alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b7031db5a5163ab4b8b4578/pangsit-in-love

Pangsit In Love (Short Story) (TAMAT)

Diubah oleh anggapras53
Urutan Terlama
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Pertamax..?..emoticon-Leh Uga
Pageone jg gpp...emoticon-Malu
Diubah oleh zhekhe88

Bab 1: Satu Arah, Beda Tujuan

Romantis. Suatu sifat yang mungkin tidak akan pernah ditemukan di dalam diriku. Dan saat ini aku sedang mencoba untuk menemukan dan menghadirkannya di dalam diriku. Aku ingin menjadi seorang yang romantis untuk Nita. Gadis yang sudah aku dekati beberapa pekan yang lalu. Kali ini aku mendekati cewek dengan wajar, maksudnya tidak menggunakan pelet seperti cewek-cewek sebelumnya yang ku dekati, hehehe.

Cuaca yang cukup mendung di hari Minggu ini. Aku dan Nita akan melakukan perjalanan ke Balikpapan. Sebuah perjalanan yang dilakukan bersama-sama, dengan tujuan yang berbeda. Aku ingin pulang ke Balikpapan. Nita ingin kembali ke rutinitas kuliahnya. Kebetulan aku sedang libur kerja dan kami berdua baru saja liburan di Samarinda.

Gojek yang sudah aku pesan sedang on the way ke lokasi ku saat ini, terlihat dari aplikasi. Aku dan Nita ketemuan di terminal dan akan mencari bus bersama-sama. Semoga tidak hujan. Kalau sampai kehujanan bisa apes banget. Udah dandan seganteng ini, kalau sampe basah kuyup bakal keliatan kayak gembel. Tapi emang dasarnya tampang ku kayak gembel, sih.

**********

Quote:


Sembari menatap layar handphone dan membaca chat dari Nita, “aku udah diterminal, hati2 dijalan ya, Dan.”

Sepanjang jalan aku berdoa supaya ujan gak turun dan tidak ada halangan lainnya. Diperjalanan aku kembali membuka handphone ku dan menyusun playlist lagu untuk bekal dijalan nanti. Kumpulan lagu dangdut koplo kayaknya cocok untuk menemani perjalanan kali ini.

Karena perjalanan di bus memakan waktu yang cukup panjang. Jadi, gak mungkin sepanjang perjalanan aku bakal ngobrol dengan Nita. Apalagi kami kalau ngobrol selalau diiringi dengan tawa, persis kayak orang abis nyimeng. Padahal memang dasarnya sama-sama stres.

**********

Seorang gadis bertubuh besar sedang duduk sendirian. Aku menghampirinya setelah turun dari gojek yang aku tumpangi. Saat melihat Nita, ada hal menarik yang membuat aku jadi senyum-senyum sendiri.

Quote:


Pertemuan kami siang ini, mengingatkan kepada pertemuan kami yang pertama kali. Siang ini kami tanpa sengaja memakai baju dengan warna yang sama, biru dongker. Hal yang juga terjadi beberapa pekan lalu, saat kami baru pertama kali ketemu.

**********
Diubah oleh anggapras53

Bab 2: Gagal Romantis

Quote:


Problemnya adalah, ketika masuk ke dalam bus, ternyata hampir semua bangku terisi dengan penumpang. Tak ada bangku yang kosong secara sejajar. Memaksa aku dan Nita untuk duduk terpisah. Momen romantis yang aku rencanakan untuk menyatakan cinta pun, SIRNA.

Bayangan yang ada dikepala ku, aku dan Nita duduk bersebelahan. Sambil asik mengobrol, ditengah obrolan aku diam menatap dalam ke bola matanya. Dia juga menatap dalam kedua bola mataku. Lalu dia mencolok bola mata ku dengan jari tengahnya.

Hal-hal romantis yang sudah aku bayangkan. Yang aku yakini bakal terjadi, sirna! Aku duduk di deretan kursi bagian tengah. Dan Nita duduk di deretan kursi bagian belakang. Aku mengeluarkan handphone dari saku jaket.

Quote:


Aku mengeluarkan headset dan memasangkannya dikedua telinga ku, mendengarkan playlist yang sudah aku susun tadi. Sembari mendengarkan lagu, aku berpikir tentang cara untuk menyatakan perasaan ke Nita. Karena kalau ditunda, takutnya dia akan berubah pikiran dan ngerasa kalau aku ngegantungin dia. Aku juga takut dia keburu ditembak cowok lain, atau bahkan dipelet sama cowok lain.

Masalah ditolak atau diterima. Masalah dia juga suka sama aku atau tidak, itu aku kesampingkan dulu. Kalau mikirin hal terburuknya terus-terusan, aku akan lupa bagaimana memperjuangkan untuk mencapai kebahagiaan.

Langit mendung mulai mengirimkan tetesan hujan. Terlihat dari jendela bus yang mulai basah dengan titik-titik air hujan. Kepala ku juga tidak berhenti berpikir untuk mencari cara agar bisa menyatakan perasaan. Tumben banget kali ini aku memakai otak ku untuk berpikir.

Bab 3: Melalui Chat

Obrolan dengan Nita melalui chat pun tidak terlaksana. Karena sibuk memikirkan cara untuk menyatakan perasaan ku kepadanya. Mungkin lain kali saja aku menyatakan perasaan ku. Dengan situasi saat ini, tidak ada momen romantis yang bisa dibuat. Kemungkinan untuk diterima juga sangat kecil dengan situasi seperti ini.

Getar handphone membuyarkan ku dari lamunan. Terlihat notifikasi chat dari Nita. Dia mengirimkan sebuah foto, penumpang yang duduk disebelahnya sedang tertidur pulas sambil menggunakan masker, dengan caption “Kakashi sedang lelah, sehabis menjalankan misi dari Konoha.”

Aku menggembungkan pipi ku dan menutup mulut. Berusaha keras menahan tawa. Jujur, aku kalau tertawa, suaranya bisa mengganggu seisi bus dan dapat menyebabkan orang yang mendengar tawa ku menderita gangguan pendengaran bahkan budek.

Difoto itu terlihat orang yang sedang tertidur duduk bersebelahan dengan bapak-bapak yang menggunakan baju batik. Aku pun membalas chat Nita, “mungkin Kakashi kecapekan, habis menjalankan misi menemani bapak2 panti jompo :P “

Mungkin aku tidak bisa mendapatkan momen romantis di bus saat ini. Tapi aku akan menjaga suasana hangat ini melalui chat. Sampai tiba di terminal nanti, aku akan menyatakan perasaan ku kepada Nita.

Bab 4: Lapar + Nervous

Bus yang mengerem secara mendadak membangunkan ku. Ternyata sudah tiba diterminal Balikpapan. Dari jendela terlihat gerimis masih mengguyur sore ini. Aku menengok ke belakang, tersenyum seorang gadis berbadan besar. Seketika nyawa ku terkumpul dan pulih dari magernya setelah bangun tidur.

Aku beranjak dari kursi penumpang. Menggendong tas yang ku bawa. Nita yang duduk di belakang ku juga melakukan hal yang sama. Kami berdua bergegas turun dari bus. Senggolan halus dengan penumpang lain mengiringi aku dan Nita hingga kami benar-benar turun dari bus. Semoga tidak ada yang nyopet dompet ku, atau menyentuh bokong ku dan melakukan pelecehan seksual.

“Kamu laper gak?” Tanya ku ke Nita, setelah kami berdua memijakan kaki di halte terminal.

“Lumayan sih.”

“Makan yuk, sebelum kita pulang,” aku mengajak Nita. Entah kenapa tiba-tiba dada ku bergetar, karena detak jantung yang semakin melaju. Sudah lama aku gak pernah ngerasain deg-degannya situasi sebelum nembak cewek. Selain berharap semuanya berjalan lancar, aku juga berharap agar tidak pingsan karena terlalu nervous. Kalau aku pingsan, bakal sulit untuk sadar lagi, karena mesti dicium sama permaisuri cantik untuk membangunkannya.

Hujan gerimis sore ini semakin membuat perut ku lapar. Rasanya pengen cepet-cepet di isi sama yang anget-anget. Aku menengok siapa tau ada tempat makan yang pas dengan cuaca sore ini.

“Pangsit, gimana?” Tanya ku ke Nita, sambil menunjuk salah satu warung pangsit yang terlihat sepi.

“Boleh, ayok,” Nita segera mengiyakan.

Sepertinya dia lebih laper dari aku.
Kami berjalan lambat menikmati gerimisnya sore ini. Entah karena capek setelah perjalanan jauh, atau memang lagi pengen ujan-ujanan aja, itung-itung sekalian mandi.

Bab 5: Takut Pingsan

“Ehh, kenapa!?” Aku terkejut karena Nita yang berjalan disamping ku, menggandeng tangan ku.

“Gapapa, becek,” Nita membuang wajahnya. Enggan menatap, tapi tangannya mau menggenggam. Tadinya aku pikir cuman laki-laki doang yang suka modus, ternyata cewek juga bisa modus. Yah wajar sih, cewek mana pun pasti bakalan modusin laki-laki ganteng kayak aku.

Dengan saling bergandengan, kami pun tiba di tempat tujuan. Dan di depan warung pangsit, ada 3 orang mbak-mbak ngobrol asik dengan bahasa Jawa. Aku pikir salah satu diantara mereka adalah penjualnya.

“Mbak, makan disini. Dua, ya,” kata ku kepada segerombolan mbak-mbak tersebut. Toh kalau penjualnya ada diantara mereka bertiga, pasti bakal nyaut. Begitu pikir ku.

“Maaf mas, yang jualan masih pulang ke rumah. Ngambil es batu. Ini kita juga lagi nunggu pesanan,” kata salah satu mbak-mbak berbaju pink dengan logat jawa yang kental. Pehape moment nih.

Duduk manis sambil menunggu penjual pangsit datang menjadi aktivitas kami saat ini. Tiba-tiba aku terpikir untuk menyatakan perasaan ku saat ini. Mengingat Nita yang tadi tiba-tiba menggandeng tangan ku. Entah dia gandeng tangan ku karena dia suka sama aku, atau mungkin karena dia memang beneran phobia sama becek.

Aku coba untuk mencuri pandangan. Sejenak aku lihat wajahnya. Mukanya memerah, dengan wajah tembemnya, seolah seperti ada dua buah tomat menggantung dikedua pipinya. “Apa memang begini orang yang lagi kedinginan?” Pikir ku dalam hati.

“Maaf mas, pesen apa?” Aku menoleh seketika ke mbak-mbak penjual pangsit yang tiba-tiba udah ada di depan ku.

“Ehh, pangsit dua mbak. Makan disini,” jawab ku dalam keadaan setengah kaget.

“Minumnya?”

“Aku teh anget mbak.”

“Aku jeruk anget,” Nita juga ikut merespon.

Perut keroncongan, jantung berdebar-debar, pikiran kacau, semuanya tercampur jadi satu. Aku ragu untuk menyatakan perasaan saat ini.

Melihat kondisi ku dan situasi saat ini. Nembak diwarung pangsit terminal, dimana kesan romantisnya!?

Kalau aku nembak Nita sekarang, kemungkinan ditolaknya sangat besar. Kalau ditolak, aku pasti bakal pingsan. Mengingat kondisi tubuh yang kayak gini. Sebaliknya, kalau diterima mungkin aku bakal pingsan (juga). Mengingat kondisi tubuh yang kayak gini. Dada gemetaran luar biasa. Skala gemetarnya mungkin sekitar 5,7SR.

Bab 6: Hampir Komplit

Mbak-mbak yang menanyakan pesanan kami, kembali datang dengan membawa minuman hangat yang kami pesan tadi. Siapa tau minum teh anget bisa menstabilkan perasaan gugup ku.

Dengan segera aku mengambil sedotan yang tersedia di meja. Dan meminum teh hangat yang tidak bisa dibilang hangat, karena tehnya panas kayak air yang baru aja menggurak diatas panci. Tapi panasnya air teh ini gak sempat aku pedulikan, sangking gugupnya aku saat ini. Siapa tau lidah yang kepanasan bisa membuat aku lancar untuk ngomong, hehe.

Nita tersenyum tipis melihat aku minum teh ini.

“Kenapa?” Tanya ku penasaran.

“Baru ini aku liat orang minum teh anget, pakai sedotan,” senyumnya melebar. Senyum ejekan. Aku pun segera membuang sedotan yang aku pakai untuk minum teh. Nita pun menyeruput jeruk hangat pesanannya.

Kali ini aku yang membalas senyum ejekannya. Karena setelah dia menyeruput jeruk hangat itu, wajah Nita seolah mengkerut.

“Haha, kenapa? Asem ya?” Aku tertawa puas melihat dia keracunan jeruk hangat. Nita masih dalam keadaan yang sama, mungkin jeruknya memang asem dan kecut. Aku pikir itu bukan jeruk, tapi air cuka hangat yang dikasih sumba.

“Nihh, minum teh ku aja,” aku menyorongkan teh hangat ku ke Nita. Sesaat aku juga menarik gelas jeruk hangatnya dan mencicipinya. Entah kenapa dia sampai semengkerut itu, padahal jeruk ini rasanya lumayan enak.

Mbak-mbak si penjual pangsit pun datang kembali dengan membawa dua mangkok mi pangsit. Aku menghentikan tawa ku, karena saat ini lidah ku sedang berada diujung syahwatnya ketika melihat mi pangsit itu.

Sesaat setelah mangkok ditaroh diatas meja. Aku segera mengambil sendok dan garpu. Menyantap mi pangsit dengan asyik.

Sungguh syahdu sore ini. Hujan gerimis, menyantap semangkok mi pangsit ditemani oleh orang yang aku sukai. Hanya satu yang belum komplit, aku belum mengetahui perasaan dia ke aku. Karena aku belum menanyakannya, dan aku belum menyatakannya, kalau aku suka dia.

Bab 7: Pangsit In Love

Nita membereskan mangkuk sisa makanan kami. Kebiasaan yang selalu dilakukannya ketika kami selesai makan. Nita menumpuk mangkoknya menjadi satu, mengambil tisyu dan membersihkan mulutnya.

Kami berdua terdiam dalam suasana kenyang. Pikir ku, kalau bukan sekarang, kapan lagi ada kesempatan. Lagian, mood seseorang biasanya akan jadi lebih baik ketika dalam kondisi kenyang. Makanya kalau ditempat kerja, setelah makan siang, aku merasakan diriku sangat bersemangat (untuk tidur).

Berusaha aku lawan perasaan gugup yang sudah hinggap sejak aku turun dari bus tadi. Aku bulatkan tekad untuk menggerakan bibir dan berucap. Sebuah kalimat yang datang dari hati, terolah dipikiran, dan akan aku sampaikan melalui gerak lidah dan bibir.

“Nit, kita kan udah temenan. Udah jalan bareng-bareng. Kenapa kita gak jadian aja?” Tanya ku kepada Nita dengan ekspresi yang biasa hadir diwajah ku, cengengesan.

Nita tersenyum sambil menundukan pandangannya. Kali ini dua buah tomat kembali muncul dipipi kiri dan kanannya.

“Aku senang, tapi malu,” jawab Nita dengan pelan.

“Haha, jadi gimana?” Aku berusaha memastikan jawabannya.

“Mmmmm, enak sih kayaknya kalo jadian. Ada yang merhatiin, hape juga jadi rame. Bukan cuman dapet notif sms dari Telkomsel doang,” kali ini dia berbicara sambil memandang ke arah ku. Aku yakini ucapannya barusan adalah sebuah pernyataan, kalau aku diterima. Aku membalas ucapannya dengan senyum cengengesan. Aku gak tau gimana ekspresi yang pas untuk nunjukin sikap kalau saat ini aku lagi senang.

“Kamu kenapa senyum-senyum?” Tanya Nita.

“Gapapa. Ini nihh, mi pangsitnya enak,” aku berusaha ngeles.

“Kita pulang yok, istirahat. Entar keburu malam,” aku beranjak dari kursi, Nita pun juga. Aku menghampiri mbak-mbak penjual pangsit tadi untuk membayar.

Nita kembali menggandeng tangan ku saat kita berdua pergi dari warung pangsit menuju jalan raya.

Bab 8: Just Be Yourself (SELESAI)

“Kamu udah pesen gojek?” Tanya ku ke Nita. Nita akan pulang ke kosnya dengan gojek. Begitu pun aku, akan pulang ke rumah dengan gojek pula.

“Ini baru mau pesen,” jawab Nita sambil menatap layar handphonenya.

“Kamu pesen juga, buruan,” kata Nita.

“Entar aja, nunggu kamu udah jalan. Baru deh aku pesen,” kata ku sambil tersenyum.

Kami berdua menunggu gojek datang sambil berteduh diteras sebuah ruko. Gerimisnya sore ini pun menjadi hangat. Selain karena efek dari semangkok mi pangsit, hal ini terjadi karena perasaan gugup ku yang berhasil ber-metamorfosis menjadi perasaan bahagia. Semoga perasaan ini tetap ada, di aku dan di Nita.

“Nit, kamu tau gak? Sebenernya aku tadi ragu mau nembak kamu di warung pangsit, soalnya takut ditolak. Situasinya kurang romantis,” kata ku kepada Nita yang sedaritadi masih menggandeng tangan ku.

“Dan, aku gak butuh sesuatu yang romantis. Apa adanya kamu, udah cukup bisa bikin aku bahagia,” kalimat yang diucapkan oleh Nita, di iringi dengan senyuman, sukses membuat perasaan ku menjadi tenang.
Diubah oleh anggapras53


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di