alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b45e9c714088db9648b4595/pemilih-milenial-tak-otomatis-mencoblos-calon-milenial

Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial

Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial
Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak (kiri) didampingi istri, Arumi Bachsin, menunjukkan bekas tinta pada ujung jari kelingking tanda telah menyalurkan hak pilih (mencoblos) di TPS 05 Kelurahan Ngantru, Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (27/6/2018)
Menjelang berlangsungnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018, arah pemilih milenial ramai dibicarakan. Generasi yang lahir pada periode 1980-2000 itu menjadi rebutan pasangan calon yang bertarung.

Suara para milenial dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Komisi Pemilihan Umum (KPU) proporsinya sekitar 34,2 persen dari total 152 juta pemilih. Keberadaannya kerap disebut bakal menentukan arah politik bangsa Indonesia ke depan.

Mesin politik pun berupaya mengadopsi gaya milenial dalam pilkada tersebut, mulai dari memasang calon-calon muda hingga menyesuaikan gaya berkampanye mereka.

Pada pilkada serentak di 171 daerah di Indonesia yang lalu, terdapat 52 calon kepala daerah dan 70 calon wakil kepala daerah dari generasi milenial yang turut bertarung memperebutkan dua jabatan tertinggi di daerah masing-masing.

Keberanian partai maupun gabungan partai mengasongkan calon berusia muda tersebut, salah satunya didasari oleh jumlah suara mereka yang berusia 18-38 tahun di daerah di mana mereka berkontestasi.

Walau demikian, milenial tak selalu mendukung calon yang berasal dari generasi mereka. Hasil Pilkada 2018 justru menunjukkan hanya sedikit calon milenial yang menang.

Lokadata Beritagar.id mencermati hasil hitung cepat sementara dan penetapan hasil oleh KPU yang dipublikasikan hingga Senin (9/7/2018). Dari 171 daerah tersebut ada 168 daerah yang penghitungan suaranya sudah lebih dari 90 persen sehingga sudah bisa dipastikan siapa yang jadi pemenang.

Ada tiga daerah yang tidak disertakan, yaitu Kabupaten Paniai di Papua karena pilkadanya tertunda akibat masalah keamanan; Kabupaten Mimika di Papua karena proses penghitungan suara belum masuk dalam data resmi KPU; dan Kota Makassar karena kotak kosong memenangi pilkada.
Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial

Dari hasil penghitungan tersebut, hanya 17 dari 52 calon kepala daerah generasi milenial yang berhasil memenangi pilkada, atau 32,69 persen. Semua ada di tingkat II (kota dan kabupaten).

Sementara dari 70 milenial yang maju sebagai calon wakil kepala daerah, hanya 18 yang menang, atau 25,7 persen; termasuk empat wakil gubernur di Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Dibandingkan dengan jumlah total daerah pemilihan, hanya 10 persen calon milenial yang dipilih warga menjadi kepala daerah dan 11 persen sebagai wakil kepala daerah. Bahkan tingkat keberhasilan duo calon kepala daerah dan wakilnya yang berusia antara 18-38 tahun, jauh lebih kecil lagi.

Hanya pasangan Hendra Lesmana (37)-Riko Porwanto (38) yang menang di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dan Inarius Douw (30)-Anakletus Doo (36) di Kabupaten Deiyai Papua.

Hendra-Riko didukung oleh Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Golongan Karya (Golkar), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Inarius-Anakletus diusung koalisi Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasdem, dan PPP.
Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial

Apakah itu berarti milenial masih enggan memilih calon pemimpin muda?

Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menyatakan data tersebut "tidak bisa dibaca seperti itu".

"Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan pemilih selain kesamaan generasi dan usia dengan para calon," kata Arya dalam perbincangan dengan Beritagar.id, Rabu (11/7).

"Ada faktor kapabilitas dan kecenderungan memilih inkumben yang berprestasi, tak peduli berapapun usia mereka."

Seiring tumbuhnya generasi milenial dengan pendidikan yang semakin baik, menurutnya, membuat pemilih milenial lebih mementingkan rasionalitas, bukan sekadar usia calon, suku, atau kedekatan ideologi mereka.

Bagi milenial, menurut pengamatan Arya, gagasan yang diutarakan oleh para calon tersebut menjadi pertimbangan utama mereka saat memilih. Menariknya lagi, gagasan mikro bakal lebih mengena ketimbang ide makro yang mengawang.

"Milenial itu lebih menyukai soal-soal seperti pemberantasan korupsi, pembangunan di lingkungan mikro, masalah sampah, perumahan, transportasi," tuturnya. "Ide-ide baru juga bakal lebih menarik bagi mereka," imbuh dia.

Jadi bukan usia calon yang menjadi pertimbangan utama, melainkan keyakinan bahwa sang calon bisa menyelesaikan berbagai masalah mikro yang terjadi di lingkungan tempat mereka tinggal.

Penjelasan peneliti CSIS tersebut tampaknya bisa menjelaskan berjayanya Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak di Jawa Timur.

Kang Emil—sapaan akrab Ridwan Kamil—walau bukan dari generasi milenial berhasil mengemas kampanyenya untuk menarik perhatian generasi tersebut, termasuk rajin memanfaatkan media sosial. Salah satu janji kampanyenya juga terkait dengan fasilitas bagi para generasi muda.

Emil Dardak (34) dan istrinya Arumi Bachsin (24), yang juga seorang artis ternama, sepertinya berhasil menarik para pemilih muda dan pemula di Jawa Timur untuk kemenangan Khofifah dan dirinya. Program Millennial Job Center kemungkinan berperan besar dalam merebut suara mereka.

Menurut CEO Initiative Institute, Airlangga Pribadi Kusman, kepada Antaranews, selain populer di kalangan kaum muda, Emil juga berhasil menunjukkan dirinya sebagai figur pemimpin muda yang berani dan cerdas.

Dukungan terhadap Emil dari kalangan muda tersebut, lanjut Airlangga, mendongkrak perolehan suara mereka melampaui Saifullah Yusuf-Puti Guntur.

Tren menarik perhatian milenial tersebut, menurut Arya, akan bertahan hingga Pemilihan Presiden dan Legislatif 2019. Jumlah pemilih dari generasi milenial pada saat itu pastinya juga bakal bertambah.

"Oleh karena itulah sayap-sayap muda partai saat ini mulai bermunculan. Mereka tak boleh ketinggalan untuk menarik perhatian generasi muda yang bakal mendominasi DPT nanti," jelasnya.

Arya memprediksi pertarungan sesungguhnya generasi muda politik Indonesia baru akan terjadi pada 2024.

"Kita akan lihat orang-orang seperti Ridwan Kamil, Ganjar (Pranowo), Khofifah (Indar Parawansa), atau Nurdin Abdullah, bakal menjadi generasi baru politik Indonesia dan suara milenial saat ini akan jadi pendorong mereka," tutupnya.
Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...calon-milenial

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial Pendaftaran caleg sepi cermin buruknya kaderisasi politik

- Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial IHSG ditutup di zona hijau

- Pemilih milenial tak otomatis mencoblos calon milenial Hindari perang dagang, pemerintah lobi AS lewat diplomasi

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di