alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Dari Norlorn (True Story, Romance 17+, Horor)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5694b9620881f31b8b4567/cerita-dari-norlorn-true-story-romance-17-horor

Cerita Dari Norlorn (True Story, Romance 17+, Horor)

Hallo kaskuser semua, mimin dan momod. Ane dapet amanat lagi untuk share cerita dari agan viviangj cerita ini masih berhubungan dengan trit sebelum nya yang berjudul My Dear, Norlorn! namun diceritakan dari sisi Norlorn nya dan ada beberapa kejadian yang belum diceritakan di trit sebelumnya. Langsung aja saya lanjut cerita nya.

Quote:



Cerita Dari Norlorn (True Story, Romance 17+, Horor)



Sesosok Elf telah digariskan oleh sang waktu untuk bertemu takdirnya. Norlorn, bangsa mitos asal Jerman secara tidak langsung terseret ke dalam dimensi manusia hingga mengantarkannya ke sebuah rumah di desa daerah Purbalingga, Jawa Tengah!
Waduh, ada bangsa Elf di Jawa? Bagaimana dia menghadapi kehidupan yang sedemikian berbeda?


Cerita Dari Norlorn (True Story, Romance 17+, Horor)


Quote:

Quote:
Diubah oleh 3121X
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

0. Bukan basa-basi

"According to the legend, whoever steps into Bächle will marry a person from Freiburg.”

Kota Freiburg, salah satu gerbang menuju keanggunan Schwarzwald (bahasa Indonesia: Hutan Hitam, bahasa Inggris: Black Forest) bersama “legenda”nya. Takhayul yang menggelitik. Aku tahu, bukan pemandangan aneh jika ada seseorang terjatuh tanpa sengaja di Bächle. Karena letak Bächle tak dibatasi apa-apa. Pada masa lampau, Bächle digunakan penduduk kota Freiburg sebagai pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga, peternakan, dan perindustrian. Menjadikan Bächle sebagai tempat pembuangan sampah atau kotoran merupakan perbuatan terlarang oleh pemerintah setempat, kau akan dikenai sangsi denda sejumlah uang. Peraturan ini berlaku sampai sakarang. Jadi, seandainya kau berkunjung ke Freiburg jangan pernah membuang sampah di Bächle kalau tak ingin kena denda. Kebersihan sebagian dari iman. Bukan begitu?

Selain mitos Bächle, Freiburg merupakan kota tua peninggalan abad pertengahan. Freiburg terletak di perbatasan Swiss dan Perancis. Banyaknya universitas di Freiburg juga membuat Freiburg mendapat julukan kota pelajar. Keunggulan lain, Freiburg setiap tahun disinari matahari selama 2000 jam dan menjadi kota paling hangat di Jerman.

Percayakah kalian dengan mitos dan legenda? Bagiku mitos dan legenda adalah pewarna hidup. Tanpa mitos, kau mungkin tak akan pernah mengerti betapa kompleks kehidupan masa lalu jauh sebelum kau lahir. Contoh mitosnya adalah keberadaan ‘bangsaku’. Apakah kalian percaya? Mungkin sebagian ada yang percaya adanya ‘aku’, sebagian menganggap ‘aku’ makhluk fiksi karangan manusia. Seiring waktu dirimu tumbuh, kau mulai menyadari ‘mitos’ yang sering diceritakan orang tuamu terkadang ada benarnya, dapat memengaruhi hidupmu secara tak langsung. Mitos kau anggap tak ada bukti berubah menjadi teror pembuat tak nyenyak tidur.

Untuk kau ketahui; tercipta sebagai mahkluk di antara putih dan hitam bukan perkara mudah. Jauh lebih berat daripada benar-benar ada di salah satu sisinya. Lalu aku pun memutuskan ingin bercerita tentang apa yang telah membuat sebagian dari kalian penasaran.
Malam-malam menulis cerita ini cukup berat. Bukan karena writer block menyerang, tetapi memikirkan cara bagaimana supaya cerita ini lancar selama proses pembuatan. Lalu, apa masalahnya?

Jelas menjadi masalah kalau tak ada yang dapat membantu menuliskan dan menceritakan semua tentang sosok pendamping hidupku di dalam cerita. Aku kerap datang selama penulisan dan duduk di sebelah penulis. Mulanya ingin menyerah dan meminta penulis untuk menghapus failnya. Penulis baik hati itu tak pernah berhenti menyemangati agar kisah ini selesai sesuai harapan. Bahkan setiap malam, aku rela pulang pergi menemui si penulis. Ikut berbaring di tempat tidurnya sambil berdiskusi.

Ini adalah karya perdana berkolaborasi bersama manusia. Aku tak menjanjikan cerita ini membuat kau terbawa perasaan atau memaksa dirimu mempercayai ‘keberadaanku’. Hanya satu hal aku ingin kau tahu, “yang tak ‘terlihat’, bukan berarti tak ada.”
Diubah oleh 3121X

1. Apakah Ini Nyata?

“Di mana aku?”

Aku memperhatikan sekeliling permukiman tak ku kenal. Semua tampak kelam kabut dan sedikit penerangan. Apakah diriku harus bertanya lagi tempat apa ini?

Maximillian, di mana kau?

“Brengsek!”

Bagaimana bisa Maximillian pergi ke daerah asing dengan pemandangan tak berkelas? Ya ampun! Kalau saja dia tak pergi seenaknya, aku tak akan ditugaskan Paman Morgan, raja di kerajaan Etchaland, tempat tinggalku.

Pertanyaannya adalah ke mana Maximillian pergi?

Aku melintasi jalan senyap, tak ada petunjuk Maximillian pergi ke sini. Tapi... bukan berarti tak ada, mungkin Maximillian bersembunyi atau pergi ke suatu tempat.

Dia cuma pinguin tua berumur 650 tahun menjabat sebagai penasihat kerajaan. Namun tingkah Maximillian terkadang menyebalkan! Salah satunya pergi tanpa kabar. Lalu, aku dibuat repot.

Astaga, kotor sekali! Pikirku.

Sangat buruk. Hanya ada kebun tak terawat dan deretan rumah terlalu sederhana. Besar rumah tak ada separuhnya dari luas kamarku. Walau harus mengakui ada beberapa rumah cukup bagus dibanding rumah lain.

Jika memang Maximillian di sini, apa dia ablepsia memilih tempat tak apik sama sekali? Sungguh terlalu.
Spoiler for ablepsia:


Semakin dalam, penglihatan kian gulita. Aku tak dapat melihat jelas selain mengandalkan impresi untuk mencari.

Namaku Norlorn, memangku jabatan sebagai panglima muda kerajaan Etchaland sebelum menggantikan ayah menjadi panglima tertinggi negeri beberapa puluh tahun lagi. Itu sudah peraturan, bukan prodeo. Di kemudian hari, semua panglima muda kerajaan setiap wilayah akan menggantikan ayah mereka menjadi panglima negeri atau panglima tertinggi melalui keputusan para raja yang berwenang.
Spoiler for prodeo:


Aku paham, kalian para manusia tak akan percaya salah satu bangsa mitos asal Jerman bisa tersesat ke dimensi manusia trilyunan mil jauhnya seraya kebingungan mencari pinguin hilang dari istana.

Kiri, kanan hanya ada pohon besar, persawahan, dan ilalang renggang. Bangsa macam apa sebenarnya pemukim teritori di sini? Kebersihan tak terjaga dengan baik.

Belum sampai sepuluh menit berpikir, ada sebuah pukulan dari samping nyaris mengenai wajahku. Gila!

Kalau saja reflek tak baik, tubuh sudah gepeng oleh makhluk berbulu hitam, bertubuh besar, dan berbau singkong bakar ku temui di jalan.

Makhluk itu melakukan penyerangan. Kami saling memukul, menonjok, menendang bersama gerakan tak berbobot lainnya yang dilakukan oleh makhluk besar berbulu lebat tersebut.

Boleh juga kekuatannya. Sayang, dia terlalu banyak melakukan agresi di awal. Sia-sia jika dia memakai tenaga untuk itu. Akhirnya dia menyerah, memohon ampun pada kuncian di lengan berbulu menjijikan miliknya.

“Cukup makhluk muda!” serunya meringis.

“Kenapa Anda menyerang saya?!”

“Aku penguasa wilayah ini. Jika ada yang masuk tanpa izin, itulah yang ku lakukan.”

“Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud memasuki wilayah ini.”

Tilikan mata merah dia belum sepenuhnya yakin. Si makhluk berbulu menyoroti layaknya melihat pengacau.

“Lalu, apa mau mu?” tanya dia. Suaranya menggelegar bak guntur.

“Apa Anda melihat seekor pinguin berbulu jabrik di kepala mengenakan dasi kupu-kupu?”

Sebenarnya aku sangsi, mengingat sambutan kurang ramah tadi. Di satu sisi, ada baiknya bertanya. Bisa saja dia melihat Maximillian.

“Pinguin berdasi kupu-kupu?” Dahinya berkerut.

“Iya, apakah Anda melihatnya?”

“Sepertinya iya.” Dia mengangguk. Kepala dia mendongak ke sebuah gapura besar bertuliskan BAJONG.

“Bajong?”

Nama tempat aneh tapi mencuri perhatian.

“Kau bingung makhluk muda?”

“Tentu saja.”

Tak dapat dipungkiri, selain menjadi pusat perhatian, nama asing di telinga juga membuat penasaran.

“Itu nama desa salah satu wilayah kekuasaanku.” sahut dia.

“Anda yakin pinguin kerajaan saya ada di sana?”

“Aku yakin melihatnya makhluk muda.”

“Baiklah. Anda bisa mengantar saya?”

“Bisa. Dengan syarat kau melepas kuncian dirimu di lenganku. Aku mengaku kalah, makhluk muda.” ujar dia.

Sepertinya makhluk ini baik meski wujudnya membuat bulu roma berdiri. Bulu-bulu kasar tumbuh dari ujung rambut hingga kaki berwarna hitam sekaligus lebat bagai akar gantung pohon beringin.

“Terima kasih, makhluk muda.” Dia tersenyum sembari memperlihatkan gigi yang tak rata bersama taring.

“Sama-sama, Paman.” jawabku.

“Aku Genderuwo. Kau siapa dan dari mana asalmu?”

“Saya Norlorn. Bangsa Elf penghuni Hutan Hitam di Baden-Württemberg, Jerman.”

“Rupanya, kau memang bukan berasal dari sini. Maaf aku menyerangmu tanpa bertanya.”

“Tidak usah dipikirkan, Paman.”

“Sebagai permintaan maaf, aku akan terus membantu mencari pinguin temanmu. Bagaimana?”

“Dia bukan teman saya, tetapi penasihat kerajaan.” Aku menggeleng, meluruskan dugaan makhluk bernama Genderuwo.

“Kau keluarga kerajaan?!” Mata dia membelalak.

“Iya.”

“Seandainya aku tahu kau adalah keluarga kerajaan, aku tidak akan menyerangmu.”

“Tidak apa-apa, Paman. Tak kenal maka tak sayang.” Aku tersenyum.

“Kau bisa memanggilku, Gondo.”

“Paman dapat memanggil saya, Noey.”

“Nama yang bagus, makhluk muda.”

Paman Gondo memimpin dari depan sambil memasuki desa. Tak ku sangka, sama parahnya dengan wilayah kekuasaan dia sebelumnya. Bahkan lebih merusak mata, aku sampai tak bisa berkata kalimat bagus untuk menceritakan tempat ini.

“Jangan kaget makhluk muda. Inilah desa,” katanya.

Miris! Positifnya jalan desa ini sudah rata, mirip jalan besar ku lewati sebelum bertemu Paman Gondo.

“Keadaannya begitu miris,”

“Daerah ini masih lebih bagus dibanding daerah lain!” Paman Gondo agak ketus. Amat terlihat dia membela daerah kekuasaan milik dia dari caranya berbicara.

“Daerah lain lebih parah?”

“Tentu saja!”

“Maafkan saya,”

Aku menjaga jarak sebelum Paman Gondo berubah pikiran. Lebih baik mencegah daripada berkelahi lagi.

“Tidak perlu kaku begitu makhluk muda.”

“Saya hanya ingin mencegah hal tadi terulang, Paman.”

“Aku tidak akan menyerangmu. Aku ‘kan sudah bilang.”

“Terima kasih untuk pengertian Anda, Paman.”

“Justru, aku yang berterima kasih makhluk muda.” ujar Paman Gondo.

“Saya ingin pinguin kerajaan saya kembali pulang.”

“Kau yakin tidak mau bermukim beberapa hari di sini?” Dia menggoda.

“Tidak. Terima kasih,”

Bermukim? Bisa-bisa, aku meninggal terlebih dulu sebelum menemukan Maximillian!

“Aku mengerti, Noey. Pasti kau akan berubah pikiran setelah ketemu dia.” Paman Gondo terkekeh.

“Bertemu siapa?”

Paman Gondo menunjuk ke sebuah rumah sederhana bercat hijau tak merata, pintunya berwarna putih kusam. Lampu teras menyala, di dalam kelihatan redup. Aku mencium aroma Maximillian dari luar.

“Ada apa denganmu, makhluk muda?”

“Saya merasakan keberadaan pinguin kerajaan saya.” Aku menjawab sambil berusaha menembus pandangan ke dalam rumah.

“Kau yakin, Noey?”

“Saya yakin sekali Paman, Maximillian ada di dalam.” Jemariku menunjuk sebuah jendela tertutup gorden di samping rumah.

“Kalau kau yakin, masuk saja.”

“Memangnya tidak apa-apa?”

“Tidak, aku berani jamin. Dia mengenalku, makhluk muda.” jawab Paman Gondo menepuk bahu.

“Dia siapa?”

“Salah satu penghuni rumah.” Paman Gondo berkata pendek.

“Terima kasih, Paman.”

“Selamat mencari, Noey. Semoga kau juga menemukan cintamu.”

Paman Gondo berbalik arah dari rumah, sepersekian sekon menghilang dalam pekatnya malam. Aku belum sempat mengucap salam perpisahan jejaknya sudah tak ada. Tunggu… apa maksud perkataan dia? Semoga menemukan cinta? Ah— paling cuma meledek. Mana sempat aku mengurusi perempuan?

Namun semua persepsi membelot sejak masuk ke dalam. Dapat dibilang, ada sosok meruntuhkan pertahanan hati terhitung malam ini.
Paman Gondo benar, barangkali aku memang menemukan cinta pada sosok perempuan manusia berambut ikal berwarna cokelat panjang sedada yang sedang tidur di salah satu kamar. Di kamar lain ada perempuan tua selain dirinya.

Dari dalam kamar, rupanya Maximillian sedang memperhatikan si nona dengan saksama. Mata dia naik turun berbarengan kepala dan paruhnya.

“Max, apa yang kau lakukan di sini?!”

“Ssst... jangan berisik bayi besar,” Dia menutup paruhnya dengan sayap.

“Bayi besar!?” Aku memelotot. Padahal, dia lebih banyak membuat ulah dibanding membuat untung.

“Iya, kau memang bayi besar berusia tiga ratus tahun yang manja!” Dia mencibir.

“Awas kau!”

Kalau saja Maximillian bukan pinguin kerajaan, sudah ku cincang detik ini juga!

“Aku sudah mengasuhmu selama ratusan tahun. Bukan begitu?” tanya dia. Paruhnya membuka setengah, meninggalkan senyum mengejek.

“Lalu kenapa?”

“Tuh lihat.” Paruhnya mengarah ke dara di pembaringan.

“Memang dia kenapa?”

“Dia yang membawaku kemari, Norl!”

“Mengapa bisa?”

Tak mungkin! Negeriku dan daerah ini trilyunan mil jauhnya. Bagaimana ceritanya pinguin menyebalkan di sampingku bisa sampai di sini dari perantara wanita sedang tidur?

“Aku juga tidak mengerti, Norl. Tubuhku terseret begitu saja.” Maximillian mengangkat bahu.

“Ayo kita pulang.” Aku mengajak Maximillian keluar kamar.

“Aku mau saja pulang, Norl. Tapi—“ Maximillian membisu. Matanya mengarah ke jendela. Aku cuma melihat jalan sepi dari gorden.

“Apa yang salah?” Aku mengerutkan alis.

“Kita tidak bisa pulang, Norl.” jawab Maximillian lesu.

“Apa? Kau tidak bercanda ‘kan Max?!”

Sulit dipercaya kami berdua terjebak di daerah asing tak ada apa-apa. Hanya ada jalanan sepi dan rumah terlalu sederhana. Kepalaku pening. Sangat merepotkan pinguin yang satu ini. Dia bilang kami tak bisa pulang. Aku yakin bukan tak bisa, pasti ada cara lain kembali ke negeri yang damai dan serba ada.

“Aku tidak bercanda, Norl. Portal yang membawamu dan aku hilang begitu saja!” seru Maximillian. Kemudian tubuh sedang tidur bergerak, matanya perlahan terbuka. Gawat! Aku harus bersembunyi sebelum dia melihatku. Intuisi mengatakan dia bukan gadis biasa.

Cepat-cepat aku bersembunyi di balik dinding kamar. Ku tengok dari balik pintu sedikit terbuka. Apa yang dilakukan Maximillian? Mengapa dia masih ada di sana? Bagaimana jika orang itu melihat Maximillian?

Dua pasang mata saling berhadapan. Maximillian melambaikan sayap pada dia. Gadis di tempat tidur mengucek mata beberapa kali di depan Maximillian. Roman dia tampak tak percaya. Tubuh dia kembali lemas bersama terpejamnya mata.

Dia pingsan? Maximillian sungguh kelewatan! Menakuti perempuan merupakan perbuatan kurang baik. Kalau sampai tak sadarkan diri karena ulah Maximillian, diri ini tak akan memaafkannya!

“Max, kau apakan dia?!”

“Aku tidak melakukan apa-apa, Norl!” bantah Maximillian.

“Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu,” Maximillian mengusap kepala.

“Sekarang cari tahu solusinya dengan kalung permatamu, Max!” ujarku keras. Kesabaran sudah mencapai puncak, ingin ku ledakkan semua sampai menjadi lahar panas meleleh dari ubun-ubun.

“Aku tidak membawanya, Norl.” ucap dia santai.

“Kau ini!”

Sabar Norlorn, Maximillian sudah tua. Begitulah kelakuan makhluk tua, lebih banyak menyusahkan dibanding tidak. Dia juga sudah ada di istana mengasuh aku, kakak perempuanku, dan para pangeran kerajaan sedari lahir dalam hitungan hari hingga dewasa muda. Kasih sayang Maximillian bagai kasih sayang ibu, tak terhingga sepanjang masa.

Maximillian sudah dianggap ayahku juga Paman Morgan sebagai pengganti ibuku dan ratu yang gugur dalam peristiwa pemberontakan seratus lima puluh tahun lalu. Terkadang dia membuat naik darah, jalan pikiran dia tak dapat ditebak. Hari ini, dia menguras kesabaran membuat kami terdampar di daerah asing tak prestisius. Jauh dari kata indah. Lebih mirip tempat pembuangan sampah akhir daripada desa.

Apa penyebab seorang gadis tahan tinggal di tempat kumuh? Rumah ini memang masih layak untuk ditinggali, beranalogi terbalik dari rumah tak layak tinggal di sekitar. Aku menemukan dominasi rumah kurang bahan bangunan. Lebih mirip bangunan seperempat selesai dibanding.

“rumah”.

“Sungguh di luar dugaan.” Maximillian mengangkat paruh.

“Semua karena kau, Max!”

“Bisa tidak, kau tidak menyalahkanku saat genting?!” Maximillian berkeriau. Suara dia mengakibatkan pencemaran vestibula.

“Makanya, cari jalan keluar!”

“Sebentar, aku sedang berpikir.” ucap Maximillian.

Masih bisa santai saat seperti ini? Pinguin tua pembuat sewot memang!

“Jangan terlalu lama berpikir!” Aku mendesak.

“Sabar dulu, Norl.” Dia mengelus bulu kepala berulang kali. Sepertinya Maximillian memang bersungguh-sungguh mencari cara supaya bisa kembali pulang ke alam kami. Satu-satunya alasan aku ingin cepat kembali adalah perbedaan dimensi dan kebiasaan begitu jauh.

Ayolah Max! Aku sudah tak sabar ingin kembali pulang.

“Kau membawa kalung permatamu, Norl?” tanya Maximillian tiba-tiba.

“Aku membawanya. Apa yang bisa dilakukan dengan kalungku?”

“Pinjamkan aku kalungnya, Norl.”

“Untuk apa, Max?”

“Kau tidak perlu banyak bertanya, nanti tinggal terima beres.” Maximillian tersenyum lebar. Kemudian meminta memakaikan kalung permata kepunyaanku kepadanya. Maximillian mengucap mantra, membentuk sebuah bola energi yang terpancar dari bandul kalung.

“Kau—“

“Dengan ini kita bisa membuat portal cadangan untuk kembali, Norl.” Paruhnya menganga, matanya mencerling ceria padaku seolah dia ilmuwan yang berhasil menemukan penemuan terbaru di abad ini.

“Kenapa tidak kau lakukan dari tadi!” seruku.

Saat aku berseru, nona di tilam bergerak. Kelopak mata dia tetap menutup. Berarti bukan pingsan, hanya kembali tidur sesaat berhadapan dengan Maximillian. Aku lega. Cuma sekejap pergerakannya, perlahan dia bangun sambil membuka mata.

Jangan sampai dia melihatku. Aku harus pergi dari rumah ini sekarang.

Maximillian mengepakkan sayap kiri dia, memberi kode agar aku bersembunyi di balik dinding. Tapi terlambat, dia telanjur melihatku dan Maximillian. Dari roman, dia tampak terpukau melihat Maximillian dan aku ada di kamarnya.

“Siapa kamu?” tanya dia.

Perempuan berambut ikal berantakan nampak heran. Peraturan tetap peraturan, aku harus beranjak dari sini tanpa bisa memperkenalkan siapa aku kepada manusia. Maximillian kembali mengibaskan sayap, memberi kode supaya bertolak dari kamar.

Ku menjauh seraya menunggu Maximillian di balik dinding. Depan kamar terhubung dengan ruang makan sekaligus ruang keluarga. Atmosfer kesederhanaan rumah begitu terasa. Sedikit ku kagumi walau sangat minimalis ukurannya. Ada kehangatan tersembunyi di ruangan.

Angin hangat ruangan membuat pikiran terasa lebih segar dan jernih. Kalau aku menuruti saran Paman Gondo untuk beberapa saat lebih lama di sini boleh juga. Siapa tahu, memang ada hal baru ku temui.

Maximillian sudah keluar dari kamar. Dia kelihatan tak mengalami luka atau penyerangan dari makhluk lain di sekitar rumah yang mencoba masuk. Dari dalam juga tak ada jeritan sebagaimana ku dengar dari beberapa teman saat menemui manusia.

“Ayo kita pulang, Norl.” ajak dia ke pintu belakang rumah. Sebuah portal berpendar merah lembayung sudah menanti kami untuk kembali. Serta-merta aku menjadi kukuh, tak ingin pulang sekarang.

“Tunggu, Max!”

“Ada apa denganmu, Norl?!”

“Aku berubah pikiran. Aku ingin lebih lama di sini,”

Ga muat bersambung kebawah emoticon-Nohope
Sambungan atas emoticon-Big Grin

“Ayo kita pulang, Norl.” ajak dia ke pintu belakang rumah. Sebuah portal berpendar merah lembayung sudah menanti kami untuk kembali. Serta-merta aku menjadi kukuh, tak ingin pulang sekarang.

“Tunggu, Max!”

“Ada apa denganmu, Norl?!”

“Aku berubah pikiran. Aku ingin lebih lama di sini,”

“Kau bercanda!?”

“Aku serius.”

“Kau mendesakku agar bisa pulang, sekarang tidak jadi? Apa-apaan!?” Maximillian mendumel. Dia berkoak-koak menumpahkan rasa jengkel pada dinding sambil mematuk pinggangku.

“Maafkan aku, Max. Kalau kau ingin pulang, duluan saja. Aku menyusul.”

“Baiklah.” Dia melepas kalung permata sembari memberikan padaku. Dia mengulang cara tadi agar aku dapat kembali kapan saja. Maximillian meruntuk sepanjang langkah sampai memasuki portal bersama kalimat andalannya, bayi besar berusia tiga ratus tahun yang manja.

Maximillian adakalanya membuat kesal, tapi aku tahu dia sepenuh hati mendidik seluruh penghuni istana. Menyayangi tanpa pamrih, melayani dengan tulus, dan mengabdi pada kerajaan hingga detik ini.

“Tolong bilang Paman Morgan dan ayah, aku akan pulang nanti.”

Maximillian mengangguk pelan. Lalu, portal mengecil dan seketika lenyap. Nona di ranjang kembali mengingatkan pada sosok manusia telah lama hilang di hidupku. Gadis kecil pernah ku tolong pada waktu dia terperosok di Bächle. Pada saat itu, umurku seratus tiga puluh tahun.
Dia kira-kira berumur sebelas tahun usia manusia.
Spoiler for Bächle:


Dia memperkenalkan diri ketika menaiki Bächle dengan sepatu basah. Akshita, nama yang selalu terekam jelas di ingatan. Apakah ini nyata? Aku kembali bertemu dengannya di masa sekarang? Aku selalu menunggunya di Bächle setiap tengah hari selama mengunjungi Freiburg. Kami bermain bersama, menjelajah zona sekisar hutan hitam, mengamati serangga, dan hal menyenangkan lainnya sampai suatu hari dia tak pernah muncul lagi.

Ku cari dia hingga ke rumah. Rumahnya kosong, hanya menyisakan barang berat. Pintu rumah juga terkunci. Praduga Akshita meninggalkan kota Freiburg selamanya timbul dalam benak. Dia menghilang tiba-tiba, membuat luka hati begitu dalam. Kehilangan tanpa alasan jelas amat menyakitkan. Sejak itu, aku tak mengurusi perempuan dalam kehidupan selain keluarga.

Malam ini, aku melihat dia kembali. Apakah ini memang nyata? Hanya ada dua cara untuk membuktikan dia manusia ku cari atau aku salah. Cara pertama, bertanya langsung padanya kenapa Maximillian bisa terseret ke sini dan mengingatkan satu hal pada dia. Jika memang perempuan itu adalah Akshita, tentu dia akan ingat hal pernah ku berikan.

Ku hampiri dia di kamar dan bersandar di pintu. Ekspresi dia tetap sama, heran. Aku tertawa kecil untuk membuat suasana lebih santai.

Apa dia sudah lupa padaku? Sosok yang selalu ada untuk dia selama di Freiburg? Aku berjalan ke pinggir ranjang, mengamati dia lebih jelas.

“Siapa kamu?” Dia mengulang kalimat.

Akshita, sebegitu cepatnya kau lupa? Kau tak ingat janji selalu bersama selamanya yang pernah diucapkan saat di hutan hitam waktu itu?

“Kamu bisu? Semoga kamu bukan makhluk jahat. Maaf sudah memanggilmu.” ucap dia tenang.

Dia sudah berubah bukan seperti Akshita ku kenal dulu. Aura miliknya juga pudar. Saat di Freiburg, aura ceria dan hangat. Yang ku rasakan malam ini aura sedingin es lebih dominan dibanding aura keceriaan.

Sejenak, pertanyaan dia menyadarkanku. Aku dibilang bisu?! Seenaknya saja dia bicara. Mungkinkah Akshita amnesia? Dia berubah drastis pada sosok yang menyayangi dia selama ini. Wanita di depanku benar Akshita atau cuma manusia lain mirip dengannya? Satu pertanyaan dapat membuktikan dia sosok ku cari atau bukan.

“Seharusnya aku yang tanya, kau ini siapa memanggil sahabatku kemari?”

Aku sadar, Maximillian secara tak langsung menjadi sahabatku juga meski usia kami terpaut jauh. Dia bungkam, tak menjawab pertanyaan. Sekonyong-konyong menjadi ragu. Seingatku Akshita bisa berbahasa Jerman.

“I’m sorry, i can’t understand. Can you speak Indonesian?”

Dia balik bertanya dan meminta berbicara dengan bahasa Indonesia. Sepertinya, dia bukan Akshita. Aku memang belum yakin. Kemungkinan lain, Akshita sudah lama tak memakai bahasa Jerman. Akibatnya linglung, tak mengerti pertanyaanku.

Aku mengangguk, “Maaf, aku kira kau mengerti.”

“Nggak.” kata dia.

“Siapa dirimu memanggil sahabatku dan bilang diriku tunawicara, hah!?”

“Aku nggak pernah memanggilmu. Dia datang tiba-tiba. Maaf telah mengusik.” Terucap keresahan dia sekelip.

Dia memang tak memanggilku, tapi dia membawa Maximillian terseret ke sini tanpa tahu risiko untuk kami jika terlalu lama terjebak.

“Ku anggap ketidaksengajaan.” Aku duduk di ujung ranjang.

“Maaf.” cakap dia. Manik matanya tak berani menatap mataku.

Kejahilanku sepertinya kambuh. Bagaimana dengan sedikit keusilan malam menjelang pagi?

“Akan ku maafkan, kalau kau—“

Omongan sengaja ku penggal. Konon, cara ini dapat membuat para wanita semakin ingin tahu. Begitulah kata sahabatku, Erlan. Panglima muda dari wilayah barat terkenal sebagai playboy kelas wahid dalam negeri.

Aku menurunkan tubuh, mendarat di atasnya berbarengan senyum memprovokasi. Mimik dia gamblang memvisualkan jinak-jinak merpati.

Ada cara terakhir untuk membuktikan apakah dia sosok ku cari atau hanya mirip. Perawakan terlihat sama, gaya berpakaian hampir sama walau malam ini lebih maskulin. Satu hal lagi belum ku verifikasi, seandainya dia Akshita pasti dia ingat kejutan pemberianku saat dia ulang tahun ke dua belas.

Perlahan ku dekatkan bibir ke wajahnya, kemudian...

Dia terperanjat tatkala ciuman berlabuh di bibirnya. Benar peramalanku, perempuan ini hanya bermiripan Akshita bukan Akshita. Andai tak memverifikasi melalui cara ini, aku tak akan tahu kebenaran. Tetapi firasat lain timbul dalam batin, dia ada hubungan dengan Akshita. Bukan tanpa alasan, sepasang kornea berbeda warna mengingatkan afeksi Akshita terhadapku dulu.

Dia membatu. Visibel dia membeliak kaget. Kelu tampaknya.

“Aku tahu yang ingin kau tanyakan. Anggap saja ciuman itu manisan pembuka.” Aku menerka pertanyaan dari gestur dia.

“Maksudmu?” Dia terkejut, badan dia bergeser seinci.

“Kau akan tahu nanti, aku pamit dulu.”

Ku kedip sebelah mata sekejap. Raut dia malu-malu. Erlan tak bohong, kedipan mata bisa menjadi alternatif melihat ekspresi tersipu dari wanita.

“Mau ke mana?” tanya dia bersikeras menahanku.

“Nanti saja ku beritahu pada pertemuan selanjutnya. Sebaiknya kau tidur. Selamat tinggal.”

Aku bangun dari tubuhnya sembari meninggalkan ruang tidur. Dia membiarkan diriku pergi dengan banyak pertanyaan belum sempat dia ucap. Sebagai perkenalan, segenggam serbuk peri ku tiup untuknya. Serbuk peri meninggalkan jejak berkerlip bersama refleksi di kamar.

“Semoga dia bukan pembohong.”

Suara hati dia terdengar di telinga, membuat aku terdorong mengenal lebih jauh wanita muda serupa Akshita, sosok pembawa separuh hati pergi.
Diubah oleh 3121X
Semoga nggak kentang 🤣
Balasan post viviangj
dih kan ente yang punya cerita emoticon-Nohope
Balasan post 3121X
Quote:


Pokoknya sepi atau rame ane usahain bilang Norlorn jangan kentang. emoticon-Ngakak
Enak bikin kentang goreng daripada kentangin trit wakakaka
Balasan post 3121X
ah jadi pengen ke freiburg

om eriiik ... adain jalan2 ke freiburg doooongg emoticon-Traveller
Balasan post vhytha
Quote:


Om ditagih tuh om emoticon-Ngakak
Diubah oleh viviangj
Balasan post vhytha
Quote:


Nabung emoticon-Ngakak
Hayuklah ramaikan
Balasan post viviangj
di goreng biar enak ...
pesen yg jumbo yak. mintak topping mayo plus sambel extra pedeees emoticon-Request
Balasan post vhytha
Quote:


Ngekek... kentang setan

2. Realitas Yang Terpajan

Kamar Norlorn, pukul 3 sore waktu setempat

Pendar rawi merambah kaca jendela kamar menjagakanku dari ranjang. Sekilas, aku terkenang perkenalan pendek dengan gadis bermata bi-warna di desa. Sesungguhnya siapa dia? Tilikan kornea yang sukar ditembus menciptakan beragam teka-teki.

Semua mirip Akshita, hanya warna kornea bertolak belakang. Akshita berkornea mata warna solid, wanita ku temui memiliki kromatika berbeda. Warna kornea kiri dia abu-abu, sebelahnya berwarna cokelat. Dara serupa Akshita seolah-olah jelmaan kucing odd eyes daripada insani.

Ayolah Norl, untuk apa memikirkan manusia baru kau kenal? Jika perasaan dan logika berbantahan begitu jadinya. Sisi perasaan meyakini dia masih ada hubungan dengan Akshita, sisi logika berkata sosok yang sudah menghilang belum tentu kembali.

Ada benarnya. Pertemuan dengan Akshita sudah amat lama. Manusia tempatnya lupa, Akshita sekarang pasti sudah dewasa atau berkeluarga. Jadi, buat apa mencari sosok tak ada kabar? Jikalau ada kabar, masih sudikah dia menerimaku?

Siapa sosok dapat membantu soal ini? Permasalahan Akshita sangat rumit sekaligus menyesakkan dada. Wanita makhluk paling susah dimengerti. Saat harapannya berbalas, dia menolak. Kalau tak terbalas, menangis seharian. Menganggap takdir dan Tuhan tak adil.

Memang tidak semua perempuan begitu. Tapi rata-rata iya ‘kan? Aku melihat beberapa teman kakakku saat di istana. Semua gadis teman kakakku selalu memposisikan diri menjadi korban laki-laki. Padahal, belum tentu laki-laki salah. Mungkin para lelaki jadi korban, bukan mereka.

Drrrt… Drrrt… Drrrt....

Aku menoleh. Gawai bergetar di bufet memberitahu ada telepon masuk dari Erlan. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlamapui. Tak mustahil Erlan dapat memberikan solusi masalah. Ada untungnya mempunyai sahabat playboy, sedikit-sedikit darinya aku mendapat pengetahuan tentang para nona.

“Norl, kau ada waktu?”

Dasar Erlan. Baru ku sentuh pemutar proyektor, wajah dia sudah memenuhi layar di tembok tanpa mengucap salam.

“Kau kebiasaan. Kalau menelepon ucapkan salam dulu dong!”

“Maaf Norl.” Dia cekikian.

“Waktu selalu ada, Er. Yang membuat waktu menjadi tidak ada karena kau sibuk sendiri.”

“Kau meledekku, Norl?” Dia cemberut di layar.

“Biasanya playboy kelas wahid sibuk dengan para wanita. Tumben, kau menelepon tanpa ada wanita hari ini.”

“Kau jahat, Norl!” Erlan angkat bicara.

“Siapa yang jahat? Aku hanya membeberkan fakta.”

“Intinya kau ada waktu luang tidak hari ini?”

“Ada sih.”

“Bagus. Hari ini kita ke Freiburg.” Erlan bertutur. Mata dia bersinar menghimpun tebakan di layar proyektor. Anak itu mau apa di Freiburg? Dahiku langsung berkedut begitu tahu intensi Erlan pergi ke Freiburg sepintas lalu. Dia pergi ke Freiburg hanya melihat wanita? Aktivitas tak berguna menurutku.

“Kau ke Freiburg cuma melihat cewek?” Aku mengernyit.

Erlan meneruskan dialog, “Iya. Kau mau ikut tidak, Norl?” Kegembiraan tersurat di raut dia.

“Kalau untuk hal seperti itu aku tidak akan ikut, Er. Membuang waktu.”

“Yakin? Kita sudah berteman lama ‘kan?”

“Iya. Lalu apa hubungannya?”

“Aku tahu, kau sedang mencari sosok wanita cinta pertamamu dulu. Benar ‘kan?”

Darimana Erlan tahu? Aku bahkan belum menceritakan apa-apa soal Akshita.

“Sok tahu.”

“Jangan bohong padaku, Norl.” Erlan mengestimasi prosodi. Luar biasa sahabatku itu, firasat dia sangat kuat. Dia memang pantas menjadi playboy kelas satu dan panglima cerdas keutamaan wilayah barat. Ketajaman pikiran Erlan mampu memprakirakan siasat musuh. Bukan hanya musuh, wanita juga. Ups…

“Hubungannya dengan Freiburg?”

“Wanita yang kau cari dulu bertemu di Freiburg, benar?”

“Iya. Intinya apa kau mengajakku ke Freiburg?”

“Aku ingin mengajakmu mencari kebenaran.”

Erlan optimistis pada keputusan mengajakku ke Freiburg. Meski ragu, aku tetap ingin berangkat. Memecahkan masalah tentang Akshita daya nalar harus aktif. Tanpa itu, kebenaran tak dapat diungkap.

“Kita janjian di mana?”

“Di Augustinerplatz, Norl.”

“Pukul berapa?”

“Pukul empat sore. Bagaimana?”

“Baik. Kita akan terlihat atau tidak, Er?”

“Ada baiknya terlihat, Norl. Manusia tak akan peduli dengan kita.”

“Ya. Aku percaya padamu, Er demi mencari kebenaran.”

“Kita memakai baju kasual saja.”

“Beres.”

“Sampai bertemu di Augustinerplatz.”

Layar proyektor mereduksi dan menyusut. Lantas, sambungan telepon berakhir. Sebaiknya, aku segera bersiap-siap sebelum Erlan sampai terlebih dulu di sana. Aku tak mau menyia-nyiakan waktu mencari Erlan di sekeliling Augustinerplatz, nanti begitu ditemukan sudah banyak wanita muda di sisi dia. Saat itu juga, bisa batal pencarian kebenaran tentang Akshita.

Informasi untukmu; negeriku beberapa abad lebih maju dari peradaban manusia. Ku harap, kau tak kaget dengan aktivitas telepon video memakai pewayang pandang. Tanah aku diciptakan dan duniamu kurang lebih sama untuk kegiatan dan kesibukan individu secara umum. Hanya teknologi yang berbeda jauh.

Apabila penulis cerita menceritakan ‘alam buatannya’ kebanyakan bertema abad pertengahan didominasi sihir bersama karakter makhluk mitos, aku tak akan bercerita tentang itu. Memang, ilmu sihir di sini sekali waktu terpakai. Bukan tanpa sebab, untuk menyempurnakan teknologi yang sudah dibuat. Sesekali, sihir diperlukan agar kehidupan negeri tetap berjalan.

Teknologi versus sihir, mana lebih unggul? Keduanya mempunyai keunggulan masing-masing untuk kelangsungan hidup negeri. Aku pribadi, lebih suka memakai teknologi pada aktivitas harian. Tak mungkin juga aku memanggil seekor Simurgh kalau bukan keadaan genting. Apalagi cuma berpergian dalam negeri.

Aktivitas lain adalah kegiatan menelpon. Teknologi amat membantu makhluk sepertiku yang sangat malas menggunakan telepati untuk memberitahu sosok lain. Membuang energi umpama setiap hari harus begitu. Tanpa adanya teknologi, belum tentu aku lebih cepat sampai ke portal umum menuju dimensi lain.

Bayangkan portal umum ke dimensi kau tuju ada di hutan wilayah utara, letak hutan di ujung negeri. Misal menaiki kuda ke wilayah utara, berapa lama waktu di tempuh dengan berkuda?

Di mana hewan mitologi sering diceritakan beberapa penulis untuk tunggangan makhluk mitos? Peraturan di sini, hewan mitologi tak akan digunakan kalau tak terdesak. Kedua, hewan mitologi adalah hewan dilindungi. Tak bisa sembarangan kau ‘membawa pulang’ mereka tanpa izin para raja wilayah.

Mencuri hewan mitologi dengan alasan ‘perjodohan’ untuk membantu manusia perbuatan dilarang. Kau melanggar, akan kena sangsi atau hukuman berat. Jadi, kalau kau ingin berkunjung ke sini suatu saat, ikuti peraturan. Maka, kau akan mendapatkan ‘tanda mata’ tak terlupakan. Jika tak mengikuti peraturan, kau juga akan mendapatkan ‘oleh-oleh’. ‘Oleh-oleh’ mengerikan dari penduduk negeri.

Freiburg, i’m coming.

Aku menyalin pakaian kerajaan dengan busana simpel. Sweter, sepatu kasual, dan celana jin bermodel sobek di bagian dengkul berwarna gelap. Tak ada waktu bersantai sebelum Erlan tiba di hutan wilayah utara. Ku keluar kamar turun menaiki lift ke lantai dasar.

Saat pintu lift terbuka, kakakku terkesan menyelidik, “Mau ke mana, Norl?”

Namanya Nueleth, kakak tercantik dan terbaik ku kenal di istana. Rambut ikal sedada berona platina seperti Ayah dan aku serta kornea bernuansa biru langit menampakkan daya pukau tersendiri. Umurnya tidak terlalu jauh berbeda, selisih 80 tahun saja denganku.

“Aku mau ke hutan wilayah utara, Kak.”

“Untuk apa sore-sore begini kau ke hutan wilayah utara?” Kak Nueleth menyidik. Dia kurang yakin dengan ketentuanku.

“Aku diajak Erlan ke Freiburg.”

“Ke Freiburg? Ya ampun.”

“Kalau kau ingin memarahiku nanti saja, Kak. Aku tidak ada waktu.” Lekas aku ke garasi istana menstarter motor. Kak Nueleth setengah berlari mengekor sampai ke garasi.

“Ada apa lagi, Kak? Marah-marahnya nanti saja.”

Dia terbahak, “Siapa yang mau marah?”

“Kenapa Kakak mengikutiku?”

“Gelang kesukaanmu.” jawab dia memakaikan gelang rantai padaku.

“Ya ampun. Ku kira kau mau marah.” Aku menarik napas lega.

“Memangnya wajahku kelihatan marah?” tunjuk dia.

“Tidak kok. Cuma…”

“Cuma apa?”

“Galak.”

“Kurang ajar!” Getokan keras menghunjam di kepalaku. Ngilu. Tanpa jitakan, bukan Kak Nueleth namanya. Tempelengan sayang ke adik, jawab dia begitu setiap ditanya.

“Aku berangkat, Kak.”

“Hati-hati di jalan.” ucap dia tersenyum.

“Terima kasih, Kak.”

Setelah motor siap, aku memakai kacamata motor. Jangan tanya kenapa tak memakai helm. Kacamata motor sudah termasuk helm tembus pandang, kau akan tetap bergaya dengan tatanan rambutmu tanpa harus takut berantakan atau lepek setelah sampai di tujuan.

Motor melaju meninggalkan mobil-mobil milik pangeran yang terparkir di garasi. Semoga, Erlan tak mendahuluiku ke Augustinerplatz. Aku mengegas motor agar cepat sampai hutan. Jalan penghubung wilayah pusat dan utara ramai lancar, tak ada kemacetan berarti selain lampu lalu merah.

Ku mencepatkan motor dengan kecepatan maksimal ke Hutan Delta Experimental. Berpacu dengan waktu, bersalip-salipan sekuat kemampuanku. Kiat mengebut berjalan mulus sampai kilometer ke lima belas. Di lima kilometer berikutnya berbandingan.

Peluit memperdengarkan bunyi nyaring pada kilometer ke dua puluh. Tiga sosok Saint memberhentikan motor, memintaku menepi di pinggir jalan. Kalian jangan membayangkan sosok kesatria zodiak pelindung Dewi Athena pada kartun Jepang tahun sembilan puluhan atau sebutan katolik untuk sosok laki-laki kudus. Di sini, tugas Saint sama seperti polisi.

Para raja mengklasifikasi Saint memakai nama zodiak bukan asal-asalan. Hal tersebut dikelompokkan berdasar inteligensi emosional individu, inteligensi encer, inteligensi terkristal, dan beberapa pertimbangan lain seperti kemampuan bela diri, penampilan atau kontribusi kepada negeri misalnya.

Ketiga Saint Kanser berwarna rambut merah beranang menggaruk-garuk kepala tatkala melihatku. Mereka saling pandang-memandang. Apa karena jabatan sebagai panglima muda wilayah pusat mereka jadi segan? Aku sendiri bingung, sikap ketiganya melunak. Tak seperti biasa menegakkan peraturan negeri tak pandang bulu.

“Selamat sore, Panglima Norlorn.” ujar salah satunya. Penyuaraan dia gemetar.

Sebelum mereka menyampaikan peraturan melanggar lalu lintas, aku turun dari motor, melepas kacamata, dan memberitahu, “Tolong kirim surat elektronik tilang ke alamat pos elektronik saya.”

“B–ba–ik, Panglima.” Semua mengangguk.

“Ada yang bisa mengantar saya ke halte bus terdekat?”

“Maaf Panglima, Anda ingin ke mana?” tanya Shaka.

“Hutan Delta Experimental.”

“Bagaimana jika saya antar hingga ke pintu masuk hutan?”

“Boleh jika berkenan.” jawabku. Raut muka Shaka nampak plong.

“Untuk surat tilang dan panggilan pengadilan akan segera dikirimkan Eldrin.”

“Baik. Terima kasih,”

“Maaf jika kami menilang Anda, Panglima Norlorn.” Athtar membungkuk.

“Tidak masalah Athtar. Seharusnya saya meminta maaf karena kebut-kebutan.”

“Apakah Anda sedang amat terburu-buru, Panglima Norlorn?”

“Begitulah.”

“Ooo…” Ketiga Saint meng-o jawabanku.

“Sudah jangan diambil pusing. Panglima juga kadang punya salah.”

“Seandainya, manusia sama seperti Panglima Norlorn.” ujar Eldrin.

“Saya juga tidak sempurna, Eldrin. Kita semua sama, berjuang untuk menjaga keamanan dan kedamaian negeri ini.”

“Panglima Norlorn jadi berangkat?”

“Tentu saja, Shaka.”

“Silakan.” Shaka mempersilakan duduk di jok belakang. Ku pakai kacamata motor, Shaka menyalakan mesin dan sirene. Hal sama dilakukan oleh Eldrin menuju ke markas Saint Kanser di kilometer ke dua puluh dua bersama Athtar membawa motorku.

Aku menilik jam di gawai. Sudah hampir pukul empat sore. Bagaimana ini? Moga-moga belum terlambat ke Augustinerplatz. Shaka menyadari kekhawatiran dari spion. Dia mengatakan, “Anda tidak perlu khawatir, saya usahakan lebih cepat.”

“Tidak apa-apa, Shaka. Santai saja.”

“Ini tugas saya sebagai Saint Kanser. Mengantar sampai tujuan tepat waktu.”

“Tidak perlu begitu dengan saya, Shaka.”

“T–ta–-pi…”

“Yang penting selamat sampai Hutan Delta Experimental, Shaka.”

“Baik, Panglima.”

Obrolan santai dengan Shaka tertahan saat melewati jalan pintas ke Hutan Delta Experimental. Saint Kanser dikelompokkan berdasar kemampuan individu yang mencakup pemahaman verbal, keterampilan numerik, dan penalaran induktif. Kemampuan itu dinamakan inteligensi terkristal.

Medan cukup terjal membikin terkesan. Aku salut pada Shaka berusaha melaksanakan tugas dengan baik. Tepat lima belas menit menaklukan medan, kami sudah sampai depan gerbang Hutan Delta Experimental.

Sesuai namanya, Hutan Delta Experimental bukan sembarang hutan. Hutan tempat tinggal ilmuwan negeri dan pengajar ilmu sihir. Dari hutan ini terlahir penemuan paling mutakhir dan ilmu sihir terbarukan. Sihir lama yang diperbarui. Pengembangan teknologi untuk memajukan sumber daya penduduk dan alam.

“Satu portal ke Augustinerplatz.” ucapku pada penjaga gerbang.

“Silakan Anda belok kiri, Panglima Norlorn.”

Salah satu penjaga dari bangsa Hobgoblin mengantarkan ke sebuah portal bernuansa biru malam terletak di badan pohon Dafnah. Hanya ada di Hutan Delta Experimental jenis pohon dari Eropa Selatan bisa tumbuh dengan baik. Pohon setinggi delapan meter bak memanggil.

“Silakan, Panglima Norlorn.”

“Terima kasih, Yoro.” Aku memberi salam perpisahan lalu memasuki portal.

“Semoga selamat sampai tujuan, Panglima Norlorn.” Sayup-sayup terdengar suara Yoro, kemudian tak terdengar lagi.

Belum ada portal yang benar-benar langsung ke Augustinerplatz, semua berakhir di pusat masing-masing kota. Augustinerplatz merupakan bagian dari Freiburg. Maka secara otomat aku tiba di pusat kota Freiburg dan harus melanjutkan perjalanan ke Augustinerplatz.


Ga muat emoticon-Nohope
Lanjut dibawah ya
Diubah oleh 3121X
Belum ada portal yang benar-benar langsung ke Augustinerplatz, semua berakhir di pusat masing-masing kota. Augustinerplatz merupakan bagian dari Freiburg. Maka secara otomat aku tiba di pusat kota Freiburg dan harus melanjutkan perjalanan ke Augustinerplatz.

***


Kecipak.

Bächle
lagi? Kenapa pendaratanku selalu berakhir terperosok di sini? Legenda berkata jika terperosok tanpa sengaja akan menikahi orang Freiburg. Aku akan menikahi orang Freiburg? Jangan. Itu berat. Kecuali Akshita masih di Freiburg, baru benar.

Berjalan-jalan di kota Freiburg selalu menarik. Selain Bächle di mana-mana, jalan kota dipenuhi batu-batu pengganti aspal. Uniknya, batu-batu pengganti aspal membentuk mosaik di jalan menggambarkan fungsi setiap bangunan. Contohnya pusat pertokoan di Freiburg, kau akan menemui mosaik bergambar barang dijual pada setiap toko. Sederhananya, kau mampir ke toko buku, mosaik akan menggambarkan buku dan seterusnya.

Titik pendaratanku hari ini sejujurnya cukup bagus, di gerbang kota, The Mantistor. Salah satu bagian kota dibangun pada awal abad ke-13. Ada rasa bangga melihat menara bersejarah andalan Mantistor setinggi 60 meter tetap kokoh berdiri. Gagah. Mengalahkan lambang paling masif sedunia: restoran cepat saji Mc.Donald.

Disebelah menara, restoran Mc.Donald tak diperbolehkan memasang lambang huruf M besar seperti umumnya. Gerbang Mantistor berkubah runcing seperti senjata prajurit berkuda sehingga menimbulkan kesan sosok pahlawan laki-laki penjaga kota.

Tak ada hal paling menyenangkan beranjak melanjutkan perjalanan ke gerbang kota Freiburg satunya, The Schwabentor. Gerbang Schwabentor memiliki keunikan berbeda, puncak Schwabentor berbentuk bulat layaknya kubah masjid. Jika kalian menengok lagi gerbang Mantistor mengesankan sosok pahlawan laki-laki penjaga kota, Schwabentor bagai srikandi pendamping pahlawan laki-lakinya.

Sebelum mencapai Schwabentor aku singgah di Augustinerplatz, tempat kami janjian. Sebuah tempat alternatif bernuansa mediteranian. Augustinerplatz selalu dipenuhi orang-orang ingin menghabiskan waktu luang. Menikmati secangkir kopi atau sekadar santai melihat atraksi muda mudi Augustinerplatz sambil duduk di anak tangga. Para muda-mudi memainkan alat musik, akrobat, dan atraksi lainnya. Di mana Erlan?

Jika Erlan belum sampai, aku ingin menikmati lebih lama atraksi akrobatik andalan muda-mudi kekinian di Augustinerplatz sembari meluruskan kaki sejenak. Beberapa turis sibuk memotret atraksi muda-mudi. Ada juga pengunjung lain melepas lelah dengan berbincang-bincang sambil menikmati kopi mereka.

Selesai akrobatik, atraksi berganti kelompok muda-mudi bermain musik. Sebagian pengujung dan turis riuh rendah mengerumuni pertunjukan. Sekurang-kurangnya, muda-mudi Augustinerplatz sangat kreatif. Augustinerplatz menjadi tempat paling menghibur hari ini. Tetiba, ada seorang perempuan datang mendekat.

“Hello, are you from Freiburg?” Perempuan itu bertanya.

Aku mengangguk, “Yes.”

Dia tersenyum ketika ada jawaban “ya” dariku. Tampaknya, perempuan ini mahasiswi di salah satu universitas kota. Melihat dari penampilan cukup bergaya dengan rambut Bayalage sebahu berwarna merah anggur, berbadan mungil, mempunyai mata bulat, berhidung kecil, memakai kaos, sepatu pantofel, dan rok selutut.

“I am Erina from Nagoya, Japan.”

“I am Norlorn,”

“I’m student from Albert Ludwig University of Freiburg, would it be allright if I asked you a few questions?”

“Please, go ahead.”


Aku mempersilakan Erina duduk di sebelahku. Erina menaruh ransel di pangkuan dia seraya mengeluarkan gawai dan memohon izin merekam wajahku memakai kamera. Duh, memangnya aku kelihatan di kamera?

Ku tolak dengan halus permintaan Erina dan menawarkan cara lain, merekam jawaban pertanyaan via suara. Syukurlah, Erina menyetujui penawaran dan mulai memberikan pertamyaan. Melakoni perbincangan singkat bersama Erina cukup menyenangkan, hitung-hitung menambah pengetahuan karakter para nona.

Erina memintaku mengisi kuisioner untuk melengkapi wawancara. Erina mengucap terima kasih setelah semua pertanyaan kuisioner terisi. Dia beringsut dari anak tangga memohon pamit dan berlalu. Sudah cukup lama aku di sini, Erlan belum tampak warna rambutnya. Sebetulnya dia niat tidak sih bertemu di Augustinerplatz? Jangan-jangan, Erlan lupa janji baru dia ucapkan.

Aku berharap dia cuma terlambat bukan lupa. Terlambat lebih baik dibanding dia sampai terlebih dulu kemudian alpa karena sibuk merayu wanita muda Freiburg. Wajar ‘kan merayu wanita? Wajar bagiku jika tidak sering. Kalau setiap hari, itu adiktif namanya.

Sudah cukup! Lebih baik pulang daripada menunggu terlalu lama playboy cap hiu. Aku berdiri hendak meninggalkan anak tangga, mencari tempat sepi untuk membuat portal pulang cadangan.

“Norl!” Panggil sebuah suara beberapa meter dari tempatku berdiri.

Akhirnya playboy cap hiu datang juga. Hanpir aku pulang karena menunggunya.

Erlan menyamperi ke anak tangga. Dia cengar-cengir bagai menyadari keterlambatan agar diberi kompensasi. Sungguh terlalu.

“Maaf aku terlambat, Norl.”

“Hampir aku mau pulang karena ku pikir kau lupa janji.”

“Aku tidak lupa. Hanya ada urusan mendadak.” Dia cengengesan.

“Ya sudah aku maklumi. Aku juga sempat kena tilang Shaka, Eldrin, dan Athtar.”

“Oh ya?” Mata Erlan terbuka lebar-lebar, syok mendengar pengakuanku.

“Salahku juga buru-buru dan mengebut.”

“Bagaimana dengan ayahmu, Norl?”

“Entah. Paling setelah ini aku disidang di istana oleh dia.”

“Tabahlah.”

“Aku mengebut juga demi kau, Er. Ku pikir, kau sudah sampai di sini lalu menggoda wanita muda Freiburg,”

Erlan memanyumkan bibirnya. Dapat dilihat, dia merasa tersindir oleh pernyataanku. Biar saja. Salah sendiri terlambat ke Augustinerplatz tanpa memberi kabar. Bertepatan Erlan masam mukanya, pertunjukan musik muda-mudi usai.

“Ya… ya… maafkan aku, Norl.”

“Sebaiknya langsung saja, Er.”

“Hmmm…?”

“Soal Akshita.”

“Oh, hampir saja aku lupa,”

“Jadi bagaimana, Er?”

“Penampilanku bagaimana?”

Masih sempat-sempatnya memikirkan penampilan? Erlaaan…!!”

“Menurutmu sendiri bagaimana? Ayolah aku tidak ada waktu.”

“Tapi di sini baru pukul delapan pagi. Kenapa tidak memperhatikan penampilan dulu?”

Benar-benar anak ini. Dia pikir, aku tak ada urusan lain selain menemuinya di Augustinerplatz? Penampilan saja dia urus. Akshita lebih penting bagiku daripada mengurus penampilan Erlan. Iya, aku mengaku jujur dia memang berpenampilan bagus pagi ini. Memakai kaos rangkap jaket kulit mempunyai warna hitam manggis, celana buntung, dan sepatu kets membungkus kaki dia.

“Tidak ada yang salah dengan penampilanmu, Er. Kau jadi tidak memberitahuku?”

“Pertama kali kau bertemu dengan dia di mana?”

Bächle.

“Selain Bächle?”

“Di The Freiburger Münster.”

“Gereja arsitektur gotik di Münsterplatz ‘kan? Tempat paling sering kau bertemu dia di mana?”

“Di The Freiburger Münster.”

“Aku sepertinya menemukan titik cerah, Norl.”

“Apa?”

“Kau tadi bertemu sosok manusia mirip cinta pertamamu ‘kan?”

“Iya.”

“Kenapa kau tidak kulik informasi darinya dan ajak ke The Freiburger Münster?”

“Mana bisa, Er. Kau memberi cara yang masuk akal dong!”

“Kau bisa sabar tidak sih? Aku sedang berpikir.”

Erlan duduk di anak tangga, dia mengeluarkan sebuah buku saku dan pulpen dari kantong celana. Fungsi buku itu untuk apa? Mirip intelijen saja. Erlan membuka buku sambil menuliskan sesuatu, membentuk brain storming nama Akshita di tengah kertas. Membentuk banyak anak cabang hampir memenuhi lembaran buku.

“Norl,” panggil dia.

“Ya?”

“Inti masalahmu, bukan hanya hilangnya Akshita tapi wanita kau temui tadi. Benar?”

“Tahu dari mana kau soal itu?”

“Maximillian.” Erlan cekikikan.

“Pinguin itu seenaknya saja buka rahasiaku!”

“Ada masanya rahasia harus diungkap untuk petunjuk, Norl.” Dia berdeham. Kornea kepunyaan dia tersembunyi suatu ekspresi tak ku mengerti.

“Aku kurang suka kalau ada yang membeberkan dan membuka buku harianku.” Rupa mukaku amat malu. Dia ingin balas dendam rupanya? Nanti akan ku balas balik.

“Kau ingin menemukan cinta pertamamu tidak?”

“Sangat ingin.”

“Itu alasannya aku datang terlambat, Norl.”

“Ya… ya,”

“Maaf kalau aku lancang meminta Maximillian membaca buku harianmu.” Erlan merundukkan kepala.

“Sudah kejadian, Er.” Aku ikut duduk di sebelah Erlan. Melihat berbagai ide dia di buku membuat mata juling. Mau tak mau harus ku coba semua di mulai dari daftar paling pertama. Ide umum dilakukan sosok playboy.

“Kau amat mencintainya ya?“

“Tidak perlu aku jawab, Er.”

“Cara paling mudah kau datang lagi pada wanita mirip Akshita hari ini dan mengusut masa lalunya.” ujar Erlan menepuk bahuku.

“Tidak semudah tulisanmu,”

“Mana Norlorn ku kenal?! Norlorn panglima muda paling bijaksana dan tidak gampang menyerah?”

Perkataan Erlan bagai cambuk haribu di hati. Kenapa urusan asmara selalu rumit? Andaikan Maximillian tak tersesat, aku tak akan sibuk mengurusi perasaan lama tumbuh kembali. Sangat mengesalkan!

“Aku tahu. Tapi soal asmara ini terlalu antik, lebih dari karakter Dilan pada novel buatan Pidi Baiq,”

“Jangan menyerah, Norl.”

“Mengucap mudah, melakukan sulit.”

“Pasti kau akan menemukan kebenaran itu,”

“Aamiin.”

“Akan menjadi realitas yang terpajan kalau kau ikuti aturan permainan,”

“Semoga, Er. Aku juga berharap kebenaran akan dipamerkan semesta.”

“Semangat!” Erlan tersenyum.

Terima kasih, Er. Kalau tak ada kau, aku pasti makin pusing memikirkan perasaan tak jelas bersama sosok tak tahu di mana rimbanya kini.
”Kau melamun, Norl?” Erlan mengibaskan tangan pelan di mukaku.


“Tidak.” Aku menggeleng.

“Bagaimana kalau kita mengisi energi dulu sebelum melaksanakan misi?” tawar Erlan.

“Ide bagus.”

“Tidak lengkap rasanya kalau berkunjung ke Freiburg cuma di Augustinerplatz. Betul?”

“Kafe Kastaniengarten Biergarten di Kanonenplatz?”

“Itu dia maksudku. Ayo Norl!”

“Mari berangkat.”

Putensteak dan Apfleschorle , yummy…”
Spoiler for Putensteak:

Spoiler for Apfleschorle:



“Aku setuju, Er.”

Kami berpindah dari anak tangga meninggalkan jalanan tak bersuara. Lengang melagukan langkah keluar dari Augustinerplatz. Penyelesaian masalah sudah di tangan. Tak ada salahnya mencoba semua cara sampai titik penghabisan. Kita tak akan pernah menemukan kebenaran jika tak berusaha apa-apa. Jangan pernah berhenti menyelesaikan masalahmu kalau kau masih sanggup melewatinya.
om norlorn ... gmn kabar nya ?? emoticon-Malu
Balasan post vhytha
Quote:


Lagi repot persalinan. Tritnya libur dulu wakaak
Balasan post viviangj
semoga persalinan lancar & sehat semua ya
Balasan post viviangj
syepiii

3. Realitas Yang Terpajan (2)

Tutup.

Kami berpandangan. Kafe Kastaniengarten Biergarten diam seribu bahasa. Tak ada aktivitas. Kursi dan meja tak lebih dari memento mori. Berkabung, meninggalkan memori episodik hari sebelumnya. Yang benar saja? Padahal aku belum makan.

“Norl, di dimensi ini sekarang hari, tanggal, bulan, dan tahun berapa?”

“Senin, sembilan Januari Dua ribu tujuh belas.”

“Pantas saja tutup. Kita lupa akan hal ini, Norl.” Erlan menepuk dahi.

“Hari Senin libur.”

“Padahal aku sedang ingin Putensteak mit Pommes.

“Makan di istana saja, Er. Adome bisa membuatnya.”

“Boleh juga usulmu, Norl.” Erlan kesenangan mendengar penawaran makan di istana.

“Kita dituntut berpikir secara cepat dan tepat dalam strategi ‘kan, Er?”

“Kau benar, Norl. Strategi tepat waktu kafe tutup adalah makan di istana.” Erlan tertawa.

“Yang penting hari ini kita bisa makan. Ya ‘kan?”

“Yeah!”

“Titik portal untuk pulang ada di mana?”

“Di Schlossberg, Norl.”

“Bagus kalau begitu, kita tidak perlu ke The Mantistor.”

“Kali ini kita mujur. Aku tidak bisa membayangkan saat menuju portal berjingkrak-jingkrak dulu di Böchle.

“Kita bisa dikira gila berjingkrak-jingkrak menggapai portal, Er.”

“Malangnya kita kalau begitu.”

“Kecuali kalau Parkour.” Aku menyelang.

“Apa?!” Erlan mencelikkan mata.

“Ayo Parkour.” ajakku. Aku tahu, Erlan akan menolak begitu saja usulan ke Schlossberg sekalian berolahraga Parkour. Roman dia pucat seperti mayat. Dari dulu dia tak suka Parkour selama kami sekolah. Menyusahkan kata dia. Setiap ada tes, Erlan selalu bolos.
Spoiler for Parkour:


Schlossberg secara harfiah berarti Gunung Kastil. Dari sini, kau akan dimanjakan dengan penglihatan fenomenal. Keseluruhan kota beserta Hutan Hitam yang mengelilinginya. Walau Erlan menolak, aku tetap mengajaknya Parkour hingga ke Schlossberg. Dari belakang, dia agak tertinggal. Kemampuan Erlan boleh juga melakukan Parkour. Dia melawan ketakutan dengan sukses.

Kami sudah sampai di Schlossberg, Erlan kelihatan kelelahan menyusulku duduk di bangku taman. Sudah kukatakan tadi, Jika kau ke Schlossberg, pemandangan itulah yang tampak. Kemodernan kota bergabung bersama keindahan alam Hutan Hitam. Eksentrik sekaligus luar biasa.

Sebelum ke puncak Schlossberg, aku memang sengaja singgah di taman mengistirahatkan Erlan. Taman besar lengkap dengan bangku-bangku dan teras untuk berkumpul bersama keluarga atau teman. Beberapa orang terlihat asyik membaca buku. Begitu juga aku, membaca buku pemberian Erlan berisi trik mendekati wanita kutemui saat tersesat di desa.

“Kau ini menyiksaku, Norl.” Napas Erlan terengah-engah. Dahinya berpeluh sebesar biji jagung.

“Olahraga, Er.” Aku mengikik.

“Norlorn, yang kau lakukan itu jahat!” Erlan mengerucut dan memajukan bibirnya. Aku yang tadinya ingin meminta maaf, malah jadi tergelak pada Erlan.

“Er, kau tidak trans karakter Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta musim kedua ‘kan?”

“Sejak kapan aku suka menonton film jenis roman buatan manusia, Norl?” Erlan mendengus di bangku.

“Aku pikir kau kerasukan aktris Indonesia Dian Sastrowardoyo,”

“Sembarangan kau! Mana bisa manusia merasuki kita, Norl?”

“Barangkali kau pengagumnya sehingga jiwa dia merasukimu.” Aku tambah terbahak mengatakan kalimat itu meski reaksi didapat adalah raut muka Erlan memerah.

“Sudahlah, ayo kita ke puncak dan jangan Parkour lagi!”

Erlan berkacak meninggalkan bangku taman menuju puncak Schlossberg. Berjalan sendirian meninggalkan aku di belakang. Erlan jika sudah merajuk pasti begitu. Tak peduli sosok di belakangnya. Biarkan saja, dia tak akan tega meninggalkan aku di sini.

Dia menoleh, “Ayo Norl!”

Benar ‘kan? Dia bisa cepat meredam sifat ambekan miliknya bila aku tak melawan keinginan dia kurang sukai. Di puncak Schlossberg, portal berwarna keunguan menanti kami berharap cepat kembali. Untuk sesaat, kami berhenti bergerak menikmati horizon terbentang lebar di hadapan.

Semua kami dapat tanpa harus bersusah payah mendaki gunung terjal berjarak dengan kemajuan. Bahkan, anak-anak bisa sampai tanpa kelelahan atau kehabisan napas. Kecuali, kau memaksakan diri ke Schlossberg melakukan olahraga menguras tenaga seperti Parkour. Hehehe…

Kota Freiburg berhasil dengan gemilang menyeimbangkan modernitas, sejarah, mitos, dan kekayaan alam. Gabungan unsur yang menguatkan jati diri kota.

Hari ini hanya ada kami di puncak. Tepatnya, sudah tak menampakkan diri pada pengunjung agar memudahkan perjalanan pulang sebelum penduduk kota geger memberitakan dua pemuda hilang tanpa petunjuk di puncak Schlossberg.

Erlan maju memasuki portal dua detik sebelum aku masuk. Keadaan Schlossberg menyuram, pintu gerbang pembatas negeri dan kota Freiburg akhirnya menutup, lalu semua penglihatan menggelap.

***


“Norl…!!”
Erlan melaung di luar. Aku melongok, meninjau dari belakang. Kenapa kami ada di sini? Seharusnya kembali ke Hutan Delta Experimental, bukan di Hutan Cahaya. Hamparan rumput belang berayun lambat terkena angin utara, menyiarkan ejekan padaku dan Erlan. Mengolok-olok ketelitian dua panglima muda penjaga negeri.

“Kau bilang portal pulang ada di Schlossberg! Kenapa kita di sini, Er?”

“Maaf, Norl. Aku salah ambil rute.” Erlan menggaruk-garuk kepala.

“Lain kali lihat lebih teliti portal itu benar atau tidak, Er.”

Dasar! Kenapa kau ceroboh saat keadaan mendesak begini, Er?

“Terpaksa kita keluar dari sini dan menaiki bus ke Hutan Delta Experimental.” Erlan memberikan jawaban. Dia berpasrah diri.

“Portal cadangan,”

“Motorku masih di Hutan Delta Experimental, Norl.”

“Tidak usah repot, kau hubungi saja Shaka, Er.”

“Oh iya. Betul juga,”

“Kita dituntut berpikir secara cepat dan tepat dalam strategi ‘kan, Er?”

“Tidak usah diulang, Norl! Aku tahu.” Dia berdengus. Tatapannya jengkel. Sekarang rasakan pembalasannya, Er dari Augustinerplatz. Tak enak ‘kan dibuat kesal? Aku juga sama, tak menyenangkan menunggu kau terlalu lama.

“Itu karena kurangnya ketelitianmu, Er.”

“Maaf.”

“Kau saja yang buat portal cadangan ke kerajaan Etchaland. Pastikan kali ini kau benar!”

“Iya-iya.” Erlan memandang kalung dia. Berkonsentrasi pada bandul memusatkan fokus matanya. Cakram mengeluarkan sinar hijau terang, cahaya semakin besar membentuk pintu masuk.

Baguslah, Erlan sudah kembali konsentrasi untuk membuat portal ke kerajaan Etchaland. Setidaknya, dia membuat jalan masuk ke istana sudah benar. Tak seperti kejadian Schlossberg. Amat yakin berkata portal pulang ada di sana, tapi nyatanya salah rute. Memang, Hutan Cahaya dan Hutan Delta Experimental berdekatan. Hanya, Hutan Cahaya di posisi kilometer ke sepuluh setelah Hutan Delta Experimental.

Siapa yang ingin ke Hutan Delta Experimental jika menempuh perjalanan memakai kaki atau bus? Aku sih tak akan melakukannya. Keputusan konyol sekaligus nekat berjalan kaki ke Hutan Delta Experimental. Naik bus masih memungkinkan meski lebih lama dibanding motor. Sesampainya di sana, hanya akan menyusahkan sosok lain membawa tubuh keadaan pingsan karena jalan kaki atau basah kena keringat. Tak seksi sama sekali.

“Ayo, Norl!” Erlan mengeret tanganku agar memasuki portal.
Barisan pepohonan hutan melambaikan dahan salam berpisah. Erlan mengangguk, tersenyum seraya menutup portal. Sinar hijau terang mengelam, menganeksasi visual berganti pemandangan gerbang istana.


Kerajaan Etchaland, pukul 3.30 waktu setempat

Pengawal istana melihat dan memperhatikan kami, tatapan mereka ganjil. Apa yang salah? Para hulubalang menjenak sesuatu yang kurang dariku. Erlan mencelang, risih dengan tilikan kritis dari gerbang.

“Sudahlah, kau jangan memikirkan para pengawal, Er.” Aku merisik.

“Apa yang salah tanpa motor, Norl?”

“Tidak ada,”

“Kenapa pengawalmu menatap kita begitu?”

“Kau mengerti maksudku ‘kan?”

“Oh iya, kau habis dbaikang.” Erlan tersungging. Disusul kikik darinya.

“Jangan diperjelas dong.”

“Maaf, aku tidak bisa menahan tawa,”

Erlan berjalan mengikuti sampai ke teras istana. Dari samping teras, Adome, pelayan utama istana tengah memarkir motor ke garasi. Motor berkelir hitam telah terparkir di tempatnya. Ayah sudah pulang. Setelah ini, pasti akan ada sidang di ruang kerja Ayah.

Adome melihat kami dari garasi sembari menghampiri, “Selamat sore Tuan Muda Norlorn dan Tuan Muda Erlan.”

“Selamat sore, Adome.” balas kami.

“Tuan Muda, Tuan Nyvorlas meminta Anda menghadap ke ruangannya.”

“Terima kasih untuk pesannya, Adome.”

“Sama-sama, Tuan Muda.”

“Kurasa ini akan gawat, Norl.” Erlan menyeletuk. Mengangkat bahu.

“Sepertinya begitu.”

Kami masuk ke istana menuju lift sebelah ruang tamu berdekatan dengan tangga lantai satu. Erlan menekan tombol buka sambil memencet angka lantai dua, tempat ruang kerja beserta kamar Ayah. Sebelah ruang kerja adalah kamarku, dan kamar Kak Nueleth.

Lift bertolak ke lantai dua kemudian berhenti. Pintu lift terbuka menimbulkan bunyi desis seperti mengantarkan kami menemui tujuan masing-masing. Erlan ke kamarku, aku ke ruang kerja Ayah. Ayah pasti sudah tahu motor tak ada di garasi karena kecerobohan soal berlalu lintas.

Kuketuk pintu ruang kerja Ayah. Tak ada jawaban. Lebih baik aku tunggu di depan pintu. Mungkin, dia sedang melakukan hal lain di dalam sehingga ketukanku tak dia dengar.

“Masuk,” kata dia dari proyektor di pintu.

Kubuka pintu ruangan. Di sofa, Ayah sudah menunggu. Romannya, dia akan menanyaiku soal pelanggaran lalu lintas kulakukan sebelum ke Freiburg. Mimik Ayah gamblang mengemukakan keseriusan sekaligus kegusaran.

“Duduk!”

Aku mengangguk. Menduduki sofa berhadapan dengan sofa Ayah duduki. Tanpa basa-basi, Ayah menikamku dengan sejumlah pernyataan dan pertanyaan mengenai tujuanku pergi ke Freiburg bersama Erlan.

“Ayah mendapat laporan dari Shaka, kau melanggar lalu lintas!”

“Maaf. Aku tak akan mengulangi lagi, Ayah.”

“Dengar, jangan sampai kau mengulangi ulahmu! Jika kau mengulanginya, Ayah berhak mencabut jabatan dirimu sebagai panglima muda. Paham?!”

“B–ba–ik, Ayah.”

“Untuk apa kau ke Freiburg!?”

“Aku—“

“Jawab Ayah, Norl…!!”

Suara Ayah menggelegar bak menggetarkan barang-barang disekitarnya. Tamatlah reputasiku sebagai anak di mata dia apabila Ayah sudah berteriak. Haruskah aku menjawab jujur pertanyaannya? Mencari realitas yang terpajan dari seorang perempuan bangsa manusia?

“Aku tidak bermaksud—“

“Jawab Norl!”

“Aku hanya mencari kebenaran, Ayah.”

“Kebenaran apa yang kau maksud, Norl?”

“Aku mencari sosok perempuan dari bangsa manusia, Ayah.”

“Bangsa manusia!?”

Ayah mencelang. Dia tak terima jawabanku. Apa sebenarnya mau Ayah? Dia ingin menjodohkanku dengan salah satu putri bangsawan kerabatnya? Andai iya, aku tak akan pernah menerima perjodohan sekali pun Ayah memaksa.

“Iya, Ayah.”

“Keputusan konyol!”

“Apa masalahnya, Ayah?”

“Kau tak ingat Norl, sudah berapa ribu penduduk hilang setelah pergi ke dimensi manusia?!”

“Aku mengerti, Yah.”

“Lantas, kenapa kau ke Freiburg?!”

“Aku mencari kebenaran, Ayah.”

“Tak ada jawaban lain?”

“Memang hanya itu. Apa Ayah berniat menjodohkan diriku dengan salah satu putri bangsawan kerabat Ayah?”

“Apa maksudmu?!” Ayah menggertak. Ow.. Ow… kali ini Ayah sungguh-sungguh marah.

“Kalau Ayah melarangku mencari kebenaran untuk perjodohan, maaf aku tak bisa menerima.”

Ayah serangsang, visibel dia membuntang. Perselisihan antara Ayah dan aku mungkin tak akan berakhir dalam hitungan jam, bisa jadi berlanjut hingga beberapa hari. Ayah senantiasa menganggap diriku anak-anak. Di usia tiga ratus tahun, sudah sepatutnya mencari pendamping sendiri bukan dari perjodohan seandainya hari ini Ayah memintaku menghadapnya.

“Betapa bahayanya dimensi manusia, Norl!”

“Aku mengerti. Tapi—“

“Tapi apa, Norl? Kau mencintai manusia?!”

“Apa aku salah mencintai sosok manusia, Yah?”

“Sadar Norl, bangsa kita dan manusia jelas berbeda!”

“Jika cinta dimonopoli untuk makhluk terlihat, bagaimana dengan cinta dari makhluk tak terlihat?”

“Omong kosong dari mana kau ucapkan, Norl!?”

“Itu bukan omong kosong, Ayah.”

“Apa kau tidak sadar, bangsa kita tercipta oleh-Nya tidak untuk bersama manusia?”

“Jika memang iya, kenapa ada rasa cinta diciptakan dari-Nya untuk bangsa kita?”

“Tuhan maha adil. Tidak semestinya kau mencintai bangsa manusia, Norl.”

“Ayah selalu menganggapku anak-anak.”

“Ayah tidak pernah menganggapmu anak-anak!”

“Jika tidak, kenapa Ayah melarangku mencari kebenaran?”

“Satu hal harus kau ingat, negeri ini ada di dimensi empat.”

“Hubungannya?”

“Norl, Ayah tidak pernah melarangmu mencari pendamping hidup. Tapi, ingat statusmu sebagai bangsawan dan bangsa dimensi empat!”

“Aku paham maksud Ayah.”

“Belum pernah ada sejarah di negeri ini bangsa kita mencintai manusia dari dimensi ketiga!”

“Kalau begitu aku yang akan menciptakan sejarah itu, Ayah.”

“Sinting!”

Ayah melabuhkan tamparan di pipi. Apa salahnya mencintai manusia? Tak ada larangan bukan? Ayah mengalami ambivalensi . Suatu saat, Ayah akan sadar preseden dia teladani sudah menembus dimensi ruang, bahkan waktu. Betapa banyaknya bangsa dimensi empat menjadi pendamping manusia di luar sana.

“Lebih sinting jika paham lama tetap dipercayai tanpa melihat situasi.”

“Kau keras kepala, Norl!”

“Maaf, kali ini aku membantah Ayah. Aku ingin mencari jalanku sendiri.”

“Baik. Silakan kau bantah Ayah dengan satu syarat, kau bisa mempertanggungjawabkan semua perkataanmu!”

Murka Ayah berganti apologetis . Sesuai dugaan, dia hanya mengalami ambivalensi sejenak karena perbedaan cara berpikir sosok zaman lampau dengan sosok zaman sekarang. Persetan pada sejarah telah ada, aku akan menciptakan sejarah belum pernah terukir di sini, di tempat aku diciptakan berdampingan realitas.
Spoiler for apologetis:


Bersambung
Diubah oleh 3121X
Quote:


Ramein. Wekekek
Balasan post vhytha
eh ada mamih, kuy kapan mau jalan2
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di