alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Dinamika Pencalonan Capres-Cawapres 2019
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6cf88714088de0568b456b/dinamika-pencalonan-capres-cawapres-2019

Dinamika Pencalonan Capres-Cawapres 2019

Dinamika Pencalonan Capres-Cawapres 2019
Di menit terakhir menjelang deklarasi pasangan Capres dan Cawapre dari Joko Widodo serta Prabowo Subianto, dua kejutan muncul di masing-masing kubu. Kejutan ini semakin menguatkan betapa pentingnya faktor cawapres yang berdampak pada kesolidan koalisi.

Setelah melalui perdebatan panjang, Kubu Jokowi akhirnya memilih Ma’ruf Amin dibandingkan Mahfud MD, sementara kubu Prabowo memutuskan memilih Sandiaga Uno dibandingkan Agus Harimurti Yudhyono.

Hingga hari ini public masih berusaha untuk mencerna dinamika Pilpres yang akan dimulai pada hari ini sebagai batas akhir pendaftaran Capres-Cawapres di KPU.

  1. Joko Widodo-Ma'ruf Amin

Spoiler for Joko Widodo-Ma'ruf Amin:

Presiden Jokowi telah memutuskan untuk memilih Ketua Majelis Ulam Indonesia, KH. Ma’ruf Amien sebagai Cawapres dalam konferensi pers usai bertemu ketua umum dan sekretaris jenderal partai politik pendukungnya di Restoran Plataran, Menteng, Jakarta, Kamis (9/8/2018)
Menurut Jokowi, keputusan ini telah ditandatangani oleh sembilan ketua umum dari koalisi partai pendukungnya.



  1. Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

Spoiler for Prabowo-Sandi:

Prabowo Subianto mendeklarasikan Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya dalam Pilpres 2019. Deklarasi dilakukan di depan rumah Prabowo di Kertanegara, Jakarta, Kamis (9/8/2018). Dalam deklarasi tersebut, dihadiri sejumlah tokoh dari koalisi partai pendukung, seperti PKS, Gerindra dan PAN. Sementara perwakilan dari Partai Demokran tidak terlihat dalam jumpa pers yang diselenggarakan.



Dinamika tersebut menunjukkan betapa dinamisnya penentuan cawapres dari masing-masing kubu dimana sebelumnya cawapres yang santer diberitakan justru tidak dipilih oleh Jokowi maupun Prabowo. Penentuan Cawapres tersebut juga menentukan kesolidan koalisi dari partai pendukung dan hal tersebut terlihat dari ketidakhadiran perwakilan Partai Demokrat dalam konferensi pers yang dilakukan Prabowo. Kemungkinan Demokrat belum menerima pencalonan Sandiaga karena selama ini Demokrat mengusulkan AHY sebagai Cawapres.

Sebagai masyarakat awam saya melihat hal tersebut sangat wajar dalam politik karena semuanya menginginkan yang terbaik untuk meraih kemenangan dalam Pilpres mendatang.

Pemilihan Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi tentunya didasarkan pada pertimbangan yang sangat matang terutama untuk mengurangi stigma Jokowi yang dianggap kurang pro terhadap islam dan mengeliminir isu bahwa Jokowi merupakan PKI. Selain itu, sejak adanya aksi 212, Jokowi kemungkinan besar khawatir akan isu identitas dan isu agama digunakan untuk menyerangnya sehingga penunjukan Ma'ruf dipandang mampu mengurangi isu negatif tersebut. Meski didukung dengan 9 parpol, tetapi jika dilihat secara kasar partai tersebut hanya memanfaatkan figur Jokowi untuk mendompleng suara dalam Pileg 2019 mendatang. PSI, Peindo, PKPI merupakan partai baru dan mereka tentunya berharap kecipratan suara dalam Pileg mendatang agar mampu untuk duduk di parlemen.

Dilain pihak, pemilihan Sandiaga Uno sebagai Cawapres Jokowi juga sudah melalui pertimbangan yang matang. Pemilihan terebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan logistik Sandi yang kuat dan Sandi juga berasal dari luar Jawa. Selain itu, apabila Prabowo juga memilih cawapres dari ulama kemungkinan masyarakat akan lebih memilih Jokowi dibanding Prabowo. Latar belakang Sandi yang merupakan pengusaha muda dianggap tepat untuk melawan Jokowi-Ma'ruf karena saat ini kebanyakan penduduk Indonesia merupakan pemilih milenial sehingga Sandi dianggap mampu mendekatkan diri kepada kaum milenial di Indonesia. Pengalaman Trio Gerindra, PKS dan PAN dalam beberapa Pilkada juga terbukti cukup teruji sehingga diperkirakan mesin partai tersebut mampu bekerja secara efektif dan efisien dalam memenangkan pasangan ini.

Akan tetapi, saya sangat mengkhawatirkan kondisi masyarakat Indonesia pasca Pilpres 2019 mendatang mengingat saat ini terutama pasca Pilkada DKI lalu, Parpol banyak yang menggunakan agama sebagai komoditas dagangan politiknya. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan karena saya berharap ulama agar bersifat netral dalam pilkada sehingga bisa mendinginkan tensi masyarakat pasca terjadinya Pemilu.

Siapapun nanti yang menjadi presiden mari kita dukung dan jangan ada perpecahan diantara kita. Jadikan momen tersebut sebagai titik balik menuju persatuan di negeri ini.

You can't win unless you learn how to lose.

Hidup gak harus kalah atau menang.

Tapi hidup butuh kebebasan hati. HATI yang membuat kita melampaui kalah atau menang. Hati yang mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi tanpa rasa takut.

Karena hidup itu milik kamu dengan skenario Tuhan. Tak perlu takut saat kalah, tak perlu sombong saat menang.






Diubah oleh donpii
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Ingat kata Ust. Yusuf Mansur.

Jangan ditiru ya.. melotot-lotot ke ulama..

Yang suka maki-maki orang.. jangan ditiru..

Sesalah-salahnya ulama, adalah sebenar-benarnya kita..




Jadi pilih cawapres yang ulama MUI ya.. emoticon-Salaman
Jokowi laean mangga mengkel

Mango
Macan-bango
gw masih terbengong belum bisa fercaya kalau sandi uno jadi pasangan prabowo emoticon-Cape d... (S)
Dinamika Pencalonan Capres-Cawapres 2019Dinamika Pencalonan Capres-Cawapres 2019
Mari sayang KH. MARUF AMIN, yang sudah Uzur, biarkan beliau beristirahat di usia tua dengan tenang, Dengan cara
#2019gantipresiden


quote dan ketik amin
Diubah oleh antikritik19gp
Quote:


Menuju Indonesia membangun, gan. emoticon-Monggo

Membangun dengan proyek-proyeknya Uno. emoticon-Ngakak
Balasan post loveissweet
Quote:


itulah .... emoticon-Berduka (S)
jadi apa niat prabowo itu ? emoticon-Najis
Quote:


Bodo amat sama niat, yang penting mau kalah pilpres juga ga rugi-rugi amat.

Logistik disokong Uno. emoticon-Leh Uga
Balasan post loveissweet
Quote:


katanya prabowo cinta sama bangsa ini
berarti kepalsuan semua itu emoticon-Cape d... (S)








Dinamika Pencalonan Capres-Cawapres 2019


Dinamika kebalik2, ulama merapat ke nastak, nasbung malah tidak pilih ulama..... emoticon-Leh Uga


JANGAN SALAHKAN JOKOWI

Penulis Denny Siregar
Diterbitkan Jumat, Agustus 10, 2018


"Kenapa Jokowi pilih Maruf Amin, bang?".

Lepas dari banyaknya teori konspirasi strategi catur Jokowi yang hebat-hebat yang ditulis teman-teman, sebenarnya permasalahan "Kenapa Maruf Amin?" itu sederhana saja.

Sekitar dua jam sebelum deklarasi, Jokowi masih mengantongi nama Mahfud MD sebagai pendampingnya. Dan saya sudah melakukan banyak konfirmasi terhadap itu ke banyak pihak yang kompeten. Dan Mahfud MD pun sudah ada disana, di dekat tempat deklarasi acara.

Tapi tiba-tiba semua berubah, ketika beberapa partai memaksakan supaya jangan Mahfud MD. Pertanyaannya, "Kenapa?" Jawabannya, "Karena berbahaya untuk Pilpres 2024 nanti.."

Pilpres 2024, masing-masing partai koalisi sudah punya jago. Mereka semua mengalah di tahun 2019, karena ini memang tahunnya Jokowi. Tetapi 2024 nanti dianggap tahun kosong, dimana semua mempunyai peluang yang sama untuk bertarung karena tidak ada petahana.

Nah, kondisi ini akan dirusak jika ada Mahfud MD disana. Jika Mahfud menjadi Wapres, maka diperkirakan ia akan membangun citra sehingga malah bisa menjadi lawan nantinya.

Jadi ini sebenarnya bukan masalah Mahfud MD saja. Seandainya Moeldoko atau CT atau Sri Mulyani yang ada di posisi Mahfud pun akan mengalami hal yang sama. Mereka akan disingkirkan juga.

Dan para petinggi partai mendesak supaya Mahfud tidak jadi Wapres pada menit-menit terakhir. Mereka tahu, kalau Jokowi didesak pada waktu awal, Jokowi bisa berkelit. Dan disana Jokowi jagonya. Sedangkan Jokowi sebenarnya tidak terlalu penting siapa wakilnya, karena toh ini periode terakhirnya.

Desakan itu termasuk "ancaman" untuk mogok atau membentuk poros ketiga, jika Jokowi sampai memaksa supaya Mahfud MD menjadi Cawapresnya. Dan disanalah Jokowi tersandera, melihat situasi berbahaya koalisi yang dia bangun berpotensi rusak dan tidak solid.

Jadi keputusan memilih Maruf Amin, bukan sepenuhnya keinginan Jokowi, tetapi demi soliditas koalisi. Jokowi tidak akan bisa menang tanpa koalisi, begitu juga sebaliknya.
Pilihan terbaik untuk itu jelas Maruf Amin. Awalnya ada JK, dan semua partai setuju. Tapi karena JK terbentur di peraturan MK, maka persetujuan itu menjadi masalah. JK disetujui semua partai koalisi, karena 2024 gak mungkin nyalon lagi.

Sesederhana itu, bukan sesuatu yang aneh dengan gerakan strategi yang tampak rumit. Semua pragmatis, ada kepentingan yang berbenturan, karena begitulah politik kita yang harus mengakomodir kepentingan banyak orang.

Lalu, seandainya anda jadi Jokowi, apa yang harus anda lakukan? Memaksa dengan keras kepala, "Pokoknya gua pilih ini. Titik!" Begitu, ya?

Ya gak bisa. Karena kalau koalisi rusak dan pecah, pihak lawan akan bersorak dan mereka berpotensi menang.

Jokowi mengambil keputusan itu juga bukan senang, karena ia pasti berfikir lebih luas dari sekedar siapa "nama" pendampingnya. Ada saatnya kompromi demi soliditas, toh nanti dia juga yang kerja, kerja, kerja.

Saya juga termasuk yang kecewa, bukan karena Mahfud gak jadi, toh saya juga gak dapat apa-apa, apalagi dijanjikan Komisaris seperti kata kampret yang durhaka. Saya kecewa karena Ma’ruf Amin yang bagi saya pribadi banyak keputusannya yang tidak saya setujui.

Cuma yang saya pahami, ini bukan sepenuhnya kesalahan Jokowi. Saya juga akan mengambil langkah yang sama ketika melihat alasan yang kuat seperti itu.

'Lalu kita Golput, bang?" Tanya seorang teman.

Golput? Apa itu??

Sejak awal saya sudah mendeklarasikan berperang melawan kaum radikal yang nangkring di kubu sebelah, para kampret berbaju agama. Kalau golput, berarti saya membiarkan mereka menang dan berkuasa di negeri ini dong??

Nehi!! Saya akan tetap mendukung Jokowi karena dia saya anggap sebagai simbol perlawanan terhadap para kampret yang durjana.

Ini bukan masalah Jokowi atau Mahfud atau Ma’ruf Amin atau siapapun juga. Ini masalah NKRI versus HTI, PKS dan kelompok khilafah yang mencoba menunggangi politik dengan berada di kubu sebelah.

Membiarkan mereka menang, sama saja dengan membiarkan negara ini hancur pelan-pelan.

Jadi seandainya Jokowi pasangan ma secangkir kopi pun, saya akan tetap kawal dia, pilih dia dan membela dia. Karena dia adalah simbol perang saya terhadap kampret yang wajahnya sudah mirip-mirip unta.

Meski agak kecewa, tetap seruput kopinya.. glek glek glek... Secangkir-cangkirnya.. krauk krauk kraukkk..
Diubah oleh qavir
Balasan post qavir
silahkan saling mendukung calon kalian yang penting jangan saling menjelekkan calon lain. Kita semua di Indonesia saudara bray. jangan sampai hanya karena beda pilihan kita tidak menggunakan logika dan akal sehat sehingga mudah terprovokasi. Lebih baik kita kawal prosesnya nanti dan siapapun nantinya yang menang mari kita dukung
Balasan post kafiran
Quote:


itu merupakan strateginya prabowo. kalau prabowo ambil ulama juga dipastikan akan kalah karena pendukung Jokowi lebih banyak. Makanya dia manfaatin Sandiaga untuk logistik dan cari dukungan dari pemilih yang berasal dari luar jawa
makin kesini makin bikin ane bingung emoticon-Mewek kubu jendral kardus ga ada dihati ane sama sekali, kubu sebelah pakde dihati tapi tdk dgn wakilnya
Ane dukung Prabowo-Sandiaga
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
koalisi Kardus Kampret wkwk
yg penting bukan yg kabur keluar negeri saja
sangat menyayangkan sikap ex presiden sejak anaknya nyalon di DKI. dikit2 baper di media dan membuat ane GK respect lg sama doi


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di