alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Aliran Kepercayaan Bisa Ditulis di KTP, Penganut: Dulu Takut Susah Kerja
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6b52c0d675d4b84c8b4568/aliran-kepercayaan-bisa-ditulis-di-ktp-penganut-dulu-takut-susah-kerja

Aliran Kepercayaan Bisa Ditulis di KTP, Penganut: Dulu Takut Susah Kerja

Aliran Kepercayaan Bisa Ditulis di KTP, Penganut: Dulu Takut Susah Kerja

Rabu, 8 Agustus 2018 — 14:49 WIB

   

Aliran Kepercayaan Bisa Ditulis di KTP, Penganut: Dulu Takut Susah Kerja

Ilustrasi

BEKASI – Tokoh masyarakat yang juga pemuka Penghayat Aliran Kepercayaan di Kota Bekasi, Nurjan, menyambut baik rencana format baru Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) versi 7 dari Kementerian Dalam Negeri.

Ia menyebut versi tersebut sudah disosialisasi beberapa waktu lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. “Dengan versi baru, lebih mudah mengubah, dan harus menggunakan manual,” ujar Nurjan, Rabu (8/8/2018).

Selama ini, sambungnya, penganut penghayat aliran kepercayaan di Kota Bekasi, Jawa Barat, telah mengubah kolom agama. Pengubahan ini menyusul putusan mahkamah konstitusi terkait uji materi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan pada akhir tahun lalu.

(Baca: Ada Perubahan Kolom di KTP soal Agama dan Status Perkimpoian)

 

Nurjan mengatakan, 60 persen dari penganut aliran kepercayaan masih menggunakan kolom agama lama atau mendompleng ke agama lain. Menurut dia, mereka belum mengubahnya karena khawatir kesulitan memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

“Mayoritas ikut ke agama Islam, agama mayoritas,” kata Nurjan.

Biodata di KTP ada perubahan menyusul putusan Mahkamah Konstitusi pada akhir 2017 atas uji materi UU No. 24 tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. Pada kolom agama bisa ditulis dengan Penganut Aliran Kepercayaan.

Sekretaris Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kota Bekasi, Jamus Rasid, mengatakan format baru KTP yang memungkinkan penganut warga menuliskan aliran kepercaaan dalam kolom agama masih dalam tahap pematangan di Kementerian Dalam Negeri.

“Sekarang kami masih menggunakan versi lama,” kata Jamus, Rabu (8/8/2018).

Menurutnya, versi baru atau versi 7 mengakomodir kolom agama penghayat kepercayaan. Ini berbeda dengan versi 6 yang dalam kolom agama hanya diberi tanda strip (-).

Karena itu, sesuai putusan MK, perubahan hanya bisa dilakukan di kantor kependudukan. “Kalau versi baru bisa di kelurahan atau kecamatan,” ujar Jamus.

Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bekasi, jumlah wajib KTP di wilayah tersebut sebanyak 1.778.265 jiwa, dari jumlah penduduk mencapai 2,6 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, yang sudah merekam KTP elektronik sebanyak 1.710.686 jiwa.
(saban/yp)

http://poskotanews.com/2018/08/08/al...t-susah-kerja/

Kalo gitu, lebih baik hapus kolom agama di ktp, nggak ada gunanya
Urutan Terlama
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
cantumin aja agama "VPN" emoticon-Ngacir
Kaya temen gawe gw
Agama kepercayaannya diganti agama lain
Penghayat Kepercayaan Distigma Sesat (Tulisan II)


Penulis: (Furqon Ulya Himawan/N-1) - 08 August 2018, 05:45 WIB

Aliran Kepercayaan Bisa Ditulis di KTP, Penganut: Dulu Takut Susah Kerja

MI/Furqon Ulya HimawaN

ENGKUS Ruswana, 63, penghayat kerpercayaan Budi Daya, Bandung, dan rekan-rekan senasibnya masih meriung di gazebo besar. Setelah mendengar kisah diskriminasi dari teman-temannya, Engkus pun menutur kisah yang tak kalah harunya.
Engkus masih ingat ketika 2002, ibunya meninggal dunia. Sebelum meninggal, ibunya berpesan kepada keluarganya agar nanti dimakamkan di kampung kelahirannya, Ciamis, Jawa Barat.

Sesampainya di lokasi permakaman, mobil jenazah dicegat serombongan masyarakat. Jenazah ibu Engkus tidak diperkenankan dikubur di permakaman itu. Padahal, tempat itu ialah permakaman umum. Alasan orang-orang yang mencegat, ibu Engkus bukan seorang muslim.

Musyawarah pun dilakukan. Akhirnya ibunya Engkus boleh dimakamkan di situ dengan syarat harus terlebih dahulu dibawa ke masjid untuk disalatkan.

Hal itu bisa terjadi di masyarakat, menurut Engkus, karena pengikut penghayat kepercayaan dianggap sesat. “Sejak jaman penjajahan, mereka telah menstigma sesat,” kata Engkus yang mulai mengurai benang kusut diskrimnasi itu.

Stigma itu sempat memudar pada masa awal kemerdekaan dengan adanya Pasal 29 UUD 1945 yang menjadi dasar perlindungan penghayat kepercayaan. Namun, pada 1950- an, Menteri Agama merasa kecolongan karena semakin banyak penghayat kepercayaan. Lalu, muncul pelemahan dengan membuat kriteria agama. Intinya, kata Engkus, jangan sampai ada kepercayaan penghayat yang masuk.

Perlakuan diskriminatif semakin terasa ketika peristiwa G30S meletus. Orang-orang yang tak beragama dianggap sesat, ateis, dan masyarakat penghayat kepercayaan merasa terintimidasi. Pasca itu, silih berganti diskriminasi muncul. “Tapi kadang pemerintah juga memberikan kami harapan, meskipun berakhir kosong dan perlakuan diskriminatif muncul lagi.

Seperti pada 1970-an, ada komponen GBHN yang mengakomodasi kepercayaan penghayat. Pada 1974 ada UU Perkimpoian dan peraturannya keluar 1975 yang bunyinya penghayat kepercayaan bisa menikah melalui aliran kepercayaannya masing-masing. “Habis itu muncul lagi aturan yang melarang, begitu terus dari tahun ke tahun,” ujar Engkus, pelan.

Makrus Ali, 29, Program Manager Satunama, yang konsen mengawal isu masyarakat penghayat kepercayaan, mengaku menemukan masih banyaknya diskrimiansi yang dialami penghayat kepercayaan di Indonesia. Seperti tidak boleh sekolah, tidak boleh bekerja, ditolak masuk TNI/Polri, bahkan penolakan permakaman jenazah.

Indonesia ialah negara dengan kebergaman suku, budaya, bahasa, dan kearifan lokal. Seharusnya masyarakatnya memahami keberadaan penghayat kepercayaan dan menerimanya tanpa syarat. Bagi Makrus, itu ialah kunci keberagaman. “Jangan ada lagi stigma, diskriminasi, dan perlakukan penghayat dengan setara semartabat di antara sesama warga negara,” ucapnya. (Furqon Ulya Himawan/N-1)

http://m.mediaindonesia.com/read/det...sat-tulisan-ii


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di