alexa-tracking

Mendeteksi Prilaku Terorisme!

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b472bcfd675d4c6178b4575/mendeteksi-prilaku-terorisme
icon-hot-thread
Mendeteksi Prilaku Terorisme!
Bagaimana Anda bisa mendeteksi perilaku yang mengarah pada tindak terorisme?

Mendeteksi Prilaku Terorisme!
Sumber Gambar


DW Indonesia -Sepekan sebelum Natal 2017, saya sempat mengontak seorang pakar terorisme untuk menanyakan "Bagaimana cara mendeteksi perilaku yang harus diawasi”.

Kawan saya ini kemudian mengajak saya makan siang dan memperkenalkan dengan pakar deteksiperilaku terkait terorisme, ia orang Arab Suriah kewarganegaraan Australia.

Pria berkulit putih ini sekarang bekerja sebagai konsultan keamanan di Indonesia yang jasanya digunakan hingga ke Malaysia untuk pelatihan anti teror. Kawan yang mempertemukan kami mengatakan beliau ini "the real terrorist hunter”.

Sepanjang tahun 2017 terduga teroris yang ditangkap Densus 88 sebanyak 172 orang!

Pada tahun 2018, paling tidak sudah ada penangkapan di tiga lokasi. Tanggal 1 Januari 2018 di Makassar ada terduga teroris yang ditangkap namun usai diinterogasi tewas dan langsung dimakamkan.

Tanggal 2 Januari 2018 Densus 88 menangkap terduga teroris di Buton, Sulawesi Tenggara (sebelumnya ada terduga teroris yang menyamar sebagai buruh ditangkap di Kendari).

Yang terbaru tanggal 9 Februari 2018, terduga teroris dan istrinya ditangkap di Indramayu, Jawa Barat. Di Makassar pun ada terduga teroris yang ditangkap namun belakangan tewas.

Berdasarkan rekaman kejadian, kenalan saya menjelaskan ciri teror Jemaah Islamiyah (JI) selalu mencari hari baik, misal Bom Natal 2000 dan Bom Bali 2002 dan 2003. Bom Bali 2002 contohnya dilakukan satu hari, satu bulan dan satu tahun setelah 11 September di New York.

Ciri aksi terorisme JI adalah masif. 

Sedangkan bagi ISIS yang penting adalah ada pelaku yang berani turun, bukan bom bunuh diri, bom paket, bom mobil tapi pelaku yang bisa menembak, menusuk dan aksi kekerasan berdasarkan kemampuan individu.

Sasaran umumnya terbagi dua yaitu hard target yang dilakukan secara terencana dan matang dengan target institusi, simbol pemerintah, sedangkan soft target dilakukan secara maraton karena aksi dadakan, perencanaan seadanya, bersifat reaktif dengan target warga masyarakat.

Pelaku di lapangan yang digerakkan oleh JI cenderung birokratis sementara pelaku yang digerakkan oleh ISIS lebih fleksibel memilih target, waktu kejadian dan alat yang digunakan. Kenalan saya memetakan motif menjadi dua yakni JI digerakkan oleh konsensus (harus ada perintah amir untuk bikin amaliyah) dan ISIS oleh narasi kebencian.

Kenalan saya ini menyakini umumnya yang didasari kebencian akan berteriak dulu sebelum melakukan aksinya.

Memahami pola pikir teroris berguna untuk memetakan perilaku teroris. Jika tidak mengerti pola pikir teroris, tidak akan bisa mengetahui indikator profil seorang teroris. Body language atau bahasa tubuh tidak bisa menipu, kata kenalan saya: "You can act but you can't fake your reaction.”

Namun pengetahuan deteksi perilaku terorisme bukan solusi mencegah terorisme dan radikalisme, yang dibutuhkan adalah membangun kesadaran untuk hidup damai bersama-sama. Narasi kebencian seharusnya tidak laku dijual di Indonesia karena semua warga negara Indonesia mengakui dan menghargai keberagaman. Pancasila sudah final menjadi dasar negara kita sehingga ide untuk mengubah Indonesia yang majemuk ini dan upaya menantang pemerintah dengan aksi teror tidak dapat ditolerir.

Penulis:
Mendeteksi Prilaku Terorisme!

Monique Rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA

Sumber Berita : DW Indonesia


Quote:
Kalimat ini bener - bener Mengejutkan. Terjawab sudah... emoticon-Hammer (S)emoticon-Belo

emoticon-No Sara Pleaseemoticon-Jangan ribut disiniemoticon-No Sara Please
No SARA - Untuk Pengetahuan Bersama emoticon-shakehand















Pertamax emoticon-Cool
males komen..mejeng aja dah

Mendeteksi Prilaku Terorisme!
KASKUS Ads
image-url-apps
Quote:


Itu bukan saran yang bisa dilakukan sama semua orang
image-url-apps
Siapapun bisa menjadi teroris bila berlebihan penafsiran dalam agama ditambah pula ekonomi yg tidak mumpuni!
image-url-apps
DENIAL adalah tanda tanda terorisme
image-url-apps
Quote:


Waw emoticon-Genit emoticon-Genit
image-url-apps
Quote:

Memetakan dan mendeteksi perilaku bagi orang awam tentu tidak serta merta bisa dikuasai tanpa pelatihan, kelak setelah pelatihan akan mampu membedakan bagaimana perilaku orang yang punya masalah pribadi dengan yang punya kebencian dari tindak-tanduknya.

Yang dibutuhkan adalah membangun kesadaran untuk hidup damai bersama-sama. Narasi kebencian seharusnya tidak laku dijual di Indonesia karena semua warga negara Indonesia mengakui dan menghargai keberagaman. Pancasila sudah final menjadi dasar negara. Info selengkapnya bisa dibaca disini emoticon-shakehand


Quote:
Mungkinkah seperti itu....
image-url-apps
Quote:


Mungkin juga
image-url-apps
Pelaku terorisme kok cepat ketangkap ya, beda sama pelaku kejahatan lain
image-url-apps
Penulisnya cakep
image-url-apps
Quote:


Hemm, boleh nih quote ini ditaro di trit rotten, byk yg suka denial disana emoticon-Ngakak emoticon-Cool
owh seperti itu yah breeee

nice info yah emoticon-Jempol
ciri2nya kyk perilaku nasbungemoticon-Ngacir
image-url-apps
p*Sara** ma g.jago juga jadi wisata artinya semua boleh masuk
image-url-apps
pejuwan dl ganemoticon-Ngakak
image-url-apps
Quote:


Kalau kata temen gw sih
Pelaku Kejahatan itu kalau udah kena buntutnya, yg kepala siap2 aja kena libas
emoticon-I Love Indonesiasemoga selalu damai Indonesiaku..
Pahami cara dan juga pemikiran mereka bukan untuk mengikuti langkah sesatnya tapi untuk mengatasi dan mengantisipasinya. Memang terkesan random, tapi pasti akan selalu ada dalangnya. Kalau tidak ada tujuan, bakalan rugi tuh matinya
image-url-apps
jaringan teroris ini banyak tingkatannya
menurut research dari australia national security
diklasifikasi menjadi:
- petarung ring1
- petarung
- supporter/pendukung
- simpatisan

yg paling banyak itu adalah simpatisan. kalo di indonesia menurut survei Alvara institut mencapai 2.2 persen dari total penduduk indoensia.
kalikan aja 2.2/100x260juta = 5.8 juta

berarti ada sekitar 5.8 juta simpatisan teroris yg siap beraksi di indonesia.
simpatisan ini tinggal dipoles sedikit lagi, langsung siap jadi petarung ring 1.

nah yg menarik gan
memulihkan pandangan simpatisan teroris ini gak bisa seperti seorang psikolog memimbing seseorang yg kelainan jiwa. karena bisa saja seorang simpatisan teroris justru seoarang psikolog..
jadi seseorang tergabung atau menjadi simpatisan organisasi teroris/radikal gak bisa dikatakan korban cuci otak, seperti yg selama ini dikatakan media atau pengamat.

biasanya orang tergabung dalam organisasi teroris karena memang ada niat, pencarian dan kemampuan, dimana tujuan akhirnya adalah kemenangan berdasar ideologi/keyakinannya. jadi orang menjadi teroris bukan semata mata karena dicuci otaknya oleh dedengkotnya siteroris.

makanya pakar teroris dari amerika serikat dalam jurnalnya menyarakan mereka yg terpapar atau simpatisan teroris sebaiknya dijauhkan dari ideologi/keyakinannya. itu cara terbaik katanya..

selama ini yg terjadi di indo lain, para anggota teroris yg tertangkap atau simpatisan2 teroris ini justru kembali diajari ilmu agama (katanya ilmu agama yg tidak menyimpang). padahal ini cara yg sangat fatal, karena justu itulah(agama) basic/dasar seseoang jadi teroris. gak akan bisa dia lepas karena basicnya aja sama.

jadi indonesia sepertinya tidak akan bisa bebas dari aksi terorisme.
makanya kita musti hati hati dimanapun kita berada..

salam
emoticon-I Love Indonesia
×