alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera
4.5 stars - based on 16 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b97313312e257c3368b4567/sejarah-kelam-pembantaian-sultan-sultan-melayu-di-tanah-sumatera

Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera

Tidak banyak generasi muda Indonesia yang tahu tentang sejarah kelam ini. Entah itu sengaja ditutupi atau memang dianggap tidak begitu penting. Namun kenyataannya ini merupakan salah satu kisah sejarah paling kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Nyawa orang-orang tidak bersalah dianggap tidak berharga atas nama revolusi.

Peristiwa ini bermula pada tahun 1946 silam. Terjadi gerakan sosial yang dilakukan oleh rakyat terhadap penguasa Kerajaan-Kerajaan Melayu di wilayah timur Sumatera.  Gerakan ini dikenal dengan Revolusi Sosial Sumatera Timur. Pemicu revolusi ini adalah gerakan kaum komunis dan nasionalis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan yang dianggap antifeodalisme. Revolusi ini melibatkan mobilitas rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota Keluarga Kesultanan-Kesultanan Melayu yang dianggap pro Belanda.

Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera


Aksi kejam ini berawal di Kesultanan Kualuh. Sultan Al Hadji Moehammad Sjah, Sultan dari Kerajaan Melayu yang berada di Tanjung Pasir, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara ini diseret saat sedang shalat malam di rumahnya. Kejadian tersebut berlangsung pada 3 Maret 1946.. Sultan Al Hadji Moehammad Sjah  dibawa ke kawasan kuburan Cina bersama dua orang anaknya, yaitu Tengku Mansyoer Sjah Gelar Tengku Besar dan Tengku Dirman Sjah. Sultan Kualuh dan kedua anaknya kemudian disiksa lalu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan sekarat. Beruntung, pada pagi ada nelayan yang kebetulan melintas dan membawa mereka bertiga ke istana untuk mendapatkan perawatan. Sekitar pukul 11 siang, datang sekelompok orang berbeda hendak menjemput Sultan Al Hadji Moehammad Sjah beserta kedua anaknya. Sekelompok orang tersebut beralasan akan membawa mereka bertiga ke rumah sakit.

Bukannya dibawa ke rumah sakit, Al Hadji Moehammad Sjah dan kedua orang anaknya justru dibunuh secara kejam. Sejarawan Melayu Tengku Haris Abdullah Sinar dalam sebuah literatur mengatakan, para petinggi Kesultanan Kualuh tersebut dibunuh saat adzan sedang berkumandang. “Saat hendak dibunuh, Tuanku sempat berkata; Bila kalian hendak membunuh kami, tunggulah Obang (adzan) selesai dikumandangkan dan izinkan kami sembahyang sekejap,” pinta Tuanku saat itu. Permintaan tersebut tidak dikabulkan. Sultan Kualuh dan kedua puteranya tewas dibunuh.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kesultanan Panai, Kota Pinang, Negeri Padang Tebing Tinggi dan Kesultanan Bilah yang menewaskan Tuanku Hasnan.

Kesultanan Langkat juga mengalami nasib serupa. Tidak sedikit perempuan keluarga Kesultanan diperkosa di hadapan orangtua dan keluarganya. Sedangkan lelaki dibantai dengan sadis. Akibatnya, Kesultanan Langkat banyak kehilangan petinggi kerajaan dan sejumlah pakar. Dalam peristiwa ini, seorang sastrawan Tengku Amir Hamzah, Pangeran Langkat Hulu dan Wakil Pemerintah Republik Indonesia saat itu, turut terbunuh. 

Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera

Tengku Amir Hamzah


Peristiwa pembunuhan Tengku Amir Hamzah terjadi pada 7 Maret 1946. Dalam peristiwa itu, Tengku Amir Hamzah dan sejumlah petinggi Kesultanan Langkat dijemput paksa menggunakan truk terbuka oleh sekelompok orang, kemudian di kumpulkan di Jalan Imam Bonjol, Binjai. Bersama tahanan lainnya, Tengku Amir Hamzah disiksa kemudian dibunuh di perladangan di kawasan Kuala Begumit oleh Mandor Iyang Wijaya yang tidak lain adalah pelatih kesenian silat kuntau Istana Langkat.

Sebelum melakukan pembunuhan, algojo mengabulkan dua permintaan Tengku Amir Hamzah. Pertama; Tengku Amir Hamzah minta penutup matanya dibuka karena ingin menghadapi ajal dengan mata terbuka. Kedua; Tengku Amir Hamzah meminta waktu untuk sholat sebelum hukuman dijatuhkan.

Pembantaian dan pembunuhan juga terjadi di Negeri Padang, salah satu Kerajaan Melayu di Tebing Tinggi pada 3 Maret 1946. Dalam peristiwa ini, cucu Tengku Tebing Pangeran, Tengku Sortia, tewas di tangan sekelompok orang.

Peristiwa terjadi saat Tengku Sortia sedang sholat di rumahnya di kawasan Tongkah, perkebunan tembakau milik kerajaan Negeri Padang, bersama isterinya Puang Maimunah. Saat ini Perkebunan Tongkah berada di antara Kabupaten Simalungun dan Serdang Bedagai (Sergai). Tengku Sortia diseret dari rumah kemudian dibunuh. Jasadnya dihanyutkan ke sungai tidak jauh dari rumahnya.

Di malam yang sama, 3 Maret 1946, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai juga mengalami nasib serupa. Sebelum adzan Shubuh berkumandang, Tengku Muhammad Yasir menyambut Sang Ayah di rumahnya yang baru tiba dari istana setelah bersiaga akibat tersiar kabar akan terjadi penyerangan. Rumah Cucu Sultan Asahan ke X ini berada di lingkungan Istana Kesultanan Asahan, di lingkaran Kota Raja Indra Sakti yang di tengahnya terhampar lapangan hijau.

Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera
Istana Kesultanan Asahan


Tengku Muhammad Yasir yang saat itu masih berusia 15 tahun, melihat sejumlah orang mengendap-endap ke arah istana saat membukakan pintu untuk ayahnya. Karena takut, Tengku Muhammad Yasir kemudian masuk ke dalam rumah bersama ayahnya. Pukul 06.00 pagi, Istana Kesultanan Asahan diserang sekelompok orang. Sultan Asahan saat itu, Tuanku Sjaiboen Abdoel Djalil Rachmatsjah, berhasil melarikan diri melalui pintu belakang istana.

Satu jam kemudian, sekelompok orang datang ke rumah Tengku Muhammad Yasir dan membawa ayahnya. Tengku Muhammad Yasir tidak turut dibawa karena sedang menderita sakit pada bagian kaki yang mengalami pembusukan hingga mengeluarkan aroma tidak sedap.

Pasca penangkapan ayahnya, Tengku Muhammad Yasir menyelamatkan diri ke rumah kakak sepupunya, Tengku Haniah. Ternyata, Tengku Muhammad Yasir tidak menemukan seorangpun lelaki di rumah itu. Semua telah ditangkap sekelompok orang.

Semua peristiwa diatas sama sekali tidak pantas disebut sebagai revolusi. Ini merupakan sebuah pembunuhan massal yang perlu diusut demi keadilian bagi para korban. Pertanyaannya, apakah pemerintah saat itu memberikan dukungan terhadap aksi kejam ini? Entahlah, tiada yang tahu. 

Referensi :
https://m.medansatu.com/berita/3503/...i-timur-sumut/
https://www.semedan.com/2016/03/revo...k-bernadi.html
Diubah oleh arifdoank
Halaman 1 dari 8
Salah satu sejarah kelam Indonesia. Tapi ini murni kekuatan rakyat atau ada oknum" yg menggerakkan? Karena terasa sangat terorganisir
Balasan post royaljannisary
Quote:

Itu juga yang masih jadi pertanyaan besar sampai saat ini. Apalagi kalau diperhatikan, sepertinya ada kesan untuk menutupi-nutupi peristiwa sejarah ini
Sama seperti di Kalimantan, dikenal dengan peristiwa Bultiken. kalau ini, murni pemerintah Indonesia dipimpin oleh Letnan B. Simatupang membantai bahkan membakar istana kesultanan. Tuduhan mereka adalah kesultanan Bulungan dianggap sebagai pengkhianat negara padahal tidak dapat dibuktikan.
Balasan post kingbill
Quote:

Itu dia yang disayangkan dari pemerintah kala itu. Tidak menghiraukan kekejaman atas nama revolusi
Balasan post arifdoank
Quote:


di tahun itu memang tuduhan kroni/ kaki tangan belanda/ penjajah memang sakti. begitu sakti sehingga bisa digunakan untuk melakukan pengrusakan, penculikan, bahkan pembunuhan kepada pembesar atau tokoh penting di daerah.


Quote:


apa yang bisa diharapkan dari pemerintahan yang baru berdiri belum genap 1 tahun?

apakah aparat pemerintahannya sudah ada? apakah kantor polisinya ada? bahkan apakah polisinya sudah ada?

nyatanya dari data yang ada, beberapa daerah kebanyakan baru secara pendapat bergabung dengan RI, tetapi aparatur pemerintahan dan berbagai badan bernegara sama sekali belum sampai ke sana. baru secara aklamasi bergabung, urusan fungisonal bernegara baru dibahas kemudian. apalagi terjadi perang karena kedatangan sekutu.

karena itu sangat tidak adil untuk menyalahkan negara atas kekacauan di era perjuangan bersenjata tersebut. apalagi terjadinya vakum kekuasaan dari tangan Jepang.
agan TS, dlm kasus ini, para pelaku utama nya siapa saja ya?? terus selanjutnya bagaimana, nasib para pelaku utama tsb di era pemrintahan RI kemudian??
Balasan post kingbill
Komentar dihapus
Diubah oleh kingbill
Balasan post rossdeleon
Quote:


Peristiwa Bultiken terjadi pada tahun 1964, pada tahun itu Indonesia sudah memiliki angkatan bersenjata bahkan berani menyerukan Ganyang Malaysia, jeda dari masa kemerdekaan pun sangat jauh, lalu apa yang menjadi dasar untuk melakukan pembantaian tersebut? mata-mata Malaysia karena mereka berdekatan dengan Sabah? padahal Kesultanan Bulungan memilih untuk setia pada Indonesia. Satu lagi, jika antek-antek Belanda dijadikan dasar pembantaian ini, bukankah Keraton-keraton di Pulau Jawa pun memiliki kemitraan bahkan pertemanan dengan Belanda, seharusnya sultan-sultan di pulau Jawa pun tidak luput dari pembantaian ini? hal-hal ini yang masih abu-abu.
Balasan post yoseful
Quote:


Setahu saya tidak ada tindak lanjutnya karena yang dibantai dianggap kroni belanda
Diubah oleh arifdoank
Balasan post kingbill
Quote:


mungkin trit nya perlu dipisah karena ane refer ke artikel TS di atas.

sebenarnya sd orba pun, sebagaimana dibuktikan oleh gestapu 1966 yang banyak melibatkan kolateral damage/ korban tidak bersalah. bisa kita lihat bahwa tidaklah langka di era tersebut bagi sekelompok oknum untuk melakukan persekusi terhadap tokoh/ pembesar daerah dengan modal isu-isu miring.

motifnya kemungkinan besar adalah kecemburuan sosial, rivalitas, atau sekedar ekonomi. jadi isu revolusioner, pemberontakan, pro kemerdekaan hanya jadi isu untuk mengumpulkan masa demi rebutan lahan atau jadi pembesar paling kuat di wilayah tersebut.

20 tahun setelah merdeka sekalipun ane rasa kuatnya kontrol, pengawasan, evaluasi kepolisian dari pusat masih terbilang lemah sehingga hal-hal seperti ini sulit dicegah.
Quote:


itu pelaku utama nya siapa saja ya, gan ??
Balasan post yoseful
Quote:

Setahu saya tidak pernah diusut gan
Balasan post arifdoank
Quote:


ngeri juga ya gan
Balasan post rossdeleon
Quote:


Ane setuju pendapat agan..
tidaklah tepat mengukur kondisi negara yg sedang baru berdiri dng kondosi sekarang yg sdh mapan..

Ibarat kata kita memakai hukum moral perkimpoian incest pada masa masa manusia pertama dng moral setelah manusia penuh mengisi muka bumi.. kalau moral sekarang diterapkan pada keluarga Adam dan Hawa, misalkan Adam menikahkan anak laki2 nya dng anak wanitanya apakah itu pantas?

Perangkat hukum negara yg sedang dlm perjuangan msh meraba2..
apalagi dlm masa perang siapa kawan siapa lawan gelap.. fitnah san fitnah sini sdh biasa..

Tidak semua sejarah itu diginakan untuk mengungkit dan sbg hakim suatu peristiwa.. banyak kasus2 kisah masa lampau yg msh menjadi misteri sampai sekarang..
ambil contoh pembunuhan JFK.. pembunuhan Mallaby di surabaya.. dll

Jd menurut ane sih bijak dlm bersikap dlm melihat sejarah.. mana yg sengaja ditutup mana yg tidak sengaja tertutup..
Balasan post kingbill
Quote:


Peristiwa Bulungan ini kan yang melibatkan Haryo Kecik?, hal ini disinyalir penguasa perang daerah (Pangdam) yg kekuasannya terlalu besar dan letak Bulungan di pedalaman kalimantan utara sehingga tidak bisa dikontrol oleh pusat.
Di dalam AD sendiri ada perpecahan shg antar faksi sehingga Yani pun kesulitan utk mengendalikan pangdam2 dibawahnya terutama yg di luar jawa. Tapi toh akhirnya Haryo Kecik diganti dan di era Orba jadi buronan dan exile ke luar negeri.
Mengenai keraton jawa nasibnya juga hampir sama dg yg di sumatra timur misal di tahun 1946 - 1947 muncul gerakan anti swapraja yang di komandoi gerakan kiri mereka membunuh para bupati dan pejabat keraton Solo tujuannya adalah menghapus keraton karena melambangkan feodaliame dan antek2 Belanda.
Tapi kondisi nya gak separah di Sumatera timur karena buru2 Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran minta bantuan Pemerintah RI di jogjakarta sehingga kerusuhan cepat diatasi , meskipun status Daerah Istimewa Surakarta harus dibekukan sampai sekarang.
Pemberontakan tiga daerah di Tegal juga menyasar kaum priyayi dan bangsawan bahkan RA Karsinah adik dari Kartini yang dianggap sebagai tokoh pendidilan dan sosial suaminya dibunuh dan dia diarak keliling kota. Kondisi baru reda setelah pemerintah pusat mengirim TNI utk memadamkan kerusuhan dan meringkus kutil sebagai pemimpin gerakan.
Benar kata om Ros saat itu pemerintahan masih belum stabil baik secara administrasi maupun struktural. Birokrasi masih sebatas simbol, sedangkan militer di luar jawa masih mengandalkan laskar yang berafiliasi dengan partai2 tertentu.
Semua yang pegang bedil mengaku pejuang gak bisa dibedakan mana TNI, laskar atau sekedar bandit bersenjata.
Apalagi di Sumatera utara seorang bandit dan bekas pencopet spt Timur Pane bisa jadi warlord yg mengaku pejuang karena punya pasukan dan mengangkat diri jadi Jendral (Timur Pane jadi inspirasi dari tokoh fiksi Naga Bonar).
Situ harus pahami kondisi saat itu berita kerusuhan tentu baru sampai ke telinga pemerintah di jawa butuh waktu lama dan pemerintahbpun gak bisa mengirim pasukan dari jawa ke Sumatera atau memberi komando dari daerah lain karena kekurangan transport dan blokade dari Belanda.
Balasan post yoseful
Quote:


harus dilihat case by case

tapi secara umum kemungkinan besar gak jauh-jauh dari "tetangga" atau bahkan "saudara" mereka sendiri. tiap kerajaan atau royalty pasti punya lawan atau rival di daerahnya. entah saudara, mantan petinggi yang pernah sakit hati, atau keluarga yang terjungkal dari rebutan kekuasaan. macam sengketa lahan itu biasa, rebutan warisan apalagi, belum lagi kisruh internal dalam ruang lingkup kerajaan/ kesultanan.

karena itu sebenarnya hal semacam ini bukan misteri. bukan hanya di indonesia di kerajaan lain pun sama saja.

ada yang iri, ada yang sakit hati, ada yang haus kekuasaan, ada yang dendam. nah ketika melihat adanya vakum kekuasaan dan keberadaan massa oknum "pemuda" yang bisa dihasut beserta pretext lawan sebagai kaki tangan belanda/ penjajah/ nekolim, maka rebutan kekuasaan bisa dilakukan.
Td malem ada pembahasannya di metro tv "Melawan Lupa"
Balasan post mamorukun
Quote:


bagian mana yang disorot?

memang seharusnya diajarkan sih bahwa era tersebut memang betul bergejolak. bukan cuma penduduk keturunan belanda atau etnis lain yang jadi korban, bahkan tokoh lokal yang dihormati sekalipun tetap gak lolos dari amukan masa karena isu atau sentimen murahan. kaki tangan penjajah lah, antek belanda lah, dsb-nya.

hal ini harusnya membuka mata bahwa yang jadi masalah memang bukan warna kulit atau asal usul tetapi motivasi lainnya.
Quote:


Gara-gara gerakan anti swapraja itu Surakarta kehilangan statusnya sebagai daerah istimewa setelah kericuhan berlarut-larut. Ironisnya, peristiwa Revolusi Sosial 1946 malah dijadikan alasan sejumlah oknum Melayu di Malaysia sebagai dendam sejarah kepada etnis Jawa karena menurut mereka peristiwa ini merupakan bukti bahwa Indonesia adalah negara Jawa yang berusaha utk menghancurkan kekuasaan sultan-sultan Melayu.

Btw, sekarang kesultanan Deli, Asahan, Serdang, dan Langkat gimana ya?
Diubah oleh lyndonbaines
Balasan post rossdeleon
Quote:


Wawancara dg keturunan sultan2 yg terbunuh.
Menurut guru besar universitas di sumut tidak ada sentimen etnis didalamnya, karena pelakunya adalah masyarakat setempat. Murni gerakan sosial akibat akumulasi kesenjangan thd kaum bangsawan.
Dikotomi nya adalah status sosial bangsawan atau rakyat biasa. Bahkan Amir Hamzah yg jelas2 pro republik tetap dibunuh hanya karena keturunan bangsawan.
Halaman 1 dari 8


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di