alexa-tracking

Akuisisi Star Energy rampung, Prajogo Pangestu rajin menambah kepemilikan di Barito

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b4843bf98e31b270a8b4567/akuisisi-star-energy-rampung-prajogo-pangestu-rajin-menambah-kepemilikan-di-barito
Akuisisi Star Energy rampung, Prajogo Pangestu rajin menambah kepemilikan di Barito
Taipan Prajogo Pangestu rajin menambah kepemilikan saham di PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Selain mengeksekusi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam Penawaran Umum Terbatas (PUT) II alias rights issue BRPT Juni lalu, pemegang saham pengendali BRPT ini juga membeli saham BRPT dari investor publik.

Dalam rights issue yang digelar Juni lalu, Prajogo telah menggunakan melaksanakan haknya dengan membeli 3,15 miliar saham BRPT. Dengan harga pelaksanaan Rp 2.330 per saham, nilai transaksi pengalihan saham tersebut mencapai Rp 7,35 triliun.

Prajogo memang tidak merogoh kocek untuk mendanai transaksi tersebut. Sebab, transaksi tersebut merupakan inbreng saham dengan saham Star Energy Group Holding Pte. Ltd.

Seperti diketahui, Barito menggelar rights issue senilai Rp 8,9 triliun untuk membiayai akuisisi 66,67% kepemilikan saham di Star Energy. Baik Star Energy maupun Barito dimiiliki oleh Prajogo. Di Barito, Prajogo menguasai 71,19% dari total saham, sementara di Star Energy, Prajogo menguasai 66,67%.

Nah, 66,67% saham Prajogo di Star Energy itulah yang diambil alih Barito. Nilai transaksi akuisisi berdasarkan perjanjian yang telah diteken antara Grup Barito dan Prajogo pada Desember 2017 lalu sebesar US$ 755 juta. Barito telah membayar uang muka sebesar US$ 234,21 juta. Sisa pembayaran sebesar US$ 520,69 juta dilunasi melalui transaksi inbreng.

Selain melaksanakan HMETD dalam bentuk 66,67% saham Star Energy, Prajogo juga membeli saham tambahan pada PUT II BRPT. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, pda 26 Juni 2018, Prajogo membeli 600 juta saham BRPT dengan harga pelaksanaan Rp 2.330 per saham.

Pasca transaksi akuisisi Star Energy rampung pada Juni lalu, Prajogo juga masih agresif menambah saham BRPT. Pada periode 7 Juni-26 Juni 2018, pendiri Grup Barito itu juga tercatat beberapa kali membeli saham BRPT. Total, dalam periode tersebut, Prajogo membeli 4,9 juta saham BRPT dengan harga rata-rata Rp 2.141 per saham.

Dengan transaksi tersebut, kepemilikan saham Prajogo di BRPT bertambah dari 9,9 miliar saham sebelum rights issue menjadi 13,7 miliar saham. Jumlah tersebut setara dengan 77% terhadap total saham BRPT.

Memasuki Juli 2018, pria yang dulu populer dengan sebutan Taipan Kayu itu masih agresif menambah saham BRPT. Sepanjang periode 2 Juli-9 Juli 2018, Prajogo tak berhenti menambah kepemilikan saham di Barito.

Pada 5 Juli lalu, misalnya, Prajogo membeli 6,23 juta saham BRPT di harga Rp 1.762 per saham. Lalu, pada 9 Juli lalu, Prajogo membeli 4,97 juta saham BRPT di harga Rp 1.807 per saham.

Selama periode tersebut, Prajogo telah membeli 17,9 juta saham BRPT. Dengan harga rata-rata Rp 1.787 per saham, nilai transaksi tersebut sebesar Rp 32 miliar.

Transaksi tersebut mengakibatkan kepemilikan saham Prajogo di BRPT kembali bertambah. Kni, Prajogo tercatat menguasai 13,72 miliar saham atau setara dnegan 77,1% saham. Jadi, di luar transaksi saat Barito menggelar rights issue, Prajogo telah menambah 22,9 juta saham BRPT.

Aksi Prajogo menambah kepemilikan saham di Barito bisa dilihat sebagai bentuk optimisme pemilik terhadap prospek peruahaan. Memang, harus diakui, prospek Barito akan semakin cerah pasca mengakuisisi Star Energy.

Star Energy yang didirikan pada tahun 2003 oleh Supramo Santosa kini tercatat sebagai produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia mengalahkan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Bahkan, produksi panas bumi Star Energy termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

Saat ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) milik Star Energy memiliki kapasitas sebesar 875 megawatt (MW). Kapasitas tersebut berasal dari tiga aset panas bumi yang telah dimiliki Star Energy, yakni lapangan panas bumi Wayang Windu, lapangan panas bumi Salak, dan lapangan panas bumi Darajat. Hingga 2028, Star Energy menargetkan menjadi operator panas bumi dengan kapasitas sebesar 1.200 MW.

Akuisisi Star Energy menjadikan menjadikan struktur bisnis Grup Barito lebih komplet. Tak hanya memiliki bisnis petrokimia terintegrasi dan terbesar di Indonesia, Barito kini juga memiliki bisnis energi panas bumi terbesar nomor satu di Indonesia.

Konsolidasi Star Energi membuat bisnis Barito tak lagi pincang. Meski memiliki beberapa lini usaha, hampir seluruh pendapatan Barito saat ini bersumber dari lini usaha petrokimia. Per Desember 2017, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), lini bisnis Barito di bidang petrokimia, menyumbang 98,6% terhadap total pendapatan Barito sebesar US$ 2,45 miliar.

Kini, Barito memiliki dua lini bisnis utama, petrokimia dan energi. Wakil Direktur Utama Barito Pacific Rudy Suparman, mengibaratkan, Barito kini punya dua kaki. "Kinerja Barito bakal lebih stabil sehingga bisa berlari semakin kencang," ujar Rudy beberapa waktu lalu.

http://businessinsight.kontan.co.id/...ikan-di-barito

rajin gan
menolak lupa ksus BLBI emoticon-fuck
×