alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6af1d8ded770d02b8b4571/why-world-too-cruel

Why world too cruel


Aku masih melamun di sebuah kursi taman di sebuah rumah sakit. Menatap kosong ke arah langit. Biasanya sebentar lagi akan ada ibu ibu paruh baya beserta anak perempuan nya yg akan ikut duduk di sampingku, kami sering bercerita dari hati ke hati, tentang segala, saling menguatkan, walau kami tau dari lubuk hati yang terdalam kami sudah menyerah kepada kehidupan.

Tidak ada yang pernah berubah, yang berubah hanya sesuatu yang relatif di sebut waktu.

Tidak beberapa lama, ibu paruh baya dan anaknya yang kutunggu datang dan seperti biasa nya kami bercerita tentang berbagai hal, aku tersenyum bersama mereka, padahal aku hampir lupa cara untuk tersenyum, tapi bersama mereka aku dapat tersenyum lepas.

Nita dan Rahma, bersama dua orang ini aku dapat membagi perasaan ku. Kami seolah berada di perahu yang sama, sebuah perahu yang akan karam entah akan dapat bertahan atau tidak menahan gempuran ombak kehidupan.

Rahma, seorang wanita paruh baya, penderita kanker payudara. Seorang janda yang memiliki seorang putri yang bernama Nita.

Nita, yang kutahu dia seorang mahasiswi di perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Rahma terlihat kelelahan dan meminta diantar ke kamarnya. Mereka pun pergi, aku menatap mereka dari kejauhan, Nita mendorong kursi roda ibunya, aku seperti melihat bidadari dari dirinya, bidadari yang siap melakukan apapun demi ibu tercinta nya.

Selang beberapa lama Nita kembali ke kursi taman, ia duduk di sebelahku. Lalu ia memeluk ku sambil menangis terisak isak.

Aku mengusap punggungnya, "mbak aku capek bekerja seperti ini, aku lelah " ucapnya.

Tangisnya makin menjadi, aku masih memeluknya dan tetap mengusap usap punggungnya. "Mbak kenapa hidup ku seperti ini, kenapa dunia terlalu kejam untukku" ucapnya masih terisak isak.

Sesaat aku ikut terhanyut, terbawa kesedihan, shit... Aku kembali teringat penyelaman saat aku mendapat pelecehan seksual dari orang terdekat yang tidak aku sangka.

Aku kembali tersadar ketika Nita kembali berkata. "Mbak aku mau mati, aku mungkin akan bunuh diri setelah ibu meninggal".

Ia masih terus memeluk dengan erat. "Mbak, adakah seorang pangeran yang akan mengulurkan tangannya membantu ku keluar dari dunia ku ini dan membawa ku berkuda bersamanya".

Nita melepaskan pelukannya, lalu menatap wajahku, aku mengusap air matanya. "Mbak coba kalau mbak, cowok mungkin aku akan jatuh cinta sama mbak" ucapnya sambil tersenyum.

" Atau jangan jangan aku mulai suka sama mbak, jangan jangan aku jadi lesbi nih" ucapnya lagi, senyumnya semakin terkembang, aku memukul pelan pipinya.

"Mbak aku pergi dulu ya, sebentar lagi ada kuliah" ucapnya lalu berdiri.

" Nita, kamu bisa menghubungi orang di kartu nama ini jika kamu punya kesulitan" ucapku sambil menyerah sebuah kartu nama berwarna perak kepadanya.

" Makasih mbak, selama ini mbak udah banyak membantu, aku jadi malu sama mbak, jika ada reinkarnasi mungkin aku akan meminta menjadi pasangan hidup mbak dan melindungi mbak selamanya" ucapnya lalu ia pergi meninggalkanku.

Aku kembali menatap langit. Nita seorang gadis berumur 21 tahun, yang bersusah payah menjaga ibunya, seorang gadis yang sering bercerita kepadaku tentang dunianya yang kejam, tentang ayahnya yang tak pernah datang, tentang kegagalan audisi nya menjadi seorang bintang, tentang keras nya kehidupan ia lakukan apapun demi biaya kehidupan dirinya dan sang ibu tercinta, tentang kehidupan kerasnya dunia yang memaksanya menjadi seorang pekerja di dunia prostitusi.

Semilir angin menyapaku, aku kembali melihat langit.

Malam ini aku menulis ini sambil memikirkan tentang dunia, mengapa dunia begitu kejam, atau bukan dunia yang kejam tapi manusia nya, atau bukan manusia nya tapi perilakunya.

Nita yang membutuhkan seorang Pangeran yang mengulurkan tangannya, namun..........









PS:

As you grow older you will discover that you have two hands. One for helping yourself, the other for helping others.

(Audrey Hepburn)


Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Bah, kerasa nyeseknya:') seakan dunia bagai musuh untuk mereka. Tapi, namun.. Apa? Nggak ketebak sih:'D


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di