alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
[WARNING] MUI: Vaksin Imunisasi MR Belum Bersertifikat Halal
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b691099dcd7700b0d8b4575/warning-mui-vaksin-imunisasi-mr-belum-bersertifikat-halal

[WARNING] MUI: Vaksin Imunisasi MR Belum Bersertifikat Halal



JAKARTA - Mejelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa pihaknya belum mengeluarkan sertifikat halal untuk vaksin imunisasi measless dan rubella (MR).

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas mengatakan belum ada permintaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan uji halal vaksin imunisasi MR ke Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika MUI. (LPPOM).

"Semestinya jauh-jauh hari ada pengajuan surat pada MUI terutama LPPOM untuk diperiksa vaksin ini tapi suratnya enggak pernah masuk. Bagaimana menindaklanjuti?" ujarnya di Kantor MUI, Jakarta, Senin (6/8/2017).

Baca juga: Belum Ada Label Halal, MUI Sumsel Minta Vaksinasi MR Ditunda

Akibat belum adanya pengajuan, MUI mengatakan vaksin imunisasi MR belum bisa dipastikan halal. Oleh karena itu, MUI mendorong agar Kemenkes segara melayangkan surat permintaan pengkajian.

MUI, kata Anwar, sudah menyurati Kemenkes. Surat itu ditindaklanjuti oleh Menkes yang datang ke kantor MUI. Kedua belah pihak sepakat agar vaksin imunisasi MR diteliti dan diperiksa.

Namun, hingga Senin (6/8/2018), MUI mengaku belum mendapatkan surat permintaan pengkajian dari Kemenkes.

Baca juga: Ada Penolakan Vaksin MR, Presiden Minta Menteri Segera Bergerak

Anwar menegaskan MUI tidak pernah menghambat permintaan pengkajian halal yang masuk ke LPPOM.

"MUI nunggu. Kalau masuk hari ini, kami selesaikan secepatnya. Tetapi mana suratnya?" kata dia.

MUI menyesal sikap Kemenkes yang susah menyuntikkan vaksin MR yang belum mendapatkan sertifikat halal kepada masyarakat.

Padahal, kata dia, bagi umat Islam harus tunduk dan patut pada ajaran agama yakni tidak mengkonsumsi yang haram. Sementara itu vaksin imunisasi MR belum jelas halal dan haramnya.


HARAM


umat muslim lebih baik membatalkan niatnya mengimunisasi anak2 kalian emoticon-Takut
tolak imuniasi gratis di sekolah, demi kemaslatan anak2 kalian di akhirat nantinya emoticon-Baby Boy 1
Halaman 1 dari 2
baguslah biar kowi

gak capek2 impor beras lg emoticon-Big Grin
CUMA KARENA APA YG DIMAKAN AJA KALIAN REPOT...


SEMENTARA APA YG KELUAR DARI MULUT HARAMNYA ADVANCED..
FITNAH HOAX NYNYIR DSB
Post ini telah di hapus oleh azhuramasda
contohlah itu yahudi, benci babi tp pro vaksin emoticon-Blue Guy Bata (L)







Quote:

emoticon-DP

[WARNING] MUI: Vaksin Imunisasi MR Belum Bersertifikat Halal
[WARNING] MUI: Vaksin Imunisasi MR Belum Bersertifikat Halal
Diubah oleh 48punpun
[WARNING] MUI: Vaksin Imunisasi MR Belum Bersertifikat Halal
Itung2 ngilangin bibit2 manusia radikal di Indonesia emoticon-Ngakak
[WARNING] MUI: Vaksin Imunisasi MR Belum Bersertifikat Halal
Balasan Post the..chef
Quote:


yup
daripada bikin program KB gagal emoticon-Wkwkwk
Balasan Post turnbackidiot
Quote:


Fitnah,berbohong, Dll kan sudah jelas dalilnya di AL-Quran dan Hadist

Fatwa MUI juga kan cuman himbauan, kalau masarakat mau ikut atau nggak ya terserah.

emoticon-Big Grin
Balasan Post 30051990
Quote:



ia sudah jelas dan tidak ada faedah sama sekali buat kemajuan umat manusia emoticon-Smilie

padahal agama sdh mengajarkan klw lbh byk manfaatnya itu ora popo tp msh aja gagal paham emoticon-Wkwkwk
Balasan Post turnbackidiot
Quote:


umat manusia bukan cuman ente dan yang segolongan emoticon-Big Grin
Balasan Post unicorn.phenex
Quote:


Huasyu emoticon-Leh Uga
this is about money...

give them...

maka pengangguran2 itu akan diem
ah gara² dokter bernard ini..
trua kabeh barang neng indonesia ki kudu stempel mui opo piye... la kok menuk tenan. mestine ke neng negoro islam stempelnya bukan halal. tapi justru yg haram distempel biar yg muslim tau. kalau gini brng yg aslinya halal krna gk stempel bisa diblang haram
asal muasal vaksin MR.

Vaksin itu terbuat dari Virus atau Bakteri asli.

Artinya Vaksin Difteri ya dibuat dari Bakteri Difteri, Vaksin Morbili dibuat dari Virus Morbili dan Vaksin Hepatitis B ya dibuat dari Virus Hepatitis B.

Vaksin ada yg berasal dari kuman yang dimatikan untuk diambil komponennya aja dan ada juga yg berasal dari kuman yang dilemahkan.

Nah, Vaksin yang dilemahkan melalui proses yang sangaaaat panjang.

Virus dan Bakteri yang asli tadi dijadikan sbg Bibit dan kembang biakan di laboratorium dalam suatu media tanam (seperti agar-agar). Apabila berhasil, maka Bibit tadi akan di ambil sedikit-sedikit untuk di kembang biakkan ke media baru.
Metode ini kayak kalo kita lagi bercocok tanam seledri, kalo seledrinya subur ya di pecah lagi ke dalam bbrp pot.

Tujuan dilakukan ini adalah untuk memperlemah kekuatan virus atau bakteri, supaya saat tubuh kita dikasi vaksin, virus atau bakterinya sudah gak ganas.
Berapa kali proses pindah-tanam tadi? Bisa puluhan kali-bahkan ada yg ratusan kali.
Itulah mengapa proses pengembangbiakan Bibit Vaksin itu perlu waktu lama, bahkan bisa sampai puluhan tahun.

Supaya Bibit vaksin td sudah benar-benar lemah.

Nah, suatu saat, Bibit tadi sudah siap dijadikan Vaksin. Maka si Bibit Vaksin tadi perlu di lepas dari Media Tanamnya.
Saat inilah Bibit tadi diberikan bantuan enzim Tripsin. Enzym ini memang berasal dari babi. Karena sdh di uji coba dgn enzim sapi gak berhasil.
Namun Enzym ini dalam prosesnya hanya digunakan untuk menyapih Bibit Vaksin tadi.
Kemudian Bibit Vaksin tadi segera dibilas dgn metode pencucian elektronik. Pencuciannya sampai ke tingkat sel.

Pembilasan ini berlangsung ratusan bahkan ribuan kali. Sehingga pada proses akhir, tidak ada sama sekali sisa enzim Tripsin apalagi sampai ada DNA Babi.
Produk ini murni berupa Virus atau Bakteri yang sudah dilemahkan.

Jadi kalau ada yg bilang Vaksin itu berasal dari enzim babi, dikembangkan di tubuh atau darah babi, atau mengandung DNA babi,
Please deh, kita hidup di jaman modern, bukan jaman jahiliyah yg segalanya masih sederhana.

Yuk jadi generasi SMART!!

PERSETAN DENGAN FATWA !!
Yg msh antivaksin silahkan di baca

Vaksinasi: Re-edukasi (di antara) Penyesatan Informasi dan Pelecehan Profesi

Kita ketahui bersama bahwa vaksinasi adalah bentuk 'upaya' agar tubuh kebal dan terhindar dari berbagai penyakit yang berat, menyebabkan kecacatan, serta mengancam jiwa.

Individu yang divaksin, secara ilmiah akan 'kebal' terhadap penyakit tertentu. Sekalipun masih ada kemungkinan 'kecil' tertular penyakit, namun dampak yang ditimbulkan lebih baik, ketimbang yang tidak divaksin. Sebagai contoh; data menunjukkan bahwa 95% individu yang diberikan vaksinasi MR (measles dan rubella) akan kebal terhadap penyakit campak dan rubella.

Apabila lingkungan dalam kondisi baik dari segi higienitas, tidak ada individu di sekitar yang berpotensi menularkan penyakit, gizi yang baik, seseorang bisa saja terhindar dari suatu penyakit, meski tidak dilakukan vaksinasi. Ini mirip dengan analogi yang dibuat saudara dan teman sejawat saya; dr. Muchtar Hanafi: apabila seseorang mengendarai sepeda motor, meskipun tanpa 'helm', mungkin ia sampai ditujuan, tanpa cedera sedikitpun. Lantas mengapa pemakaian helm kemudian menjadi penting?.
Musabab, medan yang ditempuh, tidak selamanya smooth dan tanpa bahaya.
Begitupun dengan vaksinasi; adalah 'ikhtiar' kita pada kondisi yang berpotensi menyebabkan hadirnya penyakit yang berat yang menimbulkan kecacatan bahkan mengancam nyawa.

Komunikasi, informasi dan edukasi digencarkan oleh Para Tenaga kesehatan, sebagai bentuk kepedulian, serta tanggung jawab Profesi.
Vaksinasi pun mendapat dukungan dari Pemerintah bahkan lembaga Internasional (WHO). Di masa lalu upaya Edukasi kepada masyarakat ini mendapat tantangan berupa gap tingkat pendidikan rendah serta akses terhadap pelayanan kesehatan yang sulit.

Para Dokter sejak masa 'Sekolah Dokter Jawa' dari sekolah kedokteran; STOVIA (Jakarta) dan NIAS (Surabaya), telah dengan susah payah memberikan edukasi dan penanganan penyakit infeksi di masyarakat, yang berpotensi menjadi mengancam jiwa serta menyebabkan wabah seperti cacar dan pes. Terjun langsung berbekal ilmu dan kasih sayang yang tulus, meski berpotensi membahayakan diri mereka sendiri, para Dokter dan tenaga kesehatan lainnya turun dan 'menyentuh' langsung rakyat yang sakit dan menderita.

Di masa kini, tantangan edukasi dan kampanye vaksin ini adalah maraknya 'penyesatan' informasi di masyarakat. Betul, bahwa vaksinasi adalah hak setiap individu untuk melakukanya atau tidak. Mirisnya, masyarakat yang menolak vaksinasi mendapatkan informasi yang salah dan tidak ilmiah dari kalangan yang anti vaksin.

Arus informasi yang deras dan dengung kebebasan berpendapat, membuat semua pihak bebas bersuara meskipun bukan pada 'bidang ilmu yang dikuasainya'. Dan pendapatnya bisa dengan mudah tersebar, meskipun keabsahannya secara ilmiah, tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Vaksinasi oleh sebagian kalangan yang anti vaksin, digaungkan sebagai 'agenda' penghancuran generasi Islam. Dari mana didapatkan informasi ini serta kebenaranya sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sementara umat Islam sendiri diajarkan ber-Tabayyun (klarifikasi) atas kebenaran dari tiap informasi yang diterima.

Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, berpesan; bahwa suatu urusan pabila diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka akan datang kehancuran. Begitupun dengan vaksinasi. Pabila dokter dan tenaga kesehatan tidak lagi dipercaya. Maka siapa yang pendapatnya dipercaya dan terjamin tidak membahayakan putera-puteri kita??.

Kami harapkan, Pemerintah, selaku pemegang kekuasaan dapat mengambil sikap tegas atas maraknya 'penyesatan' informasi terhadap vaksinasi ini. Bayangkan, meski hanya 1 keluarga saja yang termakan isu anti vaksin, maka anak-anaknya yang tidak divaksin berpotensi besar tertular berbagai penyakit berat, cacat, bahkan meninggal dunia.

Di sisi lain, fitnah, pelecahan, dan upaya provokatif menjatuhkan profesi tenaga kesehatan begitu mudahnya dilontarkan. Ramai di media sebuah opini: '..membahas vaksin dengan dokter, seperti membahas miras dengan pemabuk'; adalah ungkapan yang betul-betul tidak etis, tendensi penghinaan, dan menyesatkan masyarakat.
Lantas ke mana masyarakat menanyakan perihal kesehatanya bila bukan kepada dokter??.

Fitnah, informasi sesat, ungkapan provokatif begitu mudah diucapkan, seakan tanpa beban dan malu-malu lagi mengungkapkanya. Serta dengan mudahnya menggelinding bebas di media sosial, tersebar cepat dan luas. Di baca berbagai kalangan dengan ragam tingkat pendidikan. Dampaknya amat merusak taraf pengetahuan kesehatan masyarakat yang susah payah dikampanyekan Penyuluh-penyuluh Kesehatan di pelosok-pelosok daerah sejak lama.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia akan menyambut masa 'bonus demografi'. Masa yang pernah mengantarkan Majapahit di puncak kejayaan. Bonus demografi bukan hanya ledakan penduduk, namun sebuah siklus per-100 tahunan, yakni keadaan di mana penduduk usia dewasa muda akan berada pada jumlah yang mayoritas dibanding kelompok usia lainnya. Kondisi ini menjadi daya ungkit kemajuan sebuah bangsa dan peradaban, sebab produktivitas kelompok usia dewasa muda ini dapat terberdayakan dengan optimal bagi pembangunan di suatu negara.

Cina dan India telah dan tengah menikmati bonus demografi. Ketahanan dan kemajuan sebuah bangsa akan menerima dampak besar dari bonus demografi ini. Sekali kita melewatkanya dengan gagalnya generasi penerus lewat kebobrokan moral ataupun kerapuhan fisik akibat wabah penyakit tertentu, maka kita akan kehilangan kesempatan besar berjaya sebagai sebuah bangsa baik ekonomi, Kesehatan, pendidikan, kebudayaan, dan nilai Ketuhananya.

Vaksinasi, memiliki peran amat strategis dalam mencegah merebaknya wabah penyakit. 'Rantai penularan' penyakit-penyakit berbahaya dapat terputus dengan vaksinasi. Dahulu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pernah sukses meng-eradikasi penyakit Polio dengan menggalakkan imunisasi. Kali ini marak kembali penyakit Polio, seiring maraknya gerakan anti vaksin. Dan 'penuntutan' legitimasi halal sebelum penggunaan vaksin.

'Kehalalan' vaksin tidak bisa dilihat dengan zat-nya semata. Pandangan yang holistik, berbekal pengetahuan yang mumpuni perlu dihadirkan ketimbang mengedepankan nafsu dan ambisi 'tampil' dan diikuti. Ushul fiqih tentang hukum suatu obat/makanan; segalanya halal sampai diketemukan suatu hal yang mengharamkan. Sekalipun terdapat zat yang haram di dalamnya, mendesaknya dan membahayakanya suatu penyakit disertai belum adanya zat pengganti lainnya, dapat memperkuat posisi vaksin dalam mencegah kerusakan yang lebih besar, demikian yang dinasihatkan Dr. Asrorun Ni'am, dari Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Maka pabila Dokter dan Majelis Ulama telah menyarankan dan memberikan keterangan terkait pentingnya vaksinasi, lantas apalagi yang menjadi pegangan pihak yang antivaksin?. Apa yang menjadi dasar penolakanya silahkan dikemukakan, namun kedepankan diskusi yang adil, berdasarkan ilmu, dan terbuka. Sehingga mencerdaskan dan menyelamatkan. Bukan justru menyesatkan dan membahayakan.

Selayaknya Nasihat Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits;

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

5-8-2017
- radietya alvarabie

@tagdoctors
Loe pade gak tau betapa sengsaranya tuh bayi bayi kalau terkena rubella ( bisa buta) atau polio dll !!

Brengsek. bener tuh yang asal bacot haram harom !!

Gak ada respek sama tenaga medis yang susah payah melawan klb , epidemik dll !!

Toh kalau nanti ada wabah difteri , campak, dll yang repot bukan MUI tapi tenaga medis kesehatan yang dibikin pusing tujuh keliling !!!!
Lebih baik penyakitan tapi halal daripada sehat tapi haram emoticon-Angkat Beer
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di