alexa-tracking

Mahfud MD, Cak Imin dan PKB

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6d0480c0d770d6078b4567/mahfud-md-cak-imin-dan-pkb
Mahfud MD, Cak Imin dan PKB
Mahfud MD, Cak Imin dan PKB
Jelang pengumuman cawapres, PBNU seperti terbelah.



PinterPolitik.com


Ribut-ribut soal cawapres tampaknya akan berakhir ketika muncul dua nama yang akan mendampingi Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kedua nama kandidat cawapres itu adalah Mahfud MD dan Sandiaga Uno.

Kendati demikian, kedua nama itupun menuai protes dari berbagai kalangan, dari kubu Partai Demokrat (PD) misalnya tampak tak menerima Prabowo memilih Sandiaga Uno, sementara di kalangan PBNU pun berpotensi pecah lantaran nama kandidat cawapres yang mereka usung tidak muncul sebagai pilihan Jokowi.

Bahkan, belakangan yang muncul dari Ketua Umum PBNU, Said Aqil yang mengatakan Mahfud MD selama ini bukanlah kader NU. Namun dirinya tak mengeluarkan pernyataan yang benar-benar bermasalah. Sementara, pendapat yang lebih mengandung polemik datang dari Robikin Emhas yang bilang, jika cawapres Jokowi tidak berasal dari kader NU, maka warga Nahdliyin tidak memiliki tanggung jawab moral untuk menyukseskannya.

Pernyataan Emhas, seakan memberi sinyal, bahwa NU siap untuk terlibat dalam Pilpres 2019, meskipun aturan organisasi tersebut tidak berkata demikian. Tentu, secara politik dukungan mereka cenderung lebih besar ke Muhamin Iskandar (PKB) ketimbang Mahfud MD.
Pendapat ini berbeda dengan putri Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, yang menilai bahwa kalangan akar rumput NU sangat gembira jika Mahfud MD dapat mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Dia bahkan menegaskan ke-NU-an Mahfud tidak perlu lagi diragukan.

Mahfud MD, Cak Imin dan PKB
Dari dua pendapat di atas, dapat dilihat bahwa ada perbedaan pendapat antara kader NU di level elite dan akar rumput. Artinya, situasi ini berpotensi memecah belah kader-kader NU dalam konteks Pilpres 2019. Mungkin saja, sebagian kader NU kecewa ketika nama Muhaimin Iskandar tidak muncul sebagai cawapres Jokowi.

Seperti diketahui, Muhaimin Iskandar selama ini getol untuk mengkampanyekan dirinya agar dapat dipilih Joko Widodo.Mantan aktivis PMII ini sebelumnya telah mendeklarasikan JOIN (Jokowi-Cak Imin) dan beberapa kali kerap mengeluarkan pernyataan yang penuh percaya diri, seakan Jokowi sudah pasti memilihnya sebagai kandidat cawapres.

Tapi sayang, usaha Cak Imin tampak kandas, kandidat cawapres Jokowi lebih mengarah pada Mahfud MD. Memang, Mahfud memiliki track record yang jauh lebih matang dibandingkan Cak Imin, dia juga dianggap sebagai salah satu tokoh yang bersih sehingga dapat meminimalisir potensi isu miring yang dapat mengurangi kemenangan Joko Widodo.

Sementara, Cak Imin tentu tidak, dia memiliki catatan buruk selama menjabat sebagai menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi (Menakertrans) dan disinyalir pernah menerima duit panas.

Dari segi elektabilitas pun, berbagai survei menunjukan sosok Cak Imin kurang diminati masyarakat Indonesia, tak salah jika elektabilitasnya selalu jeblok dibandingkan kandidat lain. Dia kandangnya sendiri, popularitasnya bahkan kalah dibandingkan AHY sebagai pemain baru dalam kancah politik nasional.

Saya RT. Pokoknya orang2 yang baik harus dimunculkan. TGB boleh juga. Ada jg yg lain: Sri Mulyani, Cak Imin, Susi, Gatot, Moeldoko, Airlangga, dan lain2. Semua bagus, kita dukung, biar parpol mengusung dan rakyat memilih. https://t.co/PUv5FYfY4a
— Mahfud MD (@mohmahfudmd) March 25, 2018


Memang, agak ahistoris ketika para elit NU memisahkan Mahfud MD dengan NU. Berdasarkan catatan, Mahfud pernah memegang jabatan inti dalam tubuh NU. Dia pernah menjabat Ketua Dewan Kehormatan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama sejak 2012 hingga sekarang.

Dia juga pernah menjadi Dewan Ahli Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Tahun 2015 hingga 2020, sekaligus pendiri PMII di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada 1995. PMII selama ini merupakan organisasi yang secara politik dekat dengan PKB.

Lantas, apakah elit-elit PBNU akan tetap ngotot untuk mencalonkan Cak Imin atau kandidat lain yang berasal kader tulen NU?  Jika iya, apakah ada potensi terjadi perpecahan di tubuh NU dan PKB dalam merespons Pilpres 2019?

Perpecahan dalam tubuh NU memang pernah terjadi dan itu disebabkan oleh ulah Cak Imin untuk dapat menjadi orang nomor satu di PKB. Meskipun, NU dan PKB itu adalah dua organisasi berbeda tapi secara politik, saluran politik mereka diwakili oleh partai berlambang bola dunia itu.


Konflik Cak Imin Gus Dur
Konflik antara Cak Imin dan Gus Dur pernah terjadi pada 2008. Konflik itu dipicu ketika Cak Imin berupaya untuk melengserkan posisi Gus Dur sebagai ketua umum PKB hingga akhirnya terjadi perpecahan di tubuh PKB.

Bukti niat Cak Imin untuk melengserkan Gus Dur dapat dilihat ketika majalah Gatra menerbitkan sebuah dokumen yang berisi rencana penggulingan Gus Dur yang ingin dilakukan oleh gerbong Cak Imin. Sejak itu pula, hubungan antara Cak Imin dan keluarga Gus Dur makin tak menentu, terutama dalam konteks politik.

Faktanya, Gus Dur pernah mengirimkan surat kepada Cak Imin pada tanggal 3 November 2008 yang meminta kepada Cak Imin untuk tidak menggunakan atribut Gus Dur sebagai simbol kampanye politik. Tindakan Cak Imin ketika itu memang banyak membuat pendukung Gus Dur kecewa, terutama anak-anak Gus Dur.

Saya RT. Pokoknya orang2 yang baik harus dimunculkan. TGB boleh juga. Ada jg yg lain: Sri Mulyani, Cak Imin, Susi, Gatot, Moeldoko, Airlangga, dan lain2. Semua bagus, kita dukung, biar parpol mengusung dan rakyat memilih. https://t.co/PUv5FYfY4a
— Mahfud MD (@mohmahfudmd) March 25, 2018


Hal itu dapat dilihat ketika Cak Imin membuat sebuh konsep tentang Sudurisme (Soekarno dan Gus Dur), yang bertujuan untuk menyatukan kalangan nasionalis dan Islam. Tapi, gagasan itu tampaknya tak dapat mendamaikan konflik yang terjadi. Bahkan, mendapat penolakan dari anak-anak Gus Dur.

Oleh sebab itu, tak heran jika Yenny Wahid seperti yang disebutkan di atas lebih condong kepada Mahfud daripada Cak Imin. Selain itu, tentu pengikut Gus Dur yang berada di tubuh PKB lebih memilih untuk bersepakat dengan Yenny. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh hubungan baik antara Gus Dur dan Mahfud.

Jika dilihat hubungan keduanya, Mahfud memang dianggap oleh Gus Dur sebagai sosok yang cerdas. Hal itu dapat dilihat ketika tawaran Gus Dur kepada Mahfud untuk menjadi Menteri Pertahanan di saat Gus Dur menjadi Presiden.

Tapi, potensi terjadinya pecah dalam tubuh partai ini kembali terjadi jika melihat beberapa isu yang muncul belakangan ini terkait dukungan untuk Mahfud MD.


Potensi Terbelah
Beda pendapat dalam tubuh partai adalah hal lazim, apalagi dalam sebuah sistem negara demokrasi. Tapi, dalam konteks ini apakah Cak Imin, sebagai ketua partai dan dibesarkan dalam lingkungan NU rela mendukung Mahfud? Jika dilihat latar belakang keduanya, harusnya tak perlu ada konflik, apalagi mereka sama-sama merupakan tokoh yang dibesarkan oleh kultur NU.

Tapi ini semua tergantung Cak Imin, maklum dirinya pasti kecewa dengan Jokowi, yang selama ini seperti memberikan harapan kepadanya untuk berduet. Jika Cak Imin tak setuju, tentu potensi terbelah dukungan dalam tubuh partai ini akan terjadi. Hal itu mungkin saja, karena pendiri partai seperti Gus Dur saja dilawan apalagi hanya Mahfud MD. Alhasil, yang perlu dilakukan kedua belah pihak adalah melakukan komunikasi untuk meredam konflik supaya tak menjadi panjang.

Komunikasi memang penting, menurut Joyce Hocker dalam buku “Interpersonal Conflict”  bahwa konflik bisa diselesaikan dengan komunikasi antara kedua belah pihak, karena seringkali konflik itu disebabkan oleh perbedaan pendapat dan salah paham.  Dalam konteks ini, Cak Imin kemungkinan memiliki perbedaan pendapat Mahfud.

Bagi capres manapun maka yg paling diuntungkan adalah yg bisa menggandeng PKB di Pilpres 2019
Dukungan PKB sgt signifikan capres mana yg akan menang: Jokowi atau Prabowo https://t.co/SudvJ9FreV
— Mas Piyu 🇮🇩 (@maspiyuuu) July 22, 2018


Secara spesifik, Greg Fealy dari National University of Australia, pernah menyebutkan bahwa NU belakangan menjadi semakin partisan. NU dan PKB menjadi semakin dekat pasca Pemilu 2014 karena Cak Imin dan PKB disebutkan dapat mengamankan pendanaan bagi aktivitas sosial dan agama NU. Oleh karena itu, aspirasi politik NU dapat dikatakan tergantung pada aspirasi PKB dan Cak Imin.

Maka, bisa saja ketika PBNU meributkan nama Mahfud MD sebagai kader NU, ada pengaruh dari aspirasi Cak Imin. Historinya yang panjang dengan Mahfud dan Gus Dur menjadi latar belakang kondisi tersebut.

Akhirnya, semoga NU tidak terbelah. Peran Cak Imin dalam menyikapi cawapres Jokowi menjadi krusial. Sikapnya amat ditunggu untuk melihat kemana NU berlabuh. Apalagi, kader NU yang lain, Ma’ruf Amin yang kini dipilih Jokowi.



Tulisan ini pertamakali tayang di Pinterpolitik.com
Sumber: Mahfud Md, Cak Imin, dan PKB
image-url-apps
maaruf amin sudah menyatukan mereka semua.
image-url-apps
Alhamdulillah sudah terpilih KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapres.
KASKUS Ads
image-url-apps
Selamat buat ketua MUI. Sah sebagai cawapres jokowi. Halal.
image-url-apps
INI SEMUA RENCANA LICIK MAMAK BANTENG emoticon-Smilie
YANG TIDAK MAU SIAPAPUN MENDAPATKAN KARPET MERAH TERUTAMA CAK IMIN emoticon-Smilie
MENGINGAT USIA BELIAU 75+6=81
TERTUTUP JALAN DI 2024

Mahfud MD, Cak Imin dan PKB
image-url-apps
Mahfud bakal jadi menteri.... Menkumham keknya...gantiin menteri brengsek! emoticon-Ngacir
image-url-apps
Jangan ada yg berani ngata2in kiyai...

Tar kualat lo semua

Mbah2 dilawan emoticon-Ngakak (S)
telat lu ts udah dipilih juga emoticon-Big Grin
kasihan jg pak mhafud dua kali kena PHP
Quote:


Mahfud MD, Cak Imin dan PKB

Mahfud MD, Cak Imin dan PKB
yg penting hepi emoticon-Traveller
makin kesini emang makin ga jelas NU ini, beda ama Muhammadiyah, yg sekalipun ga pernah masuk ke politik praktis, hanya PAN doang yg mewakili itupun juga jarang menjual warga muhammadiyah hhehe


Penjegal Mahfud MD yg paling kuat pastilah kubu PKB Muhaimin.


JANGAN SALAHKAN JOKOWI

Penulis Denny Siregar
Diterbitkan Jumat, Agustus 10, 2018


"Kenapa Jokowi pilih Maruf Amin, bang?".

Lepas dari banyaknya teori konspirasi strategi catur Jokowi yang hebat-hebat yang ditulis teman-teman, sebenarnya permasalahan "Kenapa Maruf Amin?" itu sederhana saja.

Sekitar dua jam sebelum deklarasi, Jokowi masih mengantongi nama Mahfud MD sebagai pendampingnya. Dan saya sudah melakukan banyak konfirmasi terhadap itu ke banyak pihak yang kompeten. Dan Mahfud MD pun sudah ada disana, di dekat tempat deklarasi acara.

Tapi tiba-tiba semua berubah, ketika beberapa partai memaksakan supaya jangan Mahfud MD. Pertanyaannya, "Kenapa?" Jawabannya, "Karena berbahaya untuk Pilpres 2024 nanti.."

Pilpres 2024, masing-masing partai koalisi sudah punya jago. Mereka semua mengalah di tahun 2019, karena ini memang tahunnya Jokowi. Tetapi 2024 nanti dianggap tahun kosong, dimana semua mempunyai peluang yang sama untuk bertarung karena tidak ada petahana.

Nah, kondisi ini akan dirusak jika ada Mahfud MD disana. Jika Mahfud menjadi Wapres, maka diperkirakan ia akan membangun citra sehingga malah bisa menjadi lawan nantinya.

Jadi ini sebenarnya bukan masalah Mahfud MD saja. Seandainya Moeldoko atau CT atau Sri Mulyani yang ada di posisi Mahfud pun akan mengalami hal yang sama. Mereka akan disingkirkan juga.

Dan para petinggi partai mendesak supaya Mahfud tidak jadi Wapres pada menit-menit terakhir. Mereka tahu, kalau Jokowi didesak pada waktu awal, Jokowi bisa berkelit. Dan disana Jokowi jagonya. Sedangkan Jokowi sebenarnya tidak terlalu penting siapa wakilnya, karena toh ini periode terakhirnya.

Desakan itu termasuk "ancaman" untuk mogok atau membentuk poros ketiga, jika Jokowi sampai memaksa supaya Mahfud MD menjadi Cawapresnya. Dan disanalah Jokowi tersandera, melihat situasi berbahaya koalisi yang dia bangun berpotensi rusak dan tidak solid.

Jadi keputusan memilih Maruf Amin, bukan sepenuhnya keinginan Jokowi, tetapi demi soliditas koalisi. Jokowi tidak akan bisa menang tanpa koalisi, begitu juga sebaliknya.
Pilihan terbaik untuk itu jelas Maruf Amin. Awalnya ada JK, dan semua partai setuju. Tapi karena JK terbentur di peraturan MK, maka persetujuan itu menjadi masalah. JK disetujui semua partai koalisi, karena 2024 gak mungkin nyalon lagi.

Sesederhana itu, bukan sesuatu yang aneh dengan gerakan strategi yang tampak rumit. Semua pragmatis, ada kepentingan yang berbenturan, karena begitulah politik kita yang harus mengakomodir kepentingan banyak orang.

Lalu, seandainya anda jadi Jokowi, apa yang harus anda lakukan? Memaksa dengan keras kepala, "Pokoknya gua pilih ini. Titik!" Begitu, ya?

Ya gak bisa. Karena kalau koalisi rusak dan pecah, pihak lawan akan bersorak dan mereka berpotensi menang.

Jokowi mengambil keputusan itu juga bukan senang, karena ia pasti berfikir lebih luas dari sekedar siapa "nama" pendampingnya. Ada saatnya kompromi demi soliditas, toh nanti dia juga yang kerja, kerja, kerja.

Saya juga termasuk yang kecewa, bukan karena Mahfud gak jadi, toh saya juga gak dapat apa-apa, apalagi dijanjikan Komisaris seperti kata kampret yang durhaka. Saya kecewa karena Ma’ruf Amin yang bagi saya pribadi banyak keputusannya yang tidak saya setujui.

Cuma yang saya pahami, ini bukan sepenuhnya kesalahan Jokowi. Saya juga akan mengambil langkah yang sama ketika melihat alasan yang kuat seperti itu.

'Lalu kita Golput, bang?" Tanya seorang teman.

Golput? Apa itu??

Sejak awal saya sudah mendeklarasikan berperang melawan kaum radikal yang nangkring di kubu sebelah, para kampret berbaju agama. Kalau golput, berarti saya membiarkan mereka menang dan berkuasa di negeri ini dong??

Nehi!! Saya akan tetap mendukung Jokowi karena dia saya anggap sebagai simbol perlawanan terhadap para kampret yang durjana.

Ini bukan masalah Jokowi atau Mahfud atau Ma’ruf Amin atau siapapun juga. Ini masalah NKRI versus HTI, PKS dan kelompok khilafah yang mencoba menunggangi politik dengan berada di kubu sebelah.

Membiarkan mereka menang, sama saja dengan membiarkan negara ini hancur pelan-pelan.

Jadi seandainya Jokowi pasangan ma secangkir kopi pun, saya akan tetap kawal dia, pilih dia dan membela dia. Karena dia adalah simbol perang saya terhadap kampret yang wajahnya sudah mirip-mirip unta.

Meski agak kecewa, tetap seruput kopinya.. glek glek glek... Secangkir-cangkirnya.. krauk krauk kraukkk..
nasbung pindah haluan grak emoticon-Wakaka
image-url-apps
kena backstab imin di menit2 akhir

padahal mmd udah siap ini itu, si iminnya aja napsu gede buat cawapres

inget waktu dulu dia koar2? nah itu tanda2 nya
Quote:


iya gan, sekelas profesor bisa kena kibul sampe dua kali, kok kayak pepatah keledai terperosok gitu ya jadinya?
image-url-apps
Intinya si Imin biang keroknya
×