan kesaksian bahwa ia tidak berbuat cela dengan karyawan magang Gedung Putih, Monica Lewinsky.

Umumnya, perpustakaan melarang kita makan di dalam, tetapi yg satu ini berbeda, perpustakaan ini juga merangkap sebagai ruang makan. Ruang ini berbentuk segi empat, yg dari luar terlihat seperti bangunan kubus biasa. Bagian interiornya didominasi warna muda campuran biru dengan nuansa kayu. Di dinding ada sebuah rak buku, sementara dua rak lainnya menempel di dinding kiri dan dipisahkan oleh sebuah meja kecil yg dihiasi vas kaca biru berisi rangkaian bunga bernuansa warna subtropis. Di seberang ruangan terdapat sebuah meja makan kayu dengan enam kursi yg kokoh.

Gw merenung sambil sesekali mencolek beberapa pernak-pernik yg saya terima dari seorang ibu tua dua bulan lalu di bandara. Ada 3 gelang dan 3 cincin yg terbuat dari anyaman serat tanaman, berwarna campuran hitam dan cokelat tua. Yang paling saya apresiasi adalah cincin karena njelimet anyamannya, dan sulit pembuatannya, barang bagus dan dibuat sangat mendetail. Setelah selesai sarapan, saya masukkan pernak-pernik itu ke dalam plastik; niatnya untuk dibawa ke tempat kerja.

Begitu saya keluar rumah, cuacanya benar2 membuat saya bersyukur. Langit begitu cerah dan biru; hanya ada sedikit awan sirus. Di depan terhampar jalan setapak yg tersusun daru lempengan2 beton. Di kanan terlihat berderetan tanaman puring setinggi dagu dengan daun berwarna campuran, sedangkan di kiri terdapat hamparan rumput hijau.

Di tikungan dekat sebuah pohon dengan bunga mirip terompet putih, tidak disangka-sangka saya bersua dengan seorang sahabat, seorang pakar botani yg bekerja sebagai kurator. Dalam acara debat semalam, ia termasuk orang yg terkagum-kagum pada pesona Clinton. Kami bertukar cerita penuh senda-gurau tentang berbagai berita dan peristiwa belakangan ini. Ia menceritakan perjalanannya kali ini untuk mencari tambahan koleksi dedaunan. Cakupannya meliputi wilayah2 yg belum pernah diteliti di Kepulauan Pasifik. Menurut gw, itu pekerjaan yg garis pemisahnya sangat tipis dengan rekreasi.

Tiba2 saja dengan spontan gw mengendus-enduskan hidung penuh selidik. Kami dilingkupi aroma harum semerbak khas flora yg sangat kuat, yg menciptakan sensasi di hidung sekaligus lidah. Saya berani memastikan itu aroma harum bunga pohon jeruk. Terbayang warna putih agak kekuningan terhampar di perkebunan2 jeruk pada dataran tinggi di Jawa Timur. Tidak mungki! Gw sedang berada di daerah yg gak pernah ditumbuhi pohon jeruk.

"Anda membaui sesuatu? Gw juga membaui harum bunga?" ujar sahabat gw, "ini sering terjadi pada gw bila sedang bincang2 dengan orang lain. Gw kenal betul harum ini, tetapi tidak ingat darimana asalnya. Tetapi yg penting, ada apa dengan semua ini?"

"Ini harum bunga jeruk!"

Sepertinya ia agak kaget. Belum sempat ia merespons balik, gw langsung menyambung:

"Mata batin gw melihat seorang wanita berusia mungkin 35 tahun. Namanya Ket. Ia minta salah satu benda yg gw bawa bisa deberikan pada Anda. Sepertinya, ia selalu mengiringi langkah Anda."

Selama menit2 pertama, sahabat gw mencoba mengelak dari pemaparan visiun itu. Sempat terasa seakan gw berbicara dengan seseorang yg berbeda. Seingat gw, ia sangat jujur dan berintegritas tinggi. Kedua kakinya digoyang-goyang bergantian. Tatapannya beralih, sebagian besar mengarah ke kiri bawah, yg membuat gw menarik kesimpulan bahwa ia sedang menarik keluar data kinestik yang ada di dalam memori otak kirinya.

Saya mengeluarkan bungkusan yg saya bawa, lalu mengambil salah satu cincin tadi. Dan karena ketiga cincin buatan tangan ini tidak memiliki ukuran standar, saya mengambil cincin yg paling besar, lalu memberikannya pada sahabat saya ini.

"Untuk apa cincin indah ini? Anda memberikannya pada saya?"

"Ya. Ia meminta cincin ini untuk diberikan pada Anda."

Ternyata jiwa yg selalu menyertai sahabat saya ini adalah mendiang istrinya tercinta, Chaterine. Ia wafat ketika mereka sedang berlibur di Thailand beberapa tahun yg silam. Sahabat saya ini merasa sangat terharu mendengar pemaparan yg saya sampaikan.

Tugas saya menyampaikan titipan pesan untuknya agaknya harus berhenti sampai di sini, dan untuk interpretasi selanjutnya saya persilahkan sahabat ini sendiri yg menindaklanjutinya.
Diubah oleh grepe.lovers
Quote:

Thank You gan emoticon-Angkat Beer
Quote:

Lanjut gan
Quote:

Siap gan emoticon-Rate 5 Star emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Quote:


Siapa gan emoticon-2 Jempol:
mejeng dulu baca belakangan
mejeng dulu baca belakangan

edit: sorry double post jadi ke gembok
Diubah oleh kucingkasep
Halo gan. Ceritanya sangat menarik. Pemaparan ceritanya detail. Bisa menarik imajinasi pembaca untuk memproyeksikan tulisan yang agan buat. Kalo menurut saya pribadi kata "gw" dikembalikan ke "saya' lagi gan. Kayanya lebih klop dengan gaya penuturan cerita yg ada. Tapi kembali ke agan juga sih. Makasih sudah berbagi cerita ya gan.
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di