alexa-tracking

Penyesalanku

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b45792b582b2e95588b456b/penyesalanku
Penyesalanku
                Halo namaku Dinda, usiaku waktu itu masih sangat belia ,tepatnya  10 tahunan , aku adalah siswa di suatu sekolah dasar negri tidak jauh dari tempatkeluargaku tinggal, aku hanya perlu beberapa langkah agar sampai di tempat pembelajaran untuk anak di usia belia itu, danperjalananku juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Aku bisa saja bangun sedikit lama disbanding anak anak lainnya yang bersekolah di tempat yang sama dengan ku. Aku memang tidak termasuk siswa yang nakal di sekolah ku, tapi itu sudah menjadi kebiasaanku untuk tidak bangun cepat di pagi hari.
                “teng…teng …” suara yang tidak asing di telinga itu terdengar sesaat setelah aku memasuki gerbang pembatas antara dunia luar dengan dunia pedidikan itu. Semua siswa bergegas menuju kelas nya masing masing , ada yang berjalan , berlari , bahkan ada yang merangkak , hahah , lucu kalu dipikir piker , kenapa mereka gak masang jet saja di punggung mereka agar semakin cepat sampai di kelas, dengan wajah tersenyum senyum aku terus membayangkan hal lucu tentang mereka di pikiranku, padahal masih kanak kanak begini , kenapa mereka harus bersi keras belajar di usia bermain ini aku. “Dinda…heiii..”terdengar suara itu lagi disaat ku hanyut dalam permainan pikiran ini. Putri, dia adalah teman sekelas ku , dia juga sahabatku dan sudah ku anggap juga sebagai saudara sendiri ,dia adalah teman ku satu-satunya yang tidak suka akan belajar keras seperti ini ,apalagi di usia kami yang masih sangat belia, menurutnya belajar keras di usia muda seperti ini adalah penyiksaan bagi anak anak seperti kami. Berbeda denganku , putri malah tiggal di tempat yang cukup jauhdari sekolah kami, dia harus di antar dengan mobil oleh ayahnya , melewati beberapa persimpangan di perkotaan yang macet, dia juga harus bangun cepat agar sampai tepat waktu di sekolah.
                Om rizal, begitu caraku memanggilnya , dia adalah orang yang sibuk .Setiap hari sepulang dari sekolah putri selalu mampir ke rumahku untuk bermain bersama sambil menghabiskan waktu sembari  menunggu jemputannya. Kami melakukan semua hal yang dilakukan anak seusia kami , memasak masak , bermain boneka , tebak tebakan ,hingga petak umpet , banyak lagi halyang kami lakukan bersama , aku sangat senang jika bisa selalu bersama dengan nya , kami selalu melakukannya setiap  hari ,setiap saat.
                Hingaa suatu hari, sepulang dari sekolah seperti biasa kami bermain sembari mununggu. Kali ini ada yang terasa berbeda, yang menjemput dia hari itu bukan lah ayahnya , melainkan tetangganya , aku sedikit heran melihat hal itu.

“loh pak, kenapa bukan ayah yang menjemput ?”, Putri bertanya.

“mmm,,,,itu nak , aduh”, jawab bapak tetangga itu ragu ragu

“kenapa pak ?” sambut putri

“sore tadi terjadi kecelakaan di depan kantor ayah kerja , dan korban kecelakaanya itu adalah ayah kamu nak” kata pak tetangga itu , sontak membuat kami terdiam. Suara tangisan terdengar dari arah putri, aku melihat raut sedih di wajahnya , hawa keputus asaan terlihat keluar dari wajahnya. Om rizal adalah orang yang sangat baik , bukan hanya pada putrinya saja, Ia juaga ramah pada semua orang, ia sering membawakan roti kepada kami jika putri sedang menghabiskan hari libur nya bersamaku di rumah, di sering membawa kami jalan jalan keliling kota jika dia memiliki waktu libu, dia adalah yang terbaik.
                Tangisan itu pun semakin meledakn , Putri tak mampu emending air matanya. Aku juga ikut meneteskan air mata atas kepergian om rizal mengingat dia juga ayah dari sahabat terdekatku. Aku memeluk putri , mengelus kepalanya dan mengucapkan kata kata yang mungkin bisa menguatkan hatinya. Putri terus saja menangis saat menaii mobil yang di kendarai paman paman tetangganya tersebut.
                Hari dimana pemakaman itu berlangsung , aku dating bersama dengan keluarga ku ikut menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga putri. Aku masih saja melihat raut wajah yang sama seperti kemarin. Putri pasti sangat merasa kehilangan atas kepergian om rizal. Sejak saat itu Putri berubah menjadi anak yang pendiam, dai juga susah untukdi ajak bercanda, dia selalu mengasingkan diri dari siswa lainnya, dia tidak pernah lagi mampir kerumah untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama. Yang menjemput dia sekarang adalah abng sepupunya yang kebetulan tinggal di sekitar tempattingal mereka. Itu adalaah hal tersedih bagika saat sahabatku berada dalam kesedihan dan aku tak mampu berbuat apa apa untuknya , aku terus berpikir bagai mana caranya agar dia biha melupakan kejadian hari itu dan menjadi putri yang aku kenal dulu.
                Hari demi hari telah berlalu, takterasa sekarang sudah akhir dari kelas 6 SD, aku tetap menjadi aku dengan segala pemikiranku dan sifatku ang aneh, Dan putri, dia menjadi anak yang rajin dan tidak kenal bermain, dia terus terusan belajar dan belajar , tidak ada satu haripun yang dia luangkan untuk bermain permainan anak seusianya. Dan kudengar di berencan mengambil studi SMP di Singapore.
                Hari kelulusan telah tiba , Putri mendapatkan nilai yang bagus dalam ujiannya.Dan seperti yang masuk sekolah menengah disana , dan hasilnya positif masuk.Kudengar dia akan berangkat lusa , au mencoba menghubunginya tapi tidak ada hasil apapun. Aku berencanauntuk memberikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya kepadanya , api dengan keadaan ku yang sibuk mengurus ini dan itu tidak memungkin kan untuk pergi kerumahnya dan memberikan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya.
Hari keberangkatannya telah tiba dan aku tidak juga bisa datang, aku tidak tahu apa yang akan dia pikirkan , tapi aku sangat sangat emenyesal. Itu adalah keputusan terburu di hidupku , aku seharusnya bisa memberikan salam perpisahan walaupun untuk terakhir kalinya , aku selalu menyesali kejadian itu , ake terus terusan menalahkan diriku sendiri , terkadang di malam hari aku menangis mengingat cerita persahabatan kami.Begitulah akhir dari cerita persahabatan kami, hingga sekarang aku tak juga pernah melihatnya lagi. Itu adalah pengalaman paling menyedihkan di hidupku.
×