alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b94da84ddd7705b5c8b4573/tiongkok-cetak-surplus-di-tengah-perang-dagang-dengan-as

Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS

Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS
Seorang wanita melewati sebuah restoran dengan poster yang menggambarkan Presiden AS Donald J. Trump di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok (13/8/2018). Tulisan pada poster menyatakan bahwa semua warga AS yang jadi pelanggan akan dikenakan biaya 25 persen lebih banyak daripada pelanggan lain.
Tiongkok mencetak surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2018 lalu. Ekspor Tiongkok tetap melonjak meskipun Presiden AS Donald Trump telah menaikkan tarif atas barang impor ke negaranya.

Surplus perdagangan Tiongkok dari AS meningkat US $2,96 miliar (Rp42,97 triliun) atau 10,53 persen menjadi US $31,05 miliar pada Agustus 2018 dari 28,09 miliar dolar pada Juli lalu.

Capaian ini merupakan rekor tertinggi surplus perdagangan Tiongkok dari AS pada tahun ini dan berpotensi memicu perang dagang antara kedua negara kian memanas.

Ekonom Zhonghai Shengrong Capital Management, Zhang Yi menilai, surplus perdagangan Tiongkok dari AS berhasil meningkat lantaran perekonomian Negeri Paman Sam tumbuh positif. Hal itu membuat industri domestik AS tetap membutuhkan bahan baku impor dari Tiongkok.

"Masih ada dampak dari ekspor front-loading, tetapi alasan utama (untuk pertumbuhan ekspor Tiongkok yang solid) adalah pertumbuhan yang kuat dalam perekonomian AS," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/9/2018).

Kendati begitu, ia memperkirakan pertumbuhan surplus perdagangan Tiongkok berpotensi menurun dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan meningkatnya serangan tarif impor tinggi dari AS.

Ekspor Tiongkok ke AS meningkat menjadi US $44,4 miliar pada Agustus 2018, naik 13,3 persen dari bulan Juli. Sementara impor barang dari AS yakni senilai US $13,3 miliar, turun 11,8 persen dari bulan sebelumnya.

Rilis data perdagangan tersebut keluar di saat pemerintahan Trump sedang memutuskan apakah akan memperpanjang hukuman ke daftar impor Tiongkok senilai US $200 miliar. Sebelumnya, kedua belah pihak telah memberlakukan tarif 25 persen pada US $50 miliar pada masing-masing barang.

"Dalam jangka pendek, sulit untuk mempersempit jurang defisit karena pembeli Amerika tidak dapat dengan mudah menemukan alternatif untuk produk Tiongkok," kata Ekonom Bank of Communications, Liu Xuezhi, dilansir dari The Wall Street Journal, Minggu (9/9/2018).

Yuan yang lebih lemah terhadap US dolar membuat barang Tiongkok lebih murah bagi konsumen AS. Nilai tukar yuan merosot hampir 9 persen terhadap dolar AS pada April dan Juli, tetapi mulai sedikit berubah pada bulan Agustus. Bulan lalu, bank sentral Tiongkok meningkatkan intervensinya di pasar untuk mencegah yuan terdepresiasi terlalu cepat.

Kendati begitu, Liu memperkirakan laju ekspor Tiongkok akan menyusut dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini tercermin dari hasil survei industri manufaktur Tiongkok yang menunjukkan bahwa permintaan global akan produk dari Negeri Tirai Bambu mulai berkurang.

"Risiko telah meningkat karena dampak negatif dari gesekan perdagangan Tiongkok-AS. Dampak pada ekspor secara bertahap mulai muncul dengan pertumbuhan ekspor di masa depan yang mungkin menurun," katanya.

Itu menunjukkan bahwa sengketa perdagangan yang meningkat, tidak akan dapat diselesaikan dengan cepat, lanjut ekonom yang berbasis di Shanghai tersebut,

Presiden Trump pada Jumat (7/9/2018) mengatakan bahwa pemerintah siap mengumumkan tarif atas US $267 miliar barang-barang Tiongkok lainnya, di luar pungutan terhadap US $200 miliar produk Tiongkok yang telah dipersiapkan.

Namun, Kementerian Perdagangan Tiongkok pada hari Sabtu (8/9/2018) tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar tentang tarif yang diusulkan AS.

Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Shouwen dalam sebuah forum mengatakan pada, meningkatnya proteksionisme perdagangan mengancam pertumbuhan ekonomi global.
Pengaruhnya terhadap Indonesia
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dzulfian Syafrian menilai, ancaman perang dagang yang kembali memanas berpengaruh signifikan terhadap penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Hingga Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia defisit hingga US $3 miliar, yang menunjukkan bahwa kebutuhan dolar untuk membiayai impor melonjak tinggi dan bisa menggerus cadangan devisa.

Sentimen cadangan devisa juga berpengaruh terhadap perilaku pasar, lanjut Dzulfian. Cadangan devisa per Agustus 2018 anjlok ke US $117,9 miliar dolar, terendah sejak Januari 2017.

Penurunan cadangan devisa disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Gejolak rupiah yang mengalami eskalasi menguras cadangan devisa secara konsisten.

"Perlu dicatat cadangan devisa dibanding PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia hanya 14 persen jauh dibawah negara lainnya, Filipina 26 persen, dan Thailand 58 persen," ujar Dzulfian dalam siaran pers, dikutip Minggu (9/9/2018).
Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...gang-dengan-as

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS Pengembalian uang suap perkuat dugaan korupsi korporasi Golkar

- Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS Nasib Alibaba jika Jack Ma pensiun

- Tiongkok cetak surplus di tengah perang dagang dengan AS Dua bus masuk jurang di Sukabumi



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di