alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
[CERPEN] Mira dan Skuter Butut Kakek
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6c4047642eb6c7518b4570/cerpen-mira-dan-skuter-butut-kakek

[CERPEN] Mira dan Skuter Butut Kakek

[CERPEN] Mira dan Skuter Butut Kakek

Tret tet tet tet....

Mira keluar dari kamar ketika mendengar suara seperti terompet rusak. Mira berdiri di teras, bibirnya tersenyum geli. Beberapa meter di depannya, tampak seorang lelaki tua berdiri dekat skuter butut warna ungu.

Lelaki tua itu memakai celana jins ketat warna biru, jaket kulit hitam, sarung tangan merah dan sepatu boot coklat. Di kepalanya bertengger helm half face warna putih. Warna-warni benar penampilan lelaki tua itu. Nggak matching. Itulah mengapa Mira tersenyum geli.

Mira turun dari teras, mendekat ke pintu pagar.

“Kakek genit,” katanya setengah teriak.

“Apa?” kakek melepas helmnya. Suara mesin skuter yang keras dan cempreng memang mengganggu pendengaran kakek. Terlebih, jarak Mira dan kakek terpisah jalan kampung, sehingga Mira harus mengulang ucapannya dengan lebih keras.

“Kakek geniiiit...”

Kakek tertawa.

“Bukan genit, Mir, tapi flamboyan.”

“Awas, Kek, Nenek melihat dari surga. Nenek pasti cemburu.”

“Tidaklah. Dari surga, Nenek sudah tahu kalau Kakek ini setia.”

“Gombal!”

Kakek tertawa lagi, lalu menepuk-nepuk jok belakang skuternya.

“Yuk, ikut Kakek.”

“Ogah! Mira ada acara.”

Kakek melirik jam tangannya.

“Sudah pukul delapan malam. Cowok mana yang mau ngapeli kamu?”

“Biarin!”

“Tunggu apa lagi? Ayo ikut. Ngumpul di alun-alun. Di sana ada Yudi. Apa kamu nggak cemburu, kalau Yudi direbut cewek lain?”

“Bodo, ah!”

“Kasihan, malam minggu sendiri, nggak punya pacar.”

“Kakek jelek!”

Pipi Mira bersemu merah, lalu berlari masuk rumah.

Kakek tertawa.

***

Mira di sini, di teras. Ia sudah memakai helm half face warna pink. Mira duduk di kursi teras, lalu berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Mira menggigit ujung bibir. Mira melihat ke halaman, ayah telah melakukan segala cara untuk menghidupkan mesin Vario hitamnya. Ayah sudah memeriksa tangki bensin, membersihkan busi, menekan tombol starter berkali-kali, menstarter dengan kaki berulang-ulang, tapi tak ada suara mesin menderu.

Akhirnya, ayah menghela napas panjang, lalu menghembuskannya keras-keras. Tampaknya, ayah sudah kehabisan akal. Ayah memandang Mira yang berdiri di teras.

“Motor ini harus masuk bengkel,” kata ayah, lalu memasukkan kunci busi ke bagasi di bawah jok Vario.

Mira turun dari teras.

“Coba lagi, Yah. Siapa tahu bisa. Kemarin juga seperti ini, kan?”

“Berapa kali lagi harus ayah coba? Lihat, baju kantor ayah sampai basah semua oleh keringat.”

“Coba lagi, deh, Yah. Please.”

Ayah mendengus, lalu memencet tombol starter, kemudian menstarter dengan kaki beberapa kali.

“Tidak bisa, Mir. Motor ini benar-benar mogok!”

“Terus gimana, Yah? Sudah jam setengah tujuh, nih.”

Dari rumah kakek, muncul kakek berdiri di teras.

“Kenapa motormu, Harjo?” teriak kakek.

Ayah menoleh.

“Mogok, Bapak,” sahut ayah setengah teriak.

Kakek memandang Mira.

“Kakek antar, ya?” teriak kakek.

“Apa? Ogah, ah. Mending Mira cari ojek saja!”

Mira menuju pintu pagar, memandang ke ujung gang, berharap ada tukang ojek melintas.

“Mau cari ojek di mana? Pangkalan ojek di ujung gang sudah jadi toko hape,” kata kakek tersenyum.

Mira melirik jam tangannya, mendekap tas ke dadanya, lalu mendengus.

“Ya, sudah. Cepat antar Mira, Kek.”

“Oke. Siap, Nona.”

Kakek masuk ke rumahnya. Beberapa saat kemudian kakek muncul menuntun skuter butut warna ungu kesayangannya. Kali ini kakek tidak mengenakan celana jins ketat, jaket kulit hitam, sepatu boot coklat, sarung tangan merah. Tapi helm half face putih tetap bertengger di kepalanya. Kakek hanya mengenakan kaos oblong, sarung dan sandal jepit, siap mengantar Mira berangkat ke sekolah.

Mira tertawa melihat penampilan kakek.

“Sudah mandi belum, Kek?”

Kakek mengangkat tangan kanan, lalu mencium ketiaknya.

“Belum. Tapi kakek sudah pakai Spalding,” sahut kakek menyeringai.

Kakek menstarter skuternya dengan kaki beberapa kali.

Tret tet tet tet...

Mira bergidik seperti mendengar sesuatu yang menakutkan, ketika mesin skuter itu menghadirkan lagi suara mirip terompet rusak.

“Ayo naik,” kata kakek.

Tak ada cara lain. Mira bergegas naik ke boncengan, duduk menghadap samping karena ia mengenakan rok abu-abu sebatas lutut.

Mira tertegun. Pantatnya merasakan jok boncengan itu empuk sekali. Tertegun pula Mira, ketika skuter itu telah melaju. Mira merasakan sokbreker skuter ungu norak itu juga empuuuk sekali.

Selama ini Mira telah saya menduga. Selama ini Mira mengira skuter butut kakek itu nggak nyaman dinaiki, bikin pinggang pegal dan sakit perut. Ternyata? Ah, Mira jadi malu. Beberapa kali, selama perjalanan ke sekolah pagi ini, Mira memejamkan mata meresapi betapa nyaman naik skuter butut kakek.

 


Sumber : https://www.idntimes.comfiction/stor...mpaign=network

---

Baca Juga :

- [CERPEN] Mira dan Skuter Butut Kakek CERPEN Penjual Payung di Seberang Istana

- [CERPEN] Mira dan Skuter Butut Kakek CERPEN Surat Sastra kepada Akira

- [CERPEN] Mira dan Skuter Butut Kakek CERPEN Aku Bukan Penulis Tanpa Nama

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di