alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Tak Mendengar Ijtima Ulama, Kubu Prabowo Dapat Sindiran Dari Ma'ruf Amin
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6d9b40c1cb17ef0d8b4567/tak-mendengar-ijtima-ulama-kubu-prabowo-dapat-sindiran-dari-maruf-amin

Tak Mendengar Ijtima Ulama, Kubu Prabowo Dapat Sindiran Dari Ma'ruf Amin

Tak Mendengar Ijtima Ulama, Kubu Prabowo Dapat Sindiran Dari Ma'ruf Amin

Ma'ruf Amin menyindir kubu koalisi Prabowo Subianto soal rekomendasi Ijtima' Ulama GNPF di sela-sela perbicangan saat berkunjung ke kantor DPP PPP, Jakarta pada Jumat, 10 Agustus 2018.

Kendati tak menyebut secara lugas pihak yang dimaksud, Ma'ruf jelas tengah membandingkan sosok Joko Widodo dengan Prabowo Subianto. Menurut Ma'ruf, Jokowi adalah orang yang sangat menghargai para ulama. "Saya anggap Pak Jokowi betul-betul menghargai ulama. Penunjukan saya, itu saya anggap sebagai penghargaan ulama," ujar Ma'ruf di kantor DPP PPP, Jakarta pada Jumat, 10 Agustus 2018.

Namun, lanjut Ma'ruf Amin, ada kelompok yang selalu menyebut sebagai pihak yang menghargai ulama. Namun, kelompok tersebut tak mengakomodir rekomendasi Ijtima' Ulama. "Ada belah sono ngomong ya menghargai ulama, tapi hasil ijtimak ulamanya nggak didengerin malah wakilnya bukan ulama," ujar Ma'ruf Amin.

Adapun hasil Ijtima' Ulama GNPF merekomendasikan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Yakni, Prabowo Subianto - Salim Segaf Al-Jufri dan Prabowo Subianto - Ustad Abdul Somad. Namun rekomendasi GNPF itu tak dipilih oleh koalisi Prabowo. Dia menunjuk Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai cawapres.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Yusuf Martak mengatakan, opsi Sandiaga Uno menjadi cawapres Prabowo belum pernah dibicarakan dengan GNPF Ulama. Namun, lanjut Yusuf, tidak ada yang perlu dikecewakan dengan adanya beda pendapat antara usulan GNPF dengan pilihan Prabowo.

Ihwal dukungan kepada Prabowo, lanjut Yusuf, belum diputuskan oleh GNPF. "Kita akan menggelar pertemuan kembali," ujar Yusuf kepada Tempo pada Jumat, 10 Agustus 2018.

Sumber: https://nasional.tempo.co/read/11158...r-ijtima-ulama
Halaman 1 dari 2
tetap.aja dua duanya kagak bagus emoticon-Big Grin
Benar-benar mengecewakan, swing voter (pemilih mengambang) dipaksa harus memilih kandidat yang benar-benar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan..

Jokowi sebagai presiden incumbent justru memilih Mahruf Amin (Ketua MUI) sebagai counter strategi terhadap strategy kampanye yang selalu dilakukan oleh Prabowo yaitu menggunakan "trick agama"; dimana strategy ini sudah berhasil dilakukan Prabowo di Pilkada Jakarta 2017. Dan apa yang diputuskan oleh Jokowi sebenarnya sudah bisa diprediksi

Prabowo memilih Sandiaga Uno terkait masalah finansial (logistik kampanye) apalagi dia memiliki connection terhadap beberapa pengusaha besar (konglomerat).. Kinerja Uno saat menjadi Wakil Gubernur Jakarta, tidak terlihat dan tidak ada hasil nyata, apalagi programnya kebanyakan "tipu-tipu"... Uno juga banyak dikaitkan dengan permasalahan hukum. Sementara profile Prabowo juga tidak terlalu banyak membantu, kebanyakan membual dan membuat retorika besar yang sudah mirip dengan pemimpin-pemimpin Communist di Latin America seperti Chaves, Morales, Fidel Castro, dan Maduro..

Pada akhirnya voters (pemilih) pun diperhadapkan kepada situasi kepada politik identitas (SARA) pada Pilpres 2019.. Pemilih yang berlatar belakang Muhammadiyah dan pemilih yang beragama PKS akan memilih Prabowo. Dan voter yang memiliki background dari "kaum abangan" dan juga voter dari kalangan NU bisa dipastikan akan memilih Jokowi..

Permasalahannya, bagi para pemilih yang sudah bosan dengan Jokowi dan juga sudah bosan dengan Prabowo namun tidak memiliki ada harapan terhadap kandidat capres/cawapres yang ada saat ini, tentu saja akan kecewa berat, apalagi tidak adanya calon alternative padahal banyak sebenarnya kandidat yang bisa dimajukan terutama yang berasal dari Golkar..

emoticon-Angkat Beer

emoticon-Traveller emoticon-Ngacir
Tak Mendengar Ijtima Ulama, Kubu Prabowo Dapat Sindiran Dari Ma'ruf Amin



Post ini telah di hapus oleh azhuramasda
Terserah pres n wapresnya siapa yg penting gua tetep bisa pake vpn emoticon-Traveller
Post ini telah di hapus oleh Kaskus Support 08
Pelor pertama udah ditembakan dari kubu sebelah.
Tinggal tunggu pelor2 lain berterbangan....

Tunggu kubu 1lagi, berani ga nembak balik
Karena S&K kubu sono berat seh
Diubah oleh lpk02
main kok sindiran langsung tatap muka saja 😆
ts nya kuciwa beratemoticon-Ngakak
Quote:


Tak Mendengar Ijtima Ulama, Kubu Prabowo Dapat Sindiran Dari Ma'ruf Amin
"Saya anggap Pak Jokowi betul-betul menghargai ulama. Penunjukan saya, itu saya anggap sebagai penghargaan ulama,"

Diperalat = Dihargai
Post ini telah di hapus oleh kaskus.support17
katanya ma'ruf bisa bikin suasana adem..lah ini dia nyolot duluan...
Nah loh sukurin.
ya elah, aki aki mau beradu? kok gitu si
Quote:


stuju..pdhal nggu ada calon lain..
ini pak kyai mlh komen2nya duh..tlg pak kyai jgn ikut2an politikus ..walau nyawapres tp perlihatkan kl kyai itu beda scr tutur n pbuatan..moga ga kbawa2 politisi2 deh pak kyai
Quote:


banyak golput sepertinya
Quote:


ga ada hubungannya, indonesia 1 tapi pemikiran rakyatnya 1000, ga bakal ada yg namanya dukungan 100% karena itulah ada pemilu sistem voting, mana yg paling banyak menang, nah cara biar menangnya ini yang seharusnya mengkedepankan visi misi, sekarang malah ga jelas apa target utama masing2, antara udah ga punya bahan atau bingung mau pake visi misi tapi sekarang udah kebanyakan calo sara karena visi misi kalah dengan isu sara.

Yg namanya perbedaan pendapat itu wajar, dan perbedaan pendapat bukan perpecahan, perpecahan terjadi ketika orang yg berbeda pendapat menghasut orang lain dan teriak teriak membawa sara untuk mempertahankan pendapatnya yg belum tentu benar.
Quote:


alibi. bilang aja lebih milih yang berduit
Balasan Post windmilz
Quote:



cukup ahokers nastak cebong jadi pandangan emoticon-Malu
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di