alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Catatan Perjalanan OANC /
[CATPER] PENDAKIAN GUNUNG SLAMET JALUR KONSERVASI VIA Gn. MALANG (3-5 Agustus 2018)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6ac2405a51631c0f8b456a/catper-pendakian-gunung-slamet-jalur-konservasi-via-gn-malang-3-5-agustus-2018

[CATPER] PENDAKIAN GUNUNG SLAMET JALUR KONSERVASI VIA Gn. MALANG (3-5 Agustus 2018)

Dear All Agan,,
Assalamualaikum..
Newbie nimbrung bikin catper, semoga bermanfaat.


Spoiler for negeri di atas awan:



Jujur aja, saya baru sekali naik Gunung Slamet, tepatnya bulan Juni 2007 via Baturraden. Dan terakhir kali saya naik gunung, tahun 2014, Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Jadi bisa dibilang, saya lama off dari dunia pendakian. Dulu cukup rutin aktifitas naik gunung, minimal setahun sekali. Tapi sejak nikah, dah jarang bahkan gak pernah sama sekali.emoticon-Big Grin


Ceritanya berawal ketika saya ditanya beberapa teman kerja, kapan mau naik Gunung Slamet. Mereka pada pengin naik gunung, penasaran kayak apa nikmatnya mendaki gunung. Penasaran kayak apa wujudnya puncak Gunung Slamet itu. Apalagi, semua asli warga Purwokerto-Banyumas, yang tiap hari disuguhi indahnya pemandangan Mbah Slamet di sisi utara sana.
Singkat cerita, dapat kabar, katanya salah satu temen kerja baru aja naik Gunung Slamet via Bambangan. Hmmm.. Serasa ada petir menyambar, agak panas hati neh. Dia yang bolak balik nanya kapan naik Gunung Slamet, eh tau-tau malah berangkat duluan. emoticon-Nohope
Akhirnya, langsung saya share rencana pendakian Gunung Slamet di beberapa grup WA. Dan dapetlah 2 orang korban, jalu & zul. Rembug-rembug, Kita bertiga sepakat naik lewat Gunung Malang (Jalur Konservasi) tanggal 3-5 Agustus 2018. Kita pilih jalur ini, karena jalurnya sepi, tidak serame jalur bambangan. Dan kebetulan sekitar 2 bulan yang lalu, jalu baru nyobain jalur Gunung Malang ini.


Sebelum masuk ke inti catpernya, sedikit saya ceritakan, jalur Gunung Malang merupakan jalur baru yang sudah resmi/legal, hasil kerjasama Pemuda/Pecinta Alam Gunung Malang (Gumapala) dengan Perhutani KPH Banyumas Timur. Jalur ini berada di sebelah selatan jalur Bambangan, hanya beda desa, bambangan masuk Desa Kutabawa, sedangkan Gunung Malang masuk Desa Serang Purbalingga. Jalur ini mengambil konsep konservasi, bersih dari sampah anorganik/plastik, pembatasan jumlah pengunjung perharinya. Selama pendakian kemarin, saya beruntung menjumpai beberapa kera/lutung, ayam hutan, jejak babi/celeng, jalak gunung, kotoran-kotoran hewan endemik dan tentunya bunga edelweiss yang bermekaran. Salutnya juga, semua papan petunjuk dan pos pendakian tidak dipaku di pohon, tetapi diikat dengan tali/kawat. Tidak ada shelter di tiap pos pendakian.


Untuk menuju Basecamp pendakian via Gunung Malang (Gumapala), sama seperti menuju basecamp Bambangan. Agan-agan tinggal ikuti papan petunjuk yang sudah terpasang jelas di tiap pertigaan/perempatan jalan. Nomor kontak basecamp : 088983610264


 
Spoiler for petunjuk:



Jum’at, 3 Agustus 2018
Purwokerto - Basecamp
Setelah dirasa siap semuanya, sekitar Pukul 14.30 kita bertiga berangkat dari purwokerto menuju Basecamp Pendakian. Sampai basecamp kurang lebih pukul 16.00. Kita sempatkan sholat ashar dan ngobrol dengan temen-temen basecamp untuk menggali informasi. Dan ternyata, terakhir seminggu yang lalu ada pendaki naik lewat jalur Gunung Malang ini. Bahkan yang hanya sekedar camping di Pos 1 (Wadas Gantung) pun tidak ada. Cuaca beberapa hari ini di wilayah Gunung Malang cukup ekstrem, dingin dan gerimis.

Muncul sedikit keraguan dapat info seperti itu. Tapi, bismillah, tekad sudah bulat, insya Allah lancar & berhasil. Aamiin..
Temen-temen basecamp juga mengingatkan kita untuk tetap safety first. SB, Jaket Tebal, Tenda Double Layer, Jas Hujan/Ponco wajib dibawa.
 
Spoiler for loket:



Basecamp – Pos 1 (Wadas Gantung)
Setelah mengurus registrasi pendakian sebesar 15.000/org dan jasa penitipan kendaraan 5.000/hari, serta meninggalkan kartu identitas. Pukul 16.48 kita bertiga memulai perjalanan dari basecamp. Dinginnya udara sore hari ditambah kencangnya hembusan angin, tidak menyurutkan langkah untuk mendaki,,


Spoiler for tiket:


Spoiler for gerbang pendakian:



Awal rute pendakian, kita melewati perkebunan sayur penduduk sembari disuguhi pemandangan puncak Gunung Malang, banyak yang mengira kalo itu puncak Gunung Slamet. Trek yang cukup nanjak, lumayan untuk pemanasan. Sayangnya, di area perkebunan ini tanda arah kurang terlihat.


20 menit berjalan, sampailah kita di area hutan pinus, di sini treknya cukup landai. Gak begitu ngos-ngosan lah. Di tengah perjalanan, kita istirahat sejenak di gubug ilalang, sekedar untuk mengatur nafas. Tidak lama kemudian, hutan pinus berganti dengan padang ilalang. Tidak ada pepohonan di sini, hanya hamparan ilalang. Jalur pendakian terlihat jelas di sini.
Pukul 17.57 akhirnya kita sampai di Pos 1 (Wadas Gantung). Dingin masih tetap menusuk tulang, angin tetap berhembus kencang. Sesuai rencana, perjalanan hari ini hanya sampai pos 1, kita bermalam di sini. Selain itu, sebenernya kita juga penasaran dengan view Wadas Gantung di malam dan pagi hari.


Pos 1 Wadas Gantung berupa camping area yang cukup luas seperti lapangan, jarang pohon, bisa untuk 10 tenda. Biasanya banyak yang camping di sini apalagi kalau weekend. View-nya sangat bagus, kalo pagi kita bisa lihat sunrise, dan waktu malam pemandangan kelap kelip lampu kota Purbalingga. Asik buat camping malam mingguan.
Malam itu, hanya kita bertiga di pos 1, kabut cukup tebal, dingin sekali, mungkin sekitar 10 derajat. Harapan bisa melihat pemandangan malam Kota Purbalingga, pupus sudah. Gelap tertutup kabut, hanya sesekali saja bisa terlihat. Tidur cepet lah kita.

Dingin yang sangat menusuk tulang membuat kita bertiga susah tidur, saya berkali-kali terbangun karena saking dinginnya. Malam terasa lama dan panjang. Sepi dan sunyi.


Spoiler for pos 1:



Sabtu, 4 Agustus 2018
Pos 1 (Wadas Gantung) – Pos 2 (Pondok Syahang)
Bangun subuh, terpaksa kita sholat di dalam tenda karena gak kuat dinginnya pos 1. Tenda basah oleh embun, air embunnya berasa kayak es. Sinar matahari belum nongol juga, membuat kita malas keluar tenda. Dingin banget.


Pukul 05.40 mentari pagi mulai menampakan sinarnya. Persiapan perjalanan hari ke-2 kita mulai dengan masak pagi, menu nasi, mie instan dan telor asin. Setelah selesai semuanya, dan suhu udara pun mulai menghangat. Pukul 08.00 kita mulai kembali pendakian. Tidak jauh dari pos 1, kita mendapati cungkup/makam keramat. Awal perjalanan, hamparan masih didominasi ilalang dan pohon pinus muda. 15 menit berjalan, kita mulai memasuki kawasan hutan alam. Pohon-pohon tinggi besar dan semak belukar menemani perjalanan kami menuju pos 2.


Sepanjang perjalanan pos 1 menuju pos 2, kita tidak menemukan satupun lokasi yang recomended untuk camping. Trek tidak terlalu menanjak, cukup variatif. Hanya pada beberapa titik, dada ketemu dengkul. 1,5 jam perjalanan, sampailah kita di pos 2.


Pos 2 (Pondok Syahang) – Pos 3 (Pondok Pasang)
Pukul 09.30 kita bertiga sampai di pos 2 (Pondok Syahang). Di sini bisa untuk mendirikan 3-4 tenda. Tapi menurut saya, tidak recomended untuk camping. Di sini sering berkeliaran kera/lutung. Gak bisa dibayangin kalo malem-malem ada kera/lutung masuk tenda..hihihihiiii..emoticon-Frown


Rute pendakian dari pos 2 menuju pos 3 inilah sepertinya yang merupakan habitat alami hewan-hewan Gunung Slamet. Kita menemukan beberapa kotoran hewan endemik, jejak-jejak babi/celeng, melihat 2 ekor kera/lutung bergelantungan, ayam hutan dan jalak gunung.


Dari sini trek mulai cukup berat, nanjak tiada henti dan berdebu. Beberapa titik mengharuskan kita merangkak bahkan merayap, melangkahi pohon tumbang. Ada satu titik tanjakan terjal, yang cukup sulit dilewati. Bergantung pada akar-akar pohon menjadi andalan di tanjakan ini.

Ada hal yang cukup mengganggu selama perjalanan ke pos 3, kita bertiga diikuti terus sama tawon. Setiap kali berhenti ngatur napas atau minum, tawon mendekat, seolah-olah ngusir kita. Sampe pos 4 kita bertiga terus diikuti tawon.

Alhamdulillah, pukul 11.00 kita bertiga sampai di Pos 3 (Pondok Pasang).
 

Pos 3 (Pondok Pasang) – Mata Air – Pos 4 (Pondok Ihing)
Sesampainya di pos 3, kita putuskan untuk istirahat. Trek berat yang menguras tenaga membuat kita kelaparan. Untuk menghemat waktu, menu favorit jadi andalan makan siang kami, yaitu mie instan. Waktu juga sudah mendekati waktu dhuhur, jadi sekalian, setelah istirahat makan, kita tunaikan kewajiban sholat dhuhur.
Pos 3 hampir sama dengan pos 2, tidak terlalu luas, maksimal hanya 2-3 tenda.


Spoiler for pos 3:



Setelah selesai ishoma, pukul 12.20 kita kembali melanjutkan perjalanan. Trek masih sama, tanjakan berdebu. 35 menit kita berjalan, sampailah di pos mata air. Mata Air ada di sebelah kiri jalur, untuk mencapainya cukup sulit, harus turun cukup dalam. Dan hari itu, kita kurang beruntung. Mata Airnya gak ketemu, Jalu sudah berusaha turun jauh, tapi tidak terlihat/terdengar gemericik air. Untungnya, stok bekal air kita dirasa masih cukup untuk pendakian sampai besok minggu.
Kurang lebih 30 menit berjalan dari pos mata air, sampailah di Pos 4 (Pondok Ihing). Di sini sama sekali tidak bisa untuk camping. Selain sempit, tegakan berupa sejenis pohon lamtoro yang rawan roboh/patah. Di sebelah kanan jalur/pos terdapat bekas longsoran yang cukup dalam.
 
Pos 4 (Pondok Ihing) – Pos 5 (Puncak Gn. Malang)
Jalur pos 4 menuju pos 5 bisa dibilang rute berat yang terakhir. Tanjakan tiada henti dan berdebu masih mendominasi. Mendekati pos 5, kita melewati satu tanjakan terjal dan licin. Jika tanjakan ini sudah terlewati, kita tinggal rileks nyantai, karena setelah itu trek landai. Kurang dari 1 jam perjalanan pos 4 menuju pos 5.

Di pos 5 bisa untuk camping 2 tenda. Hanya saja, angin lumayan kencang di sini, karena pos 5 adalah Puncaknya Gunung Malang.


Pos 5 (Puncak Gn. Malang) – Pos 6 (Pondok Tanganan)
Rute inilah yang paling nikmat diantara yang lain, treknya berupa turunan. Disinilah bonus pendakian via Gn. Malang, setelah tanjakan tiada henti dari pos 2 sampai pos 5. Di rute ini juga,sudah mulai terlihat bunga-bunga edelweiss bermekaran. Pos 5 – pos 6 ditempuh kurang dari 30 menit. Pukul 15.00 tepat, kita bertiga sampai di pos 6 (Pondok Tanganan).

Sesuai rencana, perjalanan hari ini kita akhiri di pos 6, kita bermalam di sini. Walaupun sebenarnya masih cukup waktu untuk melanjutkan perjalanan, tapi kita tetap pada rencana awal. Kita pilih pos 6 untuk camping, karena di sini areanya luas, bisa untuk 5 tenda. Lokasinya pun cukup aman, berada pada lembahan yang rimbun, sehingga angin yang berhembus kencang bisa tertahan oleh pohon-pohon di pos 6 ini.
Alhmadulillah perjalanan hari ini cuaca sangat bersahabat. Tapi, tidak mau kedinginan untuk kedua kalinya, kali ini, tenda kita dobel dengan flysheet. Perapian segera kita buat, mumpung gampang cari ranting/kayu kering. Beda sama pos 1 yang susah cari ranting, karena jarang pohon.

Tenda sudah berdiri dan perapian sudah menyala, tapi rasa capek & kantuk menggoda kami untuk tidur sejenak, sembari menunggu malam. Menjelang magrib, rombongan burung jalak ramai bermain-main di sekitar tenda kami. Semilir angin sore menambah syahdunya pendakian kami. Suasana yang tidak akan kita dapat di kota. Aseekkk,,emoticon-Angkat Beer

Spoiler for kopi pos 6:



Dari pos 6 kita sudah mulai merasakan “harum”nya belerang kawah Gunung Slamet. Masker wajib dipakai untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Setelah makan dan sholat isya, kami bertiga segera tidur, agar besok bisa bangun pagi, persiapan tenaga untuk muncak.
Alhamdulillah, malam itu tidak sedingin seperti di pos 1. Suasana pun lebih tenang.
 

Minggu, 5 Agustus 2018
Pos 6 (Pondok Tanganan) – Pos 7 (Plawangan)
Pukul 04.00 kita bertiga bangun untuk persiapan muncak. Sembari menunggu waktu subuh tiba, kita membuat minuman hangat dan makan cemilan. Kita bertiga pun saling bergantian meninggalkan “jejak” di pos 6 ini.hehehe
Pukul 05.15 kita mulai perjalanan hari terakhir ini. Semua barang-barang kita tinggal di pos 6, kecuali air minum & makanan ringan. Trek menuju pos 7 (Plawangan) cukup landai, hanya saja didominasi semak belukar, yang cukup menyulitkan perjalanan. Kita harus merangkak bahkan merayap melewati semak belukar ini. Bunga edelweiss banyak di rute ini.

Kurang dari 1 jam, tepatny pukul 06.08 kita sampai di pos 7 pelawangan. Di sini bisa untuk camping 2-3 tenda, hanya anginnya cukup kencang. Burung Jalak kembali ramai mendekati kami . Di sini kita putuskan untuk istirahat cukup lama, agar saat muncak tenaga bisa lebih maksimal.


Spoiler for edelweiss:



Pos 7 (Plawangan) – Puncak 3248mdpl
Setelah dirasa cukup, pukul 06.20 kita mulai muncak. Dari jauh, terlihat banyak pendaki muncak dari jalur bambangan. Ramai sekali jalur bambangan. Trek batu dan pasir menjadi tantangan kami untuk sampai di puncak Gunung Slamet. Hanya pohon cantigi yang tumbuh di antara batu & pasir Gunung Slamet. Pelan tapi pasti, alhamdulillah pukul 08.15 kita sampai di Puncak Gunung Slamet. Sujud syukur dan doa kita panjatkan kepada Allah SWT, atas nikmatnya ini. Selfie dan foto bersama menjadi menu wajib ketika sudah berada di puncak gunung, apalagi cuaca sangat cerah. 1 jam cukup bagi kami untuk menikmati keindahan dan kebesaran Allah SWT ini.

Spoiler for merangkak:



Puncak 3428 mdpl –Basecamp
Pukul 09.20 kita putuskan untuk turun, kembali pulang ke basecamp. Bagi saya pribadi, perjalanan turun adalah perjalanan mengesalkan dan membosankan. Apalagi menuruni puncak gunung menuju plawangan, ditambah teriknya matahari. Pukul 10.30 kita bertiga baru bisa sampai di batas vegetasi. Dan sampai di pos 6 tempat kita bermalam pada pukul 11.10. di sini kita ishoma dan beres-beres perlengkapan.


Pukul 13.00 kita mulai perjalanan turun dari pos 6. Menuruni jalur ngebul berdebu. Di tiap pos kami istirahat sejenak untuk mengatur nafas dan minum seteguk air. Sejak dari pos 4, kabut mulai naik. Dan di tengah perjalanan antara pos 1 dan pos 2, mulai gerimis. Kami bertiga sebenarnya sudah sangat lelah. Tetapi, keinginan untuk cepat pulang ke rumah masing-masing, membuat kami tetap melangkahkan kaki walau terasa berat. Semakin mendekati pemukiman penduduk, suhu udara semakin dingin dan gerimis semakin deras. Pukul 17.15 sampailah kami bertiga di Basecamp pendakian. Alhamdulillah.
Setelah beres-beres dan bersih diri, kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Perjalanan pulang sungguh mencekam, kabut tebal menyelimuti kawasan gunung malang dan sekitar. Jarak pandang hanya 3 meter. Super ekstra hati-hati. Alhamdulillah kabut terlewati dan kita sampai di rumah dengan selamat, tinggal pegel-pegelnya yang sampe hari ini masih terasa.


Begitu agan-agan semua cerita perjalanan pendakian saya, Jalu dan Zul ke Gunung Slamet lewat jalur Gunung Malang (Jalur Konservasi). 
Maaf kalo kurang enak dibaca ya gan.

Wassalamualaikum

Spoiler for mentari pagi:


Spoiler for puncak:


Urutan Terlama
Muantebbb, mbok saia dikasi panduan transport kalo dari terminal purbalingga menuju BC.
waaahhh mantep nih om beck...
cikuray lagi om wwkwkwkwkkw
Balasan post dimazsutik
Quote:


dari terminal purbalingga, naek bis jurusan Bobotsari/arah pemalang gan. turun di pertigaan Serayu. dari situ biasany ada mobil carteran ke BC gunung malang.
dr terminal purbalingga kayaknya jg ada mobil carteran yg lgsg ke BC.
Balasan post ngangadam
Quote:


aaiiihhb gmn kbr om??
ahahaha kpn2 lah, kantongny mesti tebel klo k cikuray,, abis dijalan..wkwkw


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di