alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
MUI Sumbar: Aturan Pengeras Suara di Masjid Membatasi Syiar Islam
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b936dda529a45217f8b4567/mui-sumbar-aturan-pengeras-suara-di-masjid-membatasi-syiar-islam

MUI Sumbar: Aturan Pengeras Suara di Masjid Membatasi Syiar Islam



VIVA – Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat menganggap pengaturan pengeras suara di masjid, sesuai imbauan Kementerian Agama, sangat berdampak kepada pembatasan syiar Islam.

Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar, dengan tegas menolak imbauan Kemenag tentang itu dan permintaan Kemenag untuk menyosialisasikan lagi penggunaan pengeras suara di masjid sesuai dengan surat edaran yang sudah ada.

Gusrizal menyebutkan, suara azan merupakan panggilan Ilahi yang membawa ketenangan batin, sebagaimana dalam hadis Rasulullah. Maka pengaturan yang berdampak pada pembatasan syiar Islam akan menyentuh persoalan yang sangat sensitif pada kaum muslim.

“Selain itu, pengaturan pengeras suara juga akan menimbulkan keresahan terhadap umat. Karena pengaturan penggunaan pengeras suara dengan sendirinya telah membatasi gerakan dakwah dan syiar agama Islam,” katanya, Sabtu, 8 September 2018.


Berdasarkan keputusan rapat pada 4 September, MUI Sumatera Barat mengeluarkan pernyataan sikap yang dituangkan dalam delapan poin, yakni bahwa Surat Edaran yang sudah tidak berlaku efektif pada tahun 1978, kemudian dimunculkan lagi pada tahun 2018, menimbulkan pertanyaan dan gejolak di tengah umat.

Surat Edaran itu memberi peluang bagi orang-orang yang membenci syiar Islam dan kaum muslimin dalam hal ini azan dan kajian Islam untuk memperkarakan penggunaan pengeras suara dalam kegiatan mereka.

Pengaturan yang terlalu rinci dalam persoalan penggunaan pengeras suara membawa dampak kesulitan dalam kegiatan umat.

Pengaturan penggunaan pengeras suara dengan sendirinya telah membatasi gerakan dakwah dan syiar agama Islam.

Penggunaan pengeras suara dalam pelaksanaan ibadah umat Islam tidak dapat dikatakan sebagai sikap intoleran terhadap penganut agama lain, sebaliknya penganut agama lain justru seharusnya menghargai umat Islam dalam melaksanakan ibadahnya.


Bagi kaum muslimin azan merupakan panggilan ilahi yang membawa ketenangan batin, sebagaimana dalam hadits Rasulullah, (Arihna bi al-shalat ya bilal), sehingga pengaturan yang berdampak pada pembatasan syiar ini akan menyentuh persoalan yang sangat sensitif dalam diri kaum muslimin.

Penggunaan dalil-dalil yang dipakai dalam Surat Edaran tersebut tidak pada tempatnya. Bila ada hal-hal yang kurang tepat dan bisa menimbulkan kerancuan dalam penggunaan pengeras suara, tidak diperlukan pengaturan seperti edaran itu tapi cukup diperbaiki dengan saling mengingatkan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1072951-mui-sumbar-aturan-pengeras-suara-di-masjid-membatasi-syiar-islam

Lanjutkan Jokkk, biar makin nyungsep emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 6
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Kontoool, dassr umat intoleran. Stop kau pake toa. Teriak sj kau di atas mesjid.
kalo dibalik agama sebelah berbuat spt ente buat, apa ente mau nerima ?
Diubah oleh pocong.212
Quote:


Mari dukung wowo jadi imam terbesar Indonesia tong emoticon-Wkwkwk
Balasan post pocong.212
Quote:


Bakalan dibakar bre emoticon-Takut


Maunya memberi syiar tapi disyiar'i ama yg laen kebakaran jenggot. emoticon-Malu
Quote:


Emang jaman Nabi sudah ada toa / pengeras suara ?
Negara2 lain termasuk Arab Saudi pun membatasi penggunaan pengeras suara.
klo tempat gw jam 2.50 pagi sering berkumandang lho, is it ok?

Begini Aturan Toa Masjid di Arab Saudi dan Negara Muslim Lain

Seorang warga Indonesia, Meiliana, dibui 18 bulan karena mengeluhkan volume azan yang terlalu keras. Di negara-negara mayoritas muslim lainnya, penggunaan pengeras suara masjid diatur secara khusus agar tidak mengganggu ketertiban umum.

Salah satunya Arab Saudi



, yang seperti dilansir Arab News, pada Kamis (23/8/2018), memerintahkan masjid-masjid untuk mematikan pengeras suara atau toa eksternal -- yang ada di luar masjid -- dan


hanya menggunakan speaker internal.

Speaker eksternal di masjid hanya boleh digunakan saat panggilan azan untuk salat lima waktu, azan salat Jumat, saat Idul Fitri dan Idul Adha juga saat doa meminta hujan. Perintah mematikan speaker eksternal masjid itu dirilis oleh Kementerian Urusan Agama Islam di Saudi sejak tahun 2015.


Para imam masjid di Saudi dilarang memasang alat echo dan alat transmutation cutting setelah muncul banyak keluhan dari masjid-masjid sekitar soal suara yang terlalu keras dari speaker eksternal sejumlah masjid. Suara yang terlalu keras dari berbagai masjid berbeda pada saat bersamaan, dilaporkan malah memicu gangguan.


Kementerian Urusan Agama Islam Saudi memerintahkan sejumlah pekerja lapangan untuk melakukan kunjungan rutin ke masjid-masjid setempat demi memastikan para imam dan penceramah mematuhi aturan baru. Aturan ini dirilis otoritas Saudi saat bulan Ramadan tahun itu.

Sama seperti Saudi, otoritas Bahrain juga memberlakukan aturan khusus terhadap speaker yang terlalu keras di berbagai masjid setempat. Otoritas religius Bahrain menyatakan seperti dikutip dari Gulf News, speaker eksternal masjid hanya boleh dipakai untuk menyampaikan azan.

Disebutkan dalam artikel Gulf News tahun 2009, Kementerian Kehakiman dan Urusan Agama Islam Bahrain menyatakan imam-imam masjid diperbolehkan menyampaikan azan via speaker yang terpasang luar masjid, namun hanya menggunakan speaker internal saat ibadah salat dilakukan.

Saat aturan ini diumumkan, marak penggunaan speaker eksternal untuk menyiarkan ceramah, dialog keagamaan dan pembacaan ayat Alquran dengan alasan membantu jemaah yang tidak datang ke masjid. Namun Kementerian Kehakiman dan Urusan Agama Islam Bahrain menegaskan penggunaan speaker eksternal untuk menyiarkan ceramah bisa terdengar dari jauh dan mengganggu panggilan azan masjid-masjid lainnya.


Otoritas Bahrain mengimbau warga untuk melapor jika ada penggunaan speaker eksternal masjid yang terlalu keras dan mengganggu. Artikel Gulf Insider tahun 2017 mengulas aturan yang sama. Kementerian Urusan Kehakiman dan Agama Islam Bahrain menyatakan sistem pengeras suara masjid bisa diperintahkan dicopot jika masjid yang bersangkutan menolak untuk mengecilkan volume yang dianggap mengganggu.

"Aturannya jelas -- speaker eksternal hanya untuk panggilan salat agar jemaah tahu kapan waktunya untuk salat lima waktu," tegas Kepala Urusan Teknis dan Perawatan pada Direktorat Wakaf Sunni, Abdallah Al-Moaily, seperti dikutip Gulf Insider. "Mikrofon untuk speaker internal bisa dipakai untuk salat, khotbah dan ceramah. Jelas tidak diperlukan untuk menggunakan speaker eksternal bagi seluruh ritual salat, khotbah dan ceramah saat orang lain sedang istirahat, tidur atau berusaha menenangkan pikiran," imbuhnya.

Tak jauh berbeda dengan Bahrain, otoritas


Uni Emirat Arab (UAE) juga meminta warga untuk melapor jika ada speaker masjid yang dianggap terlalu keras.

Departemen Urusan Agama Islam UAE menyatakan ada batasan untuk volume speaker masjid saat digunakan menyampaikan azan.

"Apakah suaranya terlalu kecil atau terlalu keras daripada seharusnya, warga bebas mengajukan laporan dan pihak-pihak terkait akan menyelidiki dan menyelesaikan isu ini sesegera mungkin," tegas juru bicara Departemen Urusan Agama Islam UAE seperti dikutip dari media lokal The National.



Ditambahkan Kepala Divisi Teknis Departemen Urusan Agama Islam UAE, Jalal Obeid, panggilan salat via speaker eksternal masjid tidak boleh melebihi 85 desibel di area permukiman. Alasannya, suara di atas 85 desibel dianggap bisa memicu kehilangan pendengaran.

Pemerintah Mesir baru memberlakukan aturan khusus untuk pengeras suara masjid sejak Ramadan tahun ini. Menteri Urusan Keagamaan Mesir, Mohammed Mokhtar Gomaa, melarang penggunaan speaker eksternal masjid saat ibadah salat dilakukan.

Aturan ini didukung oleh anggota Akademi Penelitian Islam Al-Azhar, Mohamed El Shahat El-Gendy. "


Quran menyebutkan 'Mereka yang menjalankan ibadah dengan khusyuk dan ketaatan penuh', ibadah seharusnya dilakukan dengan penuh kekhusyukan bukan dengan pengeras suara




yang mengganggu para pasien dan warga lanjut usia," tegasnya kepada Egypt Today.

Di Malaysia, aturan pengeras suara masjid berbeda-beda tergantung wilayahnya. Larangan penggunaan speaker eksternal masjid untuk menyampaikan ceramah dan khotbah berlaku di Selangor. Penggunaan speaker eksternal hanya sebatas untuk azan dan pembacaan ayat Alquran. "Ini untuk menjaga citra Islam, yang penting bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan," demikian pernyataan Dewan Kesultanan Selangor seperti dikutip New Straits Times.

https://m.detik.com/news/internasional/4178896/begini-aturan-toa-masjid-di-arab-saudi-dan-negara-muslim-lain
Diubah oleh CAMATcabul
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
toa oh toa... dirimu skrang menjadi sgt berharga
Gue setuju sama MUI sumbaremoticon-Cool
Balasan post unwell
Quote:


Bilang pengurus masjid ya pakai toa internal saja,mengganggu kebebasan orang lain saja!


:
Balasan post konsie
Quote:


Quran menyebutkan 'Mereka yang menjalankan ibadah dengan khusyuk dan ketaatan penuh', ibadah seharusnya dilakukan dengan penuh kekhusyukan bukan dengan pengeras suara
Masjid aswaja ya?
Ini bnr MUI sumbar secara organisasi yg ngomomg? Atau cuma oknum aj.

Kl cm oknum, justru oknum tersebut yg membatasi syiar Islam, org yg mau masuk Islam jadi ogah krn melihat umat islam egois emoticon-Cape d... ya kecilin volume 20db mah ga susah ath..
Logika bahlul :

Gereja sumbang fakir miskin (kewajiban agama) = intoleran.

Vihara pasang patung (kewajiban agama) = intoleran.

Toa ganggu umat lain (bukan kewajiban agama) = tidak termasuk intoleran.
wah islamisasi emoticon-Leh Uga
Quote:
Halaman 1 dari 6


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di