alexa-tracking

Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6bf763c1d770b07c8b4572/masa-kritis-evakuasi-korban-gempa-lombok
Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok
Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok
Foto aerial pencarian korban di bawah reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah yang rusak akibat gempa bumi di Bangsal, Lombok Utara, NTB, Rabu (8/8/2018).
Proses evakuasi yang masih berjalan serta ratusan gempa susulan yang terus mengguncang Lombok membuat data korban meninggal dunia muncul dalam beragam versi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat menyebut korban meninggal mencapai 131 orang, TNI menyebut 381 orang, sementara Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan BPBD mengatakan 347 orang.

Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi dan Basarnas juga punya versi sendiri, yakni 226 orang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mencoba meluruskan pemahaman dengan mengatakan semua data korban meninggal pada gempa Lombok adalah benar, karena berdasarkan laporan langsung di lapangan.

“Perbedaan data korban selama masa tanggap darurat adalah hal biasa, seperti saat gempa di Sumatra Barat (2009), letusan Gunung Merapi (2010), tsunami Mentawai (2010), dan bencana besar lain,” kata Sutopo.

Akan tetapi, Sutopo menekankan sebaiknya data korban meninggal dunia segera disepakati bersama untuk menghindari kesimpangsiuran informasi.

Salah satunya melalui verifikasi identitas korban yang terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Sebab, data korban ini diperlukan sebagai dasar untuk penyaluran bantuan kemanusiaan, lanjut Sutopo dalam Liputan6.com, Kamis (9/8/2018).

Kendati demikian, gempa bumi bukanlah jenis bencana utama yang memakan korban jiwa terbanyak. Catatan BNPB selama 10 tahun terakhir yang diolah Lokadata menunjukkan banjir adalah bencana yang paling banyak menelan korban, disusul tanah longsor dan gempa bumi.

Dalam periode waktu yang dimaksud, banjir telah memakan korban meninggal dunia dan hilang hingga 2.419 jiwa, sementara gempa bumi mencapai 1.527 jiwa.

Di sisi lain, sejumlah alat berat masih dioperasionalkan untuk mencari korban yang tertimpa reruntuhan di Pulau Lombok, utamanya di Lombok Utara sebagai wilayah yang paling terdampak gempa.

Kemarin, Rabu (8/8/2018), satu jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan pilar masjid di Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Satu jenazah lain ditemukan di bawah puing-puing masjid di Desa Lading-Lading, Lombok Utara.

Koordinator evakuasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Mataram Ida Bagus Ngurah memprediksi masih ada jenazah lain tertimpa reruntuhan bangunan yang belum berhasil dievakuasi.

Apalagi, gempa susulan masih terus berlangsung sampai saat ini. Sampai Kamis pagi, BMKG mencatat total gempa susulan yang terjadi di Lombok mencapai 344 kali.

Itu belum termasuk dengan gempa berkekuatan 6,2 skala Richter yang baru saja terjadi sekitar pukul 12.25 WIB, dan berpusat di 6 kilometer (km) Barat Laut Lombok Utara.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan gempa susulan dengan skala di bawah kekuatan utama (7 SR) bakal terus terjadi hingga empat minggu ke depan.

“Gempa di Lombok kali ini adalah siklus 200 tahunan dari patahan Flores, (tapi) energi terkuat telah selesai. Kita harus menerimanya, ini proses alam,” kata Dwikorita, dalam lansiran Antaranews, Kamis (9/8/2018).

Dwikorita mengingatkan, akan menjadi berbahaya jika setelah gempa besar terjadi tidak ada gempa susulan setelahnya. Sebab, hal itu menunjukkan bahwa ada potensi gempa dengan energi besar yang bakal muncul.

Kondisi ini menjadi salah satu penyebab warga masih takut untuk kembali ke rumah mereka, meski seruan untuk itu sudah diumumkan BMKG.

Beragam persoalan pun muncul di pengungsian, mulai dari bantuan yang belum merata, ketersediaan posko konseling untuk anak-anak dan perempuan, hingga pengungsi yang mulai terserang penyakit.

Pengungsi di Dusun Mentigi, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, mengeluhkan belum ada bantuan yang datang. Padahal, warga sangat membutuhkan selimut, tenda, air minum, dan bahan makanan.

Bahkan, pengungsi di Dusun Selebung Daya, Desa Dasan Tengah, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, terpaksa memakan buah kelapa untuk bisa bertahan hidup.

“Bantuan minim sekali, kami di sini hanya dapat bantuan beras sekali dan itu pun hanya 15 kilo untuk kami makan satu RT,” kata Arti, Ketua RT dusun itu kepada KOMPAS.com.

Sebagai warga yang tinggal di wilayah yang paling terdampak, banyak pengungsi yang mengaku tempat tinggal dan hartanya hancur total akibat dua gempa berkekuatan besar yang mengguncang Lombok pada 29 Juli dan 5 Agustus 2018.

Sampai hari ini, jumlah bangunan yang hancur akibat gempa tercatat mencapai 42.697 unit yang terdiri dari 42.239 rumah dan 458 bangunan sekolah. Sementara jumlah warga yang mengungsi mencapai 156.003 orang.
Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...n-gempa-lombok

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok Panas terik di Mekkah dan risiko kesehatan jemaah haji

- Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok Tiga dakwaan pencucian uang Najib Razak

- Masa kritis evakuasi korban gempa Lombok Tembak mati 11 orang, administrasi polisi bermasalah

×