alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
[CERPEN] Secangkir Kopi untuk Jiwa yang Kedinginan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6995dac1d770163b8b456f/cerpen-secangkir-kopi-untuk-jiwa-yang-kedinginan

[CERPEN] Secangkir Kopi untuk Jiwa yang Kedinginan

[CERPEN] Secangkir Kopi untuk Jiwa yang Kedinginan

Sore itu kau bertemu seorang nenek di jalanan. Berjalan oleng dengan sepeda tuanya. Kau berhentikan motormu dan menegur nenek yang penuh keriput itu. Kau mendapati nenek itu tak sesehat yang kau harap.

"Mbah, boleh saya bantu bawakan barang-barang Mbah?" Kau menawarkan bantuan. Kau tidak tega melihat Nenek itu bersusah payah sendirian di usia senjanya. Kau jadi ingat Nenekmu di rumah. Kau tak mungkin tega meninggalkannya meneruskan beban sendirian.

Nenek itu tersenyum setengah tertawa mendengar pertolonganmu.

"Ndak usah, Mas. Simbah nanti ngerepotin sampeyan." Tentu saja kau mengelak. Kau sama sekali tak merasa keberatan lalu memindahkan sebagian besar barang Nenek itu ke motormu setelah mendapat persetujuan.

Kalian berdua berbincang selama perjalanan. Rumah Nenek itu tak begitu jauh dari tempatmu mulai menolong. Lalu sampailah kalian di depan gubug sederhana yang di depannya ada beberapa hasil anyaman serta kandang ayam.

"Makasih ya Mas, sampeyan sudah bantu Simbah. Duduk dulu sini, Mas. Maaf rumah Simbah kayak kandang ayam." Nenek itu tertawa. Menertawakan nasibnya tanpa terselip kesedihan atau rasa kecewa dengan keadaan. Yang kau lihat dari Nenek itu hanya keikhlasan dan usaha untuk bisa bertahan hidup dengan bahagia dan rasa syukur.

"Sampeyan suka kopi ndak, Mas? Cucu Simbah yang sepantaran sampeyan doyan banget minum kopi."

"Suka, Mbah."

Tidak jauh dari tempatmu duduk, kau mendengar suara cangkir dan sendok beradu. Nenek sedang menyiapkan suguhan untukmu.

Tak lama kemudian secangkir kopi dan sepiring tahu isi tersaji di hadapanmu.

"Wah, saya malah jadi ngerepotin." Kau merasa tak enak hati sebab Nenek tersebut malah memperlakukanmu seperti tamu.

Kalian berdua pun mulai bercengkrama. Nenek itu adalah pribadi yang menyenangkan. Usia tak menghalanginya untuk tetap riang saat mengobrol denganmu yang sebaya dengan cucunya. Kau jadi rindu pada Nenekmu di rumah. Lalu memikirkan, Nenekmu sedang apa sekarang.

Nenek ini tinggal sendirian. Sehari-hari ngider anyaman dari bambu yang dibuat dengan tangan rentanya sendirian. Penghasilan yang didapatkan sehari-hari juga tak seberapa. Hanya cukup untuk menyambung hidup agar bisa beraktivitas keesokan harinya.

Kau pandangi permukaan kopi yang asapnya mengepul tinggi itu sambil mendengar kisah hidup Sang Nenek. Asap itu menggambarkan betapa panasnya cairan hitam legam itu sehingga kau putuskan menjajalnya nanti dulu. Beberapa detik lagi.

"Mbah, saya minum ya kopinya." Kau meminta izin sebelum memegang gagang cangkir. Kau hirup aromanya dalam-dalam. Baunya sangat menenangkan. Sebelum benar-benar kau minum, kedua tanganmu kau lekatkan pada cagkir. Terasa hangat sampai ke dalam hatimu.

Kau sesap perlahan agar tidak membakar bibirmu, "Enak banget Mbah kopi buatan Mbah." Kau tersenyum memandangi Nenek itu. Nenek itu lalu memaksamu untuk segera mencicipi tahu isi yang sempat dibelinya di jalan sebelum bertemu denganmu tadi.

Kau pun memakan tahu isi itu. Hatimu yang tadi mengeras karena berkonflik dengan teman seangkatanmu di kampus, kini perlahan melunak. Suasana sore yang khidmat, kopi panas yang harum, serta suara Nenek yang penuh pengharapan, membuatmu merenung dalam diam.

Nenek yang hidup sederhana dan serba kekurangan, sedari tadi sama sekali tidak mengeluarkan keluhan yang menyalahkan Tuhan atas takdir yang dihadapi. Padahal awalnya kau mengira Nenek itu akan berkeluh kesah banyak padamu tentang hidupnya. Ternyata kau keliru. Nenek itu baru saja mengajarkanmu untuk tak melulu menyalahkan keadaan. Syukuri saja apa yang ada. Dan hidupkan hidupmu yang sudah Tuhan ciptakan sedemikian rupa. Supaya kita lebih menghargai sekecil apapun nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Bersyukur mungkin tidak bisa melimpahkan harta kita. Tetapi bersyukur bisa membuat kita tetap hidup dengan bahagia tanpa terus-menerus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.


Sumber : https://www.idntimes.comfiction/stor...mpaign=network

---

Baca Juga :

- [CERPEN] Secangkir Kopi untuk Jiwa yang Kedinginan CERPEN Bocah Koran dan Kopi Panas

- [CERPEN] Secangkir Kopi untuk Jiwa yang Kedinginan CERPEN Potret Rindu

- [CERPEN] Secangkir Kopi untuk Jiwa yang Kedinginan CERPEN Gelombang Angin



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di