alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b488455a2c06e00468b456a/perbankan-bisa-imbangi-fintech-melalui-kemitraan

Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan

Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan
Foto ilustrasi pengemudi Go-Jek.
Pergeseran gaya konsumen bertransaksi dari cara konvensional ke digital melalui aplikasi financial technology (fintech) membuat kalangan perbankan menjadi was-was.

Setidaknya ada sepuluh perusahaan teknologi yang menjadi kekhawatiran para bankir, merujuk riset terbaru lembaga akuntan publik Pricewaterhouse Coopers (PwC) yang dirilis, Rabu (11/7/2018).

Sepuluh perusahaan itu adalah Go-Jek Indonesia, Alibaba, Grab, Tokopedia, Telkomsel, Amazon, Google, Facebook, Indosat, dan XL.

Go-Jek berada di urutan pertama perusahaan rintisan yang dikhawatirkan para bankir. Sebanyak 72 persen bankir yang menjadi responden PwC menyetujui pernyataan tersebut.

Para bankir itu bukan mengkhawatirkan layanan antar yang ditawarkan Go-Jek, melainkan fitur Go-Pay yang saat ini memang menjadi mata bisnis utama perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim tersebut.

Keberadaan Go-Pay memang semakin memudahkan nasabah untuk mengakses segala jenis pembayaran mulai dari konsumsi, transportasi, pulsa, tiket, dan seterusnya tanpa melalui alur perbankan.

“Pengguna Go-Jek yang besar di Indonesia ditambah kemampuan mengelola data membuat perusahaan startup ini punya posisi yang unik dalam memberikan pelayanan,” sebut Consulting Director PwC Indonesia, Santoso Widjaja dalam risetnya itu.

Posisi kedua perusahaan rintisan yang membuat bankir was-was adalah Alibaba dari Tiongkok. Sama seperti Go-Jek, Alibaba juga memiliki basis data konsumen yang kuat, sehingga bisa dengan mudah mengetahui kebiasaan konsumsinya.

Data tersebut yang kemudian menjadi landasan bagi perusahaan rintisan untuk mengembangkan pelayanannya.

Sebaliknya, PwC tidak melihat pemanfaatan teknologi ini di tubuh perbankan. Dari riset yang sama, PwC mencatat hanya 38 persen bank pelat merah yang sudah memulai transformasi digital, begitu juga jumlah bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang hanya mencapai 44 persen saja.

Namun Chairil melihat kondisi ini sebagai tantangan baru bagi perbankan untuk mengambil peluang yang ada. Lagipula, sebanyak 70 persen responden masih menyetujui fasilitas perbankan konvensional terbaik ada di kantor cabang diikuti mobile banking dan internet banking.

“Secara umum yang didisrupsi oleh para perusahaan teknologi itu adalah pasar consumer banking, masih ada peluang lain jika bank cermat melihatnya,” tuturnya dalam SWA.

Perbankan juga bisa menggandeng perusahaan teknologi ini sebagai mitra bisnis. Dengan bermitra, perbankan bisa saja memanfaatkan data dari perusahaan teknologi untuk melihat potensi kredit usaha.

“Misalnya, Go-Jek memiliki puluhan ribu mitra UMKM kuliner yang tergabung di Go-Food, ini bisa dijadikan bank sebagai data mitranya yang mana saja yang layak diberi kredit usaha,” ucap Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Ajisatria Suleiman.

Potensi ini yang tengah digarap Bank Rakyat Indonesia (BRI). Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BRI, Indra Utoyo, mengatakan saat ini BRI tengah fokus dalam platform infrastruktur pembayaran dan menjadi enabler startup.

Hal ini yang memungkinkan perusahaan rintisan masuk jadi penengah antara nasabah dan perusahaan startup. Dirinya pun menolak anggapan bahwa perusahaan startup sebagai ancaman baginya.

“Kami melihat startup bisa menjadi partner yang dapat membantu meningkatkan akselerasi inklusi finansial di Indonesia,” sebut Indra dalam KONTAN.
Unggul di keamanan
Satu hal yang bisa diunggulkan dari transaksi perbankan adalah faktor keamanan dan regulasi yang diatur dalam perundang-undangan yang sah dan terukur.

Sampai saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum merilis kebijakan pun aturan menyeluruh untuk fintech. Beragamnya model bisnis fintech menjadi dalih bagi OJK untuk mengeluarkan satu persatu aturan yang sesuai.

Hal ini mengacu pada beberapa pertimbangan, yakni agar aturan tersebut tidak mempersempit perkembangan industri fintech serta menyediakan pengawasan yang mumpuni bagi semua lini.

Sejauh ini, OJK telah menerbitkan POJK mengenai fintech yang bergerak di bidang peer-to-peer lending. Aturan tersebut, yang tertuang dalam POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) terbit pada akhir 2016 lalu.

Sementara, aturan terakhir yang berhubungan dengan fintech yang dikeluarkan lembaga lain adalah Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 20/6/PBI/2018 mengenai Penyelenggaraan Uang Elektronik yang diteken pada 4 Mei 2018.

Pada prinsipnya, aturan ini mengatur penyelenggara/penerbit uang elektronik yang tidak hanya terikat pada institusi perbankan saja, melainkan bisa nonbank seperti perusahaan fintech, selama mereka mengajukan izin terlebih dahulu kepada Bank Indonesia.

Dalam aturan itu, BI juga memperketat pengawasan transaksi uang elektronik lintas batas (cross border transaction) oleh sistem pembayaran asal luar negeri, seperti Alipay milik Alibaba dan WeChat-Pay yang dikelola Tencent.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, hingga Maret 2018, baru ada 15 perusahaan fintech yang terdaftar di BI. Aturan tentang pelaksanaan pendaftaran, penyampaian informasi dan pemantauan perusahaan fintech ada dalam Peraturan BI Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggara Fintech.

Sejauh ini OJK tengah menyusun aturan tentang perbankan digital, sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan perbankan dan fintech.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana dalam KOMPAS.com menyebut, di era digital seperti saat ini, mau tidak mau kolaborasi antara perbankan dengan fintech harus terwujud. Kalau tidak, maka perbankan bisa terlibas oleh fintech.

Kendati begitu, Heru tidak memerinci poin-poin apa yang akan masuk dalam aturan tersebut pun kapan aturan itu akan diterbitkan.
Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...alui-kemitraan

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan Reformasi koperasi berbuah manis, tapi belum ideal

- Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan Sebagian besar sektor menghijau, IHSG ditutup naik

- Perbankan bisa imbangi fintech melalui kemitraan Vonis ringan untuk pembantai orangutan

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
paramex di trit techie emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di