alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Rakyat Suruh Nelor Sendiri?
2.33 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b45935212e2571e198b4579/rakyat-suruh-nelor-sendiri

Rakyat Suruh Nelor Sendiri?

Rakyat Suruh Nelor Sendiri?
RABU, 11 JULI 2018 , 08:38:00 WIB

RMOL. Harga telor ayam terus merangkak naik. Di beberapa daerah harganya menembus Rp 30 ribu per kilogram. Netizen ribut. Ada juga yang berkelakar: kalau harga mahal begini, apa warga disuruh nelor sendiri?

Di sejumlah pasar di Jakarta, di antaranya Pasar Kebayoran Lama, Palmerah dan Kramat Jati, harga telor berkisar Rp 28 ribu hingga Rp 32 ribu per kg. Menurut seorang pedagang di Pasar Kebayoran Lama, Endah, harga telor terus merangkak setelah Idul Fitri. Mulai dari Rp 26 ribu hingga Rp 30 ribu. Bahkan, beberapa pedagang menjual telor Rp 32 ribu per kg.

Apa yang menyebabkan harga telor naik? Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita malah mengkambinghitamkan kenaikan harga pakan. "Jadi karena bahan pakan tinggi," ujarnya saat ditemui di Gedung Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), kemarin.

Ketua KPPU Kurnia Toha berjanji akan mendalami dan mencari tahu penyebab kenaikan tersebut. Salah satunya, kemungkinan adanya kartel. "Akan kami lihat terus kenapa masih tinggi, harusnya sudah turun. Laporan masyarakat menjadi penting karena yang merasakan langsung kenaikan. Kami dalami dan staf kami turun ke pasar memantau, ada apa ini?" tegasnya.

Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengatakan, kenaikan harga pakan dipengaruhi naiknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Beberapa bahan baku ternak seperti bungkil kedelai, tulang dan daging masih diimpor. Bungkil kedelai naik dari Rp 5.200 per kg menjadi Rp 7.600 per kg. Kemudian daging dan tulang dari Rp 7.900 per kg menjadi Rp 8.500 per kg. "Dolar AS masih tinggi, kan kita bahan bakunya sebagian besar komponen dari impor jadi pasti naik. Dolar sebelumnya Rp 13.100 jadi Rp 14.500," tuturnya. Pakan ternak pun naik dari semula Rp 6.700 hingga Rp 6.800 per kg menjadi Rp 7.100 hingga Rp 7.200 per kg.

Kenaikan harga telor ini menuai reaksi dari netizen. Kebanyakan dari mereka nyinyir dengan kenaikan tersebut. "Harga telur mahal. Biasanya yang sudah-sudah, menteri kabinet Presiden Jokowi bakal menyarankan yang anti mainstream, misalnya warga disuruh bertelor sendiri. Ingat aja dulu Mendag sama Mentan waktu harga cabe sama daging mahal," kicau @ AlsNugrahaa.

"Mungkin ayam-ayam mulai ikut-ikutan stress lihat negara ini, jadi agak sulit bertelur. Pasokan telur agak berkurang. Mudah-mudahan kita gak disuruh bertelur sendiri kalau protes soal harga telur ke Mendag," cuit @ florielicious serupa dengan @sakhroniahmad1. "Telor biasanya di bawah Rp 20 ribu, kini tembus Rp 30 ribu per kilo. Jangan tanya menteri, nanti disuruh bertelor sendiri," cuitnya.

Akun @jacksuketi juga lagi nunggu menteri menyarankan rakyat disuruh bertelur sendiri seperti pernyataan pejabat yang sudah-sudah menanggapi mahalnya harga bahan pokok. "Harga daging mahal, disuruh makan keong sawah. Harga cabe mahal, disuruh tanam sendiri. Harga telur ayam mahal, disuruh bertelur sendiri. Nanti kira-kira statemen kayak begitu gak ya?" kicaunya

Sekadar mengingatkan, Januari 2017 saat harga cabe rawit merah menembus Rp 90 ribu per kg, Mendag Enggar menyarankan masyarakat menanam cabe sendiri. "Tanam sendiri cabe, kita ada solusi yang tidak ilmiah," ujarnya saat itu.

Enggar juga pernah menyarankan masyarakat tak memakan bawang ketika harganya naik menjadi Rp 60 ribu per kg pada April 2017. "Tidak usah makan bawang putih, gampang kan?" selorohnya.

Yang juga tak kalah nyeleneh adalah Mentan Andi Amran Sulaiman. Dia memberi solusi bagi masyarakat untuk mengganti daging sapi yang harganya mahal. Ganti dengan apa? Keong sawah alias tutut.

"Jangan salah keong sawah itu protein tinggi, lebih bagus dari daging. Apalagi daging mahal," ujar Amran, 4 Desember 2017 saat inspeksi dadakan Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta. Pernyataan Amran sontak mengundang tawa seisi ruangan pertemuan PT Food Station Cipinang.

Meski demikian, ada netizen yang menilai kenaikan harga telor wajar. "Ga naik cuma penyesuaian, cuma sedikit beda harganya, beli quota aja bisa, di negara lain juga tinggi, ternak ayam sendiri," kicau @mapunk121. ***

http://ekbis.rmol.co/read/2018/07/11...elor-Sendiri--

ngurusin hal receh gini aja masih blom mampu masih ngotot mau dua periode emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 3
wuahahahahahahaha emoticon-Wakaka
Anjrit judulnya emoticon-Ngakak
Quote:

huehuehuehuehhuehueh
Makanya bebasin import bahan pangan dari beras sampai lain2
Harga telur meroket di beberapa daerah, karena harga pakan tinggi.

RMOL ini gaya jurnalismenya memang gahar, beda dengan kompas yang kalem, btw...
Diubah oleh 54m5u4d183
jaman now ...
peternak yg berat itu pakan .. vaksin ama obat


termasuk klo ente ternak lele sekalipun ( ngomongin lele yg bersih loh ..)
mau lebaran jor2an beli daging2 yang mahal ampe stok nya jadi terbatas. abis lebaran ga kuat beli daging karena duitnya udah abis, jor2an pindah ke telor ampe telor jumlahnya terbatas.

emoticon-Leh Uga
peternak beralih ke kalajengking gan

karena untung gede dollar besar
solusi paling hebat yg pernah ada
masih ada yg mau bilang dolar naik gak pengaruh buat rakyat kecil ?

dipersilahkan.
telor mahal? tawar aja lah goblok
emoticon-Ngakak
Yah seenggaknya masih punya telor 2 biji emoticon-siul
Quote:


kata nastaik gak ngaruh, bakso masih 10 ribu
crooootttt
Quote:


Rakyat Suruh Nelor Sendiri?
ya setidaknya ada perhatian dari pemerintah, patut diapresiasi 👌👍
yg bilang suruh nelor nasbangke kok bukan menteri. ntar kran telor impor pada kebakaran jenggot. harusnya bulog ,monopoli semua distribusi sembako non label biar stabil ini negara dan nasbangke ga banyak congor
Waduh...pak mentri
emoticon-Ngakak
Quote:


bangkee emoticon-Ngakak
Quote:


kalo direbus semua abis dong?
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di