alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri
3.43 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6cf06114088dbe3c8b4567/pilih-sandi-prabowo-sudah-menggali-kuburan-sendiri

Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri

Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri

Keputusan Prabowo Subianto memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres dianggap sama saja seperti menggali kuburan sendiri.
Pengamat dan peneliti komunikasi politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Karim Suryadi menilai sulit bagi masyarakat Indonesia untuk menerima Sandi.

Menurutnya keputusan tersebut adalah langkah blunder yang dilakukan Prabowo.

Sebab, pertama kata Karim, duet Prabowo-Sandi tidak akan menjamin kemenangan. Bahkan bisa menggali kuburan kekalahannya sendiri di Pilpres.

Kedua mesin partai koalisi akan sulit bekerja lantaran kedua pemimpin berasal dari kader partai yang sama.

Meski syarat dukungan Sandi harus keluar dari Gerindra, namun tetap saja Sandi dikenal orang Gerindra.

"Menurut saya langkah itu tidak ada baiknya dan itu merupakan bentuk kepanikan yang memaksakan," tutup Karim seperti dikutip dari Kantor Berita RMOLJabar, Kamis (9/8). [nes]

kolam

bersama thread ini, ane pensiunkan id 2019gantiplongo
sebagai gantinya adalah id 2019masihplongo

Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan SendiriPilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri
Halaman 1 dari 16
Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri
wowok - doyok : duo suicide squad
kang mebel jangan dilawan cuy

juragan kuda sempoyangan rapat sana rapat sini

kang mebel pagi ini udah di kpu

juragan kuda wakilnya blm jelas, gimana mau ngurus negara, wakil aja gak jelas emoticon-Leh Uga

ts dan gerombolannyanya segera pensiun beserta kibotnya emoticon-Leh Uga
Pasangan ama ATM mah sedap bre....
sepertinya ts mau golput?

emoticon-Request emoticon-Request emoticon-Request emoticon-Request emoticon-Request
Ingat kata Ust. Yusuf Mansur.

Jangan ditiru ya.. melotot-lotot ke ulama..

Yang suka maki-maki orang.. jangan ditiru..

Sesalah-salahnya ulama, adalah sebenar-benarnya kita..




Jadi pilih cawapres yang ulama MUI ya.. emoticon-Salaman
Balasan post 2019masihplongo
Quote:


berani hina maaruf amin gak emoticon-Big Grin
Quote:


Lho ngapa ganti id? emoticon-Bingung (S)
kandidatnya gak ada yg bagus
apa gak bisa import kandidat aja ya emoticon-Bingung
jadi gini.. nasbungtaik galau tingkat akut

leh uga
Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri
di korek korek nih borok nya jadi wagabener jakarta yg baru sebentar, oke ngoceh jadi program unggulan emoticon-Leh Uga
Quote:


Mau import yg g pulang2? emoticon-Bingung (S)
akhirnya kena stroke dan mati emoticon-Wow
iyalah, voters juga realistis, pasangan itu apa yg mau diharapkan? sandi dulu menang karena emang isu agama, sekarang isu itu ngga bakalan bisa.

prabowo juga ngga realistis, sama kaya parpol pendukungnya.

gara2 duit jadi gelap mata.

petahana bawa prestasi pembangunan sama prestasi keagamaan

penantang bawa prestasi apaan?

emoticon-norose
pulau jawa dikuasain wiwi juga, case closed
NGOHAHAHAHA
ASU



ts putus asa og piye
sante breee
Balasan post 2019gantikardus
Quote:


kalau itu sih barang rijek
kalau bisa sih reques duterte emoticon-Takut
gali kubur gimna, msak salah pasangan ma auto Ustad Uno yg selalu ber lip balm, eh bertasbih emoticon-Ngakak
Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri


Ratapan yg jujur dari seorang nasbung emoticon-Kaskus Banget



JANGAN SALAHKAN JOKOWI

Penulis Denny Siregar
Diterbitkan Jumat, Agustus 10, 2018


"Kenapa Jokowi pilih Maruf Amin, bang?".

Lepas dari banyaknya teori konspirasi strategi catur Jokowi yang hebat-hebat yang ditulis teman-teman, sebenarnya permasalahan "Kenapa Maruf Amin?" itu sederhana saja.

Sekitar dua jam sebelum deklarasi, Jokowi masih mengantongi nama Mahfud MD sebagai pendampingnya. Dan saya sudah melakukan banyak konfirmasi terhadap itu ke banyak pihak yang kompeten. Dan Mahfud MD pun sudah ada disana, di dekat tempat deklarasi acara.

Tapi tiba-tiba semua berubah, ketika beberapa partai memaksakan supaya jangan Mahfud MD. Pertanyaannya, "Kenapa?" Jawabannya, "Karena berbahaya untuk Pilpres 2024 nanti.."

Pilpres 2024, masing-masing partai koalisi sudah punya jago. Mereka semua mengalah di tahun 2019, karena ini memang tahunnya Jokowi. Tetapi 2024 nanti dianggap tahun kosong, dimana semua mempunyai peluang yang sama untuk bertarung karena tidak ada petahana.

Nah, kondisi ini akan dirusak jika ada Mahfud MD disana. Jika Mahfud menjadi Wapres, maka diperkirakan ia akan membangun citra sehingga malah bisa menjadi lawan nantinya.

Jadi ini sebenarnya bukan masalah Mahfud MD saja. Seandainya Moeldoko atau CT atau Sri Mulyani yang ada di posisi Mahfud pun akan mengalami hal yang sama. Mereka akan disingkirkan juga.

Dan para petinggi partai mendesak supaya Mahfud tidak jadi Wapres pada menit-menit terakhir. Mereka tahu, kalau Jokowi didesak pada waktu awal, Jokowi bisa berkelit. Dan disana Jokowi jagonya. Sedangkan Jokowi sebenarnya tidak terlalu penting siapa wakilnya, karena toh ini periode terakhirnya.

Desakan itu termasuk "ancaman" untuk mogok atau membentuk poros ketiga, jika Jokowi sampai memaksa supaya Mahfud MD menjadi Cawapresnya. Dan disanalah Jokowi tersandera, melihat situasi berbahaya koalisi yang dia bangun berpotensi rusak dan tidak solid.

Jadi keputusan memilih Maruf Amin, bukan sepenuhnya keinginan Jokowi, tetapi demi soliditas koalisi. Jokowi tidak akan bisa menang tanpa koalisi, begitu juga sebaliknya.
Pilihan terbaik untuk itu jelas Maruf Amin. Awalnya ada JK, dan semua partai setuju. Tapi karena JK terbentur di peraturan MK, maka persetujuan itu menjadi masalah. JK disetujui semua partai koalisi, karena 2024 gak mungkin nyalon lagi.

Sesederhana itu, bukan sesuatu yang aneh dengan gerakan strategi yang tampak rumit. Semua pragmatis, ada kepentingan yang berbenturan, karena begitulah politik kita yang harus mengakomodir kepentingan banyak orang.

Lalu, seandainya anda jadi Jokowi, apa yang harus anda lakukan? Memaksa dengan keras kepala, "Pokoknya gua pilih ini. Titik!" Begitu, ya?

Ya gak bisa. Karena kalau koalisi rusak dan pecah, pihak lawan akan bersorak dan mereka berpotensi menang.

Jokowi mengambil keputusan itu juga bukan senang, karena ia pasti berfikir lebih luas dari sekedar siapa "nama" pendampingnya. Ada saatnya kompromi demi soliditas, toh nanti dia juga yang kerja, kerja, kerja.

Saya juga termasuk yang kecewa, bukan karena Mahfud gak jadi, toh saya juga gak dapat apa-apa, apalagi dijanjikan Komisaris seperti kata kampret yang durhaka. Saya kecewa karena Ma’ruf Amin yang bagi saya pribadi banyak keputusannya yang tidak saya setujui.

Cuma yang saya pahami, ini bukan sepenuhnya kesalahan Jokowi. Saya juga akan mengambil langkah yang sama ketika melihat alasan yang kuat seperti itu.

'Lalu kita Golput, bang?" Tanya seorang teman.

Golput? Apa itu??

Sejak awal saya sudah mendeklarasikan berperang melawan kaum radikal yang nangkring di kubu sebelah, para kampret berbaju agama. Kalau golput, berarti saya membiarkan mereka menang dan berkuasa di negeri ini dong??

Nehi!! Saya akan tetap mendukung Jokowi karena dia saya anggap sebagai simbol perlawanan terhadap para kampret yang durjana.

Ini bukan masalah Jokowi atau Mahfud atau Ma’ruf Amin atau siapapun juga. Ini masalah NKRI versus HTI, PKS dan kelompok khilafah yang mencoba menunggangi politik dengan berada di kubu sebelah.

Membiarkan mereka menang, sama saja dengan membiarkan negara ini hancur pelan-pelan.

Jadi seandainya Jokowi pasangan ma secangkir kopi pun, saya akan tetap kawal dia, pilih dia dan membela dia. Karena dia adalah simbol perang saya terhadap kampret yang wajahnya sudah mirip-mirip unta.

Meski agak kecewa, tetap seruput kopinya.. glek glek glek... Secangkir-cangkirnya.. krauk krauk kraukkk..
Pilih Sandi, Prabowo Sudah Menggali Kuburan Sendiri
Halaman 1 dari 16


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di