alexa-tracking

Tunjuk Satu Bintang Dilangit

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b7ba11c9e740453508b4568/tunjuk-satu-bintang-dilangit
icon-hot-thread
Tunjuk Satu Bintang Dilangit
Setiap orang yang datang kedalam kehidupan kita, percayalah,
mereka semua pasti mengajarkan sesuatu tanpa kita menyadarinya



Spoiler for INDEX CEUNAH:



Spoiler for SOUNDTRACK:


Prolog

Kampus. Tempat dimana semua orang berlomba - lomba menarik perhatian lawan sejenisnya, dan juga memamerkan harta orang tuanya. Memangnya. Apa yang bisa dibanggakan dengan semuanya itu? Anak hanyalah gelandangan yang terfasilitasi, dan buat apa kita melakukan hal yang malah mempermalukan diri sendiri. ronis. Diluar sana masih banyak orang yang harus merangkak dari bawah, hanya untuk hidup yang lebih baik lagi nantinya.

Gue duduk diantara barisan orang yang mengepulkan asapnya dan segelas kopi berwarna hitam pekat yang ada disampingnya, sedangkan gue hanya bersanding segelas susu hangat dengan roti coklat ditongkrongan dekat kampus sekarang ini. Banyak orang yang memandang kami semua dengan sinis saat melewati tongkrongan, atau malah mungkin mengabaikannya.

Gue beranjak dari tempat duduk. Kemudian.
Mengambil tas yang ada tepat didekatnya, "Kemana?" ucap Haikal

"Kelas" ucap gue, melambaikan tangan kepadanya

Haikal tersenyum tipis, "Aku mau titip salam"

Gue berjalan menjauhinya,
"Males" ucap gue, tersenyum simpul

"Bantu temenlah" ucap Haikal, mengepulkan asapnya

Gue melambaikan tangan kepadanya, "Tenang"

Gue gak habis pikir sama pemikiran orang - orang yang menganggap tongkrongan itu sekumpulan para berandalan kampus, tapi, disini gue cuman makan dan minum seperti manusia pada umumnya, kalau memang kalian meliihat yang sebenarnya. Memang. Lebih baik nakal sekarang, daripada disaat tua nanti, tapi, akan lebih baik lagi kalau seumur hidupnya gak pernah nakal. Membosankan.

********

Sampai dikelas

"Ersya, kamu dapet salam" ucap gue, tersenyum simpul

Dia tersenyum manis, "Dari siapa?"

"Haikal" ucap gue

Senyumannya memudar, "Oh" ucap Ersya

Gue duduk tepat disampingnya, "Kenapa?"

"Apanya?" ucap Ersya

Belakangan. Gue memang mendengarkan gosip yang beredar,
makanya gue mau memperjelasnya, "Kamu, gak suka sama dia?" ucap gue, tersenyum simpul

Dia tersenyum manis,
"Masalahnya. Aku itu udah suka sama orang lain, Angga"

"Siapa?" ucap gue, tersenyum tipis

Dia memalingkan wajahnya, "Aku gak bisa ngasih tahu" ucap Ersya

Ersya adalah primadona kampus. Banyak orang bilang, katanya dia susah untuk didekati orang lain, tapi, pada kenyataannya gue juga bisa mengobrol dengannya. Gue gak habis pikir sama temen - temen ditongkrongan yang menjadikannya taruhan, dan sampai sekarang gue masih gak bisa bilang sama dia tentang semuanya itu. Terkadang. Gue menerima pesan darinya ditengah malam, dan disana dia bercerita tentang bagaimana kehidupan yang dijalaninya hari itu.

"Angga" ucap Ersya

Gue menoleh kepadanya, "Apa?"

"Gakpapa" ucap Ersya, tersenyum tipis

Gue melihatnya melamun, "Ersya. Kamu kenapa?" ucap gue, memegang pundaknya

"Iya, Angga. Apa?" ucap Ersya, memaksa tersenyum

Gue menempelkan telapak tangan kedahinya, "Kamu sakit?" ucap gue

Dia menggelengkan kepalanya pelan, "Enggak"

"Terus?" ucap gue

"Aku mau ngomong sama kamu" ucap Ersya, mendekatkan kursinya

Dia gak punya temen. Banyak orang yang gak suka, walaupun, dia hanya berdiam diri dikelas seharian itu. Gue gak tahu gimana pemikiran cewek, tapi, kenapa juga mereka harus menjauhi seseorang hanya karena kalah bersaing. Rumit. Dikelas saat itu sangatlah sepi hanya ada kita berdua saja, dan disana dia meneteskan air matanya disaat bercerita tentang semuanya itu.

Gue mengusap air matanya dengan ibu jari,
"Kamu cantik. Aku gak suka, lihat kamu nangis" ucap gue, tersenyum tipis

Dia berhenti menangis, "Makasih, Angga" ucap Ersya

"Buat apa?" ucap gue

"Kamu udah mau dengerin ceritaku" ucap Ersya, tersenyum manis

Gue mencoba mengalihkan perhatiannya, "Kamu tahu, gak?" ucap gue

"Apa?" ucap Ersya

Gue sendiri juga, gak tahu mau ngomong apa,
"Gak jadi" ucap gue, tertawa kecil

"Kamu mengalihkann perhatian?" ucap Ersya, tersenyum manis

Bersamaan dengan itu, datang beberapa orang memasuki ruangan
"Angga. Kamu harusnya duduk disini" ucap Larisa, menunjuk tempat duduk disebelahnya

Gue melirik Erysa saat itu, "Iya, bentar" ucap gue

"Aku maunya sekarang" ucap Larisa, menatap tajam Ersya

Gue hanya memindahkan tas, tapi, masih duduk dikursi yang sama,
"Aku duduknya nanti" ucap gue, tersenyum simpul

"Aku butuhnya bukti, bukan cuman janji" ucap Larisa, cemberut

Dikucilkan. Semua orang dikelas menjauhinya, bahkan, secara langsung menolaknya masuk kedalam kelompok, dan disanalah hidup ini memaanglah selalu salah. Gue memutuskan membentuk kelompok sendiri dengan Ersya didalamnya, kemudian, dua orang lainnya juga mengikuti. Senyuman merekah tipis diwajahnya. Larisa hanya bisa memandang gue dengan lekatnya, karena, gue saat itu memilih berpindah haluan daripada bergabung dengan kelompoknya.

Gue keluar ruangan untuk menghirup udara segar,
"Kamu, harusnya gak usah bantuin aku" ucap Ersya, tersenyum simpul

"Kenapa?" ucap gue, mengernyitkaan dahi

Tatapannya sendu, "Aku gak mau kamu terlibat" ucap Ersya

"Aku udah terlibat" ucap gue, tertawa kecil

Dia memandang gue dengan lekatnya,
"Tapi..." ucap Ersya

"Gak usah khawatir" ucap gue, tersenyum simpul

Dia berjalan masuk kedalam ruangan, dan wangi parfumnya masih tercium oleh indra penciuman. Gue berdiri dipinggir jendela, sembari melihat pemandangan diluar sana saat itu juga. Langit yang indah. Gue hanya bisa terdiam, disaat melihat mereka berdua bercanda gurau satu sama lainnya, dan beberapa saat setelahnya gue menyudahi kegiatan itu, kemudian, gue kembali kekelas yang masih saja berdiskusi.

*******

Awal Perkuliahan


Apa gunanya orientasi? Perkenalan?
Kita semua, juga, masih diminta perkenalan didepan sekarang. Gue mengamati semua orang yang ada disekitar, dan memang masih belum menunjukan bagaimana karakter yang sebenarnya. Pencitraan. Kenapa juga harus disembunyikan? Lagipula, nantinya juga semua orang akan tahu karakternya, dan buat apa bersusah payah menjaga image?

Dia berdiri didepan kelas, "Aku, Ersya" ucapnya, tersenyum tipis

"Hai, Ersya" suara tak berwujud

"Pacar?" ucap seseorang tepat dibelakang

Dia memalingkan wajah, "Gak punya pacar" ucap Ersya

"Email? Password?" ucap gue

Semua orang tertawa saat itu juga, dan hanya gue yang gak tertawa saat saling menatap dengannya ditengah keramaian. Cantik. Menarik perhatian.

Lama - kelamaan, kecantikannya itu gue rasa memudar, dan semua orang juga mulai membicarakannya. Perempuan panggilan. Murahan. Ayam kampus. Gue sudah mendengarkan berbagai macam sebutan untuknya, tapi, dia masih saja bisa tersenyum seakan kuat menanggung beban kehidupannya itu. Kita terkadang terlalu cepat menilai suatu hal, tanpa, melihatnya dari berbagai sudut pandang sebelumnya.

"Aku lihat dia. Sekamar dihotel" ucap Haikal

Gue mulai penasaran saat mendengarkannya,
"Kapan?" ucap gue, tersenyum tipis

Dia meminum kopi hitam pekatnya,
"Kemarin. Dia sama anak kampus lain" ucap Haikal, menyeringai

Kenapa? Buat apa?

Dia mengepulkan asapnya keatas,
"Mau gimana lagi? Faktanya" ucap Haikal, tersenyum simpul

"Kenapa?" ucap gue

"Aku mundur deketin dianya" ucap Haikal

Hanya itu? Alasannya

Gue percaya cinta itu tumbuh karena harga diri, bukan dari chemistry, ataupun malah ekonomi, tapi, masih saja gue gak pernah mengerti tentang perasaan sesaat itu. Sekarang. Apa dunia ini terlalu istimewa? Kenapa banyak orang yang jatuh kedalam lubang yang paling gelap didunia ini, dan disana yang hanya terdapat kebahagiaan sementara. Tersenyum dan tertawa hanyalah sebuah ekspresi belaka.

"Bukannya yang rusak itu harusnya diperbaiki?" ucap gue, memberinya pandangan, "Jangan malah ditinggalin, terus, nyari yang lainnya"

Dia menginjak batang rokoknya,
"Aku sendiri juga rusak" ucap Haikal

"Aku beneran gak tahu, mau ngomong apa lagi" ucap gue, tertawa kecil

"Itu masalahnya" ucap Haikal, tersenyum sinis

Gue meminum susu hangat, "Masalahmu" ucap gue, tersenyum simpul

"Kamu yang harusnya jadi wakilku" ucap Haikal

"Aku?" ucap gue, menunjuk diri sendiri

"Kamu mungkin bisa lebih baik" ucap Haikal, tertawa pelan, "Disini aja gak ngerokok, mana minumnya susu lagi"

Hari mulai gelap. Tongkrongan ini justru semakin ramai, dan gak jarang remaja tanggung juga membuatnya berwarna dengan semua kerusuhannya itu. Ketenangan. Gue gak pernah ikut campur urusan orang lain, walaupun, setiap harinya gue selalu mendengarkan suara - suara gak bertuan, dan lagipula buat apa gue mencampurinya. Hidup gue sendiri juga masih belum lebih baik, dan bener - bener gak ada gunanya kalau gue melakukan semuanya itu. Percuma.

Spoiler for Mulustrasi:
image-url-apps
smpe tamat ya gan trit ny.
kl bs. hehe
menarik tata bahasanya.
image-url-apps
wowo TT,ijin mantau dulu emoticon-Big Grin
KASKUS Ads
image-url-apps
semoga gak ada kentang menarik nih ... ninggalin jejak
image-url-apps
Page one langsung crita
Hmmmm smoga aja gk trlantar ini trit
image-url-apps
Ijin Nenda dimari. Lanjut terus gan jangan kentang.
image-url-apps
ikut meramaikan, tertarik nih ane.. lanjutkeun
Quote:


Ane pakai rumus gan itu nulisnya

Quote:


TT? Top Thread apa bukan ya?

Quote:


Kentangnya udah dimasak gan

Quote:


Semoga gak terlantar gan

Quote:


Siap gan

Quote:


Mampir terus gan
image-url-apps
Ditunggu updatenya

Part 1

image-url-apps
Ersya Putri Prastiwi,
Cewek cantik berambut panjang dan bergelombang dibagian bawahnya, kulitnya putih, bibirnya tipis, bulu matanya lentik, tatapannya teduh, tapi, lebih kepada sendu saat gue melihatnya ditaman kampus. Anehnya. Dia seringkali duduk sendirian ditaman, dimana semua orang sama sekali gak ada disana saat itu juga, dan bisa dibilang hanya gue yang melihatnya dari kejauhan.

Gue berjalan menghampirinya, kemudian, langsung saja duduk tepat disampingnya, dan tentu saja dia mengabaikan semuanya itu. Terpesona. Gue baru bisa melihatnya dari dekat, dan menganggapnya sebagai malaikat yang sengaja datang untuk singgah dibumi. Tatapannya begitu kosong. Gue melihat matanya, hanya dipenuhi kesedihan yang bisa gue rasakan saat itu juga.

"Ditaman, katanya, gak boleh ngelamun" ucap gue, tersenyum tipis

Dia mengernyitkan dahinya,
"Kata siapa?" ucap Ersya, menahan senyumannya

"Aku" ucap gue

"Aku lagi ngelamun ya" ucap Ersya, bergumam

Gue memberikannya novel,
"Kamu mau pinjem?" ucap gue, tersenyum simpul

Hari itu, gue sengaja membawanya, dan berniat memberikan kepadanya. Membaca. Dia terlihat serius saat menatap novel itu, sampai melupakan gue yang berada tepat disampingnya. Setidaknya. Gue bisa membuatnya melupakan kejamnya kehidupan didunia ini, dan seluruh permasalahan yang ada walaupun hanya untuk sementara saja. Gue mengeluarkan buku sketsa, kemudian, menggambarnya tanpa disadari olehnya saat itu juga.

"Kamu lagi ngapain?" ucap Ersya, tersadar

Gue menunjukkan buku sketsa itu, "Kamu" ucap gue, tersenyum tipis

"Dia pasti cantik banget" ucap Ersya, tersenyum simpul

Gue melihat kembali hasil karya itu, kemudian, membandingkannya,
"Aslinya, lebih cantik lagi, orangnya" ucap gue

"Masa? Aku gak percaya" ucap Ersya, tersenyum tipis

**********


Kita berjalan berdampingan. Menikmati pemandangan disekitar taman kampus, karena gue memang jarang mengelilinginya, dan lagipula sangat cocok membuang waktu kosong untuk menunggu kelas berikutnya. Masih lama sekali. Gue hanya ingin mengenalnya lebih dekat lagi, dan mencoba memahami kenapa dia bisa melakukan semuanya itu? Kita tersesat dijalan yang sama bernama kehidupan.

"Kamu sering banget ditaman?" ucap gue

Dia menghentikan langkahnya, saat itu juga,
"Aku gak punya temen" ucap Ersya, tersenyum penuh arti

"Kenapa?" ucap gue

"Semua orang juga tahu masalahnya" ucap Ersya

Gue menatapnya lekat, "Aku gak tahu" ucap gue, berbohong dengannya

"Aku cewek yang gak bener" ucap Ersya, tersenyum simpul

"Aku gak percaya" ucap gue

Dia kembali berjalan, "Kamu harus percaya semuanya" ucap Ersya

"Buat apa?" ucap gue, tersenyum simpul

"Kenapa, kamu mau temenan sama aku?" ucap Ersya, tersenyum tipis

Gue menghentikan langkah,
"Kamu gak salah, tapi, apa yang kamu lakuin yang salah" ucap gue

Dia membuka kotak makannya, kemudian, menawari gue roti tawar yang ada disana. Tatapan kosong. Gue menyenggol bahunya, berniat untuk menyadarkannya dari semua lamunnya, dan akhirnya dia bisa kembali tersenyum manis lagi tentunya. Cantik. Gue selalu teralihkan perhatian oleh jepit rambutnya yang berbentuk mawar berwarna merah kehitaman, dan masih ada banyak hal lagi yang sama sekali gue gak tahu tentangnya.

"Kamu gak usah ngembaliin novelku" ucap gue

"Kenapa?" ucap Ersya

"Biar, kamu gak ngelamun lagi, nantinya" ucap gue, tertawa kecil

Dia tersenyum manis, "Makasih" ucap Ersya

"Kamu tahu, gak?" ucap gue

Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan,
"Enggak" ucap Ersya, tersenyum tipis

"Setiap orang itu punya masalahnya masing - masing" ucap gue, tersenyum simpul

"Terus?" ucap Ersya, tersenyum manis

Gue menunjuk diri sendiri, "Kita adalah pemeran utamanya, dan mereka semua cuman seorang penonton" ucap gue, tersenyum tipis

Dia memandangi langit yang cerah,
"Ditengah keramaian kita merasa kesepian, begitu juga dengan sebaliknya, ditengah kesepian kita ingin keramaian" ucap Ersya, tersenyum simpul

Apa sebenarnya kita cari didalam kehidupan ini?
Kebahagiaan hanyalah berlangsung sementara, dan kenapa banyak sekali orang yang mengartikannya dalam berbagai bentuk? Gue masih bingung bagaimana cara kerja kehidupan ini menentukan mana yang benar dan salahnya. Kebijaksaan. Apakah itu yang kita cari selama ini? Kita harus melihat abu - abu diantara hitam dan putih didalam kehidupan ini, dan masih banyak lagi pertanyaan - pertanyaan didalam pikiran gue yang belum terjawab sampai sekarang ini.

Gue sama sekali gak pernah takjub dengan semuanya, bahkan, sampai gue sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan gue selalu mencoba mencari sesuatu didalam kehidupan ini, tapi, gue juga gak tahu itu dengan jelasnya. Samar. Menurut gue, gak ada hal yang sepenuhnya benar, begitupun dengan sebaliknya, gak ada hal yang sepenuhnya salah, bahkan, didalam kehidupan ini hal yang benar bisa menjadi salah, dan begitu juga hal yang salah bisa menjadi benar. Membingungkan.

Gue hanya bisa tersenyum simpul, karena apa yang terjadi sebenarnya hanyalah kita yang membuatnya menjadi rumit, atau, malah kenapa harus dibuat sederhana kalau memang kita bisa membuatnya menjadi rumit. Manusia. Dia melihat jam ditangan kanannya, kemudian, menarik lengan gue untuk berjalan disampingnya, dan gue juga menurutinya saat itu juga. Kenapa juga gue seringkali memperhatikannya? Alasannya hanya satu, karena dia adalah teman sekelas jadi gue bisa tahu apa yang dilakukannya seharian itu.

*********


Sampai dikelas

"Angga, kamu tadi kemana?" ucap Larisa

Gue menjawab sembarang pertanyaannya itu, "Kantin"

"Bohong" ucap Larisa

"Kenapa?" ucap gue, tersenyum simpul

Dia menatap dengan lekatnya,
"Kamu tadi bareng sama Ersya, kan?" ucap Larisa, tersenyum tipis

Dia sudah tahu jawabannya


"Kenapa nanya? Kamu udah tahu juga" ucap gue

Dia tersenyum simpul, "Mastiin"

"Iya, terus, sekarang udah pasti?" ucap gue tersenyum tipis

Gue melihat senyumannya memudar,
"Aku gak suka kamu deketan, Angga" ucap Larisa, menatap dengan lekatnya

"Kenapa?" ucap gue

"Kita gak butuh alesan buat bilang benci. Tapi, kalau kamu nanya alesan aku suka, butuh waktu yang lama buat aku jawabnya" ucap Larisa, tersenyum simpul

Dia hampir benar. Tindakan bodoh, hanya untuk mencari alasan tertentu dimana kita harus menyukai, ataupun membenci sesuatu, bukannya semua itu berjalan dengan apa adanya. Gue duduk dengan bosan mendengarkan debat kosong, lagipula sampai kapanpun juga sama sekali gak akan mendapatkan hasil apapun, dan kenapa juga mereka melakukan semuanya itu dengan sepenuh hati.

Gue melihat pemandangan diluar sana, kemudian, pikiran melayang kesana - kemari saat itu juga. Langit masih indah seperti biasanya. Gue merasa waktu berjalan lebih lambat daripada bisanya, dan sampai kapan juga mata kuliah ini akan selesai. Terlalu banyak memaksa pemikiran, bukannya itu hal yang gak bagus tentunya. Membosankan. Gue menerima kertas yang diberikannya, kemudian, membuka lipatan kertas tersebut lalu membacanya. Gue hanya bisa tersenyum tipis saat itu juga

"Kita akan melamun pada waktunya" ucap gue, terkekeh

Dia bersandar ditembok, "Seterah" ucap Ersya, tersenyum simpul

"Tunggu" ucap Ersya, menarik lengan

Gue menghentikan langkah,
"Apa?" ucap gue, tersenyum tipis saat itu juga

"Kamu mau ikut, gak?" ucap Ersya, menggigit bibir bawah

"Kemana?" ucap gue

Dia terdiam beberapa saat, "Aku juga gak tahu" ucap Ersya, tsrsenyum manis

"Kamu ngajak, tapi, gak tahu mau kemana" ucap gue, tersenyum tipis

"Nonton film, gimana?" ucap Ersya

"Asal jangan film yang panas" ucap gue, terkekeh

"Enggaklah" ucap Ersya

"Kamu pernah nonton film panas?" ucap gue, tersenyum simpul

Dia memalingkan wajahnya,
"Apasih" ucap Ersya, mencubit lengan dengan kerasnya

"Aku cuman nanya" ucap gue, tersenyum tipis

Dia tersenyum simpul, "Kamu soalnya nakal, Angga" ucap Ersya, wajahnya memerah

Gue sama sekali gak tahu, seberapa batas nakal dari seorang cewek. Dan. Gue juga sama sekali gak bisa membedakan, dimana kecantikan sebenarnya dari seorang cewek, dan sampai sekarang gue masih berusaha mencarinya. Terlalu banyak kebohongan. Orang yang terlihat baik setiap harinya sekalipun, bisa menjadi berbeda didalam kehidupan malamnya, dan itulah yang gue lihat kebanyakan terjadi. Dunia malam.
Reply to brienna's post
image-url-apps
Quote:


Iya, udah kok wkwk
image-url-apps
dunia kampus.. dunia malam... bakalan menarik cerita ente gan
image-url-apps
Nebeng pajwan..
Moga lancar update nya
👍
image-url-apps
Ikut Meramaikan


Sekeras itu ya kehidupan ?

Sy punya teman Wanita Begitulah, dan semua Hampir tau, dan dia pun sering menceritakannya, tapi gak ada yang menjauhinya semua menerimanya. Ya pastilah teguran itu ada dari kawan2nya, nyinyiran di belakang juga.



Sy ingat satu jawaban dia tentang statusnya ter apalah menurut sy.
Ini perkerjaan paling enak, tinggal ngangkang dapat enak dapat duit juga.
Quote:


Semoga aja menarik gan

Quote:


Semoga aja lancar updatenya

Quote:


Dunia ini terlalu indah untuk disalahkan
image-url-apps
nongki dulu disini. Sprtinya menarik.. jngan banyak2 kentangnya bre.. harus tamat.. wkkwkwk..
Quote:


Keduluan sm aki2 ini emoticon-Frown

emoticon-Cendol Gan cek kulkas..
:Rate5 done
image-url-apps
ikut nongkrong di mari ah,,
image-url-apps
Wah bakalan rame kayanya nihemoticon-Toastemoticon-Toast
Reply to dims2512's post
image-url-apps
Quote:


Semoga aja menarik dan gak ada kentang diantara kita

Quote:


Mampir terus gan

Quote:


Semoga aja rame kedepannya
image-url-apps
nemu cerita bagus nih emoticon-Big Grin



GEMBOK emoticon-Cool
×