alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Aman Boroi Ogok berdamai dengan agama
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b7016b562088166548b4571/aman-boroi-ogok-berdamai-dengan-agama

Aman Boroi Ogok berdamai dengan agama

Aman Boroi Ogok berdamai dengan agama

Aman Boroi Ogok berpose untuk Beritagar.id di depan uma, rumah tradisional Mentawai, Minggu (20/5/2018)Beritagar.id / Febrianti

LAPORAN KHAS

Aman Boroi Ogok berdamai dengan agama

Dia tak mengambil posisi ekstrem dalam perkara agama. Masih memuliakan keyakinan warisan leluhur seraya tak kaku menerima agama-agama 'resmi'.

Febrianti -11:29 WIB - Minggu, 12 Agustus 2018

Welcome to Uma Aman Boroi Ogok.

Demikian tulisan yang tersalib di pekarangan sebuah rumah panggung beratap daun sagu di Desa Muntei, Siberut Selatan.

Rangkaian huruf itu terpacak di kawasan pinggir hutan. Agaknya tidak ditujukan bagi penduduk setempat.

Tetapi, jika menengok status Muntei sebagai kampung yang dikembangkan sebagai lokasi wisata budaya, pelumrahan akan teks itu tentu boleh muncul.

"Uma" merujuk pada rumah adat suku Mentawai. Semua tulang bangunannya tersusun dari kayu. Ia kokoh meskipun tak berpaku. Kini, di tanah para perajah tubuh itu--yang ombak pantainya diburu banyak peselancar dunia--uma tak lagi umum.

Salah satu dari yang sudah tak jamak itu ditinggali Aman Boroi Ogok. Pria berusia 60-an. Dia seorang sikerei, istilah Mentawai untuk dukun dan ahli pengobatan.

Dan di antara sikerei--yang juga sedikit--Aman Boroi Ogok istimewa. Dia sudah seperti duta turisme. Sering tampil pada pertunjukan kesenian di banyak tempat. Selain itu, wajahnya juga kerap menghiasi majalah perjalanan produksi dalam dan luar negeri.

“Saya ini sikerei Siberut, kadang menjadi sikerei Bali, sikerei Jakarta,” katanya sambil tertawa saat berjumpa dengan Beritagar.id di uma dimaksud, Minggu (20/5/2018).

Ini kali ketiga saya bersemuka dengan pria ramah dan humoris itu. Memang, ketika berbincang dia memakai bahasa Mentawai. Tetapi, obrolan kami berjalan lancar berkat alih bahasa oleh Frenky Andi, kawan saya yang asli Siberut.

Frenky bekerja di Dinas Pariwisata Mentawai. Dia memiliki hubungan erat dengan Aman Boroi Ogok. Selama ini, Frenky rajin menemani Aman ke luar Mentawai.

Di uma itu, Aman Boroi Ogok hanya tinggal bersama istrinya. Padahal, anaknya enam. Tapi, semua darah dagingnya itu sudah hengkang. Mereka sudah berumah sendiri. Dari anak-anaknya, Aman Boroi Ogok beroleh dua cucu.

Percakapan kami dengan sang sikerei hari itu bermula dari hal-hal ringan. Semakin lama, pembicaraan kian serius. Terutama saat saya bertanya ihwal Arat Sabulungan, keyakinan lokal Mentawai.

Arat artinya kepercayaan. Sa bermakna orang, dan Bulungan berarti roh. Secara singkat, Arat Sabulungan bisa dikata orang-orang yang percaya kepada roh-roh.

“Agama bagi saya sama dengan orang memberikan rokok pada saya. Orang datang ke sini, kasih rokok, lalu saya ambil, ” kata Aman Boroi Ogok menanggapi perkara yang kami tanyakan.

Menurutnya, Arat Sabulungan sudah melekat pada diri mereka sejak lahir. Dia mengaku ajaran para leluhurnya itu tidak mungkin ditinggalkan.

“Tuhannya tetap sama, tuhan Allah di Islam, tuhan Yesus di Kristen, dan Ulau Manua di Arat Sabulungan,” ujarnya. “Sabulungan itu cara berterima kasih pada alam yang telah menghidupi kami, berterima kasih pada tanah, gunung, pada nenek moyang yang telah menjaga kami sampai kami sehat-sehat saja. Yang terakhir, berterima kasih pada penjaga langit dan sang pencipta--Ulau Manua--agar kami sehat-sehat saja".

Ulau Manua diyakini sebagai Tuhan penjaga alam semesta. Dia di atas segalanya.

Di luar itu, masyarakat Mentawai juga mengenal dua kategori roh, yakni roh baik dan roh jahat.

Roh jenis pertama lazim menolong manusia, seperti menjaga ternak babi dan tanaman di ladang. Sedangkan roh jahat sanggup mencelakakan manusia. Ia bekerja dengan mengusik jiwa atau roh manusia. Itu terjadi karena mereka merasa terganggu oleh perbuatan manusia.

Selain itu ada pula pelbagai roh yang mengatur alam. Mereka dikhususkan untuk lokasi tertentu. Ada yang di hutan, laut, atau langit. Ada pula yang disebut roh nenek moyang dan roh yang bersemayam dalam diri tiap manusia.

Untuk menjaga agar roh-roh tidak marah, para penganut Arat Sabulungan melakukan segala sesuatu dengan hati-hati. Mereka tak lupa selalu meminta perkenan para roh melalui punen atau pesta ritual. 

Sikerei seperti Aman Boroi Ogok bakal bertugas memimpin upacara adat. Pasalnya, dia penghubung alam manusia dan dunia roh. Orang sepertinya penting karena semua pengetahuan mengenai ritual Arat Sabulungan dipelihara turun-menurun melalui tradisi lisan.

Pelarangan Arat Sabulungan

Pada 1954, Arat Sabulungan pernah dilarang pemerintah. Bagi orang Mentawai, itu masa paling berat.

Semua berawal sejak Perdana Menteri Republik Indonesia, Ali Sastroamidjojo, mengeluarkan Surat Keputusan No. 167/PROMOSI/1954 tentang pembentukan Panitia Interdepartemental Peninjauan Kepercayaan-kepercayaan di dalam Masyarakat (Panitia Interdep Pakem).

Aman Boroi Ogok berdamai dengan agama

Aman Boroi Ogok berpose di muka umanya di Desa Muntei, Kepulauan Mentawai, Minggu (20/5/2018) |Febrianti /Beritagar.id

SK itu tak dikhususkan untuk kepercayaan orang Mentawai belaka. SK itu berlaku bagi banyak aliran kepercayaan--tradisional maupun baru--di Indonesia.

Aturan dirilis demi menertibkan rupa-rupa adat perkimpoian. Sebab, aneka adat itu dianggap tidak bersesuaian dengan agama-agama yang resmi diakui negara: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha.

Namun, dampak dari pelaksanaan SK tersebut di Mentawai luar biasa.

Pemerintah Sumatra Barat dan pemerintah Kabupaten Padang Pariaman yang menaungi Kepulauan Mentawai menginisiasi “Rapat Tiga Agama”. Forum itu diselenggarakan di tiap ibu kota kecamatan (Muara Siberut, Muara Sikabaluan, Sioban, dan Sikakap) di Kepulauan Mentawai.

Rapat tiga agama melibatkan perwakilan Islam, Protestan, dan Arat Sabulungan. Pun begitu, keputusan yang dihasilkan bertujuan menghancurkan Arat Sabulungan.

Satu di antara resolusinya: Arat Sabulungan harus dihapuskan, bilamana perlu menggunakan kekerasan dengan bantuan tenaga polisi. Para penduduk asli pun dalam tempo tiga bulan diwajibkan untuk memilih antara Islam atau Kristen Protestan.

Jika pada koridor waktu yang diberikan mereka tidak juga menetapkan pilihan, semua alat keagamaan Arat Sabulungan akan dibakar oleh polisi. Warga yang masih menyimpannya bahkan diancam kena hukum.

Pada 1955, penduduk Mentawai yang belum beragama terpaksa memeluk salah satu agama yang diajukan.

Kemudian, sejarah mencatat segala tindakan yang berkenaan dengan para pengikut Arat Sabulungan. Kaum lelaki tak lagi bisa memanjangkan rambut. Semua ritual melibatkan sikerei ditiadakan. Tato dilarang. Begitu juga ritus meruncingkan gigi.

Pemerintah lalu menggelar program transmigrasi lokal untuk menjauhkan orang Mentawai dari budaya lama. Akibatnya, Arat Sabulungan yang menjadi jantung kebudayaan Mentawai pun menghilang.

Di empat pulau besar Kepulauan Mentawai yang berpenghuni (Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan), penganut Arat Sabulungan hanya tersisa di Pulau Siberut. Di tiga pulau lain, mereka tinggal cerita.

Arat Sabulungan bisa bertahan di sebagian Pulau Siberut karena di sana pusat kebudayaan Mentawai. Selain itu, pulau tersebut susah dijangkau.

Pada awal 1980-an, pedalaman Siberut banyak dikunjungi turis asing yang ingin melihat kebudayaan Mentawai. Saat itu, kepolisian dan aparat kecamatan di Siberut masih melangsungkan pelarangan ritual budaya.

Aman Boroi Ogok ketika itu tinggal di Sakaliau. Lalu, seorang pemandu wisata membawanya untuk menemui pemerintah provinsi demi memprotes pelarangan ritual budaya Mentawai.

"Saya dibawa Toyon, guide pertama di Siberut, ke Padang, karena orang sini (kecamatan) marah-marah ke kami. Sikerei dilarang, budaya dilarang, kalau ada tato ditangkap, ada yang pakai tudukat (kalung sikerei) ditangkap. Kami mau tanya yang di pusat, mau apa sebenarnya?“ kata Aman Boroi Ogok.

Dia dan beberapa sikerei lain dibawa bertemu dengan petinggi pemerintah Provinsi Sumatra Barat di Padang. Namun, Aman Boroi Ogok tidak dapat mengingat sosok yang dia temui.

“Saat bertemu dengan pemerintah, mereka tertawa dan mengatakan tidak pernah melarang budaya kami. Orang yang di sini (Siberut) saja yang melarang,” ujar Aman Boroi Ogok.

Jawaban itu membuatnya lega. Namun, para kerabatnya di Sakaliau menyambutnya dengan rasa heran. Pasalnya, mereka mengira dia dan sikerei lainnya sudah ditangkap atau dibunuh.

“Saat kami kembali ke Sakaliau, terkejut semua orang. 'Tidak ada mereka bunuh mereka, tidak ada mereka dihukum',” kata Aman menirukan komentar kerabatnya yang masih dilanda kebingungan.

Akhirnya, masyarakat kembali menjalankan tradisi budayanya secara terbuka. Mereka tidak lagi takut pada larangan petugas kecamatan dan polisi di Siberut.

“Saya katakan pada orang kecamatan, 'kalian ini hanya ranting dari sebuah pohon. Saya sudah temui pangkal pohon yang besarnya di Padang'. Dan tidak ada mereka melarang kami,” ujar Aman Boroi Ogok.

Aman Boroi Ogok Memilih agama

Karena sering dibawa mengikuti pertunjukan wisata keluar Mentawai, Aman Boroi Ogok pun mencari agama yang cocok untuknya.

Aman Boroi Ogok berdamai dengan agama

Tiga sikerei tengah melakukan melangsungkan ritual untuk pengobatan di Salappak, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, Minggu (20/5/2018) | Febrianti /Beritagar.id

“Kalau tidak mengambil agama, nanti saya dikatakan sombong,” katanya.

Dia mulai mengamati agama-agama yang ada di Siberut saat itu. Bahai, Katolik, Protestan, Islam.

Dia coba-coba mengikuti ritual Katolik. Ikut beribadah hari Minggu di gereja Katolik. Tetapi melihat gereja yang banyak, dia merasa heran.

“Dimana-mana ada Tuhan. Di tiap gereja ada Tuhan. Kalau di Arat Sabulungan, kalau saya mengadakan pesta, yang saya datang kerabat saya dan roh nenek moyangku. Kalau di sini, gereja banyak sekali. Ke gereja mana Tuhan datang setiap hari Minggu?” ujarnya.

Dia juga pernah mengamati Protestan.

“Kalau di agama Protestan, sebelum makan berdoa. Saking lamanya berdoa, datang kucing, dilarikannya makanan yang ada di depan kita. Tapi, kita masih berdoa juga sambil tutup mata. Doanya habis, makanan sudah dibawa kucing. Kalau di Islam, sebelum makan cukup baca Bismillah,” kata Aman Boroi Ogok.

Dia sebenarnya sempat akan memilih Islam, tetapi batal.

“Di Islam itu harus potong ujung, sunat, enggak mau saya,” ujarnya.

Dia lalu bercerita. Dulu di dekat kampungnya, Madobak, hidup seorang pendakwah. Pemuka agama itu memintanya masuk Islam dengan iming-iming akan banyak bantuan. Sebagai tanda jadi, Aman Boroi Ogok dihadiahi sarung.

Oleh sang pendakwah beberapa orang yang akan masuk Islam diminta pergi ke Muara Siberut, ibu kota Kecamatan Siberut Selatan. Aman Boroi Ogok juga pergi ke tempat disebut. Dia naik sampan bersama beberapa orang tetangganya, termasuk tiga anak laki-lakinya.

Sampai di Muara Siberut, ketiga anaknya disunat, lalu keluar menggunakan sarung sambil berjalan tertatih-tatih. Mereka juga mendapat baju baru.

“Saya terkejut, dan saya katakan, 'diapakan anakku, nanti mati mereka',” ujar Aman mengenangkan. Yang ditanya malah memintanya maju. “Tidak apa-apa," kata Aman menirukan sang mantri, "sekarang giliranmu, enggak akan sakit, nanti dibius juga seperti anak-anak itu".

Pria berusia 60-an itu menolak. “Ndak mau saya dipotong, itu yang paling penting dalam hidup, itu pula yang dihilangkan. Pulang lah saya membawa anak-anak yang sudah disunat,” ujarnya sambil terbahak-bahak.

Akhirnya, sang sikerei memilih Katolik. Tapi, dia tidak dipermandikan.

“Kata orang gereja dosa saya sudah banyak, tidak perlu dipermandikan,” katanya.

Namun, dia mengaku jarang ke gereja.

“Hari minggu saya lebih baik mengambil sagu, kalau tidak sedang mengambil sagu, tidak juga ke gereja, lebih baik saya istirahat,” ujarnya.

Belakangan ketiga anak lelakinya yang Islam juga beralih ke Katolik.

“Bagi saya agama apa saja tidak masalah, keluarga dekat saya ada yang Islam, Katolik, Protestan juga ada, agama itu sama,“ kata Aman Boroi Ogok.

Walau sudah punya agama baru, dia tetap menjalankan aturan Arat Sabulungan. Aman Boroi Ogok tidak ingin melepaskan ajaran leluhurnya.

“Saat ini semua budaya Mentawai dan Arat Sabulungan tidak dilarang lagi oleh polisi atau orang pemerintah. Saya sekarang banyak berteman dengan polisi. Kalau saya menari, mereka silahkan saya jalan ke pentas, bahkan juga minta berfoto-foto bersama,” ujarnya.

https://beritagar.id/artikel/laporan...i-dengan-agama

Benar2 tragis mendengarnya, agama lokal hancur akibat ulah agama impor
keyakinan kok dipaksakan
Mungkin Di kira di potong semua emoticon-Big Grin
Napa ga ikut buddha Atau hindu kan masih ada pilihan laen??
yg penting yakiiiiin


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di