alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b48a1ddddd770856c8b4591/prestasi-zohri-dan-rasa-percaya-diri-bangsa

Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa

Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa
Ilustrasi: Jadikan prestasi Lalu Muhammad Zohri di Kejuaraan Dunia Atletik U20 sebagai awal untuk meningkatkan prestasi dan rasa percaya diri bangsa.
Kabar itu datang tak diduga dan mengagetkan. Untuk pertama kali dalam sejarah atletik dunia seorang atlet Indonesia merebut medali dalam Kejuaraan Dunia Atletik U20. Tak tanggung-tanggung, medali tersebut adalah emas pada nomor paling bergengsi, sprint 100 meter.

Sang juara adalah Lalu Muhammad Zohri. Usianya baru 18 tahun, berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sekalipun berlari di lintasan paling pinggir, Ia melesat bak anak panah, mengalahkan dua pelari putra Amerika Serikat dengan catatan waktu terbilang luar biasa, 10,18 detik. Hanya terpaut 0,01 detik dari rekor nasional yang dipegang Suryo Agung Wibowo.

Keruan saja kabar tersebut disambut gempita oleh para pemerhati olahraga di Indonesia. Juara dunia, meski dalam kelas junior, bukan sebuah pencapaian yang main-main.

Perhatian masyarakat pun teralihkan dari ramainya turnamen sepak bola terakbar, Piala Dunia 2018 di Rusia, yang memasuki babak-babak akhir. Walau tim nasional Indonesia tak bermain di sana, nyaris sebulan ini perhelatan tersebut membuat banyak warga yang kurang tidur.

Atletik, walau disebut sebagai ibu dari segala cabang olahraga, bukanlah cabang yang populer di Indonesia. Memang saat ini semakin banyak orang yang menggemari lari--5K, 10K, hingga Marathon--tetapi lebih pada gaya hidup dan upaya menjaga kebugaran. Tak lantas membuat lebih banyak orang menyaksikan kejuaraan atletik.

Kita memang pernah memiliki sprinter-sprinter hebat. Ada Muhammad Sarengat, Purnomo, Mardi Lestari, hingga Suryo si pemegang rekornas. Namun mereka belum pernah menjadi juara dunia. Baru berjaya di tingkat Asia Tenggara dan Asia.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seluruh Indonesia terkejut. Bahkan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), organisasi yang sehari-hari mengamati dan melatih sang pelari sejak masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) pada Januari 2018, juga tak menyangka Zohri bisa melesat secepat itu.

Zohri adalah satu dari dua atlet yang dikirim PASI ke Kejuaraan Dunia U20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia. Satu lagi adalah Halomoan Edwin Binsar, pelari gawang 110 meter putra.

Sebenarnya selain dua atlet muda itu, ada pelompat galah putra Idan Fauzan, yang juga lolos kualifikasi untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Namun, ada kendala dengan pengangkutan galah yang ia pakai sehingga Idan tak jadi berangkat.

Target yang dibebankan PASI kepada Zohri dan Holomoan tidak tinggi. Hanya agar mereka menambah pengalaman sebelum membela Indonesia pada ajang Asian Games 2018 di rumah sendiri.

Menjadikan kejuaraan yang lebih tinggi sebagai batu loncatan untuk berprestasi di kejuaraan yang lebih rendah tingkatannya kerap terjadi di Indonesia.

Silakan cermati berbagai berita olahraga beberapa tahun terakhir. Kita bisa menemukan pengurus olahraga, juga atlet, yang menyatakan kejuaraan dunia atau Asia sebagai "pemanasan" sebelum berlaga di Southeast Asian Games (SEA Games)--yang hanya diikuti para atlet negara-negara Asia Tenggara.

Rasanya tak masuk akal menjadikan ajang yang lebih tinggi sekadar pemanasan untuk kompetisi yang lebih rendah. Dunia jelas lebih besar ketimbang Asia Tenggara. Tetapi itulah yang kerap terdengar di sini.

Hingga akhirnya prestasi tinggi seperti yang dicapai Zohri selalu disebut sebagai "kejutan". Bukan sesuatu yang sudah diantisipasi setelah melalui berbagai proses pelatihan.

Pemandangan usai nomor 100 m putra itu selesai juga bisa menjadi penanda. Dua pelari AS yang finis kedua dan ketiga langsung diberi bendera nasional mereka, sementara Zohri, yang jelas amat gembira, tampak seperti berputar di stadion tanpa tujuan selama beberapa menit.

Tak ada ofisial tim yang berlari ke pinggir lapangan menyambutnya, tak ada bendera yang diserahkan padanya. Ia bertepuk tangan sendiri.

Meski akhirnya bendera Merah-Putih datang dan diangkatnya, insiden kecil itu--yang ramai dibahas warganet--menunjukkan tidak siapnya ofisial tim Indonesia menyambut kemenangan sang atlet.

Mungkin ketidaksiapan itu adalah buah pemikiran realistis. Toh sejak Kejuaraan Dunia U20 dilangsungkan 32 tahun lalu belum pernah ada atlet Indonesia yang naik podium, apalagi juara.

Realistis jelas boleh. Namun jangan membunuh pesimisme dan jangan membatasi ambisi. Pola pikir cukup berjaya di Asia Tenggara harus diakhiri. Jadikanlah prestasi di Asia Tenggara sebagai batu loncatan ke tingkat Asia untuk kemudian menaklukkan dunia--bukan malah sebaliknya.

"Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang," Bung Karno pernah berkata.

Zohri telah membuktikan bahwa atlet Indonesia pun bisa melesat menuju langit.

Prestasi ini harus dijadikan sebagai awal, bukan sekadar kejutan, apalagi kebetulan. Kelak kita tak perlu kaget lagi ketika medali-medali kelas dunia itu datang mengalungi atlet-atlet kita.
Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...ya-diri-bangsa

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa Belajar dari penyelamatan dramatis anak-anak di Thailand

- Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa Mengatasi si miskin palsu dalam penerimaan peserta didik baru

- Prestasi Zohri dan rasa percaya diri bangsa Karut marut informasi publik di balik susu kental

Urutan Terlama
Bikin viral....jgn sampe kendor...masa kalah sama bowo..emoticon-Hammer


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di